Thursday, September 23, 2004
Kejujuran

Kejujuran

 

 

Prof. Quraish Shihab, Lc

Metro TV, 1 Agustus 2004, 14.00 – 15.00 WIB

 

 

Apa sih Jujur ?

 

Jujur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah :

-         tulus, tidak culas, lurus hati

-         wan yang harus diberikan pengantin laki kepada mertua perempuan

 

Jujur menurut Al Quran adalah Shidq, yang mempunyai makna dasar “kuat”. Orang yang shidq (benar / jujur) adalah kuat, karena itu dia berani.

 

Kejujuran mencakup semua hal dari sejak kita berniat sampai beraktifitas. Kata Nabi, “lakukanlah kejujuran dalam segala aktifitas kamu”. Mau berjuang, kita harus jujur, kalahpun harus jujur.

Doa Nabi adalah masukkan aku dengan jujur, dan keluarkan aku dengan jujur pula.

 

Kejujuran dalam berucap

 

Kejujuran dalam berucap bukan sekedar benar isinya melainkan juga harus tepat. Seperti contoh, ada ayat QS yang mengatakan “Tiap-tiap yang hidup itu pasti mati”, namun bila kita sampaikan ayat tersebut pada pesta pernikahan maka kita sudah tidak berbuat jujur, karena tidak tepat walaupun ayat tersebut benar.

 

Lawan jujur dalam berucap adalah berbohong. Berbohong adalah mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan yang Anda ketahui. Kita dilarang untuk berbohong, karena bisa menyesatkan dan menyengsarakan orang lain. Orang yang berbohong adalah orang yang lemah, orang yang takut dan memiliki kompleks kejiwaan yang sakit. Karena lemah yang melahirkan kebohongan itulah maka orang tersebut dikatakan ‘tidak shidq’. Orang yang tidak kuat berpeluang besar untuk tidak jujur.

 

Pesan nabi : “Jangan berbohong. Kamu mengira dengan berbohong dapat menyelamatkanmu padahal berbohong dapat mencelakakanmu”.

 

Berbohong  dapat dibenarkan hanya dalam 3 kondisi :

-         dalam peperangan.

-         melakukan ishlah dalam menyatukan kembali dua orang yang sedang bermusuhan

-         gombal kepada pasangan suami/isteri kita.

 

Ketika kita terpaksa harus berbohong dalam 3 kondisi tersebut kita pun harus jujur. Bagaimana  maksudnya  ? Katakan dan tekadkan dalam diri “Saya berbohong ini karena diperintah oleh Allah, untuk memenangkan peperangan, atau untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan atau untuk menyenangkan hati suami/isteri saya”.

Kejujuran dalam berucap adalah berkata benar dan tepat.

 

Kejujuran dalam berniat

 

Jujur dalam berniat adalah kita harus tulus, ikhlas baik kepada Tuhan maupun kepada manusia. Bahkan dalam bersedekahpun kita harus jujur. Sedekah asal katanya pun dari Shidq atau Shidqah, yang artinya jujur (harus tulus, ikhlas).  Memberikan mahar kepada pengantin wanita pun disebut dengan shidaq. Karena itu memberikan mahar kepada pendamping wanita harus disertai niat yang tulus, ikhlas.

 

Kejujuran dalam berniat adalah berniat dengan tulus ikhlas, baik kepada Tuhan maupun kepada manusia.

 

Kejujuran dalam bertindak

 

Dalam bertindak pun kita harus jujur. Jangan curang, jangan menipu dan jangan memanipulasi fakta dan data. Bertindakpun  selain kita harus  benar juga harus tepat. Misalkan dalam ingin bertindak melawan kejahatan, bagi kita sebagai rakyat tindakan yang jujur adalah melaporkan kejahatan kepada pihak kepolisian. Tidak jujur bila kita main hakim sendiri. Bagi polisi, jujur apabila melawan kejahatan dengan mengejar dan menangkap pelakunya. Pengadilan yang jujur adalah pengadilan yang mampu memberikan hukuman setimpal dengan perbuatannya.

Dalam berdagangpun kita harus jujur, ungkapkan aib barangnya, jangan sampai ditutup-tutupi. Rasulullah mengajarkan hal ini dalam berdagang, apakah lantas barang dagangannya kemudian menjadi tidak laku. Malah sebaliknya, sangat laku keras, sehingga beliau terkenal seorang pedagang yang jujur dan orang-orangpun datang berbondong-bondong kepadanya.

 

(Dalam perusahaan,  apabila kita melayani pelanggan kita harus terbuka, itulah yang sering dituangkan dalam “Term & Condition” agar pelanggan nantinya tidak kecewa karena apa yang diharapkan dari pelayanan maupun barang yang dibeli tidak sesuai).

 

 

Pada siapa saja kita harus jujur ?

Kejujuran Pada  Diri  Sendiri

 

Kejujuran pada diri sendiri  adalah kejujuran yang dilandasi pada pengakuan diri  bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kekurangan. Apabila  dirinya tidak mampu  untuk mengerjakan sesuatu maka dia  akan katakan “tidak mampu”. Apabila dirinya memang tidak tahu, maka dia akan katakan “tidak tahu”. Orang  yang mengakui kelemahan dirinya adalah orang yang  lebih berpengetahuan daripada orang  yang mengatakan “bisa”, “tahu”  padahal dirinya “tidak bisa” dan “tidak tahu”.

 

 

Kejujuran Pada  Manusia

 

Kejujuran mengantar seseorang dan orang lain mendapat kebaikan dan mengantarnya ke surga. Jujur  pada anak-anak  kita adalah mengakui dengan sepenuh hati kemampuan, kekurangan dan keterbatasan mereka. Sehingga jujur pada anak kecil adalah menerima kesalahan-kesalahan kecilnya, tidak memaki dia, tidak membebani dia dengan beban berat.

 

Jujur pada pasangan kita (suami/isteri) adalah jujur yang sangat terbuka. Kata Nabi hubungan  pasangan suami/isteri adalah bak laksana luar angkasa, tidak ada batas di antara mereka seluas luar angkasa. Kalau antara mereka masih ada gengsi, takut untuk terbuka maka masih ada batas antara keduanya. Ini yang seharusnya tidak diharapkan. Seharusnya diantara mereka adalah saling terbuka, saling jujur. 

 

Kejujuran Pada Allah

 

Kejujuran pada Allah adalah kejujuran yang mengakui  fakta  bahwa Allah adalah Esa, Satu  dan segala sifat-sifatNya yang Agung, seperti Maha Pemurah, Penyayang. Itulah  Tauhid, kejujuran  yang  paling tinggi kata Nabi. Dampak dari kejujuran ini adalah sebuah  keikhlasan  dan ketulusan pada Allah dalam segala tindak kita.

 

Catatan :

 

Kejujuran adalah kekuatan sesuai dengan kata-nya shidq yang berarti kuat. Kejujuran dapat membuat kita kuat  karena kejujuran selalu berpihak pada fakta dan kebenaran, kita tidak akan tertipu dan khawatir. Kiat-kiat untuk dapat terus berlaku jujur adalah :

-         Carilah teman yang jujur dan hindari teman yang buruk

-         Carilah lingkungan yang jujur  dan hindari lingkungan yang buruk

-         Ingat selalu dampak buruk dari ketidakjujuran

-         Ingat kepada Allah.

 

 

 

Arief Wiryanto

Yayasan Jaringan Informasi Islam


Posted at 03:38 pm by ariefsalman

ORg agamanya bukan islam
January 21, 2008   08:09 AM PST
 
hehehe
ORg agamanya bukan islam
January 21, 2008   08:08 AM PST
 
HEheeheh
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry
Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< September 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed