PUASA vs BENCANA
Oleh Arief Wiryanto
http://ariefhikmah.blogdrive.com
Satu tahun sudah semenjak sesaat setelah Ramadhan 1425 H atau tahun 2004 berlalu, masyarakat Aceh dilanda musibah Tsunami, Tsunami terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah umat manusia, yang sebelumnya melanda kawasan Samudera Pasifik yang menelan korban 50.000 orang *1. Tsunami berlalu setelah menelan korban lebih dari 200.000 orang kehilangan nyawa, bangunan dan infrastruktur hancur total, maka musibah lain yaitu demam berdarah menggejala di seantero negeri. Tercatat lebih kurang 20 orang meninggal dunia terserang penyakit yang mematikan tersebut. Kemudian menyusul musibah malaria. Tidak berapa lama kemudian, tanpa diduga sama sekali karena sebelumnya lama sudah Indonesia telah dinyatakan bebas, wabah polio melanda kembali. Anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban. Kini, penyakit flu burung menyerang kita. Sudah 6 orang meninggal dunia akibat flu burung dan 22 orang sedang dirawat di rumah sakit. Kabut asap karena kebakaran hutan yang melanda kawasan Sumatera dan Kalimantanpun semakin parah terjadi bahkan sempat mengganggu aktivitas negara-negara tetangga. Belum lagi reda, musibah tanah longsor di berbagai daerah juga terjadi, menelan korban di Bandung dan Padang.
Disamping musibah-musibah alam dan penyakit, masyarakat kemudian dilanda dengan naiknya harga minyak dunia yang menggila, yang semula 40 US Dolar menjadi 65 US Dolar bahkan sempat mendekati 70 US Dolar. Akibatnya rupiahpun anjlok menembus angka Rp 10.000,- per dolar. Sebuah angka yang besar. Dampak yang diakibatkannya pun bagaikan bola yang menggulir masuk ke sendi-sendi kehidupan. BBM menjadi naik tak terelakkan, 1 Oktober ini sudah dinaikkan 50 % - 80%. Sebelumnya, tarif tol naik, diikuti tarif-tarif lainnya membuat masyarakat Indonesia harus mengencangkan ikat pinggang lebih ketat lagi. Ditambah lagi, dengan langkanya BBM di berbagai daerah, membuat masyarakat sengsara dan menderita. Musibah lain yang membuat terkejut masyarakat adalah jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang menelan korban 149 orang, hangus terbakar. Kecelakaan kereta api, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang sempat menelan korban beberapa waktu lalu ketika kunjungan VIP melintas. Terakhir, adalah peristiwa Bom Bali Kedua, yang menewaskan lebih dari 25 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Ini mengingatkan kembali dengan peristiwa Bom Bali Pertama 3 tahun lalu.
Gejala alam maupun gejala kerusakan dan kekacauan yang diakibatkan manusia langsung sebenarnya tidak hanya menimpa Indonesia tercinta, tapi juga menimpa negara-negara lain. Bencana Tsunami pun juga menelan korban di negara-negara Asia, Thailand, Malaysia, India, Srilanka bahkan sampai Afrika. Naiknya harga minyak mentah dunia melanda semua negara. Badai Katrina yang memporak-porandakan Amerika Serikat dengan kecepatan angin lebih dari 200 km dapat menghancurkan bangunan. Belum selesai pulih dari Badai Katrina, datang lagi Badai Rita yang sesungguhnya lebih besar dari Katrina, namun ketika sampai di daratan Amerika menurun kecepatannya.
Saatnya kita semua merenung, ada apa dengan alam ini ? Mengapa musibah tiada berhenti menimpa ? Ataukah kita hanya berdiam saja dan menerima apa yang telah terjadi tanpa mau memahami ? Apakah alam memang salah ? atau kita manusianya saja yang salah, baik salah karena disengaja tidak dapat mengendalikan diri atau diakibatkan karena kecerobohan dan kebodohan manusia ?
Jika kita mau merenung lebih dalam dan berusaha mencari data dan informasi baik dari alam maupun para pakar. Ditemukan bahwa hampir semua musibah dan kekacauan itu disebabkan oleh Human Error baik disengaja maupun tidak, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai contoh kecelakaan pesawat sebagian besar seperti dikatakan oleh sebuah asosiasi pesawat terbang bahwa diakibatkan oleh buruknya manajemen penerbangan, seperti yang diberitakan Kompas beberapa waktu lalu. Itu bisa saja terjadi karena kurangnya kontrol peralatan terhadap pesawat yang akan tinggal landas, lebihnya beban yang diangkut, dan lain-lain. Musibah Badai Katrina dan Rita dan badai-badai besar di Amerika yang dikenal mulai dari Abjad A-W, sejak Arlene sampai Wilma (di tengahnya ada Katrina, Lee, Maria, Nate, Ophelia, Phillipe, Rita, Stan dan Tammy) juga terjadi karena peningkatan suhu permukaan laut yang meningkat 1 derajat Celcius diatas normal, sehingga menjadi 31 – 32 derajat Celcius, kondisi kritis untuk terbentuknya topan.
Sekarang badai dan topan kini sedang menerjang Samudera Pasifik dan India. Sejumlah ilmuwan yakin bahwa kenaikan temperatur akibat pemanasan global telah menciptakan topan dengan kebuasan yang lebih dahsyat. *2. Pemanasan global ini meningkat dikarenakan gas buangan dan menipisnya lapisan ozon akibat gas-gas seperti freon yang digunakan AC dan kulkas. Ternyata demi kenyamanan yang tidak terkendali, manusia telah merusak alam yang berakibat timbulnya bencana.
Musibah Tsunamipun sebenarnya dapat kita hindari. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa daerah-daerah pantai di Aceh sudah gundul semua. Gundul dari hutan-hutan bakau. Padahal hutan-hutan bakau ini dapat meredam Tsunami. Bila terdapat hutan bakau sepanjang 100 meter, maka gelombang tsunami yang semula setinggi 4 meter dapat diredam menjadi 1 meter. Salah siapakah hutan bakau di daerah Aceh tidak tersisa ?
Timbulnya Tsunami memang tidak bisa dicegah, tapi bisa dideteksi dan dicegah. Tsunami bukanlah musibah yang datang sekali dalam sejarah umat manusia, tapi sudah berkali-kali. Umat manusia lain telah belajar untuk mengatasinya terutama setelah terjadi Tsunami yang menelan korban lebih dari 25 ribu orang di kawasan Hawaii sekitar tahun 1920-an. Mereka telah memasang early warning system for Tsunami di seantero kawasan Samudera Pasifik, dimana Hawaii dikelilingi oleh Samudera besar tersebut. Namun mungkin sayang, Samudera Hindia ternyata tidak diduga sebelumnya bisa menimbulkan Tsunami pula. Tahun 2002, seorang peneliti Indonesia dari ITB telah menduga akan terjadi tsunami ketika terjadi tumbukan akibat pergerakan 2 lempeng raksasa dan itu terjadi di daerah pantai barat sepanjang Sumatera. Tsunami kemungkinan akan terjadi karena tumbukan tersebut. Minimal jika telah diprediksi kemudian terdapat alat early warning system, korban tsunami dapat jauh terkurangi. Kebodohan manusia dan kurangnya kepedulian terhadap bahaya membawa sengsara dan maut.
Di daerah pantai Garut, juga sering terjadi tsunami dalam skala kecil, paling-paling tinggi air maksimum 2 meter. Namun ada yang unik di daerah ini, yaitu di sepanjang lepas pantai terdapat Coral, yang timbul akibat gundukan karang yang cukup tinggi. Ini dapat meredam juga gejolak tsunami jika sewaktu-waktu terjadi. Namun sayang, seribu sayang, sebagian besar Coral sudah diratakan, dijadikan jalan. Kenikmatan pemandangan dengan jalan merusak alam, suatu saat akan terbayarkan.
Wabah berbagai macam penyakit yang sekarang timbul bahkan mematikan atau yang lebih ringan melumpuhkan seperti polio, itu juga diakibatkan karena perbuatan manusia yang tidak mau menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sanitasi yang buruk, pemeliharaan kandang yang tidak bersih, kotoran dimana-mana. Mewabahnya virus flu burung misalnya, itu diakibatkan dari kotoran dari hewan unggas yang terinfeksi, mengering kemudian tertiup angin, lalu jika dihirup oleh hewan unggas lain atau manusia maka akan terinfeksi. Maka jika kotoran-kotoran hewan unggas itu tidak segera dibersihkan akan mewabah se-antero negeri.
Penyakit muntaber juga terjadi jika sanitasi lingkungan sangat buruk. Kotoran-kotoran dan sampah tidak ditampung. Dan lebih menjangkit lagi jika musibah banjir melanda.
Belum lagi ulah spekulan yang menambah derita masyarakat. Spekulan yang memanfaatkan kondisi naiknya dolar terhadap rupiah.
Semua bencana, musibah, kekacauan hendaknya menjadi bahan renungan kita semua, karena manusialah yang menjadi penyebabnya.
Saatnya kita harus mengendalikan diri untuk melakukan hal-hal yang buruk yang menyebabkan itu semua.
Puasa yang dalam bahasa Al-Quran menggunakan kata Shiyam, adalah perintah untuk menahan diri dari hal-hal yang buruk. Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan, minum dan seks sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun puasa adalah untuk memulai menahan diri. Jika hal-hal buruk dapat kita hindari maka kita akan terbebas dari segala musibah, bencana dan siksa yang diakibatkan sebenarnya dari perbuatan kita sendiri. Esensi puasa adalah berlaku sepanjang hidup manusia. Tidak hanya sebatas di bulan Ramadhan.
Saatnya kita harus menahan diri. Ramadhan sebagai momentum untuk memulai menahan diri segala hal yang buruk. Pemborosan pemakaian energi seperti pemakaian BBM diharapkan dapat menekan konsumsi hingga 10% dari pemakaian 1,3 juta barrel per hari, diharapkan berkurang menjadi sekitar 1,2 juta barrel per hari. Produksi minyak mentah Indonesia hanya mencapai 1 juta barrel per hari. Sehingga pemerintah terpaksa harus mengimpor minyak mentah hingga 250 ribu barrel per hari, yang jika dihitung berdasarkan harga minyak mentah dunia 70 US$ per barrel maka dibutuhkan biaya hingga 100 triliyun rupiah lebih dalam satu tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan pengertian dan tekad yang kuat dari masyarakat untuk mengurangi pemakaian energi yang tidak diperlukan atau bisa dihemat. Menahan diri dari pemborosan energi.
Kejadian alam seperti topan yang diakibatkan meningkatnya suhu bumi, ini juga memerlukan tekad yang kuat dari masyarakat tidak hanya masyarakat muslim, tapi seluruh masyarakat dunia bahwa untuk mulai menahan diri merusak ozon bumi. Menahan diri dari keserakahan pengerukan kekayaan hutan tanpa melakukan timbal-balik bagi pelestarian hutan. Menahan diri dari eksploitasi hutan tanpa perhitungan pelestarian hutan.
Berkaitan dengan rusaknya ozon, ini juga diakibatkan dengan meningkatnya polusi udara yang berdampak pada pemanasan global. Di Bogota sendiri masyarakat sudah mulai sadar, bahwa kota adalah tempat tinggal anak-anak, bukan tempat polusi bagi anak-anak mereka, bukan tempat racun buat anak-anak. Menahan dirilah dari penambahan polusi udara kita semaksimal mungkin. Bumi ini hanya satu, atmosfer kita hanya satu, dia butuh dipelihara untuk anak dan cucu kita.
Terpuruknya mata uang rupiah terhadap dollar, itupun merupakan kesalahan yang kita lakukan. Hidup konsumsi terlalu besar, gaya hidup penuh dengan konsumerisme membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa ke luar negeri, terutama terhadap barang-barang produk luar. Itulah yang menyebabkan nilai mata uang kita merosot tajam di samping ulah para spekulan. Lihat saja, nilai penjualan kendaraan bermotor di Indonesia tahun lalu mencapai nilai 40 triliyun rupiah, yang notabene kendaraan tersebut memiliki komponen produksi terbesar dari luar negeri. Nilai penjualan telekomunikasi termasuk diantaranya peralatan komunikasi personal mencapai nilai 48 triliyun rupiah. Itu pun komponennya juga didatangkan dari luar negeri. Bagi yang memang membutuhkan kendaraan memang itu dipersilakan, tapi bagi yang memang sudah memiliki kendaraan namun menambah yang berakibat semakin macetnya jalan, semakin udara terkena polusi, diharapkan untuk mulai menahan diri.
Jika bertekad dan menerapkan menahan diri, kita akan menjadi manusia-manusia yang bertaqwa. Ada ulasan tentang Taqwa dari Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-Karim berdasarkan urutan turunnya Wahyu, hal 125-127.
Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya.
Kalimat ittaqu Allah (‘bertakwalah kepada Allah’) jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi ‘Jauhilah Allah atau Hindarkanlah dirimu dari Allah’. Hal ini tentunya mustahil dapat dilakukan manusia, karena siapakah yang dapat menghindar dari-Nya ? Nah, dari sini, ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara ‘Hindarilah’ dan ‘Allah’. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.
Syaikh Muhammad Abduh yang ditulis pendapatnya oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam Tafsir Al-Manar, bahwa ‘Menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan dengan memperkenankan seluruh perintah-Nya. Hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah swt). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan dan untuk itu ia harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.’
Setiap pelanggaran atas perintah Tuhan dapat menimbulkan sanksi atau hukuman, (baik terhadap pengabaian dan pelanggaran terhadap hukum-hukum alam maupun hukum yang telah Allah turunkan kepada manusia, -RED).
Para sahabat Nabi, dalam peperangan Uhud, ketika mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum alam (dalam hal ini ketaatan kepada pimpinan yang merupakan kunci sukses dalam peperangan) mengalami kekalahan walaupun mereka pada hakekatnya tidak mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat. Mereka yang tidak melanggar terkena getahnya dan inilah yang diperingatkan Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 25 :
‘Hindarilah suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berlaku aniaya saja di antara kamu’.
Dari sini terlihat bahwa ketakwaan mempunyai dua sisi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah itu, serta sisi ukhrawi yaitu memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.
Manusia yang bertakwa adalah manusia yang terhindar dari segala yang buruk, dari segala musibah dan bencana. Ini merupakan dambaan tidak hanya bagi umat Islam, tapi semua manusia. Dengan demikian, menahan diri adalah kunci untuk terjaga dari bencana.
Selamat beribadah puasa atau Shiyam. Semoga kita makin bisa untuk dapat menahan diri dari segala hal yang buruk, baik dari dalam diri maupun dari sekeliling kita, sehingga menjadi orang-orang yang bebas dari segala musibah dan bencana, baik yang dibuat oleh manusia maupun disebabkan kelalaian kita terhadap bencana alam dan mengantar orang lain dan umat lain menjadi terbebaskan pula.
Dengan shiyam, kita diharapkan menjadi troubleshooter or problem solver, bukanlah menjadi bagian dari troublemaker or problem maker.
Wassalamualaikum wr.wb,
Arief Wiryanto
* Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan segala hal buruk yang pernah saya lakukan.
*1. Tsunami, National Geographic
*2. Sumber Kompas, Minggu 25 September 2005 dengan judul Topan Rita Terjang Daratan AS