Wednesday, March 02, 2005
AKHLAQ

AKHLAQ
by Arief W

Ini pemikiran saya mengenai pemaknaan kata "Akhlaq", ini dipersilakan untuk dikoreksi, karena ini baru hipotesa. Kalau dilihat dari asal katanya berasal dari huruf yang sama dengan kata "Khuluqu" dan menjadi dasar pula kata "Khalaqa", yaitu huruf Kha, huruf Lam, dan huruf Qaf dalam bahasa Arab.

Sedangkan arti kata Khalaqa sendiri bermakna adalah menciptakan seperti yang sudah kita dengar dari para ustadz. Apakah kemudian ada hubungan antara kata "Khalaqa" dengan makna kata "Akhlaq" ?

Menurut pendapat saya, ada hubungan erat antara makna "Akhlaq" dan makna "Khalaqa". Kalau melihat bahwa dua kata tersebut mempunyai huruf2 pembentuk kata yang sama yaitu kha, lam, dan qaf, maka maknanya pun tentu tidak akan jauh berbeda. Kata "khalaqa" yang berarti perbuatan menciptakan, maka makna kata "akhlaq" ada kaitan artinya dengan "menciptakan" tersebut. Saya menduga (karena bukan ahli bahasa Arab, dan mohon masukan kritikan) bahwa kata "akhlaq" berarti perbuatan yang sesuai dengan tujuan dari penciptaan sesuatu.

Seperti tujuan diciptakannya manusia (Khalaqa An-Naas),diantaranya adalah untuk dihormati, dihargai dan dioptimalkan potensi yang dimiliki manusia tersebut. Oleh karena itu, "akhlaq" kepada manusia adalah perbuatan2 yang bersesuaian dengan tujuan penciptaan manusia tersebut, seperti penghargaan dan penghormatan kepada semua manusia, perbuatan mendidik manusia agar potensi yang dimiliki manusia dapat tergali atau dengan kata lain pendidikan adalah "akhlaq", dan sebagainya. Oleh karena itu, perbuatan membunuh kepada manusia sangat dilarang oleh Allah.

Contoh lain, adalah sumber daya alam. Tujuan diciptakannya Sumber daya alam adalah untuk diambil dan dimanfaatkan oleh manusia. Maka "akhlaq" kepada sumber daya alam adalah dengan mengambil dan memanfaatkan mereka untuk kita. Jika kita mendiamkan saja sumberdaya alam tersebut, tidak mengelolanya dengan baik, maka kita belum ber-"akhlaq".

Contoh lain lagi adalah hewan yang disembelih spt ternak dan unggas. Tujuan penciptaan mereka adalah untuk diambil dagingnya oleh manusia. Sehingga "Akhlaq" kepada mereka adalah dengan menyembelihnya dengan baik dan mengambil dagingnya untuk kita. Salah jika kita tidak menyembelih mereka maka kita tidaklah berakhlaq.

Sehingga kata "akhlaq" bukan sekedar bermakna budi pekerti, moral, etika, perbuatan dan sebagainya. Atau "akhlaq" hanya berkaitan dengan interaksi antar sesama manusia seperti akhlaq kepada orang tua, akhlaq kepada mertua, akhlaq kepada tetangga, akhlaq kepada teman, akhlaq kepada guru, akhlaq kepada anak yatim, orang miskin, orang kaya dsb. Akhlaq bukanlah sekedar itu. Dan "Akhlaq" bukan juga sekedar berarti "baik", "baik kepada orang tua, baik kepada teman, baik kepada suami/isteri, baik kepada tetangga. Akhlaq bukan sekedar itu pemaknaannya.

Tetapi "Akhlaq" mencakup perbuatan yang "benar, baik dan indah" yang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Akhlaq kepada orang tua, adalah menghormati dan menghargai mereka sebagai orang tua kita, mengikuti perintah mereka, selama mereka tidak menyuruh berbuat jahat. Apabila kita turuti semua perintah orang tua tanpa berpikir benar dan tidaknya, bukan lagi dinamai telah ber-akhlaq. Bila perintah orang tua sejalan dengan perintah Allah maka kita wajib menghargai dan menuruti perintah orang tua tersebut. Namun jika kita punya pemikiran tersendiri berdasarkan landasan yang kuat dan kokoh maka boleh saja kita tidak sependapat dengan orang tua.

"Akhlaq" berkaitan dengan semua ciptaan Allah, kepada sesama manusia dan kepada alam raya beserta isinya (baik yang organik maupun yang non-organik). Tiap ciptaan Allah mempunyai maksud dan tujuan penciptaannya. Diciptakannya kita laki-laki dan perempuan, ada maksud dan tujuannya, diciptakannya kita berbangsa-bangsa ada maksud dan tujuannya pula. Diciptakannya bulan, matahari, lautan, sungai, bintang, minyak bumi, ikan, ternak, tumbuhan, hutan, pegunungan dan sebagainya.

Kita sebagai khalifah dari Allah yang Khaliq (Pencipta) maka harus bisa mengetahui dan menggunakannya sesuai dengan tujuan penciptaan makhluk2Nya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw adalah diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan "akhlaq" (Hadits). Dan diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk memberikan contoh akhlaq kepada manusia bagaimana berakhlaq terhadap semua ciptaan Allah. Nabi memberikan contoh bagaimana perbuatan yang paling benar, baik dan indah kepada semua makhluk ciptaan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan tiap-tiap makhluk tersebut. Dikatakan pula beliau adalah diutus pula untuk seluruh alam.

Wassalamualaikum wr.wb,

Arief Wiryanto


Posted at 11:51 am by ariefsalman
Comment (1)  

Friday, February 11, 2005
VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma

VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma

Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Telah beredar VCD tayangan2 Tafsir Al-Mishbah, membahas berbagai Surat-Surat pada Juz Amma, yg pernah ditayangkan di Metro TV bulan Ramadhan 1425 H lalu. Nara sumber adalah Prof. Dr. Quraish Shihab, pakar tafsir Al-Quran Indonesia, lulusan summa cum laude dari Universitas Al-Azhar Cairo.

Dapatkan di toko2 buku Gramedia di kota Anda, insya Allah ada.

Pahamilah Al-Quran dengan sebenarnya, insya Allah dia memang obat utk kita.

Ini bukan promosi, hanya mengajak utk sama2 agar bisa memahami indah dan benarnya perkataan Tuhan kita, Allah swt, utk menyadari bagaimana cintaNya yg besar kepada kita. Hidayah Al-Quran adalah bentuk cintaNya yg terbesar utk kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb,

Arief  Wiryanto


Posted at 07:38 pm by ariefsalman
Make a comment  

Saturday, January 22, 2005
DOA


DOA


Alexis Carrel, seorang ahli bedah Prancis yg meraih 2 kali hadiah Nobel, menegaskan bhw kegunaan doa dapat dibuktikan secara ilmiah sama kuatnya dengan pembuktian di bidang fisika. Oliver Lodge mengatakan :" Kekeliruan mereka yg tidak melihat manfaat doa, karena menduga bahwa doa berada di luar fenomena alam. Doa harus diperhitungkan sebagaimana memperhitungkan sebab-sebab lain yg dpt melahirkan suatu peristiwa".

--diambil dr buku Lentera Hati, Quraish Shihab

Wassalamualaikum wr.wb,

Arief Wiryanto


Posted at 11:36 am by ariefsalman
Make a comment  

Monday, January 03, 2005
MUSIBAH, rahmat atau murka Tuhan ???

MUSIBAH*

 

* berkaitan dengan musibah gempa dan tsunami di Aceh yang menelan korban 80.000 orang meninggal, dan 6000 lebih hilang, pada tanggal 26 Desember 2004.

 

Prof. DR. M Quraish Shihab

Metro TV,

2 Januari 2005

14.00 – 15.00 WIB

Siaran Ulang

3 Januari 2005

00.30 – 01.30 WIB

 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, tiada suatu wujud yang dipuji dan dipuja walau dalam bencana kecuali kepada Allah. Jangan menggerutu, jangan bersangka buruk kepada Tuhan. Pujilah Dia walau dalam bencana. Memang pasti banyak pertanyaan yang muncul. Setiap ada musibah, setiap ada malapetaka, pasti kita bertanya-tanya. Mengapa demikian ? Apalagi malapetaka ini yang demikian besar, yang sementara orang mengatakan “tidak mampu lagi dipikul oleh manusia”.

 

Kita boleh bertanya, kita boleh mencari tahu, tetapi sekali lagi jangan bersangka buruk kepada Tuhan, tapi bersangka baiklah kepadaNya. Allah Rabbul Alamin. Dia pemelihara seluruh Alam. Dia mengatur keseimbangan alam raya ini. Terkadang diambilnya disini sedikit, untuk diberinya disana. Diberinya disana banyak untuk diserahkan kemari. Karena Dia pemelihara seluruh alam.

 

Surah Ar Rahman, Allah berfirman : “Seluruh makhluk yang ada di alam raya ini, bermohon kepada Tuhan, dan setiap saat Tuhan melayani mereka“.

 

Kita tidak hanya hidup di dunia, karena itu jangan mengukur sesuatu dengan ukuran dunia saja. Masih ada hidup yang jauh lebih panjang.  Mereka yang menderita di dunia, belum tentu menderita di akhirat. Dan kata orang, tidak jarang ada hari2 dimana kita menangis, setelah berlalu hari2 itu kita menangis lagi, merenung, mengapa dulu kita menangis ?

 

Kita tidak tahu banyak hal, karena itu Allah berfirman : “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal baik buat kamu“, boleh jadi kamu tidak senang kepada sesuatu tapi di balik itu Allah menjadikan kebaikan yang banyak buat kamu.

 

Itu prinsip2 dasar setiap kita menghadapi musibah. Sekali lagi jangan menggerutu. Silahkan menangis. Rasulpun sewaktu mendapat musibah, beliau menangis. Sahabat2nya bertanya, apa ini wahai Rasul ? Beliau bersabda : “Ini adalah pertanda rahmat dan kasih sayang, kita tidak berucap kecuali apa yang diridhai Allah“.

 

Mari kita lihat lembaran-lembaran Al-Quran, bagaimana uraiannya tentang musibah. Sebenarnya ada paling tidak ada 4 kata yang digunakan Al-Quran untuk menggambarkan sesuatu yang tidak berkenan di hati seseorang, diantaranya :

 

  1. Musibah (sudah masuk perbendaharaan bahasa Indonesia),
  2. Bala’ (sudah masuk juga dalam perbendaharaan bahasa Indonesia),
  3. Fitnah (masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, tetapi dalam pengertian yang lain – Fitnah dalam bahasa Al-Quran, artinya ujian atau siksaan),
  4. Imtihan (ujian yang maknanya melapangkan qalbu seseorang. Tujuan dari setiap ujian adalah  melapangkan qalbunya sehingga kualitasnya naik).

 

Kita akan bahas 2 dari keempat kata tersebut yaitu Musibah dan Bala’.

Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan bencana, kemalangan, cobaan. Dalam AlQuran ada 67 kali kata yang seakar dengan kata ‚musibah’ dan 10 kali kata ‚musibah’. Musibah pada mulanya berarti sesuatu yang menimpa atau mengenai. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi karena boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka AlQuran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk.

 

Memang AlQuran mengisyaratkan bahwa “tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahmu“, tetapi disisi lain, ketika AlQuran berbicara tentang Bala’, dikatakannya musibah itu datang dari Allah swt. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas ijin Allah ketika kita berbicara tentang Bala’ (yang diartikan juga bencana).

 

Sebenarnya Bala’ pada mulanya berarti menguji bisa juga berarti menampakkan. Seseorang yang diuji itu dinampakkan kemampuannya. Hidup ini adalah ujian. Itu sebabnya Allah swt menyatakan :“Allah yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji kamu, untuk melihat bagaimana kualitas kamu, siapa yang diantara kamu yang lebih baik amalnya“. Kita lihat ujian/bala’ datangnya dari Tuhan. “Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang2 yang berjihad di jalan Allah dan bersabar“. Allah menurunkan bala’ tanpa campur tangan manusia. “Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar, kematian sanak keluarga“. “Berilah berita gembira kepada orang2 yang sabar“.

 

Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang menduga bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan ? Dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan ? Itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang2 yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata “saya disenangi Tuhan“, dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya“. Jangan duga, saudara2 kita di Aceh yang meninggal dan ditimpa musibah, dibenci Tuhan. Jangan duga, yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya2 disenangi Tuhan. “KALLAA“ (TIDAK). Disini Allah menggunakan kata BALA’ –yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan.

 

Dulu jaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, terluka sekian banyak sahabat Nabi, bahkan Nabipun terluka. Allah swt pasti tidak benci pada Nabi, sehingga beliau terluka. Allah pasti merestui sahabat2 yg gugur itu, walaupun mereka menderita. Ketika itu turun ayat :”Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang2 yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman“. Di Surat Ali Imran, Allah berfirman, tujuan Allah turunkan cobaan ini adalah supaya Allah mengangkat dari kalangan kamu sebagai syuhada’. Kita bisa berkata bahwa yang gugur mendapatkan bencana ini, disiapkan oleh Tuhan tempat yang tinggi, karena mereka adalah orang2 mukmin. Dan tujuan Allah turunkan bencana ini adalah supaya Allah mengetahui siapa orang2 yang benar2 beriman dan yang tidak. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah memberikan tempat yang sebaik2nya. Allah berfirman bahwa Allah juga akan membersihkan hati kamu dan menghapus dosa2 kamu. Melihat kondisi saudara2 kita di Aceh, kita menjadi sedih, kita menjadi menangis, tapi agama mengingatkan kita semua bahwa Tuhan punya tujuan.

 

Dalam hidup ini, Allah menciptakan orang2 untuk tujuan2 tertentu. Dalam sebuah hadits, Allah menciptakan makhluk2 yang ditugaskannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya yang lain. Ada orang2 kaya yang diberi kekayaan, yang sebenarnya dipilih Allah agar orang2 itu memberi bantuan kepada orang2 yang butuh. Mudah2an kita termasuk orang2 yang dipilih Allah itu. Ada lagi orang2 yang diciptakan Allah untuk menjadi alatnya Tuhan untuk mengingatkan orang lain. Para syuhada’ ini adalah alat2 yang dipilih Allah. Itu sebabnya kita baca di dalam Al Quran ada istilah “IBADULLOHIL MUKHLASHIN atau hamba2 Allah yang dipilih”. 

 

Sekarang ini banyak orang yang lengah dan lupa kepada Allah. Memang rutinitas sering menjadikan kita lupa kepada Allah. Karena itu kita perlu diingatkan. Ada orang2 yang tidak menyadari adanya Allah karena melihat segala sesuatu berjalan harmonis. Tuhan ingin mengingatkan orang2 tersebut, bahwa jangan duga Allah telah lepas tangan. Diingatkannya manusia melalui bencana. Kalau dulu sekian banyak orang yang lupa Allah, sekarang Dia mengingatkan kita melalui rahmatNya. Itu sebabnya di dalam AlQuran, disebutkan :“Apakah mereka tidak sadar bahwa setiap tahun Kami mencoba mereka, Kami menurunkan ujian kepada mereka supaya mereka sadar, supaya mereka bertaubat ?“. Jadi sekali lagi, saya (Quraish Shihab) tidak melihat ini sebagai murka Allah. Ini rahmatNya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah, supaya lebih dalam lagi solidaritas kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah. Dan yang gugur, yang luka, yang menderita itu dijadikan oleh Allah sebagai alat2Nya untuk mengingatkan kita, itulah mereka yang dinamai dengan “Ibadullohil Mukhlashin atau Hamba2 Allah yang terpilih“.

 

Dia pilih orang2 yang gugur, Dia pilih anak2, Dia pilih orang2 yang tidak berdosa, Dia pilih orang2 tua, untuk Dia jadikan syuhada, Dia jadikan saksi2, Dia jadikan alat2Nya. Untuk siapa ? Untuk kita yang hidup. Allah tidak menyia2kan mereka. Di dalam hadits, Allah katakan, Seandainya bukan karena anak2 yang masih menyusu, seandainya bukan karena orang tua yang sedang bungkuk, seandainya bukan karena binatang2, niscaya Allah akan menjatuhkan siksa kepada kamu, siksaan yang luar biasa. Tapi mengapa yang diambil olehNya disana anak2, orang tua, binatang ? Itu yang menjadikan kita bersangka baik kepada Allah dan menyatakan bahwa ini bukan murka, ini hanya peringatan. Kita terima itu. Peringatan untuk kita yang hidup. Kita tidak perlu larut dalam kesedihan, tetapi kita perlu mengambil pelajaran.

 

Salah satu pelajaran adalah kita lihat di televisi, kita lihat badan2 mereka, rupanya begitulah badan kita. Jangan terlalu memberi perhatian kepada badan dengan melupakan ruh. Itu pelajaran yang dapat kita angkat. Jangan menilai orang dari penampilannya. Lihatlah itu semua, dan ingat dalam Al Quran, Allah berulang2, apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa peringatan Kami datang secara tiba2 ketika mereka sedang bermain2. Ini yang kita lihat. Ini sebenarnya kiamat kecil, bahkan boleh jadi yang mengalaminya tak menduga itulah kiamat. TIBA2, begitulah jadinya nanti. Sebenarnya tujuannya adalah untuk kita. Allah merahmati kita dengan memberi peringatan. Belum sampai pada murkaNya, dan jangan duga itu murkaNya.

 

Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ditikam, beliau berteriak :“Demi Allah, saya telah memperoleh keberuntungan“. Beruntung karena mati. Allah mengangkat derajat beliau, Allah mendudukkan pada kedudukan yang demikian tinggi karena mati syahid. Nah, kalau kita membaca ayat di Surat Ali Imran :“... supaya Dia mengangkat diantara kamu Syuhada (orang2 yang menjadi saksi) dan untuk membersihkan hati kamu dari segala macam dosa’“. Untuk orang2 yang meninggal, kita antar dengan rasa sedih tetapi dalam saat yang sama beruntunglah mereka. Dan yang tinggal, kita harapkan mendapatkan pelajaran dari ujian ini, dari bencana ini. Mudah2an kita dapat menyusul mereka dalam kematian yang diridhai Allah.

 

Itu sebabnya ada doa yang diajarkan Nabi :

“Wahai Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik2nya, dan kematian yang sebaik2nya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang2 yang bahagia, kehidupan orang2 yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang2 yang syahid (orang2 yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya).

Ya Allah, ampunilah orang2 yang meninggal dan yang masih hidup, anak2 kecil, orang2 dewasa, baik yang perempuan maupun yang laki2”.

 

RABBANAA AATINA FIDDUNYA HASANAH

WA FIL AKHIRATI HASANAH

WA QINA ADZABANNAR

(Ya Tuhanku, berilah kepadaku kehidupan dunia yang baik, kehidupan akhirat yang baik dan jauhkan kami dari siksa api neraka)

 

 

Pertanyaan :

 

  1. Bagaimana mendeteksi suatu musibah itu merupakan bentuk kasih sayang atau bentuk murka Allah ?

 

Jawab :

      Setiap musibah kita harus introspeksi dan bersangka baik pada Allah. Kalau kita melihat dan menyadari bahwa sebenarnya kita tidak memiliki pelanggaran yang demikian jauh dan kita melihat bahwa bencana yang terjadi itu justru pada orang2 yang tidak berdosa, maka agaknya kita optimis bahwa ini adalah rahmat Allah. Tetapi kalau memang itu menimpa orang2 yang bergelimang dosa maka ketika itu kita bisa menduga bahwa ini adalah siksa dari Allah swt. Betapapun semua itu adalah peringatan dari Allah kepada orang2 yang hidup atau melihat atau mengetahui tentang bala’/musibah itu.

Mungkin sebagian musibah bisa dideteksi dan sebagian yang lain tidak dapat. Ada indikator2, namun mengenai gempa dan tsunami, sampai sekarang saya menduga  keras bahwa kemampuan manusia untuk mendeteksinya secara dini belum lagi ada, apalagi buat kita yang berada di Indonesia.



Pertanyaan :

 

  1. Dalam rangka menyambut Idul Adha dan pelaksanaan Qurban, dan terjadinya musibah, apakah bisa dana yang kita kurbankan itu untuk disumbangkan kepada saudara2 kita yang berada di Aceh ?

 

Jawab :

Berkurban pada Idul Adha itu sunnah. Di sisi lain, membantu orang2 yang dalam kebutuhan bisa mencapai tingkat wajib. Nah karena itu, saya (Quraish Shihab) sangat sependapat apabila kita mengalihkan niat untuk berkurban itu apakah dengan berkurban kemudian kurbannya diberikan pada saudara2 kita di Aceh, atau dengan menggunakan harga kurban itu untuk disalurkannya sebagai bantuan kepada saudara2 kita di sana. Karena pada prinsipnya berkurban itu sunnah hukumnya, dan membantu orang2 yang butuh, itu lebih diutamakan.



Pertanyaan :

 

  1. Kata Bapak, hidup ini adalah ujian, dan dalam Quran dikatakan “Beritakanlah kepada orang2 yang sabar”. Yang ditanyakan, bagaimana agar kita dapat bersabar ?

 

Jawab : 

Ada 3 hal yang harus kita renungkan :

    1. Setiap ujian yang menimpa kita bisa lebih besar dari yang kita terima. Kita lihat misalkan di Aceh, ada orang yang meninggal 2 anaknya, 1 masih hidup, untungnya tidak ketiga2nya meninggal dan sebagainya.
    2. Setiap seseorang terkena musibah dan dia sabar, pasti memperoleh ganjaran dari kesabarannya.
    3. Semua ujian yang diterima dalam kaitan dengan kehidupan dunia, itu sebenarnya ringan, karena dia masih memiliki keyakinan tentang wujud dan kemurahan Allah swt. Dan Allah itu wujud sepanjang masa bahkan sebelum masa. Hidup ini masih ada di akhirat sehingga anugerahnya akan dilimpahkan kepada yang bersabar. Itu sebabnya “kami memang milik Allah, kami adalah alatNya Allah, tetapi kami akan kembali kepada Allah“. Kita harus sadar tentang ini. Agama memberikan kesadaran kepada kita, bahwa hidup ini panjang, bukan hanya hidup duniawi tapi juga ukhrawi.

 

Pertanyaan :

 

  1. Apa sikap terbaik kita ketika kita menerima ujian atau musibah dari Allah ? Karena ketika musibah itu datang, pastinya kepanikan yang menimpa kita. Sikap terbaik apa kepada Allah dan juga kepada lingkungan kita ?

 

Jawab :  Yang terbaik :

    1. Kembalikanlah segala sesuatu kepada Allah. Yakinlah bahwa tidak ada pilihan yang buruk.
    2. Beristighfarlah, bermohon ampun.
    3. Bermohonlah kepada Allah. Ada doa sebagai berikut :

                                                               i.      Ya Allah kami tidak bermohon untuk membatalkan apa yang Engkau tetapkan tetapi kami bermohon kiranya musibah ini menimpa kami secara lemah lembut. Kalaupun harus terjatuh, biarlah kami terjatuh di atas jerami.

    1. AlQuran mengingatkan, “tidak ada suatu musibah yang terjadi kecuali itu sudah dalam pengetahuan Tuhan sebelum itu diciptakan“. Mengapa demikian ? “supaya kamu tidak larut dalam kesedihan, seandainya itu musibah. Dan supaya kamu tidak larut dalam foya2 kegembiraan seandainya itu sesuatu yang menguntungkan kamu“. Kita harus hidup seimbang, jangan larut dalam kesedihan.
    2. Yakinlah setiap ada 1 kesulitan pasti selalu disusul dengan 2 kemudahan. Kita harapkan kesulitan yang menimpa saudara2 kita dimanapun akan disusul dengan kemudahan2 dari Allah asal disertai dengan kesabaran dan optimis.

 

Kesimpulan :

 

Pada prinsipnya ujian atau musibah itu berada dalam kemampuan kita dalam memikulnya selama kita ingin menggunakan petunjuk dan potensi Allah yang dianugerahkan Allah kepada kita. Allah menganugerahkan kita tuntunan agama. Yang memperhatikan tuntunan agama dia akan mampu memikulnya. Allah menganugerahkan kita potensi optimisme, Allah menganugerahkan kita potensi lupa. Ini semua menunjukkan bahwa memang setiap ujian itu diberikan Allah, kalau kita mampu memikulnya selama kita memanfaatkan potensi tersebut dan dekat dengan Allah. Itu sebabnya, barangsiapa yang bertaqwa, Allah akan berikan hidayah/petunjuk diantaranya petunjuk menangani problema, dan mendapatkan curahan solawat, ampunan dan rohmat.

 

Wassalamualaikum wr.wb,

 

 

Arief Wiryanto


Posted at 10:28 am by ariefsalman
Make a comment  

Saturday, January 01, 2005
PROFIL PROF. DR. M. Quraish Shihab

Dr. Quraish Shihab

Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil "nyantri" di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah. Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-I 'jaz Al-Tasyri'iy li Al-Qur an Al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, dia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain, penelitian dengan tema "Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur" (1975) dan "Masalah Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).

Pada 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa'iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Quran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtat ma'a martabat al-syaraf al-'ula).

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, dia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syari'ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di sela-sela segala kesibukannya itu, dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri.

