Sunday, November 06, 2005
Silaturahim, Menyambung Tali yang Putus


SILATURAHIM
Menyambung Tali yang Putus



oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab

dari buku Lentera Hati


Setiap kali menjelang Idul Fitri, arus mudik demikian besar. Banyak penduduk kota yang kembali ke kampung halaman, bersilaturahim sambil berlibur, bernostalgia, bahkan mungkin juga – sebagaimana disinyalir oleh beberapa pengamat – memamerkan sukses yang telah diraih di kota.ide mudik sendiri, selama dikaitkan dengan silaturahim, merupakan ajaran yang dianjurkan oleh agama.hal ini dapat dilihat dari akar kata dan pengertian silaturahim.

Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata yang berarti “menyambung”, dan “menghimpun”. Ini berarti bahwa hanya yang putus dan yang berseraklah yang dituju oleh kata shilat. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang” kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Tidak jaranghubungan dantara mereka yang berada di kota dan di kampung sedemikian renggang – bahkan terputus – akibat berbagai faktor. Dan dengan mudik yang bermotifkan silaturahim ini akan terjalin lagi hubungan tersebut; akan tersambung kembali yang selama ini putus serta terhimpun apa yang tersentak. Yang demikian inilah yang dinamakan hakikat silaturahim. Nabi saw. Bersabda: “Tidak bersilaturahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (yang dinamakan bersilaturahim adalah) yang menyambung apa yang putus” (Hadis Riwayat Bukhari).

Itulah puncak silaturahim, yang dapat diwujudkan oleh mereka yang mudik dan juga oleh mereka yang tetap tinggal di kota bila ia berusaha mengingat-ingat siapa yang hatinya pernah terluka oleh ulahnya atau yang selama ini jarang dikunjungi akibat kesibukannya. Mudik dan kunjungan seperti inilah yang dinamakan dengan menyambung kembali yang putus, menghangatkan, dan bahkan mencairkan yang beku.

Sungguh baik jika ketika mudik, atau berkunjung, kita membawa sesuatu – walaupun kecil – karena itulah salah satu bukti yang paling konkret dari rahmat dan kasih sayang. Dari sinilah kata shilat diartikan pula sebagai “pemberian”. Dan tidak ada salah seorang yang mudik menampakkan sukses yang diraih selama ini asalkan tidak mengandung unsur pamer, berbangga-bangga, dan pemborosan. Lebih-lebih jika yang demikian itu akan mengantar kepada kecemburuan sosial. Menampakkan sukses dapat merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana sabda Rasul saw.: “Allah senang melihat hasil nikmatnya (ditampakkan) oleh hamba-Nya.”

Adapun nikmat Tuhanmu maka ucapkan (sampaikanlah) (QS 93:11). Sebagian mufasir memahami ayat ini sebagai perintah untuk menyampaikan kepada orang lain dalam bentuk ucapan atau sikap betapa besar nikmat Allah yang telah diraihnya. Mudik berlebaran adalah hari gembira yang berganda: gembira karena lebaran dan gembira karena pertemuan. Di sini setiap yang mudik hendaknya merenungkan pesan Ilahi: Jangan bergembira meampaui batas terhadap apa yang dianugerahkan (Tuhan) kepadamu, (kegembiraan yang mengantar kepada keangkuhan dan lupa diri). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangakan diri (QS 57:23).

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari silaturahim yang telah kita lakukan.[]

-----
Arief Hikmah Mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin

Posted at 12:28 pm by ariefsalman
Make a comment  

Sunday, October 02, 2005
PUASA vs BENCANA

PUASA vs BENCANA

 

Oleh Arief Wiryanto

http://ariefhikmah.blogdrive.com

 

 

Satu tahun sudah semenjak sesaat setelah Ramadhan 1425 H atau tahun 2004 berlalu, masyarakat Aceh dilanda musibah Tsunami, Tsunami terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah umat manusia, yang sebelumnya melanda kawasan Samudera Pasifik yang menelan korban 50.000 orang *1. Tsunami berlalu setelah menelan korban lebih dari 200.000 orang kehilangan nyawa, bangunan dan infrastruktur hancur total, maka musibah lain yaitu demam berdarah menggejala di seantero negeri. Tercatat lebih kurang 20 orang meninggal dunia terserang penyakit yang mematikan tersebut. Kemudian menyusul musibah malaria. Tidak berapa lama kemudian, tanpa diduga sama sekali karena sebelumnya lama sudah Indonesia telah dinyatakan bebas, wabah polio melanda kembali. Anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban. Kini, penyakit flu burung menyerang kita. Sudah 6 orang meninggal dunia akibat flu burung dan 22 orang sedang dirawat di rumah sakit. Kabut asap karena kebakaran hutan yang melanda kawasan Sumatera dan Kalimantanpun semakin parah terjadi bahkan sempat mengganggu aktivitas negara-negara tetangga. Belum lagi reda, musibah tanah longsor di berbagai daerah juga terjadi, menelan korban di Bandung dan Padang.

 

Disamping musibah-musibah alam dan penyakit, masyarakat kemudian dilanda dengan naiknya harga minyak dunia yang menggila, yang semula 40 US Dolar menjadi 65 US Dolar bahkan sempat mendekati 70 US Dolar. Akibatnya rupiahpun anjlok menembus angka Rp 10.000,- per dolar. Sebuah angka yang besar. Dampak yang diakibatkannya pun bagaikan bola yang menggulir masuk ke sendi-sendi kehidupan. BBM menjadi naik tak terelakkan, 1 Oktober ini sudah dinaikkan 50 % - 80%. Sebelumnya, tarif tol naik, diikuti tarif-tarif lainnya membuat masyarakat Indonesia harus mengencangkan ikat pinggang lebih ketat lagi. Ditambah lagi, dengan langkanya BBM di berbagai daerah, membuat masyarakat sengsara dan menderita. Musibah lain yang membuat terkejut masyarakat adalah jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang menelan korban 149 orang, hangus terbakar. Kecelakaan kereta api, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang sempat menelan korban beberapa waktu lalu ketika kunjungan VIP melintas. Terakhir, adalah peristiwa Bom Bali Kedua, yang menewaskan lebih dari 25 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Ini mengingatkan kembali dengan peristiwa Bom Bali Pertama 3 tahun lalu.

 

Gejala alam maupun gejala kerusakan dan kekacauan yang diakibatkan manusia langsung sebenarnya tidak hanya menimpa Indonesia tercinta, tapi juga menimpa negara-negara lain. Bencana Tsunami pun juga menelan korban di negara-negara Asia, Thailand, Malaysia, India, Srilanka bahkan sampai Afrika. Naiknya harga minyak mentah dunia melanda semua negara. Badai Katrina yang memporak-porandakan Amerika Serikat dengan kecepatan angin lebih dari 200 km dapat menghancurkan bangunan. Belum selesai pulih dari Badai Katrina, datang lagi Badai Rita yang sesungguhnya lebih besar dari Katrina, namun ketika sampai di daratan Amerika menurun kecepatannya.

 

Saatnya kita semua merenung, ada apa dengan alam ini ? Mengapa musibah tiada berhenti menimpa ? Ataukah kita hanya berdiam saja dan menerima apa yang telah terjadi tanpa mau memahami ? Apakah alam memang salah ? atau kita manusianya saja yang salah, baik salah karena disengaja tidak dapat mengendalikan diri atau diakibatkan karena kecerobohan dan kebodohan manusia ?

 

Jika kita mau merenung lebih dalam dan berusaha mencari data dan informasi baik dari alam maupun para pakar. Ditemukan bahwa hampir semua musibah dan kekacauan itu disebabkan oleh Human Error baik disengaja maupun tidak, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai contoh kecelakaan pesawat sebagian besar seperti dikatakan oleh sebuah asosiasi pesawat terbang bahwa diakibatkan oleh buruknya manajemen penerbangan, seperti yang diberitakan Kompas beberapa waktu lalu. Itu bisa saja terjadi karena kurangnya kontrol peralatan terhadap pesawat yang akan tinggal landas, lebihnya beban yang diangkut, dan lain-lain. Musibah Badai Katrina dan Rita dan badai-badai besar di Amerika yang dikenal mulai dari Abjad A-W, sejak Arlene sampai Wilma (di tengahnya ada Katrina, Lee, Maria, Nate, Ophelia, Phillipe, Rita, Stan dan Tammy) juga terjadi karena peningkatan suhu permukaan laut yang meningkat 1 derajat Celcius diatas normal, sehingga menjadi 31 – 32 derajat Celcius, kondisi kritis untuk terbentuknya topan.

 

Sekarang badai dan topan kini sedang menerjang Samudera Pasifik dan India. Sejumlah ilmuwan yakin bahwa kenaikan temperatur akibat pemanasan global telah menciptakan topan dengan kebuasan yang lebih dahsyat. *2. Pemanasan global ini meningkat dikarenakan gas buangan dan menipisnya lapisan ozon akibat gas-gas seperti freon yang digunakan AC dan kulkas. Ternyata demi kenyamanan yang tidak terkendali, manusia telah merusak alam yang berakibat timbulnya bencana.

 

Musibah Tsunamipun sebenarnya dapat kita hindari. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa daerah-daerah pantai di Aceh sudah gundul semua. Gundul dari hutan-hutan bakau. Padahal hutan-hutan bakau ini dapat meredam Tsunami. Bila terdapat hutan bakau sepanjang 100 meter, maka gelombang tsunami yang semula setinggi 4 meter dapat diredam menjadi 1 meter. Salah siapakah hutan bakau di daerah Aceh tidak tersisa ?

 

Timbulnya Tsunami memang tidak bisa dicegah, tapi bisa dideteksi dan dicegah. Tsunami bukanlah musibah yang datang sekali dalam sejarah umat manusia, tapi sudah berkali-kali. Umat manusia lain telah belajar untuk mengatasinya terutama setelah terjadi Tsunami yang menelan korban lebih dari 25 ribu orang di kawasan Hawaii sekitar tahun 1920-an. Mereka telah memasang early warning system for Tsunami di seantero kawasan Samudera Pasifik, dimana Hawaii dikelilingi oleh Samudera besar tersebut. Namun mungkin sayang, Samudera Hindia ternyata tidak diduga sebelumnya bisa menimbulkan Tsunami pula. Tahun 2002, seorang peneliti Indonesia dari ITB telah menduga akan terjadi tsunami ketika terjadi tumbukan akibat pergerakan 2 lempeng raksasa dan itu terjadi di daerah pantai barat sepanjang Sumatera. Tsunami kemungkinan akan terjadi karena tumbukan tersebut. Minimal jika telah diprediksi kemudian terdapat alat early warning system, korban tsunami dapat jauh terkurangi. Kebodohan manusia dan kurangnya kepedulian terhadap bahaya membawa sengsara dan maut.

 

Di daerah pantai Garut, juga sering terjadi tsunami dalam skala kecil, paling-paling tinggi air maksimum 2 meter. Namun ada yang unik di daerah ini, yaitu di sepanjang lepas pantai terdapat Coral, yang timbul akibat gundukan karang yang cukup tinggi. Ini dapat meredam juga gejolak tsunami jika sewaktu-waktu terjadi. Namun sayang, seribu sayang, sebagian besar Coral sudah diratakan, dijadikan jalan. Kenikmatan pemandangan dengan jalan merusak alam, suatu saat akan terbayarkan.

 

Wabah berbagai macam penyakit yang sekarang timbul bahkan mematikan atau yang lebih ringan melumpuhkan seperti polio, itu juga diakibatkan karena perbuatan manusia yang tidak mau menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sanitasi yang buruk, pemeliharaan kandang yang tidak bersih, kotoran dimana-mana. Mewabahnya virus flu burung misalnya, itu diakibatkan dari kotoran dari hewan unggas yang terinfeksi, mengering kemudian tertiup angin, lalu jika dihirup oleh hewan unggas lain atau manusia maka akan terinfeksi. Maka jika kotoran-kotoran hewan unggas itu tidak segera dibersihkan akan mewabah se-antero negeri.

 

Penyakit muntaber juga terjadi jika sanitasi lingkungan sangat buruk. Kotoran-kotoran dan sampah tidak ditampung. Dan lebih menjangkit lagi jika musibah banjir melanda.

 

Belum lagi ulah spekulan yang menambah derita masyarakat. Spekulan yang memanfaatkan kondisi naiknya dolar terhadap rupiah.

 

Semua bencana, musibah, kekacauan hendaknya menjadi bahan renungan kita semua, karena manusialah yang menjadi penyebabnya.

 

Saatnya kita harus mengendalikan diri untuk melakukan hal-hal yang buruk yang menyebabkan itu semua.

 

Puasa yang dalam bahasa Al-Quran menggunakan kata Shiyam, adalah perintah untuk menahan diri dari hal-hal yang buruk. Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan, minum dan seks sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun puasa adalah untuk memulai menahan diri. Jika hal-hal buruk dapat kita hindari maka kita akan terbebas dari segala musibah, bencana dan siksa yang diakibatkan sebenarnya dari perbuatan kita sendiri. Esensi puasa adalah berlaku sepanjang hidup manusia. Tidak hanya sebatas di bulan Ramadhan.

 

Saatnya kita harus menahan diri. Ramadhan sebagai momentum untuk memulai menahan diri segala hal yang buruk. Pemborosan pemakaian energi seperti pemakaian BBM diharapkan dapat menekan konsumsi hingga 10% dari pemakaian 1,3 juta barrel per hari, diharapkan berkurang menjadi sekitar 1,2 juta barrel per hari. Produksi minyak mentah Indonesia hanya mencapai 1 juta barrel per hari. Sehingga pemerintah terpaksa harus mengimpor minyak mentah hingga 250 ribu barrel per hari, yang jika dihitung berdasarkan harga minyak mentah dunia 70 US$ per barrel maka dibutuhkan biaya hingga 100 triliyun rupiah lebih dalam satu tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan pengertian dan tekad yang kuat dari masyarakat untuk mengurangi pemakaian energi yang tidak diperlukan atau bisa dihemat. Menahan diri dari pemborosan energi.

 

Kejadian alam seperti topan yang diakibatkan meningkatnya suhu bumi, ini juga memerlukan tekad yang kuat dari masyarakat tidak hanya masyarakat muslim, tapi seluruh masyarakat dunia bahwa untuk mulai menahan diri merusak ozon bumi. Menahan diri dari keserakahan pengerukan kekayaan hutan tanpa melakukan timbal-balik bagi pelestarian hutan. Menahan diri dari eksploitasi hutan tanpa perhitungan pelestarian hutan.

 

Berkaitan dengan rusaknya ozon, ini juga diakibatkan dengan meningkatnya polusi udara yang berdampak pada pemanasan global. Di Bogota sendiri masyarakat sudah mulai sadar, bahwa kota adalah tempat tinggal anak-anak, bukan tempat polusi bagi anak-anak mereka, bukan tempat racun buat anak-anak. Menahan dirilah dari penambahan polusi udara kita semaksimal mungkin. Bumi ini hanya satu, atmosfer kita hanya satu, dia butuh dipelihara untuk anak dan cucu kita.

 

Terpuruknya mata uang rupiah terhadap dollar, itupun merupakan kesalahan yang kita lakukan. Hidup konsumsi terlalu besar, gaya hidup penuh dengan konsumerisme membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa ke luar negeri, terutama terhadap barang-barang produk luar. Itulah yang menyebabkan nilai mata uang kita merosot tajam di samping ulah para spekulan. Lihat saja, nilai penjualan kendaraan bermotor di Indonesia tahun lalu mencapai nilai 40 triliyun rupiah, yang notabene kendaraan tersebut memiliki komponen produksi terbesar dari luar negeri. Nilai penjualan telekomunikasi termasuk diantaranya peralatan komunikasi personal mencapai nilai 48 triliyun rupiah. Itu pun komponennya juga didatangkan dari luar negeri. Bagi yang memang membutuhkan kendaraan memang itu dipersilakan, tapi bagi yang memang sudah memiliki kendaraan namun menambah yang berakibat semakin macetnya jalan, semakin udara terkena polusi, diharapkan untuk mulai menahan diri.

 

Jika bertekad dan menerapkan menahan diri, kita akan menjadi manusia-manusia yang bertaqwa. Ada ulasan tentang Taqwa dari Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-Karim berdasarkan urutan turunnya Wahyu, hal 125-127.

 

Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya.

 

Kalimat ittaqu Allah (‘bertakwalah kepada Allah’) jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi ‘Jauhilah Allah atau Hindarkanlah dirimu dari Allah’. Hal ini tentunya mustahil dapat dilakukan manusia, karena siapakah yang dapat menghindar dari-Nya ? Nah, dari sini, ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara ‘Hindarilah’ dan ‘Allah’. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.

 

Syaikh Muhammad Abduh yang ditulis pendapatnya oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam Tafsir Al-Manar, bahwa ‘Menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan dengan memperkenankan seluruh perintah-Nya. Hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah swt). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan dan untuk itu ia harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.’

 

Setiap pelanggaran atas perintah Tuhan dapat menimbulkan sanksi atau hukuman, (baik terhadap pengabaian dan pelanggaran terhadap hukum-hukum alam maupun hukum yang telah Allah turunkan kepada manusia, -RED).

 

Para sahabat Nabi, dalam peperangan Uhud, ketika mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum alam (dalam hal ini ketaatan kepada pimpinan yang merupakan kunci sukses dalam peperangan) mengalami kekalahan walaupun mereka pada hakekatnya tidak mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat. Mereka yang tidak melanggar terkena getahnya dan inilah yang diperingatkan Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 25 :

 

‘Hindarilah suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berlaku aniaya saja di antara kamu’.

 

Dari sini terlihat bahwa ketakwaan mempunyai dua sisi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah itu, serta sisi ukhrawi yaitu memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

 

Manusia yang bertakwa adalah manusia yang terhindar dari segala yang buruk, dari segala musibah dan bencana. Ini merupakan dambaan tidak hanya bagi umat Islam, tapi semua manusia. Dengan demikian, menahan diri adalah kunci untuk terjaga dari bencana.

 

Selamat beribadah puasa atau Shiyam. Semoga kita makin bisa untuk dapat menahan diri dari segala hal yang buruk, baik dari dalam diri maupun dari sekeliling kita, sehingga menjadi orang-orang yang bebas dari segala musibah dan bencana, baik yang dibuat oleh manusia maupun disebabkan kelalaian kita terhadap bencana alam dan mengantar orang lain dan umat lain menjadi terbebaskan pula.

 

Dengan shiyam, kita diharapkan menjadi troubleshooter or problem solver, bukanlah menjadi bagian dari troublemaker or problem maker.

 

Wassalamualaikum wr.wb,

 

Arief Wiryanto

* Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan segala hal buruk yang pernah saya lakukan.


*1. Tsunami, National Geographic

*2. Sumber Kompas, Minggu 25 September 2005 dengan judul Topan Rita Terjang Daratan AS



 

 


Posted at 09:09 pm by ariefsalman
Make a comment  

Friday, September 23, 2005
PUASA

Puasa

 

 

Oleh Prof. DR. M. Quraish Shihab, MA

Di Pengajian Bulanan

PSQ (Pusat Studi Al-Quran)

Ciputat – Tangerang

 

Rabu, 21 September 2005

 

Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Di dalam Al-Quran ada 2 kata, yaitu SHIYAM dan SHAUM. Kedua-duanya berasal dari kata yang sama, yang artinya menahan. Orang yang menahan diri disebut Shaim.

 

SHAUM di dalam Al-Quran berarti menahan diri untuk tidak bicara, sedangkan

SHIYAM di dalam Al-Quran berarti menahan diri dari hal-hal yang buruk menurut Allah

 

Seringkali kata dalam Al-Quran tapi pemaknaannya dipersempit oleh hokum (fiqh). Seperti shalat, sebenarnya bermakna doa. Tapi dalam hukum (fiqh) itu adalah gerakan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut fiqh, walaupun tidak khusyu tapi kalau sudah melakukan gerakan2 tertentu yg diawali takbir dan diakhiri salam, maka sudah bisa dikatakan itu shalat. Namun sebetulnya menurut Al-Quran, dia belum shalat yang sesungguhnya. Hukum hanya mengatur yang nampak saja, tapi tidak mengatur yang esensi.

 

Begitu juga dengan makna SHIYAM. Shiyam menurut hukum adalah tidak makan, minum dan seks sejak terbit matahari sampai terbenam matahari. Tapi sebenarnya makna dalam Al-Quran adalah bukan hanya sampai di situ, tapi juga menahan diri dari segala yang buruk.

 

Untuk apa SHIYAM ? Kata Allah dalam Al-Quran, adalah agar kita menjadi “Tattaqun”.Surat Al-Baqarah ayat 183. Apa arti Tattaqun ? Tattaqun adalah “kamu menjadi orang-orang yang terhindar dari segala bencana, musibah baik di dunia maupun di akhirat kelak”.

 

Manusia dalam hidupnya selalu menginginkan kesempurnaan. Orang yang kayapun ingin lebih kaya lagi. Orang menginginkan dirinya dan orang lain menjadi orang-orang yang terbaik dan lebih sempurna dari waktu ke waktu. Bahkan lingkungan tempat tinggalnya pun ingin lebih sempurna dan sempurna lagi. Karya-karya-nya pun disempurnakan terus menerus. Sesuatu dinilai sempurna jika memenuhi tiga hal, yaitu indah, baik dan benar.

 

Untuk kesempurnaan ini, manusia menemukan bahwa Allah itulah yang Maha Sempurna, karena itu manusia ingin meneladaniNya. (Mempunyai sifat yang Maha Sempurna, karya-karya Allah sangat sempurna dan penuh ketelitian. Allah itu Maha Baik, Maha Indah dan juga Dialah Kebenaran itu sendiri (Al-Haq). PerbuatanNya tidak ada kesalahan atau error disana sini, walaupun jutaan bahkan triliyunan karyaNya. Tidak ada kita mendengar God Error, tapi manusia selalu melakukan Human Error. Manusia ingin memperkecil kesalahan yang diperbuatnya, mengecilkan nilai Human Error. Berapa banyak musibah yang diakibatkan oleh Human Error. Manusia ingin sempurna seperti sempurnaNya sang Maha Sempurna. Manusia ingin meneladaniNya. –RED).

 

Puasa adalah upaya untuk meneladaniNya. Itulah yang dimaksud “Puasa untukKu, dan Akulah yang akan membalas-Nya” dalam sebuah hadits. Shalat, Zakat, Haji juga untuk Allah, namun semuanya bukan untuk meneladani Allah. Sedangkan Puasa adalah untuk meneladani Allah, agar menjadi sempurna.

 

Dalam menuju kesempurnaan lingkungan, metode menghilangkan kotoran adalah yang lebih diutamakan daripada menghiasinya. Begitu juga dengan sifat yang buruk dan dari hal-hal yang buruk itu lebih diutamakan untuk dibersihkan. Mana yang lebih dulu : menahan marah atau membaca Quran di bulan Ramadhan ? Jawabannya adalah menahan marah. Apa gunanya parfum jika belum mandi ? Dan umumnya masyarakat melakukan mandi dan pakai parfum namun masih main kotor pula. Ini adalah bahasa kiasan.

 

Apa hal yang buruk dalam diri manusia ? Yang tidak baik dari diri manusia adalah nafsu ammarah kepada keburukan. Puasa adalah untuk mengatur nafsu sehingga tidak selalu menjadi ammarah kepada keburukan, tapi menjadi nafsu yang muthmainnah dan nafsu yang selalu menyuruh kepada kebaikan.

 

Sekian dan Wassalam

 

 

Arief Wiryanto

 

 


Posted at 03:33 pm by ariefsalman
Make a comment  

Thursday, August 25, 2005
Mengenal Allah, Al-WAHHAB

Mengenal Allah

AL WAHHAB

Yang Maha Pemberi


Diambil dari Buku Menyingkap Tabir Ilahi, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab

 

Siapa berani yang mengatakan kepada semua manusia di bumi ini bahwa dirinya adalah manusia yang akan memberi apa saja kepada siapa pun setiap saat tanpa imbalan sama sekali ? Siapa pula yang berani mempromosikan dirinya akan memberikan segala yang dibutuhkan dari orang-orang yang datang kepadanya terus menerus tanpa bayar sepersenpun ?

Sepemurahnya manusia yang ada di muka bumi ini tidak ada yang berani menghadapi tantangan seperti di atas. Hanya Allah lah yang berani ungkapkan tegas kepada manusia, dan bahkan untuk semua makhluk yang lain. Dialah Allah, Al Wahhab.

 

Al Wahhab terambil dari akar kata "wahhaba" yang berarti "memberi" dan "memberikan sesuatu tanpa imbalan". Al Wahhab adalah yang memberi -walaupun tanpa dimintai- banyak dari miliknya. Dia memberi berulang-ulang, bahkan bersinambung tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawi maupun ukhrawi.

Masih bukan tergolong Wahhab, jika yang memberi disertai tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau guna mendapatkan kehormatan maka dia            sebenarnya telah mengharapkan imbalan karena yang dimaksud dengan imbalan dalam konteks makna kata ini, bukan sekedar sesuatu yang material. Melakukan sesuatu, yang bila tidak dilakukan dinilai buruk, pada hakekatnya adalah imbalan yang menjadikan pelakunya tidak berhak menyandang sifat ini. Di sisi lain, makhluk tidak mungkin akan dapat memberi secara bersinambung atau terus menerus dan dalam keadaan apapun, karena makhluk tidak dapat luput dari kekurangan. Bukan juga Wahhab namanya, kecuali apa yang diberikannya dalam bentuk yang disebut di atas, merupakan nikmat dan bertujuan baik untuk yang diberi, kini dan masa datang. Demikian Ibnul 'Arabi. Karena itu anugerahNya yang diberikan kepada orang kafir tidak menjadikanNya dinamai wahhab, karena anugerah itu dapat menjadi bencana untuknya kini atau masa datang.

Ayat-ayat yang mengandung kata Wahhab :

"Wahai Tuhan kami, jangan Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkaulah Al Wahhab Yang Maha Pemberi" (QS. Ali Imran 3:8). Permohonan di sini adalah bersinambungnya petunjuk yang selama ini telah diterima, dan yang sekaligus merupakan bagian dari rahmat Allah swt.

 

Doa Nabi Sulaiman "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi" (QS. Shad 38:35). Kerajaan yang dimohonkannya itu adalah kerajaan yang tiada taranya, sehingga terus menerus dikenang sepanjang masa.

Sekali lagi, seorang manusia tidak dapat menjadi Wahhab, karena tidak ada satu aktifitaspun yang dilakukannya yang luput dari tujuan walaupun aktifitas tersebut beruap ibadah. Dalam beribadah tujuan untuk menghindar dari nerakaNya, atau meraih surgaNya merupakan dua tujuan yang seringkali menghiasi jiwa setiap pelaku ibadah. Peringkat tujuan yang lebih tinggipun dari kedua tujuan diatas, yakni bukan karena takut atau mengharap tapi karena cinta dan syukur kepadaNya, belum juga menjadikan sang arif yang beribadah terlepas dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan. Karena kemampuan manusia hanya sampai di sana, maka Allah mentoleransi pemberian yang bertujuan untuk menjalin persahabatan atau menghindar dari cela atau bencana, selama itu diberikan dalam batas kewajaran yang benar dalam beribadah. Allah juga mentoleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah. Bukankah Allah merangsang manusia dengan take in give (mengambil dan memberi)?  Bukankah Allah sendiri dalam Al Quran menggunakan kata-kata "tijarah" (perniagaan), "ba'i" (jual beli), "qardh" (kredit) dan sebagainya.

 

"Wahai orang-orang yang beriman maukah kamu Kutunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksa pedih ? " (QS. Ash-Shaf 61:10). Tahukah Anda perniagaan apa itu ? "Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu..". Anda boleh bertanya apa imbalan bahkan keuntungan yang diraih dari perniagaan ini ? Dengarkan jawabannya pada ayat selanjutnya, "Dia (Allah) akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya serta tempat-tempat tinggi yang baik di surga And. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash-Shaf 61:12). Bahkan ada juga ganjaran yang diterima di dunia, karena firmanNya sesudah janji ini, "Masih ada yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (dalam kehidupan dunia ini)" (QS. Ash Shaf 61:13).

 

Memang, masyarakat umum memahami ketiadaan pamrih sebagai melakukan sesuatu demi karena Allah semata, sehingga siapa yang melakukan sesuatu untuk tujuan yang lain bukan untukNya semata maka itulah pamrih. Tetapi ini tidak sepenuhnya benar, karena suatu tujuan di samping dapat merupakan tujuan utama dapat juga sebagai "jalan yang mengantar" ke tujuan yang lebih utama, dan ketika itu jalan tersebut tidak lagi menjadi tujuan. Seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, pada hakekatnya tujuannya bukanlah uang tetapi ketenangan hidup dan kenyamanannya. Yang membedakan tujuan yang "merupakan jalan" dan "tujuan yang sesungguhnya" adalah bahwa yang " merupakan jalan", akan diabaikan, jika yang menjadi tujuan sesungguhnya telah dicapai. Namun keduanya adalah tujuan. Yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka -tujuannya adalah Allah, walau tujuan yang mengantarnya ke sana adalah meraih surga atau menghindar dari neraka.

 

Jika demikian dapatkan seseorang meneladani Allah dalam sifat ini ? Kita menjawab; mengapa tidak ? Bukankah Allah- seperti telah diuraikan di atas- telah memberi toleransi ? Karena hanya sampai disana kemampuan manusia. Bukankah sejak semula ditegaskan bahwa , "Laisa kamitslihi Syaiun ?" "Tidak ada yang serupa denganNya ?". Bukankah sejak dini pula telah ditekankan bahwa meneladaniNya adalah sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ? Tentu saja banyak toleransi yang diterima atau diambil, semakin rendah tingkat penerima atau pengambilnya. Pemberi yang motivasinya memperoleh imbalan serupa lebih rendah tingkatnya, dibanding dengan yang tidak mengharap imbalan serupa. "Apa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah" (QS. Ar Rum 30:39). Walau itu tidak dilarangnya namun sejak wahyu ketiga Dia berpesan kepada rasulNya : " Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak" (QS. Al Muddatstsir 74 : 6).

 

Menanti ucapan terima kasih tidak dilarangnya, tetapi yang memberi tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan, dipuji bahkan diabadikan ucapannya - walau ketika memberi mengharapkan keselamatan di hari kemudian. "Mereka berkata, 'Kami memberi makan kepada kamu demi karena Allah, kami tidak menghendaki dari kamu balasan dan tidak pula terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami, pada hari yang sangat bermuka masam" (QS. Al Insan 76 : 9-10).

 

Pemberian yang tertinggi yang dapat dilakukan manusia adalah memberi tanpa takut neraka atau tanpa mengharap surga, namun sekali lagi - itupun tidak menjadikannya Wahhab, karena hanya Allah Al Wahhab, namun yang demikian ditoleransi oleh Yang Maha Pemberi anugerah- lahir dan batin itu. Karena itu meneladani sifat ini menuntut upaya untuk terus menerus memberi sekuat kemampuan. Ciri orang bertaqwa menurut QS. Ali Imran 3:134 antara lain adalah "menafkahkan (miliknya) baik dalam keadaan senang (lapang) maupun susah (sempit)". Itu dilakukannya dengan rela karena dia merasa bahwa Allah telah membiasakan hidupnya dengan curahan serta kesinambungan anugerahNya.


Posted at 02:42 pm by ariefsalman
Make a comment  

Tuesday, August 16, 2005
CINTA TANAH AIR


CINTA TANAH AIR

Menyambut Hari Kemerdekaan RI

oleh Arief Wiryanto, ariefwiryanto@yahoo.com



Dlm bukunya, Mukjizat Quran, pak Quraish Shihab mengatakan, bahwa banyak kata2 untuk menunjukkan level cinta. Diantaranya kata Mawaddah dan Mahabbah yang sering digunakan dlm Quran dan hadits. Berikut petikannya :

 

"Dalam buku Dirasat fi Al-Hubb, Yusuf Asy-Syaruni mengutip pendapat Ibnu

Al-Jawzi dalam bukunya Dzamm Al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan

macam-macam cinta serta kosa kata yang menggambarkannya. Pandangan mata atau berita yang didengar bila melahirkan rasa senang diungkapkan dengan kata "aliqa". Apabila melebihinya sehingga terbetik keinginan untuk mendekat, maka ia dinamai "mail". Bila keinginan itu mencapai kehendak untuk menguasainya, maka ia dinamai "mawaddah". Seterusnya, tingkat berikutnya adalah "mahabbah", dilanjutkan dengan "khullah", "ash-shabaabah" kemudian "al-hawa". Peringkat selanjutnya adalah "al-‘isyq" yakni bila seseorang bersedia berkorban atau membahayakan dirinya demi kekasihnya. Sedangkan jika cinta telah memenuhi hati seseorang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lain, maka cintanya dilukiskan dengan kata "at-tatayum". Dan jika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya, atau tidak lagi mampu berpikir dan membedakan sesuatu, akibat cinta, maka ia dinamai walih." Begitu uraian dari Pak Quraish.

 

Mari kita perhatikan tentang Mawaddah dan Mahabbah saja.

Mawaddah sendiri sudah mengandung arti cinta yang begitu kuatnya, sampai2 apa/siapa yang kita cintai, kita mampu untuk memaafkan, kita mampu menjadi wadah, menampung semua kelebihan dan kelemahannya. Wadah bagi dia, tempat dia berlindung. Mawaddah juga mengandung makna memiliki. Jadi kalau tidak ada rasa memiliki, maka itu belumlah mencapai mawaddah. Suami harus ada rasa memiliki thd isterinya, begitu juga sebaliknya. Manusia jika sudah mempunyai rasa memiliki, akan luar biasa memperjuangkan dan berkorban untuknya, jgn sampai yang dia miliki menjadi rusak, sengsara atau binasa. Ada keinginan kuat utk memperindah apa yang dimilikinya. Karena itu, dlm Al-Quran kata mawaddah digunakan dlm pernikahan atau diperuntukkan kepada pasangan kita. Besarnya nilai pengorbanan sebanding dengan nilai rasa memiliki.

 

Sampai-sampai antara kita dengan pasangan hendaknya tidak ada lagi jarak. keluasannya ibarat keluasan angkasa luar. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur/AFDHO) dengan sebagian yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. 4:21)

 

Mari lihat lebih dalam lagi sebenarnya apa arti AFDHO dalam Surat 4:21 diatas. AFDHO  berasal dari  kata FADHO yang artinya angkasa luar. Angkasa luar itu mempunyai ruang yang sangat luas, tanpa batas dan terbuka. Karena itu hendaknya hubungan suami isteri semestinya seperti angkasa luar ini, tidak ada batas di antara suami isteri, dan se-terbuka-terbukanya diantara keduanya.

Kalau masih ada gengsi, takut-takut dan sembunyi-sembunyi terhadap sesuatu sekecil apapun diantara keduanya maka belum mengikuti kehendak dan keinginan Allah tersebut. Allah menginginkan  antara kita dan pasangan kita adalah saling terbuka. Pasangan adalah diri kita.

 

Itulah tingkatan cinta dari Mawaddah. Kemudian tentang Mahabbah adalah sebagai  berikut :

 

Mahabbah, itu lebih tinggi lagi tingkatan cintanya. Kandungan cintanya mahabbah jauh lebih tinggi. Jika mawaddah saja sudah sedemikian tinggi maknanya, maka mahabbah lebih dahsyat lagi. Karena itu di dlm Al Quran seringnya, kata mahabbah, yg asal katanya dari hubb, selalu disandingkan objeknya kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Nah, yg menarik dari rasio saya, teringat akan kata2 Rasulullah. Kata hubb ini disandingkan juga utk objek, "al-wathan" (tanah air). "Hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air merupakan manifestasi dari iman).

 

Jadi bisa diambil kesimpulan jika kecintaan kepada tanah air itu berada dlm satu maqam yang sama dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yg pasti, maqam kecintaan kepada bangsa dan tanah air lebih tinggi dari kecintaan kepada pasangan kita. Bagaimana dahsyatnya cintanya kepada pasangan, masing2 kita sudah bisa merasakan. Nah, kecintaan kepada tanah air itu seharusnya melebihi kecintaan kepada pasangan.

 

Jadi Islam di sini mengajarkan cinta tanah air itu adalah manifestasi dari iman, bukan sekedar sebagian, tapi manifestasi. Kalau kita tidak ada cinta kepada tanah air, maka patut dipertanyakan iman kita. Jika kita tidak ada rasa sedikitpun memiliki tanah air maka patut diragukan iman kita. Sudah ada rasa memiliki thd tanah airpun masih diminta utk lebih lagi, karena kalau itu masih lebih kecil dari cinta kita pada pasangan, maka belum mahabbah pada tanah airnya.

 

Dengan memperingati hari Kemerdekaan ini semoga mengingatkan kita akan kecintaan pada tanah air bangsa ini, kecintaan pada budayanya yang ramah, santun, kekeluargaannya, dan lain-lain. Kecintaan yang dapat membangkitkan secara nasional di bidang ekonomi, politik dan segala aspek kehidupan bernegara. Cinta dapat meningkatkan kepercayaan diri pada bangsanya. Cinta dapat memberikan kesempatan dan peluang besar pada bangsanya. Insya Allah akan membuka jalan yang lebar untuk dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.


Mari kita cintai negeri, bangsa dan tanah air kita. Dirgahayu Republik Indonesia.

Bisa baca juga tentang Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan :

 

http://ariefhikmah.blogdrive.com/archive/cm-08_cy-2004_m-08_d-18_y-2004_o-0.html

 

--

Wassalamualaikum wr.wb,

 

Arief Wiryanto

http://ariefhikmah.blogdrive.com

 

Kajian2 Hikmah, Taqdir, Pernikahan, Perceraian, Pemimpin, Musibah dll


Posted at 10:37 am by ariefsalman
Make a comment  

Thursday, August 11, 2005
TAQWA


TAQWA


 

Tafsir Al-Quran Al-Karim berdasarkan urutan turunnya Wahyu, hal 125-127.

 

Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya.

 

Kata taqwa dalam bentuk kalimat perintah terulang sebanyak 79 kali, ‘Allah’ yang menjadi objeknya sebanyak 56 kali, neraka 2 kali, hari kemudian 4 kali, fitnah (bencana) 1 kali, tanpa objek 1 kali. Sedangkan selebihnya yakni 15 kali, objeknya bervariasi seperti rabbakum (Tuhanmu), al-ladzi khalaqakum (yang menciptakan kamu), al-ladzi amaddakum bi ma ta’malun (yang menganugerahkan kepada kamu anak dan harta benda) dan lain-lain. Redaksi-redaksi tersebut semuanya menunjuk kepada Allah swt. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya objek perintah bertakwa adalah Allah swt.

 

Kalimat ittaqu Allah (‘bertakwalah kepada Allah’) jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi ‘Jauhilah Allah atau Hindarkanlah dirimu dari Allah’. Hal ini tentunya mustahil dapat dilakukan manusia, karena siapakah yang dapat menghindar dari-Nya ? Nah, dari sini, ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara ‘Hindarilah’ dan ‘Allah’. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.

 

Syaikh Muhammad Abduh yang ditulis pendapatnya oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam Tafsir Al-Manar, bahwa ‘Menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan dengan memperkenankan seluruh perintah-Nya. Hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah swt). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, tetapi pada hakikatnya ia seharusnya timbul dari adanya Yang Menyiksa, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan dan untuk itu ia harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.’

 

Lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha menambahkan bahwa siksa dan hukuman Allah kepada makhluk-Nya terbagi dalam dua kategori, yang pertama di dunia dan yang kedua di akhirat. Perintah-perintah Allah pun dapat dibagi ke dalam dua kategori, ada perintah yang berkaitan dengan alam raya, seperti dalam surat Fushshilat ayat 11 ‘Maka Tuhan berfirman kepada langit dan bumi, ‘Ikutilah perintah-Ku, suka atau tidak suka…’. Perintah Tuhan kepada alam itulah yang menjadi hukum-hukum alam, yang dipatuhi oleh alam, tanpa ada pilihan baginya untuk membangkang atau menyimpang. Penyimpangan bagi hukum alam hanya terjadi bila Allah menghendaki. Hal ini biasanya terjadi atas diri para nabi, sebagai bukti kebenaran yang ditampilkan Tuhan, seperti misalnya api yang telah ditetapkannya panas dan membakar, diubah menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim as. ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan selamat bagi Ibrahim’ (QS. Al Baqarah ayat 69).

 

Perintah-perintah Tuhan dalam kategori kedua adalah yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama dan ditujukan kepada manusia, seperti perintah sholat, puasa, dan sebagainya. Perintah-perintah ini (baik dalam bentuk melaksanakan atau menjauhi) dinamai hukum-hukum syariat.

 

Setiap pelanggaran atas perintah Tuhan dalam kedua kategori di atas dapat menimbulkan sanksi atau hukuman, hanya saja sanksi terhadap pelanggaran kategori pertama (yang berkaitan dengan hukum alam) biasanya dijatuhkan dalam kehidupan dunia ini juga demikian pula ganjarannya. Sedangkan sanksi dan hukuman terhadap pelanggaran hukum syariat, pada dasarnya diperoleh di akhirat kelak, demikian pula ganjarannya.

 

Seseorang yang bekerja keras akan menerima ganjaran di dunia, baik ia sholat ataupun tidak. Sebaliknya, jika ia bermalas-malas, walaupun sholat dan puasa, akan merasakan kesengsaraan hidup. Di sisi lain, seseorang yang tidak sholat, pada dasarnya tidak akan mendapatkan sanksi di dunia, karena sanksi itu baru diperoleh di akhirat nanti.

 

Para sahabat Nabi, dalam peperangan Uhud, ketika mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum alam (dalam hal ini ketaatan kepada pimpinan yang merupakan kunci sukses dalam peperangan) mengalami kekalahan walaupun mereka pada hakekatnya tidak mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat. Mereka yang tidak melanggar terkena getahnya dan inilah yang diperingatkan Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 25 :

 

‘Hindarilah suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berlaku aniaya saja di antara kamu’.

 

Dari sini terlihat bahwa ketakwaan mempunyai dua sisi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah itu, serta sisi ukhrawi yaitu memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

 



Posted at 04:00 pm by ariefsalman
Make a comment  

Monday, August 08, 2005
Ar-Rahman & Ar-Rahim

AR RAHMAN AR RAHIM

Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Diambil dari buku Menyingkap Tabir Ilahi, karya Prof. Dr. Quraish Shihab, MA


 

“Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim, kuambilkan untuknyanama yang berakar dari namaMu, siapa yang menyambungnya (silaturahmi) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmatKu baginya). (H.R. Abu Daud dan At Tirmidzi melalui AbdurRahman bin ‘Auf).

 

Dari Aisyah ra berkata : “Serombongan orang-orang Yahudi minta izin bertetamu kepada Rasulullah saw lalu mereka ucapkan : Assamu’alaikum (racun untukmu)”. Jawab Aisyah “Bal’alaikumussaam wal la’nah (bahkan untukmulah racun dan kutukan). Maka bersabda Rasul, “Ya Aisyah ! Sesungguhnya Allah senang dengan kelemahlembutan dalam segala urusan”. Kata Aisyah “Tidakkah engkau dengar ucapan mereka ?”. Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya bahkan telah kujawab, wa’alaikum”.  (HR. Muslim)

 

Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bercerita, “Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa Yahudi. Maka dibukanya sepatu botnya kemudian dicedoknya air dengan sepatunya lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu. Maka Allah mengampuni dosa-dosa wanita itu.” (HR. Muslim)

 

Dari Abu Hurairah ra berkata Nabi saw bersabda : “Tatkala menciptakan makhluk, Allah ta’ala telah menulis dalam buku yang tersimpan di ‘Arasy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih besar daripada murka-Ku”. (HR. Muslim)

 

Menurut pakar bahasa Ibnu Faris (395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra, Ha, dan Mim, mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Hubungan silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim, adalah peranakan/kandungan yang melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim karena kasih sayang yang terjalin antara anggota-anggotanya.

 

Rahmat lahir dan nampak di permukaan bila ada sesuatu yang dirahmati, dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh. Di sisi lain siapa yang bermaksud memenuhi kebutuhan pihak lain tetapi secara faktual dia tidak melaksanakannya karena ketidakmampuannya maka boleh jadi dia dinamai rahim, ditinjau dari segi kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan yang menyentuh hatinya tetapi yang demikian ini adalah sesuatu yang tidak sempurna.

 

Rahmat yang menghiasi diri seseorang, tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorongnya untuk mencurahkan rahmat kepada yang dirahmati. Rahmat dalam pengertian demikian adalah rahmat makhluk, Allah tidak demikian. Tetapi tulis Al Ghazaly –“jangan Anda duga bahwa hal ini mengurangi makna rahmat Tuhan bahkan disanalah kesempurnaannya. Rahmat yang tidak dibarengi oleh rasa pedih –sebagaimana rahmat Allah- tidak berkurang karena kesempurnaan rahmat yang ada di dalam, ditentukan oleh kesempurnaan buah/hasil rahmat itu saat dianugerahkan kepada yang dirahmati dan betapapun Anda memenuhi secara sempurna kebutuhan yang dirahmati, yang bersangkutan ini tidak merasakan sedikitpun apa yang dialami oleh yang memberinya rahmat. Kepedihanyang dialami oleh sipemberi merupakan kelemahan makhluk.” Adapaun yang menunjukkan kesempurnaan rahmat Ilahi walaupun Yang Maha Pengasih itu tidak merasakan kepedihan maka menurut Imam AlGhazaly adalah karena makhluk yang mencurahkan rahmat saat merasakan kepedihan itu, hampir-hampir saja dapat dikatakan bahwa saat ia mencurahkannya – ia sedang berupaya untuk menghilangkan rasa pedih itu dari dirinya, dan ini berarti bahwa pemberiannya tidak luput dari kepentingan dirinya. Hal ini mengurangi kesempurnaan makna rahmat, yang seharusnya tidak disertai dengan kepentingan diri, tidak pula untuk menghilangkan rasa pedih tetapi semata-mata demi kepentingan yang dirahmati. Demikianlah rahmat Allah swt.

Pemilik rahmat yang sempurna adalah yang menghendaki dan melimpahkan kebajika bagi yang butuh serta memelihara mereka sedang Pemilik Rahmat yang menyeluruh adalah yang mencurahkan rahmat kepada yang wajar maupun tidak wajar menerimanya.

 

Rahmat Allah bersifat sempurna karena setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, seketika itu juga rahmat tercurah. Rahmat-Nya pun bersifat menyeluruh karena ia mencakup yang berhak maupun yang tidak berhak serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung atau dinilai.

 

Apa perbedaan antara Rahman dan Rahim ? Banyak ragam jawaban terhadap pertanyaan ini. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tapi sifatnya sementara dan yang dicurahkanNya kepada semua makhluk. Kata ini dalam pandangan Abduh adalah kata yang menunjuk sifat fi’il/perbuatan Tuhan. Dia Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna tetapi bersifat sementara tidak langgeng. Ini antara lain dapat berarti bahwa Allah mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh tetapi tidak langgeng terus menerus. Rahmat menyeluruh tersebut menyeluruh tersebut menyentuh semua manusia –mukmin atau kafir- bahkan menyentuh seluruh makhluk di alam raya, tetapi karena ketidaklanggengannya maka ia hanya berupa rahmat di dunia saja. Bukankah rahmat di dunia menyentuh semua makhluk tetapi dunia itu sendiri, begitu juga rahmat yang diraih di dunia tidak bersifat abadi ? Adapun kata Rahim yang patronnya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan maka ia menunjuk kepada sifat zat Allah, atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmatnya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat wujud di akhirat kelak, disisi lain rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertaqwa :

“Katakanlah : “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah) rezki yang baik ?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui “ (QS. Al A’raf 7:32)

 

Karena itu rahmat yang dikandung oleh kata Rahiim adalah rahamt ukhrawi yang akan diraih oleh yang taat dan bertaqwa kepadaNya.

 

Ada juga yang berpendapat bahwa kata Rahman menunjuk kepada Allah dari sudut pandang bahwa Dia mencurahkan rahmat secara faktual sedang rahmat yang disandangNya dan yang melekat pada diriNya menjadikan Dia berhak menyandang sifat Rahim sehingga dengan gabungan kedua kata itu tergambarlah di dalam benak bahwa Allah Rahman (mencurahkan rahmat kepada seluruh makhlukNya) karena Dia Rahim; Dia adalah wujud / zat Yang memiliki sifat rahmat.

 

Memang sekali-sekali boleh jadi seorang yang bersifat kikir, mengulurkan tangan bantuan kepada orang lain. Di sini bantuan yang diberikannya itu tidak mengubah kepribadiannya yang kikir; bantuan yang diberikannya itu tidak bersumber dari sifat pribadinya yang sesungguhnya,.. berbeda dengan seorang pemurah ketika mengulurkan bantuan. Dengan kata Ar Rahman tergambar bahwa Allah mencurahkan rahmatNya dan dengan Ar Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.

 

Rahmat Allah tidak terhingga bahkan dinyatakan :

“Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu” (QS. Al A’raaf 7:156) dan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

 

Ar Rahman dan Ar Rahim seperti dikemukakan di atas berakar dari kata rahim yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Apabila disebutkan kata rahim maka yang terlintas di dalam benak adalah ibu yang memiliki anak,.. pikiran ketika itu akan melayang kepada kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan diduga bahwa sifat rahmat Tuhan sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang ibu. Bukankah kita harus meyakini bahwa Allah adalah wujud yang tidak memiliki persamaan dalam zat, sifat dan perbuatanNya dengan apapun dalam kenyataan hidup atau dalam khayalan ?

 

Rasulullah memberikan ilustrasi menyangkut besarnya rahmat Allah sebagai dituturkan oleh Abu Hurairah katanya :

Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :’Allah swt menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan disisiNya sembilan puluh sembilan dan diturunkanNya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkut kakinya dari anaknya terdorong oleh rahmat kasih sayang, kuatir jangan sampai menyakitinya. (HR. Muslim).

 

Kini kita bertanya, apakah buah yang dihasilkan oleh ucapan yang lahir dari lubuk hati ? Menurut Al Ghazaly buah yang dihasilkan oleh rahman pada aktivitas seseorang adalah bahwa “ia akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Allah. Dengan memberinya nasehat secara lemah lembut –tidak dengan kekerasan, memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang- bukan dengan gangguan. Memandang setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia tidak menyisihkan sedikit upayapun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya – sebagai pengejawantahaan dari rahmatnya terhadap si durhaka jangan sampai ia mendapatkan murkaNya dan kejauhan dari sisiNya”.

Sedang buah rahim menurut Al Ghazaly adalah “tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali berupaya memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang fakir di sekelilingnya atau dinegerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kekafirannya dengan harta, kedudukan atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhasil ia lakukan, maka hendaklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitaannya. Itu semua, sebagai tanda kasih sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengan yang dikasihinya itu dalam kesulitan dan kebutuhan”.


Posted at 12:57 pm by ariefsalman
Comment (1)  

Wednesday, July 27, 2005
Mengenal ALLAH Melalui Asma Ul Husna

Mengenal ALLAH Melalui Asma Ul Husna


dari Buku Menyingkap Tabir-tabir Ilahi

Prof. DR. M. Quraish Shihab

 

 

 

Manusia betapapun kuasa dan kuatnya pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan dan kebutuhan. Memang pada saat kekuasaan dan kekuatan itu menyertainya, banyak yang idak merasakan sedikit keubuthanpun, tetapi ketika kekuasaan dan kekuatan meninggalkannya, ia merasa takut atau cemas dan pada saat itu ia membutuhkan ‘sesuatu’ yang mampu menghilangkan ketakutan dan kecemasannya itu. Boleh jadi pada tahap awal ia mencari ‘sesuatu’ itu pada makhluk, tetapi jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pastilah pada akhirnya ia akan mencari dan bertemu dengan kekuatan yang berada di luar alam raya. Itulah Tuhan dengan bermacam-macam nama yang disandang-Nya. Dialah yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan manusia, menutupi kekuarangannya, menghilangkan kecemasannya dan sebagainya yang merupakan kebutuhan makhluk. Apa yang dikemukakan di atas, dikonfirmasikan oleh Al Quran antara lain dengan firmanNya :

“Wahai seluruh manusia, kamu adalah orang-orang yang butuh kepada Allah dan Allah adalah Maha Kaya (tidak butuh), lagi Maha terpuji” (QS. Al Fathir 35: 15).

 

Siapa atau Apa Tuhan ?

 

Jika Anda ingin berinteraksi dengan seseorang, tentulah Anda perlu mengenalnya, siapa dia serta apa nama maupun sifat-sifatnya ? Tuhan yang mencipta, yang diharapkan bantuanNya serta yang kepadaNya bertumpu segala sesuatu, pastilah lebih perlu dikenal.

 

“Yang melihat/mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihatNya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih. Mampukah Anda dengan membaca kumpulan syair seorang penyair, atau mendengar gubahan seorang komposer,.. dengan melihat lukisan pelukis atau pahatan pemahat, - mampukah Anda dengan melihat hasil karya seni mereka, mengenal mereka tanpa melihat mereka secara langsung ? Memang Anda bisa mengenal selayang pandang tentang mereka, bahkan boleh jadi melalui imajinasi, Anda dapat membayangkannya sesuai dengan kemampuan Anda membaca karya seni, namun Anda sendiri pada akhirnya akan sadar bahwa gambaran yang dilukiskan oleh imajinasi Anda menyangkut para seniman itu, adalah bersifat pribadi dan merupakan ekspresi dari perasaan Anda sendiri. Demikian juga yang dialami orang lain yang berhubungan dengan para seniman itu, masing-masing memiliki pandangan pribadi yang berbeda dengan yang lain. Kalaupun ada yang sama, maka persamaan itu dalam bentuk gambaran umum menyangkut kekaguman dalam berbagai tingkat. Kalau demikian itu adanya dalam memandang seniman melalui karya-karya mereka, maka bagaimana dengan Tuhan, sedang Anda adalah setetes dari ciptaanNya ?” (Abdul Karim Alkhatib, dalam Qadiyat Al-Uluhiyah Bainal Falsafah wad Din).

Kalau Anda masih berkeras untuk mengenalnya maka lakukanlah apa yang dikemukakan di atas tetapi yakinlah bahwa hasilnya akan jauh lebih sedikit dari apa yang Anda peroleh ketika ingin mengenal para seniman itu. Bukankah hasil karya mereka terbatas, itupun belum tentu semuanya dapat Anda jangkau – sedang hasil karya Tuhan sedemikian banyak sehingga mana mungkin Anda akan mampu mengenal-Nya walau pengenalan yang serupa dengan pengenalan terhadap seniman-seniman itu.

 

Sebenarnya jika Anda mau, ada jalan yang tidak berliku-liku, tidak pula jauh jaraknya. Pandanglah matahari ketika akan terbenam, bentangkanlah maata ke samudera lepas, Anda akan terkagum-kagum oleh keindahan dan keagungannya dan pada akhirnya Anda akan sampai kepada pengenalan Ilahi. Atau ambillah satu makhluk Tuhan ! Mari mendengar suara wahyu yang menjelaskan : “ Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Amat lemahlah yang merampas (lalat) dan amat lemah pula yang akan merebut, (manusia) “ (QS. Al Hajj 22:73).

 

Apakah setelah ini, Anda masih akan menjawab tuntas dengan akal pikiran Anda apa dan siapa Tuhan ? Tapi yakinlah bahwa apa yang diinformasikan oleh akal Anda hanya setetes dari samudera. Kalaulah semua hasil pemikiran manusia dikumpul,  maka itupun hanya bagaikan sedetik dari waktu yang terbentang ini.

 

Karena itu ketika Abu Bakar AshShiddiq ditanya “ Bagaimana Engkau mengenal Tuhanmu?”  Beliau menjawab “Aku mengenal Tuhan melalui Tuhanku. Seandainya Dia tak ada, Aku tak mengenal-Nya”. Selanjutnya ketika beliau ditanya, “Bagaimana Anda mengenal-Nya?” Beliau menjawab, “Ketidakmampuan mengenalNya adalah pengenalan”.

 

Tetapi apakah dengan demikian persoalan telah selesai ? Jelas tidak, karena kita ingin berinteraksi denganNya, kita tidak hanya ingin patuh, tetapi juga kagum dan cinta. Jika demikian, dibutuhkan proses pengenalan.

 

Dalam Quran, Allah tidak diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat materi, karena jika demikian pastilah ia berbentuk, dan bila berbentuk pasti terbatas dan membutuhkan tempat, dan ini menjadikan Dia bukan Tuhan karena Tuhan tidak membutuhkan sesuatu dan tidak pula terbatas. Disisi lain pasti juga – bila demikian – Dia ada di satu tempat dan tidak ada di tempat lain. Pasti Dia dapat dilihat oleh sebagian dan tidak terlihat oleh sebagian yang lain. Semua ini akan mengurangi kebesaran dan keagunganNya, bahkan bertentangan dengan idea tentang Tuhan yang ada dalam benak manusia.

 

Tapi ini bukan berarti bahwa Al Quran memperkenalkan Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat ide atau immaterial, yang tidak dapat diberi sifat atau digambarkan dalam kenyataan, atau dalam keadaan yang dapat dijangkau akal manusia. Karena jika demikian, bukan saja hati manusia tidak akan tenteram terhadapNya, akalnyapun tidak dapat memahamiNya, sehingga keyakinan tentang wujud dan sifat-sifatNya tidak akan berpengaruh pada sikap dan tingkah laku manusia.

 

Karena itu Al Quran menempuh cara pertengahan dalam memperkenalkan Tuhan. Dia, menurut Al Quran antara lain Maha Mendengar, Maha Melihat, Hidup, Berkehendak, Menghidupkan dan Mematikan, dan bersemayam di atas Arsy, Tangan Allah diatas tangan mereka (manusia) bahkan Nabi saw menjelaskan bahwa Dia bergembira, berlari dan sebagainya yang kesemuanya mengantar manusia kepada pengenalan yang dapat terjangkau oleh akal, atau potensi-potensi manusia. Namun demikian ada juga penjelasan Al Quran yang menyatakan bahwa “Tidak ada yang serupa denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy Syura 42:11) sehingga, jika demikian ‘apapun yang tergambar dalam benak, atau imajinasi siapapun tentang Allah maka Allah tidak demikian’. Dengan membaca dan menyadari makna ayat ini, luluh semua gambaran yang dapat dijangkau oleh indra dan imajinasi manusia tentang zat Yang Maha Sempurna itu.

 

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh sahabatnya Zi’lib Al yamani, “Amirul mukminin, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu ? Apakah aku menyembah apa yang tidak kulihat ?” , jawab beliau. “Bagaimana engkau melihatNya ?”, “Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakekat keimanan”.

 

 

Al Asma’ul Husna

 

Kalau sifat-sifat baik dan terpuji yang disandang manusia/makhluk seperti hidup, kuasa/mampu, pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kasih sayang, pemurah, perhatian dan sebagainya maka pastilah Yang Maha Kuasa pun memiliki sifat-sifat baik dan terpuji dalam kapasitas dan substansi yang lebih sempurna, karena jika tidak demikian, apa arti kebutuhan manusia kepadaNya ?

Terdapat empat ayat yang menggunakan redaksi “Al Asma’ul Husna’, yaitu :

 

QS. Al A’raf 7 :180

                “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

QS. Al Isra’ 17 : 110

                “Katakanlah : serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah  kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

 

QS. Thaha 20:110

                “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik).”

 

QS. Al Hashr 59:24

                “Dialah Allah yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Kata Al Asma adalah bentuk jamak dari kata Al-Ism yang biasa diterjemahkan dengan ‘nama’. Ia berakar dari kata assumu yang berarti ketinggian, atau assimah yang berarti tanda. Memang nama merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijunjung tinggi.

 

Apakah nama sama dengan yang dinamai, atau tidak, bukan disini tempatnya diuraikan perbedaan pendapat ulama yang berkepanjangan, melelahkan dan menyita energi itu. Namun yang jelas bahwa Allah memiliki apa yang dinamaiNya sendiri dengan Al Asma dan bahwa Al Asma itu bersifat husna.

 

Kata al husna yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlatif ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik selainNya itu wajar disandangNya atau tidak.Sifat Pengasih –misalnya- adalah baik. Ia dapat disandang oleh makhluk/manusia, tetapi karena bagi Allah nama yang terbaik, maka pastilah sifat kasihNya melebihi sifat kasih makhluk, dalam kapasitas kasih maupun substansinya. Disisi lain sifat pemberani merupakan sifat yang baik disandang oleh manusia namun sifat ini tidak wajar disandang Allah karena keberanian mengandung kaitan dalam substansinya dengan jasmani sehingga tidak mungkin disandangkan kepadaNya. Ini berbeda dengan sifat kasih, pemurah, adil dan sebagainya. Kesempurnaan manusia adalah jika ia memiliki keturunan tetapi sifat kesempurnaan manusia ini tidak mungkin pula disandangNya karena ini mengakibatkan adanya unsur kesamaan Tuhan dengan yang lain, disamping menunjukkan kebutuhan, sedang hal tersebut mustahil bagiNya.

 

Demikianlah kata Husna menunjukkan bahwa nama-namaNya adalah nama-nama yang amat sempurna tidak sedikitpun tercemar oleh kekurangan.

 

Nama/sifat-sifat yang disandangNya itu, terambil dari bahasa manusia, namun kata yang digunakan saat disandang manusia pasti selalu mengandung makna kebutuhan serta kekurangan, walaupun ada diantaranya yang tidak dapat dipisahkan dari kekurangan tersebut dan ada pula yang dapat dipisahkan. Keberadaan pada satu tempat atau arah, tidak munkgin dapat dipisahkan dari manusia dan dengan demikian ia tidak disandangkan kepada Tuhan, karena kemustahilan pemisahannya itu. Ini berbeda dengan kata “kuat”. Bagi manusia, kekuatan diperoleh melalui sesuatu yang bersifat materi yakni adanya otot-otot yang berfungsi baik, dalam arti kita membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan. Kebutuhan tersebut tentunya tidak sesuai dengan kebesaran Allah, sehingga sifat kuat buat Tuhan hanya dapat dipahami dengan menyingkirkan dari nama/sifat tersebut hal-hal yang mengandung makna kekurangan atau kebutuhan itu.

 

ALLAH

 

Allah adalah nama Tuhan yang paling populer. Para ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak. Sekian banyak ulama yang berpendapat bahwa kata “Allah” tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah nama yang menunjuk kepada zat yang wajib wujudNya, yang menguasai seluruh hidup dan kehidupan dan yang kepadaNya seharusnya seluruh makhluk mengabdi dan bermohon. Tetapi banyak ulama berpendapat bahwa kata “Allah” asalnya adalah “Ilah” yang dibubuhi huruf alif dan lam, dan dengan demikian Allah merupakan nama khusus karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya sedang Ilah adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jamak (plural) Alihah. Dalam bahasa Indonesia, keduanya dapat diterjemahkan dengan tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Yang bersifat umum ditulis dengan huruf kecil god/tuhan, dan yang bermakna khusus ditulis dengan huruf God/Tuhan.

 

Alif dan lam yang dibubuhkan pada kata Ilah berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi itu (dalam hal ini kata Ilah) merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua huruf tersebut disini sama dengan The dalam bahasa Inggris. Kedua huruf tambahan itu menjadikan kata yang dibubuhi menjadi ma’rifat atau definite (diketahui/dikenal). Pengguna bahasa Arab mengakui bahwa Tuhan yang dikenal oleh benak mereka adalah Tuhan Pencipta, berbeda dengan tuhan-tuhan alihah (bentuk jamak dari Ilah) yang lain. Selanjutnya dalam perkembangan lebih jauh dan dengan alasan mempermudah, hamzat yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata Al Ilah tidak dibaca lagi sehingga berbunyi Allah dan sejak itulah kata ini seakan-akan telah merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata sekaligus sejak itu pula kata Allah menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur Alam raya yang wajib wujudNya.

 

Sementara ulama berpendapat bahwa kata “Ilah” yang darinya terbentuk kata “Allah”, berakar dari kata Al-Ilahah, Al-Uluhah, dan Al-Uluhiyah yang kesemuanya menurut mereka bermakna ibadah/penyembahan, sehingga “Allah” secara harfiah bermakna Yang Disembah. Ada juga berpendapat bahwa kata tersebut berakar dari kata “alaha” dalam arti mengherankan atau “menakjubkan” karena segala perbuatan/ciptaanNya menakjubkan atau karena bila dibahas hakekatnya akan mengherankan akibat ketidaktahuan makhluk tentang hakekat zat Yang Maha Agung itu. Apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut hakekat zat Allah maka Allah tidak demikian.

 

Ada juga yang berpendapat bahwa kata “Allah” terambil dari akar kata “Aliha Ya’lahu” yang berarti “tenang”, karena hati menjadi tenang bersamaNya, atau dalam arti “menuju” dan “bermohon”, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepadaNya dan kepadaNya jua makhluk bermohon.

Memang setiap yang dipertuhan pasti disembah, dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan ciptaannya, tetapi apakah itu berarti bahwa kata “Ilah” dan juga “Allah” secara harfiah bemakna demikian ? Apakah Al Quran menggunakannya untuk makna “yang disembah” ?

 

Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “yang disembah” menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam; seperti terhadap matahari, bintang, bulan manusia atau berhala; maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni zat yang wajib wujudNya yakni Allah swt. Karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan “laa ilaha illa Allah” maka dia telah menafikan segala tuhan kecuali Tuhan yang namaNya, Allah. QS Al A’raf 7:127 yang dibaca ‘wayazaraka wa ilahataka’. Kata (Ilahataka) dalam bacaan ini adalah ganti dari kata Alihataka yang berarti sesembahan dan yang merupakan bacaan yang syah dan populer. Ada juga yang berpendapat Ilah adalah “Pencipta, Pengatur, Penguasa alam raya, yang di dalam genggaman tanganNya segala sesuatu”. Misalnya firman Allah dalam surat Al Anbiya 2:22. “Seandainya di langit dan dibumi ada ilah-ilah kecuali Allah, niscaya keduanya akan binasa “. Pembuktian kebenaran pernyataan ayat di atas, baru dapat dipahami dengan benar apabila kata Ilah diartikan sebagai Pengatur serta Penguasa Alam Raya yang di dalam genggaman tanganNya segala sesuatu.

 

Betapapun terjadi perbedaan pendapat itu namun agaknya dapat disepakati bahwa kata “Allah” mempunyai kekhususan yang tidak memiliki oleh kata selainnya; ia adalah kata yang sempurna huruf-hurufnya, sempurna maknanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya,... sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai “ismullah al-a’zam” (nama Allah yang paling mulia), yang bila diucapkan dalam doa, Allah akan mengabulkannya.

 

Dari segi lafaz terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya. Bacalah kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi Lillah dalam arti milik/bagi Allah; kemudian hapus huruf awal dari kata Lillah itu akan terbaca “Lahu..” dalam arti bagiNya selanjutnya hapus lagi huruf awal dari “lahu” akan terdengar dalam ucapan Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila inipun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan tetapi pada hakekatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pula sementara ulama berkata bahwa kata “Allah” terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya fitrah dalam diri manusia sebagaimana diuraikan pada bagian awal tulisan ini. Al Quran juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik ,

“Apabila kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah” (QS. Azzumar 39:38).

 

Dari segi makna dapat dikemukakan bahwa kata Allah mencakup segala sifat-sifatNya, bahkan Dialah yang menyandang sifat-sifat tersebut, karena itu jika Anda berkata, “Ya Allah” maka semua nama-nama/sifat-sifatNya telah dicakup oleh kata tersebut. Di sisi lain jika Anda berkata Ar Rahiim (Yang Maha Pengasih) maka sesungguhnya yang Anda maksud adalah Allah demikian juga jika Anda berkata : Al Muntaqim (yang membalas kesalahan) namun kandungan makna Ar Rahiim tidak mencakup pembalasanNya, atau sifat-sifatNya yang lain. Itulah salah satu sebab mengapa dalam syahadat seseorang harus menggunakan kata “Allah” ketika mengucapkan Asyhadu an La Ilaha Illa Allah dan tidak dibenarkan mengganti kata Allah tersebut dengan nama-namaNya yang lain, seperti Asyhadu An La Ilaha illa ArRahman Ar Rahim.


Posted at 04:08 pm by ariefsalman
Comments (4)  

Friday, June 10, 2005
SUNNATULLAH & FENOMENA ALAM

Perbedaan
Sunnatullah & Fenomena Alam



Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA
Lentera Hati - MetroTV
13 Pebruari 2005, 14.00 – 15.00 WIB
Disusun oleh
Teguh Sudibyantoro
tghs01@yahoo.com
Arief Wiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com
http://ariefhikmah.blogdrive.com


Kita bicara yang sederhana, yang mudah-mudah, karena saya (pak Quraish) bukan ilmuwan. Kita pernah membuat air menjadi mendidih. Kita juga pernah membuat es. Itu semua dibuat dari air/zat yang sama. Itu adalah fenomena sehari-hari dan terulang kapan saja, di mana saja, asal melakukan prosedur/proses seperti dengan memakai kompor atau kulkas. Ini yang dinamakan hukum-hukum alam. Setiap saya memanaskan air sampai suhu tertentu maka air mendidih. Setiap saya mendinginkan air sampai katakan di bawah nol maka air membeku. Hanya sebelum ditemukan kulkas, belum bisa membuat es sedemikian mudah, tetapi es/proses itu sudah ada.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al-Baqarah (2) ayat 30.

Sekarang kita lihat Quran. Ketika Allah akan menciptakan Adam, malaikat bertanya, "Ya Tuhan, Apakah Kamu akan menciptakan makhluk yang merusak di bumi. Kami kan bertasbih dan taat kepadaMu." Tuhan tidak menjawab Ya atau Tidak. Tetapi Tuhan membuktikan kewajaran makhluk yang diciptakanNya ini untuk menjadi khalifah di dunia dengan mengajarkan kepadanya al asma'. Adam diberi potensi utk memahami alam ini. Ada kemampuan kita kalau kita gunakan otak/pikiran, bisa mengetahui kenapa air menjadi beku, dapat mendidih, dan selalu mencari tempat rendah. Adam diajarkan, diberi potensi mengetahui hukum-hukum alam. Di sisi lain, alam tidak dijadikan punya kemauan, apa pun ketetapan Tuhan diikuti oleh alam. Matahari setiap hari terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Lahir hukum alam [ bagi manusia ]. Matahari, gunung, angin, dll ada fenomenanya yang tetap. Apakah bumi ini bergerak atau tidak? Bergerak. Gunung itu bergerak atau tidak? Quran berkata bahwa gunung bergerak. Bergerak sedikit demi sedikit. Dulu jazirah Arabia menyatu dengan Afrika, bergerak, berpisah, dan lahir Laut Merah. Kata ilmuwan, jazirah Arab mendekat ke Iran, Australia mendekat ke Nusantara. Katanya bergerak setiap tahun sekian sentimeter. Tsunami yang terjadi bulan Desember 2004 lalu di Aceh juga begitu.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. An-Naml (27) ayat 88.

Allah memberi kita potensi untuk mengetahui itu. Kita ambil yang sederhana. Api bisa membakar. Kita bisa memanfaatkan. Api kalau dekat bensin akan terbakar. Bisa dihindari atau tidak? Bisa. Jangan dekatkan bensin dengan api. Kita diberi kemampuan oleh Allah, kalau kita mau belajar, mengerti alam. Itu sebabnya, dulu sebelum terjadi tsunami, orang berkata, pakar-pakar kita di Bandung menduga bakal terjadi seperti ini. Tetapi kita kurang tanggap. Setelah terjadi, dunia seluruhnya berkata kita harus pasang alat-alat untuk mempelajari supaya tidak terjadi bencana seperti ini lagi. Kita diberi kemampuan oleh Allah. Allah berfirman Allah menundukkan apa yang di langit & di bumi, semuanya anugerah Allah. Bagaimana caranya menundukkannya? Hukum-hukum alamNya tetap. Di mana pun pergi, api membakar. Kita tundukkan api, hei kamu jangan membakar, kita masak nasi aja. Di dapur begitu kan? Dengan kemampuan kita.

Saya mau melangkah lagi. Apa yang kita namai hukum-alam alam ini, apa pasti seperti itu? Nah kita baca Quran lagi ya? Pernahkah api tidak membakar? Ingat kisah Nabi Ibrahim? "naruquni bardan wa salaman ala' Ibrahim".

“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",QS. Al-Anbiyaa (21) ayat 69.

Kalau begitu yang menetapkan hukum alam ini siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau begitu, apa yang saya katakan jika air selalu mencari tempat yang rendah, selalu pasti begitu atau tidak? Kebiasaan (yang ditangkap) kita, di mana-mana seperti itu. Jadi hukum alam itu, apa yang kita lihat sebagai fenomena alam ini, menurut ilmuwan, adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Bisa tidak suatu waktu matahari terbit dari sebelah barat? Naa, bisa ketika mendekati kiamat. Karena hukum alam ini adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Apa yang kita anggap kebetulan sekarang, boleh jadi merupakan proses menjadi kebiasaan, itu kata ilmuwan. Tidak ada lagi yang pasti sekarang. Itu sebabnya dalam ajaran agama, semua harus memakai "insya Allah". Sejak ditemukannya bahwa atom masih bisa terbagi lagi menjadi proton & elektron, sejak itu ilmuwan berkata bahwa tidak ada lagi sesuatu yang pasti.

“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” QS. Al-Furqaan (25) ayat 2.

Sunnatullah. Segala sesuatu sudah Allah tentukan ukurannya. Quran: Allah menciptakan segala sesuatu dan semua diberi ukuran. Manusia ada ndak ukurannya? Bisa terbang seperti burung? Tidak, karena tidak mempunyai sayap seperti burung. Contoh lain, ibu membawa karet. Kalau saya lempar keras, melenting dia, lentingannya keras atau tidak? Keras. Ada ukurannya. Itu Tuhan yang atur. Quran: Matahari beredar di tempat peredaran itu takdir/ukuran yang diberikan Tuhan. 24 jam terbit lagi kamu. Tahun sekian, jam sekian, menit sekian kamu gerhana. Yang mengatur adalah Tuhan. Kalau Dia berkehendak, bisa Ia ubah. Tetapi Ia katakan waktu berbicara tentang sunnatullah, "walaa tajidu li sunnatina tahwila", kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.

“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu.” QS. Al-Israa (17) ayat 77.

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ QS. Yaasin (36) ayat 39.

Sunnatullah adalah bagian fenomena alam. Quran menggunakan kata "sunnatullah" untuk hukum-hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat manusia. Kita orang per orang punya ajal atau tidak? Punya. Sebagai bangsa punya ajal atau tidak? Punya.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. QS. Yunus ayat 49.

Ada ndak hukum-hukum yang mengatur kejayaan suatu bangsa? Ada. Mau jaya? Kerja keras, punya pengetahuan. Ada ndak hukum-hukum yang membuat suatu bangsa bisa menang? Ada, ada hukum-hukum kemasyarakatan. Dalam Quran ada 16 kali kata sunnah. Sunnah artinya kebiasaan. Ada kebiasaan-kebiasaan, sama dengan hukum alam. Ada kebiasaan Tuhan menyangkut masyarakat. Bagaimana Tuhan mengubah suatu masyarakat. Ada kebiasaan, ada hukumnya. "Innallah laa yughoyiru ma bi qaumin, hatta yughoyiru bi anfusihim...". “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11.

Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat, kalau dia [masyarakat] tidak mengubah apa yang ada dalam pikirannya. Kalau tidak berubah nilai-nilai, tidak berubah pandangan hidup anda, anda tidak berubah. Bukan cuma tahu. Saya beri contoh. Saya tahu kereta akan berangkat dari Jakarta, katakanlah ke Bandung jam sekian. Saya tahu ada itu. [Ada kereta & jadwal]. Bisa mengantar saya ke Bandung? Kalau tahu saja, tidak. Harus apa? Saya harus mau. Kalau anda mau, mau saja sudah cukup atau tidak? Harus pergi ke stasiun dahulu, beli tiket dulu. Sudah punya tiket, sudah pasti sampai? Belum. Harus naik di keretanya dulu. Tidak bisa berubah ini. Itulah sunnatullah. Mau masyarakat ini maju. Ubah dulu pikirannya. Jangan malas. Harus rajin. Hargai waktu. Ini semuanya ada dalam benak kita. Sudah tahu itu, harus punya kemauan.

Jadi sunnatullah itu adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Tetapi sunnatullah dalam penggunaan Al Quran yang merupakan bagian dari hukum-hukum alam itu yang dinamai taqdir atau ukuran, sedangkan kata sunnatullah itu khusus untuk kehidupan bermasyarakat. Kalau ada masyarakat yang resah, pemerintahannya membuat keresahan, bisa bertahan pemerintahannya itu atau tidak? Itu hukum kemasyarakatan. Pasti orang ribut. Quran. Itu kaum musyrik Mekkah mau menggelisahkan kamu supaya mau mengusir kamu dari Mekkah, kalau sudah sampai puncak kegelisahan, masyarakat itu, pemerintahan itu akan runtuh. Di Indonesia terjadi itu. Dulu zaman komunisme bagaimana? Hancur, lahir orde baru. Orde baru muncul, mulai gelisah. Itu hukum kemasyarakatan. Itu yang dinamai sunnatullah.

Sunnatullah ini menurut Al Quran, adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Hukum-hukum Tuhan itu diantaranya ada hukum yang berkaitan dengan alam raya [dengan bumi, langit, matahari, bintang, dll], dan ada pula hukum yang berkaitan dengan manusia. Manusia sebagai perorangan, sebagai masyarakat. Kalau hukum Tuhan yang berlaku bagi manusia, dalam kehidupan bermasyarakatnya, dinamai sunnatullah. Kalau hukum Tuhan yang berkaitan dengan manusia dan juga alam semuanya dinamai taqdir. Kita bisa tahu taqdir, kita bisa pilih taqdir. Bisa ndak kita pilih taqdir? Nah kita lihat deh. Kalau buku tafsir ini di sini [ di atas meja ] . Kalau diangkat & dilepas, jatuh atau tidak? Taqdirnya jatuh. Kalau ditaruh di atas meja, jatuh atau tidak? Tidak. Bisa tidak saya pilih itu agar tidak jatuh? Bisa. Kalau saya angkat tafsir ini, bisa tidak? Bisa. Kalau saya angkat ada hukumnya. Kalau kamu mau angkat ini, kamu harus ulurkan tanganmu dan naikkan ke atas. Itu taqdir, ada ukurannya. Bisa tidak saya pertinggi ini lagi? Saya angkat tinggi sekali. Ada tidak ukurannya? Itu semua bisa saya pilih taqdir Tuhan. Ada tembok rapuh, saya sandar di situ, ambruk, bisa kena saya. Bisa tidak saya pindah dari situ? Nah kalau saya pindah pun itu taqdir Tuhan. Segala sesuatu ada taqdirnya. Ada hukum-hukum yang diatur Tuhan. Kalau berkaitan dengan manusia & masyarakatnya, dinamai sunnatullah. Tidak bisa maju jika tidak mengikuti sunnatullah. Ada hukumnya.

Bisa tidak, mendidihkan air jika tidak dipanaskan? Tidak bisa. Itu hukum alam. Bisa tidak, membeku jika tidak didinginkan? Tidak bisa. Itu ada hukumnya. Masak nasi terlalu lama, hangus tidak? Hangus, itu taqdirnya begitu. Masak nasi, kurang airnya? Keras, gosong. Nah ada ukurannya agar nasi bisa matang & enak. Bisa dipelajari kan? Bisa dihindari supaya tidak gosong/keras? Nah ini, Tuhan beri kita kemampuan untuk itu. Taqdir bisa dipilih? Bisa kan? Kenapa bisa masak bubur atau nasi? Karena kita bisa memilih. Tetapi ada ukurannya, yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan. Tsunami kemarin juga ada ukurannya. Kalau kita pandai, kita bisa menghindar, atau kita bisa mengurangi bahayanya. Kenapa di Jepang yang banyak terjadi gempa, tetapi mereka bisa lebih selamat ? Mereka membangun rumahnya yang sedemikian rupa, dan sebagainya. Ini namanya hukum alam. Kita dianugerahi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kemampuan untuk itu. Itu yang diisyaratkan oleh ayat "Wa 'alama Adamal asma 'al akulaha". “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 31.

Alam ini tidak bisa menghindar. Waktu Allah menciptakan alam raya, Allah berfirman kpd langit & bumi, " i'tiyar... " "Datang kamu, suka atau tidak suka". " ataina tha'in", "kami datang secara sukarela, kami tidak bisa membangkang".

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati.". QS. Fushshilat (41) ayat 11.

Kalau manusia bisa membangkang, kan? Hukum alam adalah ikhtisar dari pukul rata statistik, yang kita ketahui, Allah yang mengaturnya. Makanya kita tetap harus bermohon kepadaNya.

Al Quran menggunakan istilah sunnatullah utk hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, walaupun sementara ilmuwan muslim menjadikan istilah sunnatullah itu adalah hukum-hukum yang mengatur alam raya ini baik itu manusia secara individu atau kolektif maupun alam raya ini [bintang bulan dll], tetapi Quran membedakan itu.

Tanya : Seperti yang disampaikan bapak Quraish, gejala alam itu hukum Tuhan. Mengingat tsunami kemarin, apakah ini termasuk taqdir disamping hukum alam. Seperti diketahui, ahli Geologi sudah meramalkan ada benturan lempeng tetapi diramalkan berada di pantai Sumatera Barat, tetapi ternyata terjadi di Aceh. Antara pengetahuan manusia, koq ada kesenjangan dengan realisasinya. Selanjutnya, ketika terjadi musibah besar itu, ada dua pendapat yang saya baca di koran & majalah, ada yang tidak bisa menerima bahwa ini merupakan azab dari Allah atau musibah, tetapi meniadakan hal itu bahwa Allah itu tidak jahat sehingga menghukum orang-orang Aceh. Kenapa diberi azab, kenapa tidak di Jakarta. Di mana letak taqdir, ketika sebagai manusia telah berusaha dengan ilmu pengetahuan, terjadi musibah.

Jawab: Yang pertama, taqdir ada banyak & bermacam-macam. Sebagian dapat / sudah kita ketahui, sebagian ada yang tidak kita ketahui. Sebagian ada yang sudah jelas bagi kita, dan ada yang belum jelas bagi kita. Itu taqdir. Jadi kalau ibu tadi berkata bahwa ilmuwan memperkirakan di Sumatera Barat, jadinya di Aceh. Itu karena pengetahuan ilmuwan itu tidak menyeluruh. Seandainya pengetahuannya menyeluruh, ia bisa mendeteksi bahwa itu terjadi di Aceh. Itu kalau kita berbicara dari segi ilmu. Yang kedua, tidak terjadi kecuali atas dasar taqdir & ukuran / ketetapan Tuhan. Tetapi ketetapan Allah ini ada yang kita ketahui dan ada yang tidak kita ketahui. Ada yang bisa kita jangkau, dengan pengetahuan & mempelajarinya, seperti contoh air membeku / mendidih, ada yang kita tidak/belum tahu. Dulu orang-orang tua kita, 600 - 700 tahun yang lalu, belum tahu bagaimana membuat es. Nah kemajuan ilmu menjadikan kita tahu. Boleh jadi nanti suatu ketika kemajuan ilmu akan lebih tepat, ooh ini jadinya di sini. Seperti gerhana, sekarang saja kita bisa tahu kapan & di mana terjadinya dengan tepat, ya kan? Itu perkembangan ilmu. Kemudian, hukum-hukum alam ini tidak selalu pasti seperti itu. Ada faktor lain bisa mengubahnya. Itu sebabnya di atas saya katakan bahwa sejak ditemukannya atom terbagi lagi menjadi proton & elektron, ilmuwan berkata tidak ada lagi yang dinamakan pasti. Saya hanya bisa mengatakan, kalau terjadi A kemungkinan terjadi B, saya tidak bisa berkata pasti B yang terjadi. A kalau terjadi bisa terjadi B atau terjadi C, tetapi kemungkinannya terjadi B lebih besar, saya tidak bisa pastikan B. Karena yang mengatur adalah Allah yang Maha Berkehendak. Saya tidak ingin berkata bahwa yang terjadi di Aceh itu adalah murka Tuhan. Kadang ada musibah yang terjadi justru untuk mengangkat derajat orang-orang di sisi Allah. Sahabat-sahabat Nabi pernah berperang & gugur. Apakah orang-orang yang gugur itu dibenci Tuhan atau bagaimana? Itu satu. Yang kedua, kita harus berprasangka baik pada Tuhan. Orang-orang yang meninggal, kalau pun bergelimang dosa, kita juga harus menyebut kebaikan-kebaikannya. Kemarin, saya baru dari Mekkah, ada badai, apakah itu orang-orang jahat yang ada di Mekah? Mereka orang-orang yang sedang beribadah! Hujan lebat, menghanyutkan barang-barang. Ini bisa ujian atau peringatan Allah. Orang yang diberi peringatan Allah apakah dirahmati atau tidak? Dirahmati. Saya beritahu anak saya, "Hati-hati nak, di jalan ada beling", apa itu karena saya benci dia? Atau saya beri peringatan karena saya sayang? Saya akan berkata begitu, Tuhan masih sayang, beri kita peringatan. Jadi jangan berkata bahwa Tuhan murka. Sangka baik kepada Allah. Saya berkata, bahwa Tuhan akan mengubah wajah Aceh menjadi lebih baik. Tuhan menyadarkan bangsa ini agar lebih bersatu. Ya kan? Itu kalau kita mau bersangka baik kepada Allah.

Tanya: Gunung katanya bergerak, apakah bernafas? Seperti makhluq hidup?
Jawab: Kita tidak harus berkata bahwa yang bergerak itu bernafas. Boleh jadi sesuatu itu bergerak dikarenakan sesuatu yang lain. Seperti lempeng yang bergerak karena didorong sesuatu. Saya tidak ingin berkata dapat bernafas, tetapi boleh jadi kita bisa berkata bahwa ia hidup dengan kehidupannya. Dalam Al Quran, bumi ini dianggap hidup. Gunung-gunung "dianggap" hidup. Nabi menamai gunung Uhud, "Uhud yuhibbuna, wa yuhibbuhu", " "Gunung Uhud ini mencintai kita, dan kita pun cinta kepadanya". Tapi ini dalam pengertian metafora. Nabi memberi nama-nama bagi benda-benda tak bernafas, tak bernyawa. Cerminnya dinamai "Al Midallah". Gelasnya dinamai As Shoddiq. Pedangnya dinamai Zulfiqor. Ini seakan-akan seperti makhluq hidup yang perlu persahabatan punya personality [kepribadian]. Jadi kalau ibu berkata gunung bernafas secara metafora Al Quran juga menamakannya hidup. Nabi menjadi rahmatan lil 'alamin. Berarti juga nabi memberikan rahmat kepadkepada seluruh alam termasuk gunung-gunung, dll, seakan-akan dia hidup.

Tanya: Apa beda antara taqdir dengan qadha qadar?
Jawab: Qadar itu taqdir. Qadha itu pengetahuan Tuhan secara menyeluruh menyangkut segala sesuatu. Taqdir itu adalah ketetapanNya menyangkut rincian. Semua manusia, semua yang bernyawa pasti mati. Tuhan tahu itu. Tuhan sudah tetapkan itu. Tetapi, kematian si A itu kapan? Itu taqdir. Taqdir itu menyangkut orang per orang. Oo ini taqdirNya, dia meninggal karena "ini" pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Qadhanya apa? Semua ini akan meninggal. Itu salah satu yang dikemukakan ulama menyangkut perbedaan antara qadha & qadar. Jadi, tidak ada yang terjadi kecuali Tuhan sudah tahu terlebih dahulu. Itu qadhanya. Tetapi kejadiannya itu adalah taqdirnya.

Garis besarnya. Kita harus percaya bahwa ada hukum-hukum alam, segalanya sudah Tuhan atur sedemikian rupa dalam bentuk sistem / hukum. Kita perlu mempelajari itu supaya kita dapat memilih taqdirNya yang terbaik untuk kita. Tsunami adalah taqdir Tuhan. Bencana, ni'mat juga taqdir Tuhan. Kita hadir sekarang di sini juga taqdir Tuhan. Semua taqdir Tuhan. Yang baik yang buruk adalah taqdir Tuhan. Nah kita tinggal pilih-pilih. Mau ke Metro atau ke Niteclub? Kita punya kemampuan memilih.


Lagu pengiring:

Insaf lah wahai manusia
Jika diri mu bernoda
Dunia hanya naungan
tuk makhluq ciptaan Tuhan

Dengan tiada terduga
Dunia ini kan binasa
Kita kembali ke asalnya
Menghadap Tuhan yang Esa

Dia lah Pengasih & Penyayang
kepada semua insan
Jangan lah ragu atau bimbang
pada keagungan Tuhan

Betapa Maha Besarnya
Kuasa segala alam raya

Posted at 09:21 am by ariefsalman
Comment (1)  

Thursday, June 02, 2005
SAHABAT

MEMILIH SAHABAT

 

 

Prof. DR. M. Quraish Shihab

Lentera Hati, MetroTV

3 Oktober 2004

14:00 – 15.00 WIB

Disusun oleh

Teguh Sudibyantoro

tghs01@yahoo.com

Dan

Arief Wiryanto

ariefwiryanto@yahoo.com

[Moderator]:
Boleh sedikit saya berpendapat : Ada beberapa lingkungan yg sangat
berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang pertama, yg paling
dekat dgn kita adalah keluarga atau di rumah. Yang tidak kalah
pentingnya adalah lingkungan di luar rumah yaitu di sekolah, teman,
atau yg palng dekat dgn kita adalah sahabat.
Pada saat ini kita akan
membicarakan bagaimana cara memilih sahabat yg baik.



[Pak Quraish]:

Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau
sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn
sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir].
Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat.
Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya
kalau dia menjadi sahabat saya.  Kalau saudara kita tidak menjadi
sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?


Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia,
sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan "sahabat kental". Apa
bedanya "teman" dan "sahabat kental" ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si
A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau
sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi
tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.


Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi
hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita
beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman
akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama
dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya
tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia
ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah
bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat
kental.

Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur'an. Istilah yg digunakan
tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada "shohib" yg dalam bahasa
Indonesia menjadi "sahabat", itu boleh jadi shohib ini tidak seide
dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat
dalam perjalanan.


Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur'an menamainya "shodiq" dari kata
"Shidq". "Shiddq" itu artinya "benar", "jujur". Naa, sahabat yg baik
itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya
selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar
menemani.

Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn "kholil". "Kholil" itu
terambil dari akar kata bermakna "celah". Orang yg begitu dekat dgn
anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk
ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai "kholil". Ada ndak yg begitu ?
Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.


Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg "dia adalah
aku".
Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat
di cermin ?
Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda.
Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam
sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu
waktu ada orang berkata, "Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala
negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?". Abu Bakar menjawab,
"Saya tetapi dia". Kan itu sama.


Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah
memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau
tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya "siapa
sahabatnya ?". Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap,
"menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa
sahabatnya", karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau
sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti
terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat
kita karena dia bisa mempengaruhi kita.


Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn
penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak
wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las,
bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.


Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah.
Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada
batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg
berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg
artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, "Inamal
waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu'tuna
zakata...". Orang yg beriman itu "waliy"-nya, teman akrabnya adalah
Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia
terpengaruh dgn temannya.


Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam
pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau
sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena
kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa,
"tolong dong". Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo
senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong.
Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu.
Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat
yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ?
[Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada
waktu susah.


Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya.
Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si
A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main
bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi
orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian
politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa
tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya
kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada
kepentingan, tidak akan bekerja sama.


Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama
anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur'an
berkata, "Al akhilahu yaumaidzin ba'duhum li ba'din alu ilal
muttaqin", sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke
relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan
kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.


Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim,
disebutkan dalam Al Qur'an, pernah menasehati anaknya, "Nak, kalau
kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu", kaget kan ?
"Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak
berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat". Kalau baru sedikit
sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa
salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak
bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.


Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari
sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada
keluarganya & orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan
jadikan dia sahabat. Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.
Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim.
Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau
berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana
sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.


Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main
melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ?
[Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik.
Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah.
Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg
meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.


Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin
persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun
sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya
terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo
tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah
merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga
bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah
terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.


Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya
miskin, kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia.
Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan
terjadi persahabatan.


Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti
dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.


Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu
persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada
orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan.
Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan.
Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya
antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.


Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan
canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap
serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. "Saya kan
main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius".
[Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang
main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau
mencampurbaurkan itu.


Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia
marah.
Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau
makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda
kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah
jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi
marah. Jadi jangan dijawab dgn marah.  Itu terpelihara. Ooo dia marah,
dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.


Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, "Kamu
bodoh". Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata
sarannya keliru terus berkata, "Ini gara-gara kamu nih".  Biasa begitu
? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran
pada dia lantas saran anda bagus, "Itu kan karena saya". Itu tidak
terpelihara persahabatan.


Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke /
cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang,
"Stop, itu saya sudah tahu tuh". Tidak bisa begitu. Terus
saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau
tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.


Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu
menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu
yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus.
Ya kan ?


Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban
bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib.
Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan
juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda
bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.


Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai
dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok
yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di
antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam
tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.


[moderator]:
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg
sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara
kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?


[Jawab]:
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa
tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada
situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda
jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita
bercanda, tapi jangan  berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak
tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan
campurkan antara bercanda dan serius.


[Tanya]:
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin
kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita
khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah
misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita
dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita
bisa diungkapkan kepada orang lain.


[Jawab]:
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg
anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur'an dikatakan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda.
Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat-
tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah
jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan
sampaikan kepadanya.


Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan
beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi
syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.


Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda.
Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam
kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya  dan istri yg
paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama
(istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan
suaminya/istrinya.

Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada
tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan
dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji
menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu
di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan.
Jadi bertingkat-tingkat.


[Tanya]:

Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka
berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?


[Jawab]:
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran
Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam
Al Qur'an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An
Nisa, "Wa'budullah wala tusyriku bihi syai'an wabil walidaini
ihsana..... wa shohibi bil jambi".
Kita disuruh berbuat baik kepada
teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg
berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan,
dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing
harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing
harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat
buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak
terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia
memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama,
boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama,
boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan
suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya
banyak sahabat non muslim.


[Tanya]:
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan
sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?


[Jawab]:
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat
bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda
dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata "kamu
bodoh" di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap
harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg
melampaui batas itu buruk.
"Khairul ummur al washad". Saya mau beri
contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada
air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak
habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk.
Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan
juga berlebih-lebihan.
Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh
jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh
jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu
adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek,
pelit juga jelek. Ceroboh jelek, penakut jelek, nah di tengahnya itu
adalah berani.


[Moderator]:
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan
berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu
menyangkut materi.


[Jawab]:
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi.
Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari
kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi
kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan
sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg
benar.


[Kesimpulan]:
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah
memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda
sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah
memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai
memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah
yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan
sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg
berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau
cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua
jadi jelek tho.


[moderator]:
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah
bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk
kita.


Posted at 05:04 pm by ariefsalman
Make a comment  

Next Page
Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< March 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed