CINTA TANAH AIR
Menyambut Hari Kemerdekaan RI
oleh Arief Wiryanto, ariefwiryanto@yahoo.com
Dlm bukunya, Mukjizat Quran, pak Quraish Shihab mengatakan, bahwa banyak kata2 untuk menunjukkan level cinta. Diantaranya kata Mawaddah dan Mahabbah yang sering digunakan dlm Quran dan hadits. Berikut petikannya :
"Dalam buku Dirasat fi Al-Hubb, Yusuf Asy-Syaruni mengutip pendapat Ibnu
Al-Jawzi dalam bukunya Dzamm Al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan
macam-macam cinta serta kosa kata yang menggambarkannya. Pandangan mata atau berita yang didengar bila melahirkan rasa senang diungkapkan dengan kata "aliqa". Apabila melebihinya sehingga terbetik keinginan untuk mendekat, maka ia dinamai "mail". Bila keinginan itu mencapai kehendak untuk menguasainya, maka ia dinamai "mawaddah". Seterusnya, tingkat berikutnya adalah "mahabbah", dilanjutkan dengan "khullah", "ash-shabaabah" kemudian "al-hawa". Peringkat selanjutnya adalah "al-‘isyq" yakni bila seseorang bersedia berkorban atau membahayakan dirinya demi kekasihnya. Sedangkan jika cinta telah memenuhi hati seseorang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lain, maka cintanya dilukiskan dengan kata "at-tatayum". Dan jika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya, atau tidak lagi mampu berpikir dan membedakan sesuatu, akibat cinta, maka ia dinamai walih." Begitu uraian dari Pak Quraish.
Mari kita perhatikan tentang Mawaddah dan Mahabbah saja.
Mawaddah sendiri sudah mengandung arti cinta yang begitu kuatnya, sampai2 apa/siapa yang kita cintai, kita mampu untuk memaafkan, kita mampu menjadi wadah, menampung semua kelebihan dan kelemahannya. Wadah bagi dia, tempat dia berlindung. Mawaddah juga mengandung makna memiliki. Jadi kalau tidak ada rasa memiliki, maka itu belumlah mencapai mawaddah. Suami harus ada rasa memiliki thd isterinya, begitu juga sebaliknya. Manusia jika sudah mempunyai rasa memiliki, akan luar biasa memperjuangkan dan berkorban untuknya, jgn sampai yang dia miliki menjadi rusak, sengsara atau binasa. Ada keinginan kuat utk memperindah apa yang dimilikinya. Karena itu, dlm Al-Quran kata mawaddah digunakan dlm pernikahan atau diperuntukkan kepada pasangan kita. Besarnya nilai pengorbanan sebanding dengan nilai rasa memiliki.
Sampai-sampai antara kita dengan pasangan hendaknya tidak ada lagi jarak. keluasannya ibarat keluasan angkasa luar. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur/AFDHO) dengan sebagian yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. 4:21)
Mari lihat lebih dalam lagi sebenarnya apa arti AFDHO dalam Surat 4:21 diatas. AFDHO berasal dari kata FADHO yang artinya angkasa luar. Angkasa luar itu mempunyai ruang yang sangat luas, tanpa batas dan terbuka. Karena itu hendaknya hubungan suami isteri semestinya seperti angkasa luar ini, tidak ada batas di antara suami isteri, dan se-terbuka-terbukanya diantara keduanya.
Kalau masih ada gengsi, takut-takut dan sembunyi-sembunyi terhadap sesuatu sekecil apapun diantara keduanya maka belum mengikuti kehendak dan keinginan Allah tersebut. Allah menginginkan antara kita dan pasangan kita adalah saling terbuka. Pasangan adalah diri kita.
Itulah tingkatan cinta dari Mawaddah. Kemudian tentang Mahabbah adalah sebagai berikut :
Mahabbah, itu lebih tinggi lagi tingkatan cintanya. Kandungan cintanya mahabbah jauh lebih tinggi. Jika mawaddah saja sudah sedemikian tinggi maknanya, maka mahabbah lebih dahsyat lagi. Karena itu di dlm Al Quran seringnya, kata mahabbah, yg asal katanya dari hubb, selalu disandingkan objeknya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Nah, yg menarik dari rasio saya, teringat akan kata2 Rasulullah. Kata hubb ini disandingkan juga utk objek, "al-wathan" (tanah air). "Hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air merupakan manifestasi dari iman).
Jadi bisa diambil kesimpulan jika kecintaan kepada tanah air itu berada dlm satu maqam yang sama dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Yg pasti, maqam kecintaan kepada bangsa dan tanah air lebih tinggi dari kecintaan kepada pasangan kita. Bagaimana dahsyatnya cintanya kepada pasangan, masing2 kita sudah bisa merasakan. Nah, kecintaan kepada tanah air itu seharusnya melebihi kecintaan kepada pasangan.
Jadi Islam di sini mengajarkan cinta tanah air itu adalah manifestasi dari iman, bukan sekedar sebagian, tapi manifestasi. Kalau kita tidak ada cinta kepada tanah air, maka patut dipertanyakan iman kita. Jika kita tidak ada rasa sedikitpun memiliki tanah air maka patut diragukan iman kita. Sudah ada rasa memiliki thd tanah airpun masih diminta utk lebih lagi, karena kalau itu masih lebih kecil dari cinta kita pada pasangan, maka belum mahabbah pada tanah airnya.
Dengan memperingati hari Kemerdekaan ini semoga mengingatkan kita akan kecintaan pada tanah air bangsa ini, kecintaan pada budayanya yang ramah, santun, kekeluargaannya, dan lain-lain. Kecintaan yang dapat membangkitkan secara nasional di bidang ekonomi, politik dan segala aspek kehidupan bernegara. Cinta dapat meningkatkan kepercayaan diri pada bangsanya. Cinta dapat memberikan kesempatan dan peluang besar pada bangsanya. Insya Allah akan membuka jalan yang lebar untuk dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Mari kita cintai negeri, bangsa dan tanah air kita. Dirgahayu Republik Indonesia.
Bisa baca juga tentang Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan :
http://ariefhikmah.blogdrive.com/archive/cm-08_cy-2004_m-08_d-18_y-2004_o-0.html
--
Wassalamualaikum wr.wb,
Arief Wiryanto
http://ariefhikmah.blogdrive.com
Kajian2 Hikmah, Taqdir, Pernikahan, Perceraian, Pemimpin, Musibah dll
Posted at 10:37 am by ariefsalman