Yang tidak kalah pentingnya, Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Di surat kabar Pelita, pada setiap hari Rabu dia menulis dalam rubrik "Pelita Hati." Dia juga mengasuh rubrik "Tafsir Al-Amanah" dalam majalah dua mingguan yang terbit di Jakarta, Amanah. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi majalah Ulumul Qur'an dan Mimbar Ulama, keduanya terbit di Jakarta. Selain kontribusinya untuk berbagai buku suntingan dan jurnal-jurnal ilmiah, hingga kini sudah tiga bukunya diterbitkan, yaitu Tafsir Al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1984); Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987); dan Mahhota Tuntunan Ilahi (Tafsir Surat Al-Fatihah) (Jakarta: Untagma, 1988).

___________________________________________
MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net


Posted at 09:48 pm by ariefsalman
Comments (3)  

Thursday, December 16, 2004
Menjemput Bidadari - Epicentrum

Download Clip

EPICENTRUM

 

 

Menjemput Bidadari

Adalah Engkau

Rembulan di Langit Hatiku

Selamat Datang Bunga

Perjalanan Tepi Malam

 

Lirik Lengkap

 

Menjemput Bidadari

by Dani Setiawan
 --nantikan segera kaset albumnya

    EPICENTRUM

bila yakin tlah tiba, teguh di dalam jiwa,
kesabaran menjadi bunga
smentara waktu berlalu,
penantian tak berarti sia-sia,
saat perjalanan adalah pencarian diri

laksana Zulaikha, jalani hari,
sabar menanti Yusuf Sang Tambatan Hati
di penantian mencari diri, bermohonkan
ampunan, ... dipertemukan
segra kan ku jemput engkau bidadari,
bila tiba waktu kutemukan aku ya Ilahi Robbi,

keras ku mencari diri, sepenuh hati
teguhkanlah ku dilangkah ini,
di pencarian hakikat diri
dan ijinkan ku jemput bidadari, tuk bersama
menuju-MU, mengisi hari

kini yakin tlah tiba, teguh di dalam jiwa,
kesabaran adalah permata
dan waktu terus berlalu,

penantian selalu memiliki arti, karna perjalanan
adalah pencarian diri laksana Adam dan Hawa,
turun ke bumi, terpisah jarak waktu
di penantian mencari diri, bermohonkan
ampunan, ..

dipertemukan bidadari tlah menyentuh hati,
teduhkan nurani
bidadari tlah menyapa jiwa,
memberikan makna

wassalamualaikum wr.wb,


Arief Wiryanto

 

 


Posted at 11:04 am by ariefsalman
Comment (1)  

Monday, November 22, 2004
KAJIAN TAFSIR QURAN, AL-MISHBAH

Assalamualaikum wr.wb,

Ikuti terus kajian Tafsir Ayat-ayat Quran, Al-Mishbah, dengan nara sumber Prof. Dr. M.
Quraish Shihab di Metro TV, tiap hari jam 04.30 - 05.30 WIB.

Semoga kita menjadi semakin mengerti apa maksud Allah.

Wassalamualaikum wr.wb,

Arief Wiryanto

Posted at 08:26 am by ariefsalman
Make a comment  

Tuesday, October 12, 2004
PUASA & KEMENANGAN

PUASA & KEMENANGAN

Seperti kita ketahui, puasa atau shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan  suami isteri dari terbit fajar sampai terbenam  matahari.

 

Akan tetapi makna dan  hikmah  yg terkandung  dari puasa/shaum adalah  lebih  dari itu. Kata  nabi, ada orang-orang  yang  nantinya mendptkan  puasa sekedar lapar dan  haus saja. Mereka  kehilangan  makna.

 

Jadi  apa makna  puasa/shaum ?  lalu  mengapa  nabi  mengkaitkan dengan  kemenangan  jika kita  berhasil  menemukan  dan menerapkan  makna  terdalam  puasa  itu ?

 

Makna puasa  dlm artian  menahan  diri dan  mendptkan kemenangan, dapat diibaratkan  demikian  :

 

apabila  dalam  pertandingan  sepak  bola,  bayangkan  kita adalah sebagai pemainnya, dan bola  adalah perlambang nafsu dan potensi-potensi lain dari diri kita. Apabila kita mndptkan lemparan bola yang datang ke arah kita, maka bola kita tahan agar dpt kita kendalikan. Setelah  berhasil kita menguasai bola, tentunya bola jangan hanya  ditahan atau malah dihancurkan. Gol Kemenangan tidak tercapai jika bolanya hanya ditahan, tapi kita arahkan bola tersebut sehingga menghasilkan gol.

 

Oleh karena  itu,  Islam mengajarkan  apabila kamu menyadari nafsu dan potensi-potensi2mu datang kepadamu, maka kendalikan mereka. Jangan dimatikan tapi diarahkan. Karena mereka dapat menjadi kekuatan apabila kita mampu mengendalikannya.

Akhir  puasa, jika kita berhasil  dengan sukses mengendalikan  nafsu dan potensi-potensi lain dlm diri kita, tidak hanya ditahan tapi diarahkan maka akan mendapatkan kemenangan buat diri masing-masing kita. Itulah KEMENANGAN PRIBADI.

 

Dalam bermain sepakbola pun perlu ada kerjasama. Kemenangan tidak akan tercapai sempurna bila tidak ada kerjasama yang bagus di antara pemainnya. Gol  kemenangan  memang dapat diciptakan dari pribadi-pribadi tapi itu sifatnya insidental dan sekali-sekali saja. Jauh lebih baik jika kemenangan itu diperoleh karena ada kerjasama tim yang bagus.

 

Oleh karena itu dalam berpuasa, puasa kurang sempurna jika kita tidak peduli dengan orang lain, dengan sesama muslim, sesama tim kita sendiri, itulah zakat.

 

Kemenangan yang diperoleh dari proses kerjasama dan saling tolong menolong yang bagus dan indah, maka akan menciptakan KEMENANGAN BERSAMA.

 

Dunia lebih membutuhkan SUPER TEAM dibandingkan dengan  SUPER MAN, kata sobat saya, teguh sudibyantoro.

 

Demikianlah sekelumit dari hikmah Puasa yang dapat kita ambil. Yang benar datang dari Allah swt, yg salah dari saya sendiri.

 

Wassalamualaikum  wr.wb,

 

Arief Wiryanto


Posted at 03:02 pm by ariefsalman
Comment (1)  

Friday, October 08, 2004
Khusyu' Dalam Sholat

Assalamaualaikum wr.wb,

Khusyu dlm sholat bukan berarti mengosongkan
dari segala pikiran selain Allah. Karena nabi pun
pernah ketika selesai sholat, beliau masuk ke
dalam kamar kemudian keluar dan berkata "saya
lupa dan teringat ketika sholat bhw saya harus
melunasi hutang saya".


Khusyu' dapat diibaratkan sebagai berikut :

Jika kita diberi undangan untuk melihat-lihat
pameran lukisan yang diadakan oleh orang yg
sangat kita hormati, maka ada beberapa sikap
yang bisa kita lakukan :

- Kita menerima dan datang ke undangan
tersebut karena utk menghormati walopun kita
tidak mengerti tentang lukisan
- Kita datang dan kita termasuk orang yang
senang dan mengerti terhadap lukisan
- Kita datang, mengerti tentang lukisan dan kita
terpukau oleh salah satu lukisan yg dipamerkan,
sampai-sampai kita ditepuk oleh sahabat kita,
kita tidak merasakannya

Yg terakhir inilah tingkat Khusyu' yang paling
tinggi. Setidaknya kita memiliki khusyu' dalam
sholat dalam rangka menghormati undangan
Allah.

Sholatlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah di
hadapanmu... jika tidak bisa, ketahuilah dan
rasakanlah bahwa memang Allah sedang
melihatmu sedang sholat --- hadits Nabi.

Jika Anda sedang menghadap dengan orang yg
sangat Anda hormati, tentunya Anda akan sangat
konsentrasi kepada orang tersebut, sampai-
sampai tangan Anda tidak melakukan gerakan-
gerakan kecil yg kurang pantas dan tidak perlu.

Terpukaulah ketika sholat akan kebesaran2 Allah..

---- uraian pak Quraish ---

Wassalamualaikum wr.wb,

Arief Wiryanto

Posted at 07:35 pm by ariefsalman
Comments (2)  

Thursday, September 23, 2004
Kejujuran

Kejujuran

 

 

Prof. Quraish Shihab, Lc

Metro TV, 1 Agustus 2004, 14.00 – 15.00 WIB

 

 

Apa sih Jujur ?

 

Jujur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah :

-         tulus, tidak culas, lurus hati

-         wan yang harus diberikan pengantin laki kepada mertua perempuan

 

Jujur menurut Al Quran adalah Shidq, yang mempunyai makna dasar “kuat”. Orang yang shidq (benar / jujur) adalah kuat, karena itu dia berani.

 

Kejujuran mencakup semua hal dari sejak kita berniat sampai beraktifitas. Kata Nabi, “lakukanlah kejujuran dalam segala aktifitas kamu”. Mau berjuang, kita harus jujur, kalahpun harus jujur.

Doa Nabi adalah masukkan aku dengan jujur, dan keluarkan aku dengan jujur pula.

 

Kejujuran dalam berucap

 

Kejujuran dalam berucap bukan sekedar benar isinya melainkan juga harus tepat. Seperti contoh, ada ayat QS yang mengatakan “Tiap-tiap yang hidup itu pasti mati”, namun bila kita sampaikan ayat tersebut pada pesta pernikahan maka kita sudah tidak berbuat jujur, karena tidak tepat walaupun ayat tersebut benar.

 

Lawan jujur dalam berucap adalah berbohong. Berbohong adalah mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan yang Anda ketahui. Kita dilarang untuk berbohong, karena bisa menyesatkan dan menyengsarakan orang lain. Orang yang berbohong adalah orang yang lemah, orang yang takut dan memiliki kompleks kejiwaan yang sakit. Karena lemah yang melahirkan kebohongan itulah maka orang tersebut dikatakan ‘tidak shidq’. Orang yang tidak kuat berpeluang besar untuk tidak jujur.

 

Pesan nabi : “Jangan berbohong. Kamu mengira dengan berbohong dapat menyelamatkanmu padahal berbohong dapat mencelakakanmu”.

 

Berbohong  dapat dibenarkan hanya dalam 3 kondisi :

-         dalam peperangan.

-         melakukan ishlah dalam menyatukan kembali dua orang yang sedang bermusuhan

-         gombal kepada pasangan suami/isteri kita.

 

Ketika kita terpaksa harus berbohong dalam 3 kondisi tersebut kita pun harus jujur. Bagaimana  maksudnya  ? Katakan dan tekadkan dalam diri “Saya berbohong ini karena diperintah oleh Allah, untuk memenangkan peperangan, atau untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan atau untuk menyenangkan hati suami/isteri saya”.

Kejujuran dalam berucap adalah berkata benar dan tepat.

 

Kejujuran dalam berniat

 

Jujur dalam berniat adalah kita harus tulus, ikhlas baik kepada Tuhan maupun kepada manusia. Bahkan dalam bersedekahpun kita harus jujur. Sedekah asal katanya pun dari Shidq atau Shidqah, yang artinya jujur (harus tulus, ikhlas).  Memberikan mahar kepada pengantin wanita pun disebut dengan shidaq. Karena itu memberikan mahar kepada pendamping wanita harus disertai niat yang tulus, ikhlas.

 

Kejujuran dalam berniat adalah berniat dengan tulus ikhlas, baik kepada Tuhan maupun kepada manusia.

 

Kejujuran dalam bertindak

 

Dalam bertindak pun kita harus jujur. Jangan curang, jangan menipu dan jangan memanipulasi fakta dan data. Bertindakpun  selain kita harus  benar juga harus tepat. Misalkan dalam ingin bertindak melawan kejahatan, bagi kita sebagai rakyat tindakan yang jujur adalah melaporkan kejahatan kepada pihak kepolisian. Tidak jujur bila kita main hakim sendiri. Bagi polisi, jujur apabila melawan kejahatan dengan mengejar dan menangkap pelakunya. Pengadilan yang jujur adalah pengadilan yang mampu memberikan hukuman setimpal dengan perbuatannya.

Dalam berdagangpun kita harus jujur, ungkapkan aib barangnya, jangan sampai ditutup-tutupi. Rasulullah mengajarkan hal ini dalam berdagang, apakah lantas barang dagangannya kemudian menjadi tidak laku. Malah sebaliknya, sangat laku keras, sehingga beliau terkenal seorang pedagang yang jujur dan orang-orangpun datang berbondong-bondong kepadanya.

 

(Dalam perusahaan,  apabila kita melayani pelanggan kita harus terbuka, itulah yang sering dituangkan dalam “Term & Condition” agar pelanggan nantinya tidak kecewa karena apa yang diharapkan dari pelayanan maupun barang yang dibeli tidak sesuai).

 

 

Pada siapa saja kita harus jujur ?

Kejujuran Pada  Diri  Sendiri

 

Kejujuran pada diri sendiri  adalah kejujuran yang dilandasi pada pengakuan diri  bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kekurangan. Apabila  dirinya tidak mampu  untuk mengerjakan sesuatu maka dia  akan katakan “tidak mampu”. Apabila dirinya memang tidak tahu, maka dia akan katakan “tidak tahu”. Orang  yang mengakui kelemahan dirinya adalah orang yang  lebih berpengetahuan daripada orang  yang mengatakan “bisa”, “tahu”  padahal dirinya “tidak bisa” dan “tidak tahu”.

 

 

Kejujuran Pada  Manusia

 

Kejujuran mengantar seseorang dan orang lain mendapat kebaikan dan mengantarnya ke surga. Jujur  pada anak-anak  kita adalah mengakui dengan sepenuh hati kemampuan, kekurangan dan keterbatasan mereka. Sehingga jujur pada anak kecil adalah menerima kesalahan-kesalahan kecilnya, tidak memaki dia, tidak membebani dia dengan beban berat.

 

Jujur pada pasangan kita (suami/isteri) adalah jujur yang sangat terbuka. Kata Nabi hubungan  pasangan suami/isteri adalah bak laksana luar angkasa, tidak ada batas di antara mereka seluas luar angkasa. Kalau antara mereka masih ada gengsi, takut untuk terbuka maka masih ada batas antara keduanya. Ini yang seharusnya tidak diharapkan. Seharusnya diantara mereka adalah saling terbuka, saling jujur. 

 

Kejujuran Pada Allah

 

Kejujuran pada Allah adalah kejujuran yang mengakui  fakta  bahwa Allah adalah Esa, Satu  dan segala sifat-sifatNya yang Agung, seperti Maha Pemurah, Penyayang. Itulah  Tauhid, kejujuran  yang  paling tinggi kata Nabi. Dampak dari kejujuran ini adalah sebuah  keikhlasan  dan ketulusan pada Allah dalam segala tindak kita.

 

Catatan :

 

Kejujuran adalah kekuatan sesuai dengan kata-nya shidq yang berarti kuat. Kejujuran dapat membuat kita kuat  karena kejujuran selalu berpihak pada fakta dan kebenaran, kita tidak akan tertipu dan khawatir. Kiat-kiat untuk dapat terus berlaku jujur adalah :

-         Carilah teman yang jujur dan hindari teman yang buruk

-         Carilah lingkungan yang jujur  dan hindari lingkungan yang buruk

-         Ingat selalu dampak buruk dari ketidakjujuran

-         Ingat kepada Allah.

 

 

 

Arief Wiryanto

Yayasan Jaringan Informasi Islam


Posted at 03:38 pm by ariefsalman
Comments (2)  

Next Page
Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< March 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed