Wednesday, August 11, 2004
Takabbur

Takabbur

 

 

Prof. Quraish Shihab, Lc

Metro TV, 9 Mei 2004, 14.00 – 15.00 WIB

 

Takabbur adalah meliputi ;

-         merasa diri lebih besar dari kenyataannya

-         melecehkan orang lain

-         tidak mengakui hak orang lain

 

Jadi Takabbur adalah kondisi kejiwaan seseorang yang merasa memiliki kelebihan dari kenyataannya sehingga mendorongnya untuk melecehkan orang lain. Takabbur lahir karena terlalu cinta dirinya dan merasa dirinya tidak ada kekurangan.

 

Takabbur ini merupakan pangkal dosa dari kebohongan pada dirinya dan orang lain. Juga takabbur merupakan pangkal dosa orang lain untuk berbuat bohong dan pangkal dosa dirinya dan orang lain melakukan kejahatan.

 

Takabbur kepada Tuhan

 

Allah telah menetapkan perintah-perintahNya agar dapat diikuti oleh hambaNya, seperti sholat, puasa, zakat dan berhaji. Bentuk takabbur kepada Tuhan adalah melecehkan perintah-perintah Allah tersebut, misalnya dengan mengatakan “ apa tuh sujud-sujud segala, ngotor-ngotorin kepala saja”. Kalau kita belum dapat melaksanakan perintah-perintahNya jangan sekali-kali mengatakan hal seperti ini baik dengan ucapan maupun dengan hati. Allah juga tidak membebani hambaNya. Apabila kita takabbur kepada Allah berarti kita merasa lebih tahu dari Allah yang Maha serba tahu.

 

Takabbur kepada Manusia

 

Manusia diciptakan adalah untuk dihargai, lihat pembahasan “Menghargai”. Bentuk-bentuk pelecehan kepada manusia seperti pelecehan seksual, pelecehan kepada hukum dan sebagainya adalah bentuk-bentuk takabbur kepada manusia. Begitu juga dengan melecehkan jabatan tertentu adalah termasuk takabbur juga. Seperti yang seharusnya adalah tempat duduknya presiden, kita duduki. Berpakaian rapi ketika mengunjungi teman, sahabat atau dalam rangka bisnis adalah upaya kita menghargai orang lain. Lihatlah Nabi ketika bernegosiasi dengan para raja di sekitarnya, beliau selalu menggunakan unta tunggangannya yang sangat bagus, berpakaian bagus dan indah (tidak harus mahal) demi menghormati para raja. Nabi tidaklah takabbur walaupun jabatan beliau di sisi Allah yang paling tinggi dibanding para raja, Nabi tetap menghormati orang lain. Nabi tidaklah sok, walaupun Nabi pembawa kebenaran tapi tidaklah lantas petantang petenteng merendahkan derajat para raja di sekitar beliau. Begitu juga ketika berhadapan dengan orang-orang miskin yang bertamu kepada beliau, beliau hamparkan sorbannya untuk tempat duduk tamunya yang miskin tersebut. Sungguh besar dan mulianya Nabi.

 

Seperti ada seseorang yang baru lulus SD berani mencoba melamar ke Universitas. Ini namanya melecehkan fakultas tersebut. Memberikan harapan dan janji-janji kemudian tidak ditepati termasuk dalam takabbur kepada manusia, karena telah melecehkan orang lain, dengan memberikan harapan kosong kepada orang lain.

 

Jadi  takabbur bukanlah sebatas ucapan saja, melainkan  bisa  lahir dari sikap kita.  Kita juga tidak diperbolehkan takabbur terhadap orang-orang kafir termasuk seorang Yahudipun. Nabi berdiri menghormati ketika seorang jenazah Yahudi melintas di depan beliau.

 

Takabbur kepada Binatang

 

Kepada binatang pun kita harus hormati, jangan sekali-kali kita takabbur kepada mereka. Seperti perbuatan  memanggil-manggil kucing dengan maksud seolah-olah ada makanan. Ini termasuk pelecehan terhadap kucing, karena kucing dipanggil-panggil mengira ada makanan, harapan sang kucing pupus ternyata dia telah ditipu. Ini sudah termasuk takabbur kepada binatang. Apalagi jika kita menyiksanya. Karena itu, kata Nabi apabila kita ingin memotong hewan, pertajam dan asah dulu pisaunya agar sesingkat mungkin binatang yang kita sembelih merasakan sakit.

 

Cara mengatasi takabbur :

-         sadarilah diri Anda atau tahu diri, tahu posisi dan kedudukan kita.
Belum tentu kita lebih tahu dibanding orang lain, apalagi disbanding oleh Allah yang Maha Mengetahui.

-         Jangan sekali-kali merasa terjamin dengan perputaran hari, belum tentu esok kita akan kaya seperti hari ini.

 

Catatan :

Bolehkah kita berbangga atas prestasi yang telah kita peroleh ?

Kita dibolehkan untuk berbangga selama tidak melecehkan orang lain. Takabbur itu mengandung arti melecehkan orang lain atau makhluk lain. Nabipun seringkali berbangga dirinya adalah manusia yang paling bertakwa, yang paling beriman di antara kita, tapi Nabi tidak melecehkan orang lain dengan kebanggaannya itu.

 

 

Arief Wiryanto

Yayasan Jaringan Informasi Islam

 


Posted at 01:08 pm by ariefsalman
Make a comment  

Tuesday, August 10, 2004
Perubahan

Perubahan

 

 

Prof. Quraish Shihab, Lc

Metro TV, 8 Agustus 2004, 14.00 – 15.00 WIB

 

Ada orang yang mengatakan tentang perubahan, “Jika Anda ingin mengubah bangsa ini, maka ubahlah terlebih dahulu masyarakat di sekeliling Anda. Jika ingin mengubah masyarakat, ubahlah terlebih dahulu keluarga Anda. Jika ingin mengubah keluarga Anda, ubahlah dulu manusianya. Dan jika Anda ingin mengubah manusia, maka ubahlah terlebih dahulu hati dan pikirannya”.

 

Titik tolak perubahan adalah “mau atau tidak masing-masing pribadi kita untuk berubah”

 

Bagaimana  perubahan menurut Al-Quran ?

 

Al Quran banyak menguraikan tentang perubahan, diantaranya Quran Surat Ar-Rad ayat 13 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. 13:11),

 

dan juga dalam Surat Ibrahim Ayat 1 : “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(QS. 14:1). Sehingga Al Quran merupakan kitab dan buku pertama yang menjelaskan tentang hukum-hukum kemasyarakatan.

 

Kita lihat dalam Quran Surat Ar-Ra’d ayat 11 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. 13:11).

 

Apa yang memang harus diubah dalam diri manusia ?

 

  1. Nilai-nilai yang dianut dan diyakini. Kita banyak menganut nilai-nilai sebagai pegangan dan pedoman hidup. Nilai ekonomi, nilai-nilai  akhlak, nilai-nilai moral dan lain sebagainya menentukan pola pikir dan pola hidup kita. Jika tidak seimbang seperti kita terlalu mementingkan nilai ekonomi maka segalanya hanya akan diukur  dari tingginya nilai ekonomi yang kita miliki. Harga diri dan penghargaan kepada orang lainpun  diukur  hanya dari kemapanan ekonomi seseorang.  Nilai paling tinggi adalah tauhid. Manusia pada dasarnya mengakui adanya fakta  bahwa Tuhan itu satu dan manusia berada pada satu kesatuan yang sama, sederajat.  Apabila berbeda dalam derajat ketakwaan, itu di mata Allah. Oleh karena itu, Nabi pun menghormati seorang Yahudi yang meninggal dan beliau berdiri ketika jenazah Yahudi tersebut melintas di depannya. Nabi mengakui bahwa yang meninggal adalah manusia seperti dirinya. Tauhid diibaratkan seperti matahari yang menghidupkan alam  semesta ini termasuk manusia.  Matahari mati maka kehidupan di muka bumi akan punah. Nilai-nilai tauhid (keesaan dan kesatuan) ini mati maka musnahlah bangsa ini. Ya, kita  sudah menyadari akan hal ini, bayangkan saja  apabila  bangsa Indonesia tidak lagi mempunyai rasa nilai kesatuan, pastilah tercerai berai dan bubar.

     

  1. Kehendak atau tekad. Nilai saja  belum cukup untuk mengubah hidup seseorang, perlu adanya kehendak atau tekad  yang bulat. Seseorang  yang  akan   bepergian ke luar kota dengan pesawat tidak cukup hanya membutuhkan tiket pesawat tapi juga tekad yang kuat untuk berangkat.  Oleh karena  itu, tekad yang  bulat dan kuat dibutuhkan untuk perubahan.  Tekad  yang  setengah-setengah tidak akan bisa  membuat seseorang  berubah.  Orang  yang ingin berhenti merokok tapi tidak mempunyai tekad yg bulat atau setengah-setengah, tidak akan mampu membuat orang tersebut berhenti untuk merokok. Perokok umumnya sudah mengetahui nilai bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan dirinya. Semakin kuat tekad seseorang  maka  semakin mudah dia untuk berkorban.

 

Jika suatu kaum  atau bangsa ingin berubah maka diperlukan kehendak atau tekad tidak hanya 1 atau 2 orang saja, atau hanya tekad dari seorang pemimpin saja,  melainkan  perlu adanya tekad dari semua diri dalam masyarakat itu. Tidak bisa  Negara  dan bangsa akan berubah apabila hanya tekad dari seorang presiden saja, atau presiden dengan 2 orang menterinya saja.

 

Selama ini ada anggapan bahwa mengubah Negara harus dimulai dari pemimpin. Yang lebih benar adalah untuk mengubah kondisi Negara dan bangsa perlu adanya tekad tidak hanya dimulai dari seorang pemimpin tapi dimulai dari tekad masing-masing orang dari sejak rakyat sampai pada pemimpinnya. Berapa banyak Nabi  yang dibunuh oleh umatnya seperti Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan lain-lain. Kalau dalam konteks ini, maka nabi tersebut gagal dalam melakukan perubahan pada umatnya.

 

Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain  untuk  dapat  mengikutinya. Tekad masyarakat kemudian akan dibimbing oleh pemimpin ini ke jalan yang tepat untuk berubah.

 

  1. Kemampuan, baik fisik dan non-fisik. Tiket pesawat sudah ada di tangan, tekadpun sudah bulat tapi tidak ada kemampuan fisik ke bandara  karena sakit  (tidak mampu secara fisik), maka kita tidak akan jadi pergi.

 

Bangsa yang  ingin berubah maka diperlukan SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal. SDM yang handal harus memiliki daya diantaranya :

    1. Daya fisik yang kuat, sehingga mampu menggerakkan apa yang menjadi langkahnya.
    2. Daya pikir yang cemerlang dan excellent, sehingga mampu  menghasilkan  metode-metode ilmiah yang jitu, ilmu pengetahuan dan juga teknik-teknik yang tepat atau teknologi yang handal.
    3. Daya qalbu yang sehat sehingga mampu menghasilkan daya imaginasi yang dahsyat, akhlaq yang mulia dan kepekaan yang tinggi terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya.
    4. Daya hidup yang tangguh, sehingga mampu  melahirkan semangat di setiap langkah dan kerjanya.

 

Itulah 3 point  pokok yang  saling terkait apabila ingin merubah diri, masyarakat dan bangsa menuju kea rah yang lebih baik.

 

Kesimpulan   :

Kalau ingin adanya perubahan maka yang pertama-tama perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir yang benar. Begitu juga dengan adanya keinginan perubahan bangsa, perlu adanya perubahan pola pikir masyarakatnya. Perubahan yang dimaksud dalam QS adalah bukan perubahan manusia, tapi perubahan pada apa yang ada dalam diri manusia. Bangsa tidak akan berubah walaupun pemimpinnya diganti beribu kali tapi dengan pola pikir yang sama.

 

Dalam perubahan bangsa, maka diperlukan  kehendak yang kuat dari atas sampai bawah, dari pemimpinnya sampai rakyatnya. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi rakyatnya sehingga pola pikir rakyatnya berubah, mampu menciptakan kehendak dan tekad yang kuat dari rakyat juga bisa membuat rakyatnya mampu berbuat dan memiliki daya yang kuat untuk perubahan.

 

 

 

Arief Wiryanto


Posted at 01:10 pm by ariefsalman
Make a comment  

Friday, August 06, 2004
Bingung tentang Taqdir, Qadha dan Qadar ?

Selama ini kita salah dalam memahami makna Taqdir. "Dia tidak jadi denganku, karena belum taqdirnya... " " Belum nikah karena belum ketemu jodohnya...", "Ga dapet lagi proyek nich ? Itu barangkali belum taqdirnya ". Benarkah seperti ini ?  -- arief w

 

Qadha dan Qadar/Taqdir

Quraish Shihab

Metro TV, 6 Juni 2004

Jam 14.00 - 15.00 WIB

 
Kita akan membicarakan masalah qadha dan qadar/taqdir. Jaman Rasul tidak ada wacana ttg taqdir, baru ada ketika jaman Khalifah kedua, Umar bin Khatthab muncul istilah tsb, kemudian makin berkembang ketika jaman khalifah ummayyah setelah khalifah ali. Saat itu, taqdir dipersepsikan salah. Dulu ketika Ali wafat maka digantikan putranya Hasan, yg ternyata umat islam pecah, maka dia mengundurkan diri. Lalu Hasan digantikan oleh adiknya Husein, nah Husein ini dibunuh oleh bani ummayyah. Kemudian berkuasalah khalifah ummayyah mengeser Husein. Demi kepentingan politiknya maka Ummayyah memberikan wacana kepada Umat Islam, bhw terbunuhnya Husein itu sudah merupakan taqdir Allah. Husein tidak dibolehkan memerintah, buktinya adalah dia tewas, yg diperbolehkan oleh Allah adl dirinya, begitu kata pembesar2 dan pengikut2 Ummayyah..


Itulah taqdir, begitu wacana sesat yang dihembuskan dinasti Ummayyah. Jadi bagaimana makna tadir itu sebenarnya ? Kita harus kembali kepada keterangan2 Allah lewat Qurannya.

 

 “Sesungguhnya Allah telah mengadakan ukuran bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. 65:3


Menurut firman Allah dlm Al-Quran, segala sesuatu itu sudah ada ukurannya, sudah ada taqdirnya.. Maka taqdir adalah sebuah rumusan yang Allah tetapkan dan berlaku pada tiap2 sesuatu. Taqdir bisa dikatakan merupakan sistem Allah yang Dia terapkan pada apapun di dunia ini. Taqdirnya air laut adalah apabila dia disinari matahari sampai lama maka akan menguap menjadi awan. Taqdirnya api kalo disiram air yang cukup maka akan mati.


Dengan demikian, alam semesta kecuali manusia itu tidak diberi kesempatan utk memilih taqdir2nya. Sedangkan manusia diberi kebebasan utk memilih taqdir yg diinginkannya. Taqdirnya manusia yang rajin dan sabar maka akan berhasil, taqdirnya manusia yang malas maka akan sengsara hidupnya. Silahkan manusia untuk memilihnya, apakah menjadi manusia yang rajin ataukah manusia yang pemalas.

 

Bumi diberikan taqdirnya utk urusan berevolusi hanya satu utk mengitari matahari, dia tdk boleh mengitari planet atau bintang2 yg lain, bisa kacau nanti. Sedangkan manusia silahkan memilih taqdir utk kehidupannya, hanya Allah menganjurkan kepada manusia utk memilih taqdir yg terbaik buat dirinya, bukan sekedar taqdir yang baik, tapi yg terbaik.


Sering terdengar bhw jodoh, rizki dan mati adalah taqdir Allah, padahal semua yg terjadi di dunia ini adalah taqdir (rumusan2) dari Allah. Seringkali kita baru katakan itu taqdir kalao kita mendpt musibah, padahal apabila kita mendpt kesuksesan dan kebahagiaan itu juga taqdir dari sekian taqdir yg kita pilih.


Rumusan2 Allah itu tertuang dalam Lauhil Mahfudh yang mencakup rumusan Qadha dan Qadar/Taqdir tadi. Jadi Lauhil Mahfudh adalah ibarat sebuah prasasti yang menyimpan ilmu2 Allah yang terpelihara. Perbedaan Qadha dan qadar adalah :

 

Qadha itu adalah rumusan2 Allah secara global, spt misalkan bahwa tiap makhluk yang bernyawa pasti mati. Qadar/taqdir adalah rumusan2 Allah yang terinci atau rinciannya, spt misalnya ayam akan mati pada saat apa dan dimana. Sedangkan qadar/taqdir pada manusia adalah tergantung dari pilihan manusia itu sendiri.


Jadi kesimpulannya adalah qadha dan qadar adalah sistem Allah yang berlaku di dunia ini pada siapapun dan apapun. Hanya kita sebagai manusia dipersilahkan utk memilih taqdir, mau beriman silahkan, mau kafir juga boleh masing2 ada taqdirnya. Allah menghendaki kita memilih taqdir yg terbaik buat kita. Sedangkan alam raya ini tdk bisa memilih taqdirnya.


Nah, alam semesta ini sengaja Allah hamparkan di muka bumi ini agar kita bisa memilih dan menemukan taqdir yg terbaik utk kita. Pilihan rizki terbaik, jodoh terbaik, karir terbaik, kesejahteraan terbaik, nasib yang terbaik dll harus kita usahakan sendiri.


Mengenai nasib yang menimpa manusia, Allah tidak menentukan tapi manusialah yg menentukan sendiri nasibnya. Ibaratnya Allah sudah kasih tahu kepada manusia apabila dia berbuat A maka dampaknya X, tapi kalo berbuat B maka dampaknya Y. Nah apabila manusia
milih A maka dia akan bernasib X... Jadi bukan Allah yg menentukan nasib manusia tapi manusianyalah yg memilih utk itu.


NB :

Doa dapat mengubah taqdir. Allah berfirman Dia mampu menghapus apa yg sudah ditetapkan, nah dg Doa itulah taqdir kita akan berubah. Tapi sistem global Allah tetap tidak akan berubah.

 


Posted at 03:11 pm by ariefsalman
Make a comment  

Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< August 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed