Friday, August 06, 2004
Bingung tentang Taqdir, Qadha dan Qadar ?

Selama ini kita salah dalam memahami makna Taqdir. "Dia tidak jadi denganku, karena belum taqdirnya... " " Belum nikah karena belum ketemu jodohnya...", "Ga dapet lagi proyek nich ? Itu barangkali belum taqdirnya ". Benarkah seperti ini ?  -- arief w

 

Qadha dan Qadar/Taqdir

Quraish Shihab

Metro TV, 6 Juni 2004

Jam 14.00 - 15.00 WIB

 
Kita akan membicarakan masalah qadha dan qadar/taqdir. Jaman Rasul tidak ada wacana ttg taqdir, baru ada ketika jaman Khalifah kedua, Umar bin Khatthab muncul istilah tsb, kemudian makin berkembang ketika jaman khalifah ummayyah setelah khalifah ali. Saat itu, taqdir dipersepsikan salah. Dulu ketika Ali wafat maka digantikan putranya Hasan, yg ternyata umat islam pecah, maka dia mengundurkan diri. Lalu Hasan digantikan oleh adiknya Husein, nah Husein ini dibunuh oleh bani ummayyah. Kemudian berkuasalah khalifah ummayyah mengeser Husein. Demi kepentingan politiknya maka Ummayyah memberikan wacana kepada Umat Islam, bhw terbunuhnya Husein itu sudah merupakan taqdir Allah. Husein tidak dibolehkan memerintah, buktinya adalah dia tewas, yg diperbolehkan oleh Allah adl dirinya, begitu kata pembesar2 dan pengikut2 Ummayyah..


Itulah taqdir, begitu wacana sesat yang dihembuskan dinasti Ummayyah. Jadi bagaimana makna tadir itu sebenarnya ? Kita harus kembali kepada keterangan2 Allah lewat Qurannya.

 

 “Sesungguhnya Allah telah mengadakan ukuran bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. 65:3


Menurut firman Allah dlm Al-Quran, segala sesuatu itu sudah ada ukurannya, sudah ada taqdirnya.. Maka taqdir adalah sebuah rumusan yang Allah tetapkan dan berlaku pada tiap2 sesuatu. Taqdir bisa dikatakan merupakan sistem Allah yang Dia terapkan pada apapun di dunia ini. Taqdirnya air laut adalah apabila dia disinari matahari sampai lama maka akan menguap menjadi awan. Taqdirnya api kalo disiram air yang cukup maka akan mati.


Dengan demikian, alam semesta kecuali manusia itu tidak diberi kesempatan utk memilih taqdir2nya. Sedangkan manusia diberi kebebasan utk memilih taqdir yg diinginkannya. Taqdirnya manusia yang rajin dan sabar maka akan berhasil, taqdirnya manusia yang malas maka akan sengsara hidupnya. Silahkan manusia untuk memilihnya, apakah menjadi manusia yang rajin ataukah manusia yang pemalas.

 

Bumi diberikan taqdirnya utk urusan berevolusi hanya satu utk mengitari matahari, dia tdk boleh mengitari planet atau bintang2 yg lain, bisa kacau nanti. Sedangkan manusia silahkan memilih taqdir utk kehidupannya, hanya Allah menganjurkan kepada manusia utk memilih taqdir yg terbaik buat dirinya, bukan sekedar taqdir yang baik, tapi yg terbaik.


Sering terdengar bhw jodoh, rizki dan mati adalah taqdir Allah, padahal semua yg terjadi di dunia ini adalah taqdir (rumusan2) dari Allah. Seringkali kita baru katakan itu taqdir kalao kita mendpt musibah, padahal apabila kita mendpt kesuksesan dan kebahagiaan itu juga taqdir dari sekian taqdir yg kita pilih.


Rumusan2 Allah itu tertuang dalam Lauhil Mahfudh yang mencakup rumusan Qadha dan Qadar/Taqdir tadi. Jadi Lauhil Mahfudh adalah ibarat sebuah prasasti yang menyimpan ilmu2 Allah yang terpelihara. Perbedaan Qadha dan qadar adalah :

 

Qadha itu adalah rumusan2 Allah secara global, spt misalkan bahwa tiap makhluk yang bernyawa pasti mati. Qadar/taqdir adalah rumusan2 Allah yang terinci atau rinciannya, spt misalnya ayam akan mati pada saat apa dan dimana. Sedangkan qadar/taqdir pada manusia adalah tergantung dari pilihan manusia itu sendiri.


Jadi kesimpulannya adalah qadha dan qadar adalah sistem Allah yang berlaku di dunia ini pada siapapun dan apapun. Hanya kita sebagai manusia dipersilahkan utk memilih taqdir, mau beriman silahkan, mau kafir juga boleh masing2 ada taqdirnya. Allah menghendaki kita memilih taqdir yg terbaik buat kita. Sedangkan alam raya ini tdk bisa memilih taqdirnya.


Nah, alam semesta ini sengaja Allah hamparkan di muka bumi ini agar kita bisa memilih dan menemukan taqdir yg terbaik utk kita. Pilihan rizki terbaik, jodoh terbaik, karir terbaik, kesejahteraan terbaik, nasib yang terbaik dll harus kita usahakan sendiri.


Mengenai nasib yang menimpa manusia, Allah tidak menentukan tapi manusialah yg menentukan sendiri nasibnya. Ibaratnya Allah sudah kasih tahu kepada manusia apabila dia berbuat A maka dampaknya X, tapi kalo berbuat B maka dampaknya Y. Nah apabila manusia
milih A maka dia akan bernasib X... Jadi bukan Allah yg menentukan nasib manusia tapi manusianyalah yg memilih utk itu.


NB :

Doa dapat mengubah taqdir. Allah berfirman Dia mampu menghapus apa yg sudah ditetapkan, nah dg Doa itulah taqdir kita akan berubah. Tapi sistem global Allah tetap tidak akan berubah.

 


Posted at 03:11 pm by ariefsalman
Make a comment  

Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< August 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed