 |
Friday, June 10, 2005
SUNNATULLAH & FENOMENA ALAM
Perbedaan Sunnatullah & Fenomena Alam
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA Lentera Hati - MetroTV 13 Pebruari 2005, 14.00 – 15.00 WIB Disusun oleh Teguh Sudibyantoro tghs01@yahoo.com Arief Wiryanto ariefwiryanto@yahoo.com http://ariefhikmah.blogdrive.com
Kita bicara yang sederhana, yang mudah-mudah, karena saya (pak Quraish) bukan ilmuwan. Kita pernah membuat air menjadi mendidih. Kita juga pernah membuat es. Itu semua dibuat dari air/zat yang sama. Itu adalah fenomena sehari-hari dan terulang kapan saja, di mana saja, asal melakukan prosedur/proses seperti dengan memakai kompor atau kulkas. Ini yang dinamakan hukum-hukum alam. Setiap saya memanaskan air sampai suhu tertentu maka air mendidih. Setiap saya mendinginkan air sampai katakan di bawah nol maka air membeku. Hanya sebelum ditemukan kulkas, belum bisa membuat es sedemikian mudah, tetapi es/proses itu sudah ada.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al-Baqarah (2) ayat 30.
Sekarang kita lihat Quran. Ketika Allah akan menciptakan Adam, malaikat bertanya, "Ya Tuhan, Apakah Kamu akan menciptakan makhluk yang merusak di bumi. Kami kan bertasbih dan taat kepadaMu." Tuhan tidak menjawab Ya atau Tidak. Tetapi Tuhan membuktikan kewajaran makhluk yang diciptakanNya ini untuk menjadi khalifah di dunia dengan mengajarkan kepadanya al asma'. Adam diberi potensi utk memahami alam ini. Ada kemampuan kita kalau kita gunakan otak/pikiran, bisa mengetahui kenapa air menjadi beku, dapat mendidih, dan selalu mencari tempat rendah. Adam diajarkan, diberi potensi mengetahui hukum-hukum alam. Di sisi lain, alam tidak dijadikan punya kemauan, apa pun ketetapan Tuhan diikuti oleh alam. Matahari setiap hari terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Lahir hukum alam [ bagi manusia ]. Matahari, gunung, angin, dll ada fenomenanya yang tetap. Apakah bumi ini bergerak atau tidak? Bergerak. Gunung itu bergerak atau tidak? Quran berkata bahwa gunung bergerak. Bergerak sedikit demi sedikit. Dulu jazirah Arabia menyatu dengan Afrika, bergerak, berpisah, dan lahir Laut Merah. Kata ilmuwan, jazirah Arab mendekat ke Iran, Australia mendekat ke Nusantara. Katanya bergerak setiap tahun sekian sentimeter. Tsunami yang terjadi bulan Desember 2004 lalu di Aceh juga begitu.
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. An-Naml (27) ayat 88.
Allah memberi kita potensi untuk mengetahui itu. Kita ambil yang sederhana. Api bisa membakar. Kita bisa memanfaatkan. Api kalau dekat bensin akan terbakar. Bisa dihindari atau tidak? Bisa. Jangan dekatkan bensin dengan api. Kita diberi kemampuan oleh Allah, kalau kita mau belajar, mengerti alam. Itu sebabnya, dulu sebelum terjadi tsunami, orang berkata, pakar-pakar kita di Bandung menduga bakal terjadi seperti ini. Tetapi kita kurang tanggap. Setelah terjadi, dunia seluruhnya berkata kita harus pasang alat-alat untuk mempelajari supaya tidak terjadi bencana seperti ini lagi. Kita diberi kemampuan oleh Allah. Allah berfirman Allah menundukkan apa yang di langit & di bumi, semuanya anugerah Allah. Bagaimana caranya menundukkannya? Hukum-hukum alamNya tetap. Di mana pun pergi, api membakar. Kita tundukkan api, hei kamu jangan membakar, kita masak nasi aja. Di dapur begitu kan? Dengan kemampuan kita.
Saya mau melangkah lagi. Apa yang kita namai hukum-alam alam ini, apa pasti seperti itu? Nah kita baca Quran lagi ya? Pernahkah api tidak membakar? Ingat kisah Nabi Ibrahim? "naruquni bardan wa salaman ala' Ibrahim".
“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",QS. Al-Anbiyaa (21) ayat 69.
Kalau begitu yang menetapkan hukum alam ini siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau begitu, apa yang saya katakan jika air selalu mencari tempat yang rendah, selalu pasti begitu atau tidak? Kebiasaan (yang ditangkap) kita, di mana-mana seperti itu. Jadi hukum alam itu, apa yang kita lihat sebagai fenomena alam ini, menurut ilmuwan, adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Bisa tidak suatu waktu matahari terbit dari sebelah barat? Naa, bisa ketika mendekati kiamat. Karena hukum alam ini adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Apa yang kita anggap kebetulan sekarang, boleh jadi merupakan proses menjadi kebiasaan, itu kata ilmuwan. Tidak ada lagi yang pasti sekarang. Itu sebabnya dalam ajaran agama, semua harus memakai "insya Allah". Sejak ditemukannya bahwa atom masih bisa terbagi lagi menjadi proton & elektron, sejak itu ilmuwan berkata bahwa tidak ada lagi sesuatu yang pasti.
“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” QS. Al-Furqaan (25) ayat 2.
Sunnatullah. Segala sesuatu sudah Allah tentukan ukurannya. Quran: Allah menciptakan segala sesuatu dan semua diberi ukuran. Manusia ada ndak ukurannya? Bisa terbang seperti burung? Tidak, karena tidak mempunyai sayap seperti burung. Contoh lain, ibu membawa karet. Kalau saya lempar keras, melenting dia, lentingannya keras atau tidak? Keras. Ada ukurannya. Itu Tuhan yang atur. Quran: Matahari beredar di tempat peredaran itu takdir/ukuran yang diberikan Tuhan. 24 jam terbit lagi kamu. Tahun sekian, jam sekian, menit sekian kamu gerhana. Yang mengatur adalah Tuhan. Kalau Dia berkehendak, bisa Ia ubah. Tetapi Ia katakan waktu berbicara tentang sunnatullah, "walaa tajidu li sunnatina tahwila", kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.
“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu.” QS. Al-Israa (17) ayat 77.
“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ QS. Yaasin (36) ayat 39.
Sunnatullah adalah bagian fenomena alam. Quran menggunakan kata "sunnatullah" untuk hukum-hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat manusia. Kita orang per orang punya ajal atau tidak? Punya. Sebagai bangsa punya ajal atau tidak? Punya.
“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. QS. Yunus ayat 49.
Ada ndak hukum-hukum yang mengatur kejayaan suatu bangsa? Ada. Mau jaya? Kerja keras, punya pengetahuan. Ada ndak hukum-hukum yang membuat suatu bangsa bisa menang? Ada, ada hukum-hukum kemasyarakatan. Dalam Quran ada 16 kali kata sunnah. Sunnah artinya kebiasaan. Ada kebiasaan-kebiasaan, sama dengan hukum alam. Ada kebiasaan Tuhan menyangkut masyarakat. Bagaimana Tuhan mengubah suatu masyarakat. Ada kebiasaan, ada hukumnya. "Innallah laa yughoyiru ma bi qaumin, hatta yughoyiru bi anfusihim...". “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11.
Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat, kalau dia [masyarakat] tidak mengubah apa yang ada dalam pikirannya. Kalau tidak berubah nilai-nilai, tidak berubah pandangan hidup anda, anda tidak berubah. Bukan cuma tahu. Saya beri contoh. Saya tahu kereta akan berangkat dari Jakarta, katakanlah ke Bandung jam sekian. Saya tahu ada itu. [Ada kereta & jadwal]. Bisa mengantar saya ke Bandung? Kalau tahu saja, tidak. Harus apa? Saya harus mau. Kalau anda mau, mau saja sudah cukup atau tidak? Harus pergi ke stasiun dahulu, beli tiket dulu. Sudah punya tiket, sudah pasti sampai? Belum. Harus naik di keretanya dulu. Tidak bisa berubah ini. Itulah sunnatullah. Mau masyarakat ini maju. Ubah dulu pikirannya. Jangan malas. Harus rajin. Hargai waktu. Ini semuanya ada dalam benak kita. Sudah tahu itu, harus punya kemauan.
Jadi sunnatullah itu adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Tetapi sunnatullah dalam penggunaan Al Quran yang merupakan bagian dari hukum-hukum alam itu yang dinamai taqdir atau ukuran, sedangkan kata sunnatullah itu khusus untuk kehidupan bermasyarakat. Kalau ada masyarakat yang resah, pemerintahannya membuat keresahan, bisa bertahan pemerintahannya itu atau tidak? Itu hukum kemasyarakatan. Pasti orang ribut. Quran. Itu kaum musyrik Mekkah mau menggelisahkan kamu supaya mau mengusir kamu dari Mekkah, kalau sudah sampai puncak kegelisahan, masyarakat itu, pemerintahan itu akan runtuh. Di Indonesia terjadi itu. Dulu zaman komunisme bagaimana? Hancur, lahir orde baru. Orde baru muncul, mulai gelisah. Itu hukum kemasyarakatan. Itu yang dinamai sunnatullah.
Sunnatullah ini menurut Al Quran, adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Hukum-hukum Tuhan itu diantaranya ada hukum yang berkaitan dengan alam raya [dengan bumi, langit, matahari, bintang, dll], dan ada pula hukum yang berkaitan dengan manusia. Manusia sebagai perorangan, sebagai masyarakat. Kalau hukum Tuhan yang berlaku bagi manusia, dalam kehidupan bermasyarakatnya, dinamai sunnatullah. Kalau hukum Tuhan yang berkaitan dengan manusia dan juga alam semuanya dinamai taqdir. Kita bisa tahu taqdir, kita bisa pilih taqdir. Bisa ndak kita pilih taqdir? Nah kita lihat deh. Kalau buku tafsir ini di sini [ di atas meja ] . Kalau diangkat & dilepas, jatuh atau tidak? Taqdirnya jatuh. Kalau ditaruh di atas meja, jatuh atau tidak? Tidak. Bisa tidak saya pilih itu agar tidak jatuh? Bisa. Kalau saya angkat tafsir ini, bisa tidak? Bisa. Kalau saya angkat ada hukumnya. Kalau kamu mau angkat ini, kamu harus ulurkan tanganmu dan naikkan ke atas. Itu taqdir, ada ukurannya. Bisa tidak saya pertinggi ini lagi? Saya angkat tinggi sekali. Ada tidak ukurannya? Itu semua bisa saya pilih taqdir Tuhan. Ada tembok rapuh, saya sandar di situ, ambruk, bisa kena saya. Bisa tidak saya pindah dari situ? Nah kalau saya pindah pun itu taqdir Tuhan. Segala sesuatu ada taqdirnya. Ada hukum-hukum yang diatur Tuhan. Kalau berkaitan dengan manusia & masyarakatnya, dinamai sunnatullah. Tidak bisa maju jika tidak mengikuti sunnatullah. Ada hukumnya.
Bisa tidak, mendidihkan air jika tidak dipanaskan? Tidak bisa. Itu hukum alam. Bisa tidak, membeku jika tidak didinginkan? Tidak bisa. Itu ada hukumnya. Masak nasi terlalu lama, hangus tidak? Hangus, itu taqdirnya begitu. Masak nasi, kurang airnya? Keras, gosong. Nah ada ukurannya agar nasi bisa matang & enak. Bisa dipelajari kan? Bisa dihindari supaya tidak gosong/keras? Nah ini, Tuhan beri kita kemampuan untuk itu. Taqdir bisa dipilih? Bisa kan? Kenapa bisa masak bubur atau nasi? Karena kita bisa memilih. Tetapi ada ukurannya, yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan. Tsunami kemarin juga ada ukurannya. Kalau kita pandai, kita bisa menghindar, atau kita bisa mengurangi bahayanya. Kenapa di Jepang yang banyak terjadi gempa, tetapi mereka bisa lebih selamat ? Mereka membangun rumahnya yang sedemikian rupa, dan sebagainya. Ini namanya hukum alam. Kita dianugerahi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kemampuan untuk itu. Itu yang diisyaratkan oleh ayat "Wa 'alama Adamal asma 'al akulaha". “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 31.
Alam ini tidak bisa menghindar. Waktu Allah menciptakan alam raya, Allah berfirman kpd langit & bumi, " i'tiyar... " "Datang kamu, suka atau tidak suka". " ataina tha'in", "kami datang secara sukarela, kami tidak bisa membangkang".
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati.". QS. Fushshilat (41) ayat 11.
Kalau manusia bisa membangkang, kan? Hukum alam adalah ikhtisar dari pukul rata statistik, yang kita ketahui, Allah yang mengaturnya. Makanya kita tetap harus bermohon kepadaNya.
Al Quran menggunakan istilah sunnatullah utk hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, walaupun sementara ilmuwan muslim menjadikan istilah sunnatullah itu adalah hukum-hukum yang mengatur alam raya ini baik itu manusia secara individu atau kolektif maupun alam raya ini [bintang bulan dll], tetapi Quran membedakan itu.
Tanya : Seperti yang disampaikan bapak Quraish, gejala alam itu hukum Tuhan. Mengingat tsunami kemarin, apakah ini termasuk taqdir disamping hukum alam. Seperti diketahui, ahli Geologi sudah meramalkan ada benturan lempeng tetapi diramalkan berada di pantai Sumatera Barat, tetapi ternyata terjadi di Aceh. Antara pengetahuan manusia, koq ada kesenjangan dengan realisasinya. Selanjutnya, ketika terjadi musibah besar itu, ada dua pendapat yang saya baca di koran & majalah, ada yang tidak bisa menerima bahwa ini merupakan azab dari Allah atau musibah, tetapi meniadakan hal itu bahwa Allah itu tidak jahat sehingga menghukum orang-orang Aceh. Kenapa diberi azab, kenapa tidak di Jakarta. Di mana letak taqdir, ketika sebagai manusia telah berusaha dengan ilmu pengetahuan, terjadi musibah.
Jawab: Yang pertama, taqdir ada banyak & bermacam-macam. Sebagian dapat / sudah kita ketahui, sebagian ada yang tidak kita ketahui. Sebagian ada yang sudah jelas bagi kita, dan ada yang belum jelas bagi kita. Itu taqdir. Jadi kalau ibu tadi berkata bahwa ilmuwan memperkirakan di Sumatera Barat, jadinya di Aceh. Itu karena pengetahuan ilmuwan itu tidak menyeluruh. Seandainya pengetahuannya menyeluruh, ia bisa mendeteksi bahwa itu terjadi di Aceh. Itu kalau kita berbicara dari segi ilmu. Yang kedua, tidak terjadi kecuali atas dasar taqdir & ukuran / ketetapan Tuhan. Tetapi ketetapan Allah ini ada yang kita ketahui dan ada yang tidak kita ketahui. Ada yang bisa kita jangkau, dengan pengetahuan & mempelajarinya, seperti contoh air membeku / mendidih, ada yang kita tidak/belum tahu. Dulu orang-orang tua kita, 600 - 700 tahun yang lalu, belum tahu bagaimana membuat es. Nah kemajuan ilmu menjadikan kita tahu. Boleh jadi nanti suatu ketika kemajuan ilmu akan lebih tepat, ooh ini jadinya di sini. Seperti gerhana, sekarang saja kita bisa tahu kapan & di mana terjadinya dengan tepat, ya kan? Itu perkembangan ilmu. Kemudian, hukum-hukum alam ini tidak selalu pasti seperti itu. Ada faktor lain bisa mengubahnya. Itu sebabnya di atas saya katakan bahwa sejak ditemukannya atom terbagi lagi menjadi proton & elektron, ilmuwan berkata tidak ada lagi yang dinamakan pasti. Saya hanya bisa mengatakan, kalau terjadi A kemungkinan terjadi B, saya tidak bisa berkata pasti B yang terjadi. A kalau terjadi bisa terjadi B atau terjadi C, tetapi kemungkinannya terjadi B lebih besar, saya tidak bisa pastikan B. Karena yang mengatur adalah Allah yang Maha Berkehendak. Saya tidak ingin berkata bahwa yang terjadi di Aceh itu adalah murka Tuhan. Kadang ada musibah yang terjadi justru untuk mengangkat derajat orang-orang di sisi Allah. Sahabat-sahabat Nabi pernah berperang & gugur. Apakah orang-orang yang gugur itu dibenci Tuhan atau bagaimana? Itu satu. Yang kedua, kita harus berprasangka baik pada Tuhan. Orang-orang yang meninggal, kalau pun bergelimang dosa, kita juga harus menyebut kebaikan-kebaikannya. Kemarin, saya baru dari Mekkah, ada badai, apakah itu orang-orang jahat yang ada di Mekah? Mereka orang-orang yang sedang beribadah! Hujan lebat, menghanyutkan barang-barang. Ini bisa ujian atau peringatan Allah. Orang yang diberi peringatan Allah apakah dirahmati atau tidak? Dirahmati. Saya beritahu anak saya, "Hati-hati nak, di jalan ada beling", apa itu karena saya benci dia? Atau saya beri peringatan karena saya sayang? Saya akan berkata begitu, Tuhan masih sayang, beri kita peringatan. Jadi jangan berkata bahwa Tuhan murka. Sangka baik kepada Allah. Saya berkata, bahwa Tuhan akan mengubah wajah Aceh menjadi lebih baik. Tuhan menyadarkan bangsa ini agar lebih bersatu. Ya kan? Itu kalau kita mau bersangka baik kepada Allah.
Tanya: Gunung katanya bergerak, apakah bernafas? Seperti makhluq hidup? Jawab: Kita tidak harus berkata bahwa yang bergerak itu bernafas. Boleh jadi sesuatu itu bergerak dikarenakan sesuatu yang lain. Seperti lempeng yang bergerak karena didorong sesuatu. Saya tidak ingin berkata dapat bernafas, tetapi boleh jadi kita bisa berkata bahwa ia hidup dengan kehidupannya. Dalam Al Quran, bumi ini dianggap hidup. Gunung-gunung "dianggap" hidup. Nabi menamai gunung Uhud, "Uhud yuhibbuna, wa yuhibbuhu", " "Gunung Uhud ini mencintai kita, dan kita pun cinta kepadanya". Tapi ini dalam pengertian metafora. Nabi memberi nama-nama bagi benda-benda tak bernafas, tak bernyawa. Cerminnya dinamai "Al Midallah". Gelasnya dinamai As Shoddiq. Pedangnya dinamai Zulfiqor. Ini seakan-akan seperti makhluq hidup yang perlu persahabatan punya personality [kepribadian]. Jadi kalau ibu berkata gunung bernafas secara metafora Al Quran juga menamakannya hidup. Nabi menjadi rahmatan lil 'alamin. Berarti juga nabi memberikan rahmat kepadkepada seluruh alam termasuk gunung-gunung, dll, seakan-akan dia hidup.
Tanya: Apa beda antara taqdir dengan qadha qadar? Jawab: Qadar itu taqdir. Qadha itu pengetahuan Tuhan secara menyeluruh menyangkut segala sesuatu. Taqdir itu adalah ketetapanNya menyangkut rincian. Semua manusia, semua yang bernyawa pasti mati. Tuhan tahu itu. Tuhan sudah tetapkan itu. Tetapi, kematian si A itu kapan? Itu taqdir. Taqdir itu menyangkut orang per orang. Oo ini taqdirNya, dia meninggal karena "ini" pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Qadhanya apa? Semua ini akan meninggal. Itu salah satu yang dikemukakan ulama menyangkut perbedaan antara qadha & qadar. Jadi, tidak ada yang terjadi kecuali Tuhan sudah tahu terlebih dahulu. Itu qadhanya. Tetapi kejadiannya itu adalah taqdirnya.
Garis besarnya. Kita harus percaya bahwa ada hukum-hukum alam, segalanya sudah Tuhan atur sedemikian rupa dalam bentuk sistem / hukum. Kita perlu mempelajari itu supaya kita dapat memilih taqdirNya yang terbaik untuk kita. Tsunami adalah taqdir Tuhan. Bencana, ni'mat juga taqdir Tuhan. Kita hadir sekarang di sini juga taqdir Tuhan. Semua taqdir Tuhan. Yang baik yang buruk adalah taqdir Tuhan. Nah kita tinggal pilih-pilih. Mau ke Metro atau ke Niteclub? Kita punya kemampuan memilih.
Lagu pengiring:
Insaf lah wahai manusia Jika diri mu bernoda Dunia hanya naungan tuk makhluq ciptaan Tuhan
Dengan tiada terduga Dunia ini kan binasa Kita kembali ke asalnya Menghadap Tuhan yang Esa
Dia lah Pengasih & Penyayang kepada semua insan Jangan lah ragu atau bimbang pada keagungan Tuhan
Betapa Maha Besarnya Kuasa segala alam raya
Posted at 09:21 am by ariefsalman
Permalink
Thursday, June 02, 2005
MEMILIH SAHABAT
Prof. DR. M. Quraish Shihab
Lentera Hati, MetroTV
3 Oktober 2004
14:00 – 15.00 WIB
Disusun oleh
Teguh Sudibyantoro
tghs01@yahoo.com
Dan
Arief Wiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com
[Moderator]:
Boleh sedikit saya berpendapat : Ada beberapa lingkungan yg sangat
berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang pertama, yg paling
dekat dgn kita adalah keluarga atau di rumah. Yang tidak kalah
pentingnya adalah lingkungan di luar rumah yaitu di sekolah, teman,
atau yg palng dekat dgn kita adalah sahabat. Pada saat ini kita akan
membicarakan bagaimana cara memilih sahabat yg baik.
[Pak Quraish]:
Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau
sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn
sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir]. Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat.
Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya
kalau dia menjadi sahabat saya. Kalau saudara kita tidak menjadi
sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?
Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia,
sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan "sahabat kental". Apa
bedanya "teman" dan "sahabat kental" ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si
A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau
sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi
tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.
Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi
hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita
beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman
akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama
dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya
tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia
ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah
bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat
kental.
Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur'an. Istilah yg digunakan
tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada "shohib" yg dalam bahasa
Indonesia menjadi "sahabat", itu boleh jadi shohib ini tidak seide
dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat
dalam perjalanan.
Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur'an menamainya "shodiq" dari kata
"Shidq". "Shiddq" itu artinya "benar", "jujur". Naa, sahabat yg baik
itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya
selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar
menemani.
Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn "kholil". "Kholil" itu
terambil dari akar kata bermakna "celah". Orang yg begitu dekat dgn
anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk
ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai "kholil". Ada ndak yg begitu ?
Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.
Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg "dia adalah
aku". Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat
di cermin ? Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda.
Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam
sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu
waktu ada orang berkata, "Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala
negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?". Abu Bakar menjawab,
"Saya tetapi dia". Kan itu sama.
Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah
memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau
tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya "siapa
sahabatnya ?". Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap,
"menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa
sahabatnya", karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau
sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti
terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat
kita karena dia bisa mempengaruhi kita.
Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn
penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak
wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las,
bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.
Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah.
Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada
batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg
berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg
artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, "Inamal
waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu'tuna
zakata...". Orang yg beriman itu "waliy"-nya, teman akrabnya adalah
Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia
terpengaruh dgn temannya.
Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam
pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau
sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena
kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa,
"tolong dong". Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo
senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong.
Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu.
Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat
yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ?
[Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada
waktu susah.
Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya.
Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si
A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main
bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi
orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian
politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa
tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya
kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada
kepentingan, tidak akan bekerja sama.
Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama
anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur'an
berkata, "Al akhilahu yaumaidzin ba'duhum li ba'din alu ilal
muttaqin", sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke
relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan
kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.
Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim,
disebutkan dalam Al Qur'an, pernah menasehati anaknya, "Nak, kalau
kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu", kaget kan ?
"Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak
berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat". Kalau baru sedikit
sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa
salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak
bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.
Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari
sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada
keluarganya & orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan
jadikan dia sahabat. Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.
Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim.
Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau
berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana
sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.
Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main
melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ?
[Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik.
Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah.
Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg
meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.
Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin
persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun
sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya
terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo
tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah
merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga
bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah
terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.
Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya
miskin, kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia.
Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan
terjadi persahabatan.
Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti
dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.
Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu
persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada
orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan.
Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan.
Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya
antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.
Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan
canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap
serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. "Saya kan
main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius".
[Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang
main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau
mencampurbaurkan itu.
Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia
marah. Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau
makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda
kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah
jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi
marah. Jadi jangan dijawab dgn marah. Itu terpelihara. Ooo dia marah,
dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.
Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, "Kamu
bodoh". Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata
sarannya keliru terus berkata, "Ini gara-gara kamu nih". Biasa begitu
? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran
pada dia lantas saran anda bagus, "Itu kan karena saya". Itu tidak
terpelihara persahabatan.
Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke /
cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang,
"Stop, itu saya sudah tahu tuh". Tidak bisa begitu. Terus
saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau
tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.
Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu
menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu
yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus.
Ya kan ?
Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban
bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib.
Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan
juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda
bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.
Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai
dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok
yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di
antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam
tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.
[moderator]:
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg
sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara
kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?
[Jawab]:
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa
tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada
situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda
jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita
bercanda, tapi jangan berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak
tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan
campurkan antara bercanda dan serius.
[Tanya]:
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin
kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita
khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah
misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita
dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita
bisa diungkapkan kepada orang lain.
[Jawab]:
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg
anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur'an dikatakan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda.
Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat-
tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah
jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan
sampaikan kepadanya.
Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan
beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi
syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.
Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda.
Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam
kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya dan istri yg
paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama
(istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan
suaminya/istrinya.
Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada
tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan
dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji
menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu
di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan.
Jadi bertingkat-tingkat.
[Tanya]:
Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka
berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?
[Jawab]:
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran
Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam
Al Qur'an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An
Nisa, "Wa'budullah wala tusyriku bihi syai'an wabil walidaini
ihsana..... wa shohibi bil jambi". Kita disuruh berbuat baik kepada
teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg
berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan,
dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing
harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing
harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat
buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak
terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia
memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama,
boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama,
boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan
suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya
banyak sahabat non muslim.
[Tanya]:
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan
sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?
[Jawab]:
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat
bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda
dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata "kamu
bodoh" di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap
harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg
melampaui batas itu buruk. "Khairul ummur al washad". Saya mau beri
contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada
air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak
habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk.
Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan
juga berlebih-lebihan. Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh
jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh
jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu
adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek,
pelit juga jelek. Ceroboh jelek, penakut jelek, nah di tengahnya itu
adalah berani.
[Moderator]:
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan
berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu
menyangkut materi.
[Jawab]:
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi.
Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari
kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi
kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan
sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg
benar.
[Kesimpulan]:
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah
memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda
sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah
memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai
memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah
yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan
sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg
berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau
cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua
jadi jelek tho.
[moderator]:
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah
bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk
kita.
Posted at 05:04 pm by ariefsalman
Permalink
Sunday, May 08, 2005
KUASA
Prof. DR. M. Quraish Shihab
Lentera Hati, Metro TV
24 Oktober 2004, 14.00 – 15.00 WIB
Disusun oleh :
Teguh Sudibyantoro
tghs01@yahoo.com
Arief Wiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com
http://ariefhikmah.blogdrive.com
Banyak uraian yg dapat kita kemukakan tentang kuasa. Pergantian presiden, pergantian kekuasaan. Ibu-ibu yg berkumpul di sini (Studio Lentera Hati, Metro TV) juga termasuk kuasa untuk datang. Saya (pak Quraish) kuasa, dalam arti bisa, bisa memegang buku ini (sambil memegang buku di hadapannya). Ada makanan di depan saya, biasa kita tidak sadar berkata bahwa saya bisa/kuasa makan.
Itu kuasa dari mana? Dari Allah. Ini prinsip dasar. Tidak ada kemampuan/kekuasaan bagi siapa pun kecuali bersumber dari Allah SWT. Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan dalam Surat Al-Jin (72) ayat 21: "Saya tidak kuasa, saya tidak memiliki kekuasaan / kemampuan untuk mendatangkan manfaat buat diri saya atau menampik mudhorot kecuali dari Allah SWT". Kita biasa dengar / baca "Laa haula wala quwata illa billah", tiada daya menampik mudhorot dan tiada kekuatan meraih manfaat kecuali bersumber dari Allah SWT.
Tadi mau ke mari, bisa ndak datang sendiri? Datangnya boleh jadi sendiri, tetapi kuasa/kemampuan untuk datang itu dari Allah SWT. Makanan di depan kita, boleh jadi sudah dimasukkan ke dalam mulut, bisa ndak dimuntahkan? Bisa. Kita tidak kuasa dari diri kita. Biasa kita siapkan makanan untuk anak, ikan untuk suami/istri, eh ternyata kucing yg makan. Laa haula wala quwata illa billah.
Allah menegaskan dalam Surat Al-Maidah (5) ayat 120: "Lillahi mulkus samawati wal ardh", “Milik Allah kekuasaan di langit dan di bumi”. Semuanya bersumber dari Allah. Itu berulang-ulang kita temukan di dalam Al Quran ayat-ayat yg berbicara tentang kuasa Allah itu. Dalam Surat Al-Mulk (67) ayat 1 : "Tabarokalladzi biyadihi mulku wahuwa 'ala kulli syai'in qodir", Maha banyak ni'mat-ni'mat Allah yg di tanganNya, dalam genggaman tanganNya kekuasaan. "Wa huwa 'ala kulli syai'in qodir", Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.
Dalam Surat Al-Mu’minun (23) ayat 88 : "Katakan wahai Muhammad siapa yg berada di dalam genggaman tanganNya kekuasaan segala sesuatu". Siapa? Allah. Dia yg melindungi tetapi Dia tidak memerlukan perlindungan. Katakan/tanyakan itu kepada kaum musyrik, siapa itu yg demikian halnya? Mereka berkata, "Allah". Kalau memang kamu akui bahwa kekuasaan dan semuanya bersumber dari Allah, kenapa kamu masih mau tertipu? Kenapa masih mau berkata, "Besok saya akan lakukan ini", tanpa menyatakan "kalau dikehendaki oleh Allah". Harus selalu mengaitkan "kalau dikehendaki Allah", karena saya tidak mempunyai kekuasaan. Saya tidak mempunyai kemampuan. Itu perintah dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 23-24.
Allah yg memberi seseorang kemampuan. Kemampuan / kekuatan yg diberikan Allah itu akan dilihat oleh Allah sampai di mana kita menggunakannya. Saya beri contoh, saya bisa beri ibu pisau untuk digunakan. Tapi saya mau lihat, penggunaan pisau ini untuk memotong daging ataukah untuk menikam manusia. Kan dua2nya bisa dilakukan. Naa Dia mau uji. Mulai dari kekuasaan dan kemampuan yg terkecil sampai pada yg terbesar, mulai dari kemampuan yg diberikan misalkan kepada pembantu di rumah sampai kemampuan kekuasaan yg diberikan kepada presiden, itu semua bersumber dari Allah SWT.
Kalau kita bicara dalam situasi presiden baru, itu Allah mengingatkan, menyampaikan kepada Nabi Muhammad dalam Surat Ali Imran (3) ayat 26: "Katakan wahai Nabi Muhammad, Ya Allah Engkau adalah pemilik kekuasaan dan Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yg Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yg Engkau kehendaki". Kenapa dikatakan 'cabut' ? Biasanya yang berkuasa itu tidak mau meninggalkan kekuasaannya. Tapi kalau Allah sudah mau, Dia cabut. "Engkau muliakan siapa yg Engkau kehendaki. Engkau hinakan siapa yg Engkau mau hinakan. Dalam genggaman tanganMu segala macam kebajikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Saya (pak Quraish) kembali mengingatkan kita semua bahwa ketika diberikan kekuasaan itu sebenarnya Tuhan mau uji. Hei, ini pisau mau kamu apakan? Kita sudah diberi kemampuan. Jadi kalau hanya kekuasaan yg Dia berikan, belum tentu jadinya baik. Dahulu ada orang yg salah faham sampai sekarang. Kita lihat. Orang kalau selesai sholat, biasa baca salah satu doa yg diajarkan Nabi : "Ya Allah, tidak ada yg bisa menghalangi apa yg Engkau berikan. Tidak ada juga yg bisa memberi apa yg Engkau halangi untuk memberi. Tidak ada yg bisa membatalkan ketetapanMu. Tidak berguna upaya yg serius dari seseorang untuk meraih sesuatu kalau Engkau sudah tetapkan sesuatu yg lain”. Nabi selalu baca doa ini sehabis sholat.
Dulu ada penguasa setelah masa Khalifah Muawiyah, dia berkata, "Ini kan semua dari Tuhan, Tuhan kasih saya kekuasaan nih. Jadi kalau saya berbuat kejam itu memang maunya Tuhan. Kan Tuhan yg kasih saya kekuasaan". Ini tersebar di masyarakat sehingga lahir faham yg menolak ini “Tidak! Semuanya di tangan manusia, tidak ada di tangan Tuhan. Itu untuk tujuan tidak benar”. Salah satu faham itu namanya "Free Will". Yang lain lagi terus ekstrim, “Semua di tangan Tuhan, tidak ada di tangan manusia. Oleh kita seperti pohon ke mana angin bertiup, ke sanalah condong”. Itu juga salah. Kita diberi kekuasaan oleh Allah tetapi dalam saat yg sama kita diuji oleh Tuhan dengan kekuasaan yg diberikanNya itu kita mampu melakukan sesuatu dan apa yg kita lakukan itulah yg dinilai oleh Tuhan. Ooo bagus, kamu gunakan pisau ini memotong sayuran. Ooo buruk, saya beri kamu pisau ini tapi kamu gunakan untuk menikam manusia. Dan kembali saya katakan, itu mulai dari yg terendah.
Itu sebabnya ada doa lagi yg menyatakan, "Ya Allah jangan tinggalkan aku sendiri dengan pilihanku, karena kalau aku sendiri aku bisa salah. Saya memerlukan bimbinganMu. Kekuasaan yg saya miliki ini, kalau saya sendiri bisa saya salah ambil, kalau mau bertindak saya bisa keliru". Walaupun soal masak, kalau saya sendiri dan tidak mendapat bimbingan Tuhan, pikiran tidak tenang, saya mau taruh gula, eh salah lihat, saya malah ambil garam, bisa ndak itu? Bisa. Itu dalam hal-hal kecil dan biasa. Begitu pula dalam tingkat yg lebih tinggi. Allah beri kuasa, misalnya kekuasaan politik kepada satu orang. Kalau cuma kekuasaan saja yg diberikanNya, itu bisa salah.
Kita baca ayat Quran dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 258 : "Tidakkah kamu merenungkan seorang yg membantah Nabi Ibrahim menyangkut Tuhannya". Jadi ada Namrud, penguasa pada masa Nabi Ibrahim itu berdiskusi dgn Nabi Ibrahim berkata kepada beliau, "Siapa kamu?" "Oo saya percaya Allah SWT", dia bilang "tidak". Ini orang diberikan kuasa oleh Allah. "Atahulloh wal mulk". Kekuasaan saja yg diberikan. Maka ketika Nabi Ibrahim berkata, "Tuhankulah yg menghidupkan dan mematikan", Namrud jawab : Saya juga bisa menghidupkan dan mematikan". Bagaimana ? Ada dua orang dalam penjara, dua-duanya harus dihukum mati, keluarkan yg satu, bunuh yg satu. Namrud berkata, Saya yg menghidupkan dengan membiarkannya tetap hidup dan mematikan yang satu lagi. Nabi Ibrahim mendengar itu lalu menjawab, "Allah menerbitkan matahari dari timur coba kamu kalau memang mengaku Tuhan, terbitkan dari barat". Nah ini orang cuma diberi kuasa. Tidak diberikan sesuatu yg lebih dari kekuasaan.
Nah kita juga bisa begitu. Saya kuasa, bisa pukul anda. Saya bisa menganiaya anda. Kuasa kan? Kalau cuma kuasa yg Anda dapat, Anda berbahaya. Nah kita lihat. Nabi Daud diberi kuasa oleh Tuhan. Nabi Daud diangkat menjadi raja, diberi kekuasaan. Dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 251 : "Kami berikan kukuhkan dia dgn kekuasaan. Kami berikan juga dia hikmah, dan cara memutuskan yg tepat". Jadi kalo ibu punya kekuasaan kecil, kalau tidak tahu bagaimana menggunakannya dengan baik, itu bahaya. Jadi memberikan kekuasaan saja tidak cukup. Mampu saja tidak cukup. Harus diberikan al hikmah.
Lalu dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 247, Allah berfirman : "Sesungguhnya Allah telah mengutus Tholut untuk menjadi penguasa di tengah-tengah kamu". Masyarakatnya berkata "Bagaimana dia bisa menjadi penguasa atas kami sedangkan kami lebih wajar jadi penguasa? Dia bukan orang kaya koq bisa jadi penguasa? Kami lebih kaya darinya". Dijawab : "Tuhan yg pilih dia. Allah memberikan dia kuasa dan melebihkan dia ilmunya yang banyak dan fisiknya yang kuat". Jadi kuasa juga harus disertai dengan ini tadi.
Nabi Yusuf berkata dalam Surat Yusuf (12) ayat 101 : "Wahai Tuhanku, Engkau telah anugerahkan saya kekuasaan. Kamu ajar juga saya untuk menta'wilkan mimpi". Jadi ada ndak yg lebih dari kekuasaan? Harus ada yang lebih dari kekuasaan.
Siapa pun kuasa, baik kuasa kecil atau besar, kalau hanya kemampuan / kekuatan yg diberikan kepadanya, itu pada akhirnya dapat merusak. Al Qur'an berkata dalam Surat An-Naml (27) ayat 34 : "Itu penguasa-penguasa (hanya kekuasaan saja yang dimilikinya tapi tidak punya hikmah kebijaksanaan), kalau menguasai satu daerah dia rusak daerah itu dia jadikan orang-orang yg mulia di sana menjadi hina". Masyarakat kita sering hari Jum'at itu baca Surat Al-Kahfi. Ada pelajaran yg sangat baik di situ. Ada kisahnya Dzulqornain. Kita tidak tahu siapa persisnya Dzulqornain itu. Beda-beda pendapat ulama. Yang jelas, dia ke timur ke barat, diberi Allah kekuasaan. Saya mau beri contoh bagaimana bijaksananya orang ini.
Dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 93, Allah berfirman : "Hingga apabila ia telah sampai di antara dua gunung - dalam perjalanannya ini - dia mendapati di dekat kedua gunung itu satu kaum yg hampir tidak mengerti pembicaraan - orang-orang bodoh - mereka berkata hai Dzulqornain sesungguhnya ya'juj dan ma'juj adalah perusak-perusak di bumi maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu supaya engkau membuat satu dinding antara kami dengan mereka". Ini ada orang-orang bodoh, tidak berpengetahuan, bicaranya saja tidak lurus, takut sama satu kaum.
Mereka datang pada Dzulqornain, buatkan kami dinding pelindung nanti kami bayar kamu. Ini penguasanya mau dibayar oleh mereka. Bisa ndak dia ditipu? Kalau penguasanya bodoh, ya ditipu. Kita lihat jawabannya, dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 95 : "Hei, apa yg dianugerahkan Tuhan kepada saya itu lebih baik daripada apa yg kamu tawarkan itu? Saya ngga perlu! Baru dia katakan, “Yang hanya saya butuhkan dari kamu adalah bantu saya”. Jadi dia menimbulkan kesadaran masyarakat itu untuk membantu dia mencapai apa yang ingin diharapkan oleh masyarakatnya.
Nah sekarang kita ada penguasa baru, ya tho? Ada presiden baru, ada pemerintah baru, ada kabinet baru, menteri baru, gubernur baru, bupati baru. Semuanya penguasa. Kalau masyarakatnya meminta, "tolong bangunkan ini", penguasanya bilang, "ya saya minta upah deh", atau dia tidak minta upah terang-terangan tapi diam-diam, penguasa baik kah itu ?
Kita lihat lagi Dzulqornain. Kaumnya minta dibangunkan "sadda". "sadda" itu pelindung, baik kuat atau tidak kuat, yg penting pelindung. Apa jawab Dzulqornain? "fa a’iinuni bi quwatin aj’al bainakum wa bainahum rodma", "bantu saya, saya buatkan kamu pelindung yg kuat". Yang diminta adalah pelindung, walaupun lemah. Tapi yg dia bikinkan pelindung yg kuat. Nah kita lihat sekarang. Kalau masyarakat mempunyai keinginan 10, penguasanya itu mengajak mereka berpartisipasi untuk membikinkan yg lebih bagus dari itu. Bukan sebaliknya. Ada proyek, naa ini kita lihat dalam kehidupan kita, biayanya sekian, bangunannya musti sekian sekian dia kuasa untuk membuat, dia buat yg sesuai permintaan di proyek ataukah lebih jelek? Kalau lebih jelek, maka dia bukan penguasa yg baik.
Quran kasih kita kisah-kisah semacam itu. Begitu juga boleh jadi kita ambil contoh yg kecil-kecil. Saya pesan makanan pada catering, begini-begini. Mau kasih yg lebih baik, wah ini biayanya cukup banyak nih. Pesanannya untuk undangan 100 orang. Siapa tahu yg datang 110 orang. Saya berikan lebih, untuk 110 orang.
Kenapa itu semua? Karena kalau hanya kuasa, tidak ada artinya. Harus yg dapat hikmah kebijaksanaan dalam segala tindakan mulai dari kuasa yg terkecil sampai yg terbesar. Haaa, ibu-ibu kuasa datang ke Metro TV, acara Lentera Hati. Itu kuasa. Ibu sudah kuasa nih datang. Tapi kuasa yg ibu dapatkan itu dari Allah. Ada yg macet di jalan tidak bisa datang, karena tidak kuasa. Kalau cuma kuasa tidak ada artinya. Harus ada hikmah. Ibu datang, mendengar ini, apa yg Ibu dengar Ibu akan amalkan dan akan Ibu sampaikan kepada orang lain.
[Tanya]:
Kita semua tahu bahwa Allah Maha Kuasa. Tidak hanya kepada kita, binatang, pohon-pohon, debu jatuh pun itu kekuasaan Allah. Di lingkup kecil, di keluarga, suami merasa menguasi istri dan anak-anaknya, ibu menguasai anaknya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana caranya kita menguasai diri kita sendiri dari hal-hal misalnya kemarahan, hawa nafsu?
[Jawab]:
Yang pertama dulu sebelum saya jawab pertanyaan ibu, beda kuasa Allah dgn kuasa manusia. Saya bisa berkata seorang pembantu di rumah saya, itu sebenarnya berada di bawah kekuasaan saya, ya? Saya bisa menyuruh kamu begini kamu begitu. Tetapi apa saya kuasa mengatur peredaran darahnya? Tidak. Apa saya bisa mencabut nyawanya? Tidak. Apa saya bisa mempekerjakan dia pada hari liburnya? Apakah kalau saya melakukan kegiatan yg tidak disenanginya atau dinilai orang buruk, apakah saya dikecam orang atau tidak? Tentu dikecam. Kalau Tuhan? Tidak. Beda tho? Tuhan kuasa pada kita itu berarti Dia bisa cabut ruh kita, dan kalau ada sesuatu yg Anda anggap buruk, Anda tidak bisa berkata pada Tuhan, "Kenapa Engkau lakukan itu pada saya? Pertanyaan ibu, bagaimana menguasai ini? Menguasai ini adalah dari kesadaran. Sadar bahwa saya makhluk lemah. Sadar bahwa kuasa saya tidak ada artinya dibandingkan dengan kuasa Allah. Saya beri contoh. Ada suami merasa dirinya, "wah saya kuasa, wah istri saya ini salah lantas saya mau berlaku sewenang-wenang kepadanya". Yang pertama ia harus ingat, hey jangan marah, jangan berlaku sewenang-wenang walaupun kamu kuasa, karena kekuasaan Allah melebihi kekuasaan kamu. Naa dia tidak jadi marah. Ini orang bukan di bawah kekuasaan mutlak saya. "Idza da'adka qudratuka 'ala zulminnas fatazakkar qudratullahi 'alaih" "Kalau kekuasaanmu mengundang kamu untuk menganiaya orang lain ingat kuasa Allah atasmu", wah ndak jadi marah tuh. Jadi kuasa yg dimilikinya dibarengi dgn hikmah. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang itu marah melampaui batas karena dia lupa. Dia lupa kuasa Tuhan, dia terlepas dari bimbingan Tuhan. Itu sebabnya tadi saya katakan, kita selalu harus minta bimbingan Tuhan, jangan biarkan saya sendiri. Ya tho bu? Saya kira begitu.
Kita manusia lemah, dan tidak ada manusia yg sempurna. Dia salah, saya juga bisa salah.
[Tanya]:
Dari uraian Bapak tadi, tampaknya kekuasaan merupakan suatu ujian yg bisa membawa kita dalam perbuatan baik dan bisa membawa kepada perbuatan zholim. Apa kiat-kiat yg perlu kita ketahui untuk membuat kekuasaan saya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu untuk tidak membuat kekuasaan itu mendorong / menjerumuskan saya ke dalam api neraka?
[Jawab]:
Kiat-kiat. Apa yg harus kita lakukan? Mungkin yang pertama kita harus banyak mengingat. Mengingat Allah dan ingat kondisi kita. Ingat bahwa kemampuan dan kekuasaan yg saya miliki ini tidak langgeng. Kalau sekarang saya kuat pukul ini, besok saya akan lemah, akan tua. Bisa jadi ada orang yg memukul saya juga. Itu gunanya zikir. Itu gunanya sholat. Mengingat Allah. Kiat yg lain, banyaklah bergaul dgn orang yg baik, banyaklah membaca bacaan-bacaan yg baik, pelajarilah sejarah - orang yg dulu sombong / angkuh sekarang jadi begini. Oo itu sejarahnya si A dulu itu begitu baik sudah ratusan tahun dia meninggal masih dikenang kebaikannya - itu semua bisa mengantar kita sadar bahwa memang pada akhirnya beginilah kejadian yg terjadi bagi yg baik dan yg buruk. Pergaulan sangat mempengaruhi. Kalau saya bergaul dgn orang yg sombong, saya bisa ikut sombong. Saya bergaul dgn orang-orang yg baik, rendah hati itu bisa mempengaruhi.
[Tanya]:
Gimana caranya mengajari anak supaya jangan terlalu ingin selalu berkuasa, soalnya saya perhatikan anak-anak sekarang itu apa-apa punya saya, jadi supaya mereka itu tidak seperti itu?
[Jawab]:
Kecenderungan manusia memang begitu. Anak kecil itu merasa punya dia, bahkan biasa jika diminta sedikit saja tidak diberikan. Nah di sini peranan pendidikan. Bagaimana kita didik dia sejak kecil untuk bisa menjadi pemurah dll. Pendidikan itu bisa melalui contoh-contoh, kisah-kisah. Agar tertanam di dalam hati anak. Prinsipnya seperti itu. Kecenderungan sejak kecil ya seperti itu, dan kita perhatikan. Mungkin kalau sedang berjalan dan ada peminta-minta, kita mau kasih seorang yg butuh, jangan kita yg kasih, suruh anak kita yg kasih, terus-menerus ditanam, ini menjadi kebiasaan. Menanamkan kesadaran bahwa ada yg butuh, kita ceritakan bagaimana beruntungnya anak kita. dll.
[Kesimpulan]:
Yang pertama, kita harus sadar bahwa kemampuan dan kekuasaan yang kita miliki itu bersumber dari Allah SWT. Dan karena itu kita harus memperhatikan apa yg dikehendaki oleh Allah dari penggunaan kemampuan dan kekuasaan itu. Karena Dia mampu untuk mencabut dan memberi orang lain.
Yang kedua, jangan beranggapan bahwa kekuasaan saja itu sudah cukup untuk meraih kebahagiaan. Bisa saja kemampuan dan kekuasaan itu yg menjerumuskan. Karena itu kekuasaan dan kemampuan harus dibarengi dengan pengetahuan dan hikmah serta kesadaran akan kelemahan kita di hadapan Allah SWT.
Dan yg terakhir saya ingatkan sekali lagi, bahwa yg dimaksud dgn kekuasaan itu bisa mencakup hal-hal yg kecil. Jangan menuntut presiden untuk adil, sedangkan Anda berlaku tidak adil.
Posted at 04:59 pm by ariefsalman
Permalink
Saturday, March 05, 2005
Jaringan Internet Pondok Pesantren, Masjid & Madrasah
Jaringan Internet Pondok Pesantren, Masjid & Madrasah
(Oleh: Onno W. Purbo )
Bandung, 2000
Sesuatu yang ambisius, ber-idealisme tinggi & hampir mustahil membangun jaringan pesantren, masjid & madrasah di Indonesia. Apalagi jika dilakukan secara swadaya masyarakat tanpa utang ke Bank Dunia, ADB & IMF. Ternyata sesuatu yang beridealisme tinggi & mustahil ini dilakoni secara serius oleh rekan-rekan Pusat Teknologi Tepat Guna yang di singkat PUSTENA dari Masjid Salman, Institut Teknologi Bandung ITB dengan markas virtual di pustena@tpb.itb.ac.id. PUSTENA SALMAN ITB telah 2-3 tahun belakangan ini turun ke daerah khususnya di sekitar Bandung untuk mencoba membangun Jaringan Pondok Pesantren.
Agak berbeda dengan mahasiswa lain yang lebih suka ber-advokasi / demonstrasi, rekan mahasiswa PUSTENA SALMAN ITB - tanpa banyak bicara turun ke lapangan membantu pondok pesantren di sekitarnya. Diantara mereka motor penggerak yang cukup aktif adalah Arief Wiryanto dan Soni Setia Nugraha yang kedua-nya sekarang sudah meraih gelar sarjana S1 ITB dan sampai sekarang masih konsisten untuk meluangkan sebagian waktunya untuk membantu pondok pesantren.
Soni termasuk aktif turun ke pondok pesantren di sekitar Garut & Pangalengan. Awalnya barangkali sederhana sekali - Soni dkk melihat kenyataan banyak santri di pondok-pondok tersebut ternyata harus mampu meng-hidup-i diri mereka sendiri (terutama jika orang tuanya kurang mampu) apakah itu dengan bercocok tanam, berkebun, memelihara ikan di kolam membuat kerajinan tangan dll. Selama ini pondok-pondok tersebut dan santri-nya harus tergantung pada para tengkulak untuk menjual hasil bumi / perternakan / perikanan-nya. Akibatnya harga di pihak petani / santri menjadi sangat kecil. Begitulah kenyataan yang menyedihkan yang ada di daerah.
Pondok umumnya mempunyai lahan binaan yang cukup luas bahkan ada yang mempunyai lahan 100 hektar. Memang pengetahuan bercocok tanam maupun pengetahuan pasar sangat minim, sampai-sampai pengurus pondok ada yang pernah bertanya pada Soni dkk kira-kira bunyinya "Nak Soni ini ada lahan - tolong beritahu kami, sebaiknya menanam apa hari ini supaya bisa untung?". Pertanyaan yang sederhana memang, tapi sulit menjawabnya - karena dibutuhkan pengetahuan pertanian yang mendalam. Soni dkk bahkan sempat membantu beberapa pondok untuk berternak ikan Lele karena pangsa pasar Lele ternyata cukup besar di kota Bandung.
Karena adanya perbedaan jarak yang cukup jauh antara pondok dengan rekan-rekan PUSTENA SALMAN ITB, selama itu komunikasi dilakukan melalui SLJJ & FAX sehingga sangat memakan biaya. Akibatnya mulai timbulah ide untuk mencoba menggantikan SLJJ & FAX menggunakan fasilitas Internet yaitu e-mail. Jadi Internet sebetulnya digunakan untuk membuat proses komunikasi menjadi lebih murah (atau tepatnya - jauh lebih murah lagi). Awal-nya Soni dkk mencoba menggunakan teknologi packet radio, ternyata tidak mudah juga. Setelah sarasehan dengan para ajengan di tasikmalaya bulan Oktober 1999 yang lalu yang di prakarsai oleh Mba Leonie (mccool@bdg.centrin.net.id) mahasiswi S2 Studi Pembangunan ITB, tampaknya teknologi warung internet yang memungkinkan iuran secara bersama yang murah menjadi sebuah alternatif yang menarik untuk di implementasi di pondok-pondok karena dapat mengembalikan modal investasi warung internet dengan pasti.
Transaksi / interaksi yang dilakukan di tingkat pesantren ini cukup banyak, baik yang sifatnya untuk kepentingan pengetahuan maupun transaksi "dagang" untuk dapat hidup. Jangan berfikir pondok menggunakan e-commerce seperti Amazon.com, wah itu masih jauh dari impian. Internet digunakan hanya sebagai pengganti SLJJ & FAX dalam proses transaksi "dagang". Jadi tetap kepercayaan & tali silaturahmi yang erat di pegang di antara orang / pelaku transaksi. Dan ini relatif cukup berhasil, artinya ya karena Internet lebih murah ya akhirnya dipakai untuk menggantikan FAX & SLJJ yang lebih mahal - sesederhana itu pola yang digunakan.
Untuk memfasilitasi proses transaksi "dagang"dari pondok pesantren supaya pondok dapat hidup. Arief , Soni dkk sejak 1-2 tahun yang lalu telah membangun fasilitas diskusi di Internet di lokasi virtual wong-cilik@isnet.itb.ac.id. Kebetulan anggotanya bukan hanya sekedar dari dunia pesantren tapi juga dari berbagai pihak terutama yang berkaitan dengan dunia Agribisnis.
Dari pengalaman saya berinteraksi dengan para Ajengan di Pondok Pesantren khususnya di kesempatan sarahsehan di Tasikmalaya, umumnya para Ajengan tahu bahwa ada dunia maya / dunia informasi Internet. Terima kasih, media massa cukup berhasil dalam meng-edukasi bangsa Indonesia dalam hal ini. Memang sebagian belum pernah melihat bentuk Internet itu seperti apa. Peralatan apa saja yang dibutuhkan. Walaupun di pondok umumnya ada komputer & telepon, umumnya para ajengan masih kurang mengetahui bagaimana menyambungkan modem ke komputer dan telepon agar dapat masuk ke dunia maya - sesederhana itu. Kesenjangan teknologi ini juga kemudian mendorong kelompok seperti Computer Network Research Group (CNRG) ITB menulis berbagai artikel & buku-buku seperti TCP/IP & Teknologi Warung Internet untuk memberdayakan bangsa di bidang teknologi informasi.
Selanjutnya mungkin kita ingin melihat Internet sebagai media tranfer ilmu pengetahuan. Nah hambatan apa yang mungkin akan di hadapi di pondok? Kebanyakan pondok pesantren sifatnya konservatif, artinya segala sesuatu harus melalui Pak Kiai / Ajengan pondok tersebut. Bayangkan kalau Internet masuk ke pondok untuk memberdayakan santri - tentunya ada pola belajar mengajar yang tradisional yang bergeser. Walaupun banyak pondok pesantren konservatif, tampaknya saat ini ada beberapa Ajengan di Pondok Pesantren yang progresif & kebetulan saya mengenal di antara-nya adalah KH. Asep A. Maoshul Affandy dari Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya Tasikmalaya yang sangat aktif berkomunikasi melalui e-mail di Internet dan mempunyai wawasan yang terbuka untuk kemajuan. Tentunya harapan kita semua agar proses keterbukaan ini terus berkembang di pondok pesantren maupun di Indonesia pada umumnya untuk kemajuan bangsa ini.
Saat ini, Arief & Soni dkk di dukung oleh Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat dan rekan-rekan di banyak kota dan banyak negara sekarang ini membangun media interaksi - Jaringan Informasi Islam sebagai forum komunikasi para pendukung jaringan informasi islam. Contohnya rekan Rurun Karma rkarma@aol.com di Amerika Serikat aktifis Indonesian Muslim Community in New York (INMUCONY) yang anggota mailing list JII aktif mengumpulkan bantuan PC yang tidak terpakai untuk di sebarkan di pondok pesantren di Indonesia.
Salah satu kegiatan pertemuan yang paling dekat di akhir bulan Desember 1999 yang juga berkaitan dengan pembangunan jaringan informasi islam / masjid akan dilakukan adalah di Purwokerto dalam kerangka membangun jaringan informasi masjid dan di organize oleh Pak Nurul Hidayat yang juga aktif di Pusat Komputer UNSOED, Purwokerto. Konsep bagaimana me-manage pengetahuan diantara masjid / pondok pesantren yang prototipe-nya di kembangkan di Masjid Salman ITB oleh rekan-rekan Knowledge Management Research Group (KMRG) ITB dengan markas virtual di digilib@itb.ac.id yang dimotori oleh Ir. Ismail Fahmi Insya Allah akan dicoba di ketengahkan pada kesempatan tersebut selain jaringan informasi islam.
Memang semua masih sangat dini - tapi proses ini bukan sebuah proses yang dapat di bendung dan terus berjalan secara konsisten selama 1-2 tahun belakangan. Yang perlu di catat semua-nya praktis swadaya masyarakat, tanpa utangan Bank Dunia, ADB & IMF. Dengan pembangunan pola ini bukan mustahil akar kemajuan bangsa Indonesia akan menjadi lebih kuat lagi dengan semakin berdayanya bangsa kita yang berada di daerah-daerah melalui percepatan proses pendidikan di tingkat pondok pesantren - tanpa harus memberikan beban utang & dosa ke generasi mendatang.
Posted at 01:15 pm by ariefsalman
Permalink
Friday, March 04, 2005
Berita Penelitian ITB, Riset Unggulan Terpadu
Jakarta, 1999 - 2000
- Undangan Pengajuan Usulan Penelitian
Dalam tahun anggaran 2000/2001 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI) melalui Proyek URGE mengundang seluruh sivitas akademika ITB
untuk mengajukan Usulan Penelitian. Program Penelitian yang ditawarkan adalah:
- International Research Linkage Program (12 Package @ US$ 62,500.00)
- Domestic Collaborative Research Grant (130 Package @ Rp 150.000.000,00)
Batas waktu penyerahan Usulan Penelitian adalah tanggal 3 April 2000. Informasi lengkap tentang hal di atas dapat diperoleh di Lembaga Penelitian ITB.
- Pengumuman Proposal RUT VIII yang diterima untuk dibiayai tahun anggaran 2000/2001:
Dari 101 Usulan yang dikirimkan, hanya 29 Usulan yang dapat dibiayai, nama pengusul dan topiknya adalah:
- Dessy Natalia, Ph.D.
(PPAU-Biotek) "Produksi Vaksin Hama Ternak Lalat Screw Wormfly (Chrysomya Bezziana): Overekspresi Protein Membran Peritrofik PM48 dan PM95 serta Overekspresi Protein Disulphide Isomerase pada Saccharomyces Cerevisiae"
- I Nyoman Widiasa, ST., MT.
(PPAU-Biotek) "Hidrolisis Enzimatik Minyak Sawit dalam Bioreaktor Membran"
- Prof.Dr.Ir. Aryadi Suwono
(PPAU-IR) "Pengembangan Bahan Refrigeran untuk Pengganti CFC12 dari Hidrokarbon (HC) dengan Aditif ‘Low Flammability Suppressant’ (LFS)"
- Dr.Ir. Yatna Yuwana Martawirya
(MS) "Pengem-bangan SPTM (Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri) untuk Penanganan Produksi Repetitive"
- Dr.Ir. Hari Muhammad
(PN) "Pengembangan Metode Pengukuran Beban Aerodinamik pada Sayap Pesawat Udara dalam Waktu Nyata"
- Ir. I Wayan Tjatra, Ph.D.
(PN) "Optimasi Bentuk Geometri Proyektil Peluru dengan Gaya Hambat Aerodinamika Minimum pada Kecepatan Transonik"
- Dr.Ir. Bambang Widyanto
(MS) "Pembuatan Paduan dan Pengaruh Solution Treatment Terhadap Struktur Mikro Baja Mangan Hadfield"
- Ir. Syafri Martinius
(EL) "Studi Sistem Konversi dan Transmisi Tegangan Listrik Menengah Searah Antar Pulau untuk Menyalurkan Energi Listrik Satu Arah"
- Prof.Dr. S.M. Nababan
(P4M) "Model Optimasi Sistem Jaringan Pipa Gas Alam di Indonesia"
- Prof.Dr.Ir. Purwanto Mardisewojo, MSc.
(TM) "Penelitian Atas Interaksi Gaya-gaya dalam Reservoir untuk Menentukan Strategi Teknik Produksi Minyak Bumi dengan Menggunakan Teknologi Sumur Horizontal"
- Ir. Ian Yosef Matheus Edward, MT.
(EL) "Perancangan dan Implementasi ICFPGA Korelator Digital Multikanal untuk Sistem Penerima CDMA"
- Dr.Ir. Suhono Harso Supangkat
(EL) "Proteksi Hak Cipta pada Komunikasi Multimedia dengan Teknik Tanda Air Menggunakan Pendekatan DCT untuk Sistem Waktu Nyata Berbasis DSP"
- Arief Wiryanto, ST.
(PPAU-ME) "Teknologi Pemampatan Sinyal Video dengan Laju Bit < 64 kbit/s Berbasis Prosesor DSP untuk Aplikasi Smart Personal Multimedia Communication (SPMC)"
- Dr.Ir. Ilse S. Noerbambang, MSEE. (PPAU-ME) "Penelaahan Pemanfaatan Instrumen HaKI Terhadap Hasil Riset Unggulan Terpadu (RUT) I-VII Bidang Elektronika"
- Dr.Ing. Farid Wazdi (IF) "Sistem Pakar Kemahasiswaan"
- Dr. Toto Winata (FI) "Fabrikasi Transistor Film Tipis (TFT) Berbasis Silikon Amorf Terhidrogenasi (a-Si:H) dengan Metoda Hot-Wire Plasma Enhanced Chemical Vapor Deposition (HWPECVD)"
- Ir. Endon Bharata, MT. (EL) "Rancangan dan Realisasi Penguat Derau Rendah untuk Aplikasi GPS"
- Dr.Ir. Benhard Sitohang (IF) "Format Integrator: Perangkat Lunak Integrated Intelligent Datawarehouse"
- Ir. Soemirato Reka Rio, IPM. (PPAU-ME) "Fabrikasi Base Wafer Gate Array CMOS 2 mm dengan Menggunakan Teknik Implantasi Ion"
- Dr.Ir. Irman Idris (PPAU-ME) "Pembuatan Silikon Dioksida Temperatur Rendah untuk Aplikasi Interkoneksi Multilevel Chip IC"
- Adrianto Ahmad, SSi., MT. (PPAU-Biotek) "Pengolahan Limbah Cair Industri Minyak Sawit dengan Sistem Bioreaktor Membran Anaerob"
- Sonny Winardhi, MSc., Ph.D. (GM) "Pendugaan Struktur dan Karakteristik Anisotropy Batuan Bawah Toba dengan Menggunakan Metoda Polarisasi Gelombang Seismik - P dan Splitting Gelombang Seismik – S"
- Dr. Bayong Tjasyono HK., DEA. (GM) "Mekanisme Bencana Alam Kekeringan di Kontinen Maritim Indonesia"
- Sri Widiyantoro, MSc., Ph.D. (GM) "Pengembangan Baru Teknik Pencitraan Tomografi Seismik Non-linier: Aplikasi untuk Data Gempa Bumi di Indonesia"
- Dr.Ir. Harun Al-Rasyid S. Lubis, MSc. (PPTK) "Interaksi Tata Ruang dan Transportasi bagi Pembangunan Kota yang Berkelanjutan"
- Dr.rer.nat. Dadang K. Mihardja (GM) "Model Distribusi Suhu Permukaan dan Arus Laut Perairan Indonesia untuk Prakiraan El Nino"
- Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D. (PPAU-Biotek) "Biodegradasi Senyawa Xenobiotik Terchlorinasi 1,2-Dichloropropilene pada Kondisi Aerobik"
- Ir. Nana Rahmana, M.Eng. (EL) "Perancangan dan Implementasi Kode Konvolusi Bergandeng Paralel (Turbo Code)"
- Prof. Koesoemadinata, DSc. (GL) "Biostratigrafi Isotop Koral Formasi Pacitan Jawa Timur"
Posted at 01:01 pm by ariefsalman
Permalink
Thursday, March 03, 2005
| SALMAN-NET: MERAJUT KEPING UKHUWAH LEWAT INTERNET |
 |
|
oleh: H Muarif
http://www.mifta.org/new/index.php?menu=home&topik=mifta&id=00003&PHPSESSID=33895cdb64a69f64c5e0e7b969231a12
Bandung, 1995
Ruang aula gedung serba guna Masjid Salman ITB malam awal Ramadhan itu dipenuhi mahasiswa dan dosen. Perhatian mereka tertuju kepada Menag Tarmizi Taher yang malam itu usai tarawih bersama menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pengurus dan jamaah Masjid Salman. Ditemani kacang dan ubi rebus serta kolak, pembawa acara menyebut acara malam itu sebagai syukuran atas aktifnya kembali menag setelah sakit beberapa waktu silam. Namun, di depan Menag Tarmizi Taher dan KH Rusyad Nurdin, ulama Bandung yang mendampingi menag telah ada seperangkat komputer.
Malam itu, beberapa aktivis Salman seperti menyengaja untuk mempresentasikan rencana besar mereka merintis JII (Jaringan Informasi Islam) lewat cyberspace ke hadapan Menag Tarmizi Taher. Jaringan itu terangkum dalam wadah Salman-Net, yang rintisannya sudah mereka garap sejak Juni 1995. Tidak sia-sia, Menag yang mendapat penjelasan ringkas namun padat via perangkat komputer yang ada menyambut baik rencana besar ini. "Insya Allah, saya akan bantu program ini. Sudah lama saya mengangankan para mubaligh kita di masa depan akan mampu berdakwah via satelit. Mudah-mudahan rintisan anak-anak muda dari Bandung ini akan mendapat sambutan dari banyak pihak," kata Tarmizi yang diamini hadirin. Adalah beberapa mahasiswa teknik elektro ITB yang menjadi aktivis Salman berpikir tentang upaya menjalin ukhuwah Islamiyah dengan saudara-saudara mereka di pelosok Indonesia dan dunia. Ukhuwah Islamiyah yang kini lebih banyak hanya jadi slogan hendak mereka rajut kembali menjadi ukhuwah yang sejati. Terjalinnya ukhuwah antara seorang mahasiswa di Bandung yang dengan tulus dan penuh perhatian mendengarkan keluh kesah saudaranya atau seorang dai di pedalaman Kalimantan atau ukhuwah antara pengurus lembaga dakwah di Jakarta yang memberi saran dan bantuan kepada pengasuh pesantren di Nusa Tenggara Timur, menjadi angan-angan dari para pencetus gagasan Salman-Net. "JII juga dirancang memiliki akses ke berbagai lembaga dakwah atau pusat studi dan data keislaman sehingga kita bisa melacak tentang sejarah, perkembangan kontemporer dunia Islam, bahkan kita bisa melakukan diskusi semacam teleconference dengan berbagai tokoh Islam yang mengakses jaringan ini," kata Arief Wiryanto, mahasiswa jurusan teknik elektronika ITB angkatan 1993 yang menjadi salah satu motor Salman-Net.
Berbagai informasi dan program-program edukasi pun dirancang ada dalam jaringan Salman-Net. Nantinya, setiap pengakses jaringan ini bisa membaca Alquran dan kitab-kitab hadis atau informasi tentang produk-produk makanan halal. Lebih dari itu, Salman-Net menjadi wadah dari bersatunya umat Islam Indonesia dan dunia dalam menghadapi tantangan dunia masa depan.
"Harus diakui dalam dunia informasi dan teknologinya, Barat sangat dominan. Sementara, ukhuwah antar negara-negara muslim masih belum kokoh. Ini diperparah oleh kondisi internal umat Islam di masing-masing negeri itu yang posisinya marjinal," lanjut Arief.
Karena itu, Salman-Net menjadi harapan mengatasi tantangan semacam itu. Rintisan pun dilakukan Arief bersama beberapa rekan kuliahnya yang juga aktivis Salman. Ketika itu, Juni 1995 mereka mengajukan rencana pembentukan jaringan ini. Mereka pun meminta izin kepada beberapa dosen di Teknik Elektro yang juga pembina Salman untuk membimbing mereka dalam melakukan eksperimen dan rancangan jaringan ideal yang akan digunakan. Beberapa dosen pun menyetujuinya dan eksperimen pun mulai dilakukan oleh tim kecil yang dipimpin Arief Sholahuddin, rekan angkatan Arief Wiryanto.
Dari LAN ke internet Pilihan untuk membuat jaringan (network) menjadi perhatian pertama tim Salman dalam merancang JII. Kebetulan ITB telah memiliki jaringan LAN (Local Area Network) yang menghubungkan perangkat komputer di berbagai fakultas dan kantor yang ada di lingkungan kampus ITB. Eksperimen pertama di arahkan untuk mampu mengakses jaringan ini dengan membuat server tersendiri yang memuat berbagai database tentang keislaman.
"Tapi, itu tidak lama karena kita terbentur pada biaya yang cukup mahal untuk menyediakan kabel penghubung dalam jumlah besar. Selain itu, kabel LAN memiliki risiko tinggi untuk kerusakan oleh binatang pengerat seperti tikus. Karenanya, kami hentikan eksperimen tersebut," jelas Wiryanto.
Pilihan kemudian diarahkan kepada akses informasi lewat radio komunikasi. Lewat perangkat radio komunikasi dua meteran yang dihubungkan dengan perangkat komputer, maka diuji coba komunikasi data antar beberapa operator. Sinyal radio diubah menjadi modem lewat alat penerjemah (interpreter) yang dirancang khusus. Sayangnya, ujicoba dengan cara ini dirasakan tidak efektif untuk jarak jangkau jauh. Paling tidak dibutuhkan beberapa stasiun repeater yang memperkuat sinyal dan mengirim kembali ke wilayah yang ada dalam jangkauannya. Selain itu, gangguan interferensi gelombang radio dapat menganggu komunikasi data yang tengah berjalan.
Akhirnya, pilihan terakhir yang dilakukan hingga saat ini jatuh pada Wave-LAN, jaringan antar grup yang dilakukan melalui sinyal gelombang mikro. "Kelebihannya, kita bebas pulsa pada jaringan ini dan jarak jangkaunya lebih jauh dari LAN atau radio komunikasi. Hanya saja, kendala peralatan yang memadai untuk bisa mengakses ke luar kota atau keluar negeri masih besar," jelas Arief Sholahuddin. Untuk itu, kini awak Salman-Net tengah berencana melakukan terobosan dengan memanfaatkan jaringan internet. Sayangnya, kendala biaya yang cukup besar dalam penyiapan perangkat dan database menyebabkan mereka menunda keinginan untuk bergabung dalam jaringan informasi dunia. Dana yang dibutuhkan konon sekitar Rp 22 juta dan diharapkan atas bantuan Menag. Meski demikian, dorongan untuk bersegera mewujudkan cita-cita JII menjadikan mereka menargetkan awal April mendatang sebagai peluncuran perdana Salman-Net di jaringan cyberspace dunia.
"Insya Allah kita akan adakan seminar tentang Salman-Net pada bulan itu. Kita luncurkan pula secara perdana jaringan ini. Tentu saja, kita sudah rancang untuk merintis kerjasama dengan Muslim-Net, ICMI-Net atau Isnet yang sudah mengawali rintisan Jaringan Informasi Islam di Internet. Mudah-mudahan kita bisa memperkaya informasi tentang Islam lewat Salman-Net," harap Wiryanto. |
Posted at 01:11 pm by ariefsalman
Permalink
Wednesday, March 02, 2005
AKHLAQ
by Arief W
Ini pemikiran saya mengenai pemaknaan kata "Akhlaq", ini dipersilakan untuk dikoreksi, karena ini baru hipotesa. Kalau dilihat dari asal katanya berasal dari huruf yang sama dengan kata "Khuluqu" dan menjadi dasar pula kata "Khalaqa", yaitu huruf Kha, huruf Lam, dan huruf Qaf dalam bahasa Arab.
Sedangkan arti kata Khalaqa sendiri bermakna adalah menciptakan seperti yang sudah kita dengar dari para ustadz. Apakah kemudian ada hubungan antara kata "Khalaqa" dengan makna kata "Akhlaq" ?
Menurut pendapat saya, ada hubungan erat antara makna "Akhlaq" dan makna "Khalaqa". Kalau melihat bahwa dua kata tersebut mempunyai huruf2 pembentuk kata yang sama yaitu kha, lam, dan qaf, maka maknanya pun tentu tidak akan jauh berbeda. Kata "khalaqa" yang berarti perbuatan menciptakan, maka makna kata "akhlaq" ada kaitan artinya dengan "menciptakan" tersebut. Saya menduga (karena bukan ahli bahasa Arab, dan mohon masukan kritikan) bahwa kata "akhlaq" berarti perbuatan yang sesuai dengan tujuan dari penciptaan sesuatu.
Seperti tujuan diciptakannya manusia (Khalaqa An-Naas),diantaranya adalah untuk dihormati, dihargai dan dioptimalkan potensi yang dimiliki manusia tersebut. Oleh karena itu, "akhlaq" kepada manusia adalah perbuatan2 yang bersesuaian dengan tujuan penciptaan manusia tersebut, seperti penghargaan dan penghormatan kepada semua manusia, perbuatan mendidik manusia agar potensi yang dimiliki manusia dapat tergali atau dengan kata lain pendidikan adalah "akhlaq", dan sebagainya. Oleh karena itu, perbuatan membunuh kepada manusia sangat dilarang oleh Allah.
Contoh lain, adalah sumber daya alam. Tujuan diciptakannya Sumber daya alam adalah untuk diambil dan dimanfaatkan oleh manusia. Maka "akhlaq" kepada sumber daya alam adalah dengan mengambil dan memanfaatkan mereka untuk kita. Jika kita mendiamkan saja sumberdaya alam tersebut, tidak mengelolanya dengan baik, maka kita belum ber-"akhlaq".
Contoh lain lagi adalah hewan yang disembelih spt ternak dan unggas. Tujuan penciptaan mereka adalah untuk diambil dagingnya oleh manusia. Sehingga "Akhlaq" kepada mereka adalah dengan menyembelihnya dengan baik dan mengambil dagingnya untuk kita. Salah jika kita tidak menyembelih mereka maka kita tidaklah berakhlaq.
Sehingga kata "akhlaq" bukan sekedar bermakna budi pekerti, moral, etika, perbuatan dan sebagainya. Atau "akhlaq" hanya berkaitan dengan interaksi antar sesama manusia seperti akhlaq kepada orang tua, akhlaq kepada mertua, akhlaq kepada tetangga, akhlaq kepada teman, akhlaq kepada guru, akhlaq kepada anak yatim, orang miskin, orang kaya dsb. Akhlaq bukanlah sekedar itu. Dan "Akhlaq" bukan juga sekedar berarti "baik", "baik kepada orang tua, baik kepada teman, baik kepada suami/isteri, baik kepada tetangga. Akhlaq bukan sekedar itu pemaknaannya.
Tetapi "Akhlaq" mencakup perbuatan yang "benar, baik dan indah" yang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Akhlaq kepada orang tua, adalah menghormati dan menghargai mereka sebagai orang tua kita, mengikuti perintah mereka, selama mereka tidak menyuruh berbuat jahat. Apabila kita turuti semua perintah orang tua tanpa berpikir benar dan tidaknya, bukan lagi dinamai telah ber-akhlaq. Bila perintah orang tua sejalan dengan perintah Allah maka kita wajib menghargai dan menuruti perintah orang tua tersebut. Namun jika kita punya pemikiran tersendiri berdasarkan landasan yang kuat dan kokoh maka boleh saja kita tidak sependapat dengan orang tua.
"Akhlaq" berkaitan dengan semua ciptaan Allah, kepada sesama manusia dan kepada alam raya beserta isinya (baik yang organik maupun yang non-organik). Tiap ciptaan Allah mempunyai maksud dan tujuan penciptaannya. Diciptakannya kita laki-laki dan perempuan, ada maksud dan tujuannya, diciptakannya kita berbangsa-bangsa ada maksud dan tujuannya pula. Diciptakannya bulan, matahari, lautan, sungai, bintang, minyak bumi, ikan, ternak, tumbuhan, hutan, pegunungan dan sebagainya.
Kita sebagai khalifah dari Allah yang Khaliq (Pencipta) maka harus bisa mengetahui dan menggunakannya sesuai dengan tujuan penciptaan makhluk2Nya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw adalah diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan "akhlaq" (Hadits). Dan diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk memberikan contoh akhlaq kepada manusia bagaimana berakhlaq terhadap semua ciptaan Allah. Nabi memberikan contoh bagaimana perbuatan yang paling benar, baik dan indah kepada semua makhluk ciptaan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan tiap-tiap makhluk tersebut. Dikatakan pula beliau adalah diutus pula untuk seluruh alam.
Wassalamualaikum wr.wb,
Arief Wiryanto
Posted at 11:51 am by ariefsalman
Permalink
Friday, February 11, 2005
VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma
VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Telah beredar VCD tayangan2 Tafsir Al-Mishbah, membahas berbagai Surat-Surat pada Juz Amma, yg pernah ditayangkan di Metro TV bulan Ramadhan 1425 H lalu. Nara sumber adalah Prof. Dr. Quraish Shihab, pakar tafsir Al-Quran Indonesia, lulusan summa cum laude dari Universitas Al-Azhar Cairo.
Dapatkan di toko2 buku Gramedia di kota Anda, insya Allah ada.
Pahamilah Al-Quran dengan sebenarnya, insya Allah dia memang obat utk kita.
Ini bukan promosi, hanya mengajak utk sama2 agar bisa memahami indah dan benarnya perkataan Tuhan kita, Allah swt, utk menyadari bagaimana cintaNya yg besar kepada kita. Hidayah Al-Quran adalah bentuk cintaNya yg terbesar utk kita semua.
Wassalamualaikum Wr. Wb,
Arief Wiryanto
Posted at 07:38 pm by ariefsalman
Permalink
Saturday, January 22, 2005
DOA
Alexis Carrel, seorang ahli bedah Prancis yg meraih 2 kali hadiah Nobel, menegaskan bhw kegunaan doa dapat dibuktikan secara ilmiah sama kuatnya dengan pembuktian di bidang fisika. Oliver Lodge mengatakan :" Kekeliruan mereka yg tidak melihat manfaat doa, karena menduga bahwa doa berada di luar fenomena alam. Doa harus diperhitungkan sebagaimana memperhitungkan sebab-sebab lain yg dpt melahirkan suatu peristiwa".
--diambil dr buku Lentera Hati, Quraish Shihab
Wassalamualaikum wr.wb,
Arief Wiryanto
Posted at 11:36 am by ariefsalman
Permalink
Monday, January 03, 2005
MUSIBAH, rahmat atau murka Tuhan ???
MUSIBAH*
* berkaitan dengan musibah gempa dan tsunami di Aceh yang menelan korban 80.000 orang meninggal, dan 6000 lebih hilang, pada tanggal 26 Desember 2004.
Prof. DR. M Quraish Shihab
Metro TV,
2 Januari 2005
14.00 – 15.00 WIB
Siaran Ulang
3 Januari 2005
00.30 – 01.30 WIB
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, tiada suatu wujud yang dipuji dan dipuja walau dalam bencana kecuali kepada Allah. Jangan menggerutu, jangan bersangka buruk kepada Tuhan. Pujilah Dia walau dalam bencana. Memang pasti banyak pertanyaan yang muncul. Setiap ada musibah, setiap ada malapetaka, pasti kita bertanya-tanya. Mengapa demikian ? Apalagi malapetaka ini yang demikian besar, yang sementara orang mengatakan “tidak mampu lagi dipikul oleh manusia”.
Kita boleh bertanya, kita boleh mencari tahu, tetapi sekali lagi jangan bersangka buruk kepada Tuhan, tapi bersangka baiklah kepadaNya. Allah Rabbul Alamin. Dia pemelihara seluruh Alam. Dia mengatur keseimbangan alam raya ini. Terkadang diambilnya disini sedikit, untuk diberinya disana. Diberinya disana banyak untuk diserahkan kemari. Karena Dia pemelihara seluruh alam.
Surah Ar Rahman, Allah berfirman : “Seluruh makhluk yang ada di alam raya ini, bermohon kepada Tuhan, dan setiap saat Tuhan melayani mereka“.
Kita tidak hanya hidup di dunia, karena itu jangan mengukur sesuatu dengan ukuran dunia saja. Masih ada hidup yang jauh lebih panjang. Mereka yang menderita di dunia, belum tentu menderita di akhirat. Dan kata orang, tidak jarang ada hari2 dimana kita menangis, setelah berlalu hari2 itu kita menangis lagi, merenung, mengapa dulu kita menangis ?
Kita tidak tahu banyak hal, karena itu Allah berfirman : “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal baik buat kamu“, boleh jadi kamu tidak senang kepada sesuatu tapi di balik itu Allah menjadikan kebaikan yang banyak buat kamu.
Itu prinsip2 dasar setiap kita menghadapi musibah. Sekali lagi jangan menggerutu. Silahkan menangis. Rasulpun sewaktu mendapat musibah, beliau menangis. Sahabat2nya bertanya, apa ini wahai Rasul ? Beliau bersabda : “Ini adalah pertanda rahmat dan kasih sayang, kita tidak berucap kecuali apa yang diridhai Allah“.
Mari kita lihat lembaran-lembaran Al-Quran, bagaimana uraiannya tentang musibah. Sebenarnya ada paling tidak ada 4 kata yang digunakan Al-Quran untuk menggambarkan sesuatu yang tidak berkenan di hati seseorang, diantaranya :
-
Musibah (sudah masuk perbendaharaan bahasa Indonesia),
-
Bala’ (sudah masuk juga dalam perbendaharaan bahasa Indonesia),
-
Fitnah (masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, tetapi dalam pengertian yang lain – Fitnah dalam bahasa Al-Quran, artinya ujian atau siksaan),
-
Imtihan (ujian yang maknanya melapangkan qalbu seseorang. Tujuan dari setiap ujian adalah melapangkan qalbunya sehingga kualitasnya naik).
Kita akan bahas 2 dari keempat kata tersebut yaitu Musibah dan Bala’.
Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan bencana, kemalangan, cobaan. Dalam AlQuran ada 67 kali kata yang seakar dengan kata ‚musibah’ dan 10 kali kata ‚musibah’. Musibah pada mulanya berarti sesuatu yang menimpa atau mengenai. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi karena boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka AlQuran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk.
Memang AlQuran mengisyaratkan bahwa “tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahmu“, tetapi disisi lain, ketika AlQuran berbicara tentang Bala’, dikatakannya musibah itu datang dari Allah swt. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas ijin Allah ketika kita berbicara tentang Bala’ (yang diartikan juga bencana).
Sebenarnya Bala’ pada mulanya berarti menguji bisa juga berarti menampakkan. Seseorang yang diuji itu dinampakkan kemampuannya. Hidup ini adalah ujian. Itu sebabnya Allah swt menyatakan :“Allah yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji kamu, untuk melihat bagaimana kualitas kamu, siapa yang diantara kamu yang lebih baik amalnya“. Kita lihat ujian/bala’ datangnya dari Tuhan. “Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang2 yang berjihad di jalan Allah dan bersabar“. Allah menurunkan bala’ tanpa campur tangan manusia. “Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar, kematian sanak keluarga“. “Berilah berita gembira kepada orang2 yang sabar“.
Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang menduga bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan ? Dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan ? Itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang2 yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata “saya disenangi Tuhan“, dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya“. Jangan duga, saudara2 kita di Aceh yang meninggal dan ditimpa musibah, dibenci Tuhan. Jangan duga, yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya2 disenangi Tuhan. “KALLAA“ (TIDAK). Disini Allah menggunakan kata BALA’ –yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan.
Dulu jaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, terluka sekian banyak sahabat Nabi, bahkan Nabipun terluka. Allah swt pasti tidak benci pada Nabi, sehingga beliau terluka. Allah pasti merestui sahabat2 yg gugur itu, walaupun mereka menderita. Ketika itu turun ayat :”Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang2 yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman“. Di Surat Ali Imran, Allah berfirman, tujuan Allah turunkan cobaan ini adalah supaya Allah mengangkat dari kalangan kamu sebagai syuhada’. Kita bisa berkata bahwa yang gugur mendapatkan bencana ini, disiapkan oleh Tuhan tempat yang tinggi, karena mereka adalah orang2 mukmin. Dan tujuan Allah turunkan bencana ini adalah supaya Allah mengetahui siapa orang2 yang benar2 beriman dan yang tidak. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah memberikan tempat yang sebaik2nya. Allah berfirman bahwa Allah juga akan membersihkan hati kamu dan menghapus dosa2 kamu. Melihat kondisi saudara2 kita di Aceh, kita menjadi sedih, kita menjadi menangis, tapi agama mengingatkan kita semua bahwa Tuhan punya tujuan.
Dalam hidup ini, Allah menciptakan orang2 untuk tujuan2 tertentu. Dalam sebuah hadits, Allah menciptakan makhluk2 yang ditugaskannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya yang lain. Ada orang2 kaya yang diberi kekayaan, yang sebenarnya dipilih Allah agar orang2 itu memberi bantuan kepada orang2 yang butuh. Mudah2an kita termasuk orang2 yang dipilih Allah itu. Ada lagi orang2 yang diciptakan Allah untuk menjadi alatnya Tuhan untuk mengingatkan orang lain. Para syuhada’ ini adalah alat2 yang dipilih Allah. Itu sebabnya kita baca di dalam Al Quran ada istilah “IBADULLOHIL MUKHLASHIN atau hamba2 Allah yang dipilih”.
Sekarang ini banyak orang yang lengah dan lupa kepada Allah. Memang rutinitas sering menjadikan kita lupa kepada Allah. Karena itu kita perlu diingatkan. Ada orang2 yang tidak menyadari adanya Allah karena melihat segala sesuatu berjalan harmonis. Tuhan ingin mengingatkan orang2 tersebut, bahwa jangan duga Allah telah lepas tangan. Diingatkannya manusia melalui bencana. Kalau dulu sekian banyak orang yang lupa Allah, sekarang Dia mengingatkan kita melalui rahmatNya. Itu sebabnya di dalam AlQuran, disebutkan :“Apakah mereka tidak sadar bahwa setiap tahun Kami mencoba mereka, Kami menurunkan ujian kepada mereka supaya mereka sadar, supaya mereka bertaubat ?“. Jadi sekali lagi, saya (Quraish Shihab) tidak melihat ini sebagai murka Allah. Ini rahmatNya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah, supaya lebih dalam lagi solidaritas kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah. Dan yang gugur, yang luka, yang menderita itu dijadikan oleh Allah sebagai alat2Nya untuk mengingatkan kita, itulah mereka yang dinamai dengan “Ibadullohil Mukhlashin atau Hamba2 Allah yang terpilih“.
Dia pilih orang2 yang gugur, Dia pilih anak2, Dia pilih orang2 yang tidak berdosa, Dia pilih orang2 tua, untuk Dia jadikan syuhada, Dia jadikan saksi2, Dia jadikan alat2Nya. Untuk siapa ? Untuk kita yang hidup. Allah tidak menyia2kan mereka. Di dalam hadits, Allah katakan, Seandainya bukan karena anak2 yang masih menyusu, seandainya bukan karena orang tua yang sedang bungkuk, seandainya bukan karena binatang2, niscaya Allah akan menjatuhkan siksa kepada kamu, siksaan yang luar biasa. Tapi mengapa yang diambil olehNya disana anak2, orang tua, binatang ? Itu yang menjadikan kita bersangka baik kepada Allah dan menyatakan bahwa ini bukan murka, ini hanya peringatan. Kita terima itu. Peringatan untuk kita yang hidup. Kita tidak perlu larut dalam kesedihan, tetapi kita perlu mengambil pelajaran.
Salah satu pelajaran adalah kita lihat di televisi, kita lihat badan2 mereka, rupanya begitulah badan kita. Jangan terlalu memberi perhatian kepada badan dengan melupakan ruh. Itu pelajaran yang dapat kita angkat. Jangan menilai orang dari penampilannya. Lihatlah itu semua, dan ingat dalam Al Quran, Allah berulang2, apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa peringatan Kami datang secara tiba2 ketika mereka sedang bermain2. Ini yang kita lihat. Ini sebenarnya kiamat kecil, bahkan boleh jadi yang mengalaminya tak menduga itulah kiamat. TIBA2, begitulah jadinya nanti. Sebenarnya tujuannya adalah untuk kita. Allah merahmati kita dengan memberi peringatan. Belum sampai pada murkaNya, dan jangan duga itu murkaNya.
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ditikam, beliau berteriak :“Demi Allah, saya telah memperoleh keberuntungan“. Beruntung karena mati. Allah mengangkat derajat beliau, Allah mendudukkan pada kedudukan yang demikian tinggi karena mati syahid. Nah, kalau kita membaca ayat di Surat Ali Imran :“... supaya Dia mengangkat diantara kamu Syuhada (orang2 yang menjadi saksi) dan untuk membersihkan hati kamu dari segala macam dosa’“. Untuk orang2 yang meninggal, kita antar dengan rasa sedih tetapi dalam saat yang sama beruntunglah mereka. Dan yang tinggal, kita harapkan mendapatkan pelajaran dari ujian ini, dari bencana ini. Mudah2an kita dapat menyusul mereka dalam kematian yang diridhai Allah.
Itu sebabnya ada doa yang diajarkan Nabi :
“Wahai Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik2nya, dan kematian yang sebaik2nya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang2 yang bahagia, kehidupan orang2 yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang2 yang syahid (orang2 yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya).
Ya Allah, ampunilah orang2 yang meninggal dan yang masih hidup, anak2 kecil, orang2 dewasa, baik yang perempuan maupun yang laki2”.
RABBANAA AATINA FIDDUNYA HASANAH
WA FIL AKHIRATI HASANAH
WA QINA ADZABANNAR
(Ya Tuhanku, berilah kepadaku kehidupan dunia yang baik, kehidupan akhirat yang baik dan jauhkan kami dari siksa api neraka)
Pertanyaan :
- Bagaimana mendeteksi suatu musibah itu merupakan bentuk kasih sayang atau bentuk murka Allah ?
Jawab :
Setiap musibah kita harus introspeksi dan bersangka baik pada Allah. Kalau kita melihat dan menyadari bahwa sebenarnya kita tidak memiliki pelanggaran yang demikian jauh dan kita melihat bahwa bencana yang terjadi itu justru pada orang2 yang tidak berdosa, maka agaknya kita optimis bahwa ini adalah rahmat Allah. Tetapi kalau memang itu menimpa orang2 yang bergelimang dosa maka ketika itu kita bisa menduga bahwa ini adalah siksa dari Allah swt. Betapapun semua itu adalah peringatan dari Allah kepada orang2 yang hidup atau melihat atau mengetahui tentang bala’/musibah itu.
Mungkin sebagian musibah bisa dideteksi dan sebagian yang lain tidak dapat. Ada indikator2, namun mengenai gempa dan tsunami, sampai sekarang saya menduga keras bahwa kemampuan manusia untuk mendeteksinya secara dini belum lagi ada, apalagi buat kita yang berada di Indonesia.
Pertanyaan :
- Dalam rangka menyambut Idul Adha dan pelaksanaan Qurban, dan terjadinya musibah, apakah bisa dana yang kita kurbankan itu untuk disumbangkan kepada saudara2 kita yang berada di Aceh ?
Jawab :
Berkurban pada Idul Adha itu sunnah. Di sisi lain, membantu orang2 yang dalam kebutuhan bisa mencapai tingkat wajib. Nah karena itu, saya (Quraish Shihab) sangat sependapat apabila kita mengalihkan niat untuk berkurban itu apakah dengan berkurban kemudian kurbannya diberikan pada saudara2 kita di Aceh, atau dengan menggunakan harga kurban itu untuk disalurkannya sebagai bantuan kepada saudara2 kita di sana. Karena pada prinsipnya berkurban itu sunnah hukumnya, dan membantu orang2 yang butuh, itu lebih diutamakan.
Pertanyaan :
- Kata Bapak, hidup ini adalah ujian, dan dalam Quran dikatakan “Beritakanlah kepada orang2 yang sabar”. Yang ditanyakan, bagaimana agar kita dapat bersabar ?
Jawab :
Ada 3 hal yang harus kita renungkan :
- Setiap ujian yang menimpa kita bisa lebih besar dari yang kita terima. Kita lihat misalkan di Aceh, ada orang yang meninggal 2 anaknya, 1 masih hidup, untungnya tidak ketiga2nya meninggal dan sebagainya.
- Setiap seseorang terkena musibah dan dia sabar, pasti memperoleh ganjaran dari kesabarannya.
- Semua ujian yang diterima dalam kaitan dengan kehidupan dunia, itu sebenarnya ringan, karena dia masih memiliki keyakinan tentang wujud dan kemurahan Allah swt. Dan Allah itu wujud sepanjang masa bahkan sebelum masa. Hidup ini masih ada di akhirat sehingga anugerahnya akan dilimpahkan kepada yang bersabar. Itu sebabnya “kami memang milik Allah, kami adalah alatNya Allah, tetapi kami akan kembali kepada Allah“. Kita harus sadar tentang ini. Agama memberikan kesadaran kepada kita, bahwa hidup ini panjang, bukan hanya hidup duniawi tapi juga ukhrawi.
Pertanyaan :
- Apa sikap terbaik kita ketika kita menerima ujian atau musibah dari Allah ? Karena ketika musibah itu datang, pastinya kepanikan yang menimpa kita. Sikap terbaik apa kepada Allah dan juga kepada lingkungan kita ?
Jawab : Yang terbaik :
- Kembalikanlah segala sesuatu kepada Allah. Yakinlah bahwa tidak ada pilihan yang buruk.
- Beristighfarlah, bermohon ampun.
- Bermohonlah kepada Allah. Ada doa sebagai berikut :
i. Ya Allah kami tidak bermohon untuk membatalkan apa yang Engkau tetapkan tetapi kami bermohon kiranya musibah ini menimpa kami secara lemah lembut. Kalaupun harus terjatuh, biarlah kami terjatuh di atas jerami.
- AlQuran mengingatkan, “tidak ada suatu musibah yang terjadi kecuali itu sudah dalam pengetahuan Tuhan sebelum itu diciptakan“. Mengapa demikian ? “supaya kamu tidak larut dalam kesedihan, seandainya itu musibah. Dan supaya kamu tidak larut dalam foya2 kegembiraan seandainya itu sesuatu yang menguntungkan kamu“. Kita harus hidup seimbang, jangan larut dalam kesedihan.
- Yakinlah setiap ada 1 kesulitan pasti selalu disusul dengan 2 kemudahan. Kita harapkan kesulitan yang menimpa saudara2 kita dimanapun akan disusul dengan kemudahan2 dari Allah asal disertai dengan kesabaran dan optimis.
Kesimpulan :
Pada prinsipnya ujian atau musibah itu berada dalam kemampuan kita dalam memikulnya selama kita ingin menggunakan petunjuk dan potensi Allah yang dianugerahkan Allah kepada kita. Allah menganugerahkan kita tuntunan agama. Yang memperhatikan tuntunan agama dia akan mampu memikulnya. Allah menganugerahkan kita potensi optimisme, Allah menganugerahkan kita potensi lupa. Ini semua menunjukkan bahwa memang setiap ujian itu diberikan Allah, kalau kita mampu memikulnya selama kita memanfaatkan potensi tersebut dan dekat dengan Allah. Itu sebabnya, barangsiapa yang bertaqwa, Allah akan berikan hidayah/petunjuk diantaranya petunjuk menangani problema, dan mendapatkan curahan solawat, ampunan dan rohmat.
Wassalamualaikum wr.wb,
Arief Wiryanto
Posted at 10:28 am by ariefsalman
Permalink
|
 |
|