Sunday, October 12, 2008
PEMBERITAHUAN

Assalamualaikum wr.wb,

Dengan ini, diberitahukan bahwa Arief Hikmah, pindah ke http://ariefhikmah.blogspot.com, dikarenakan sesuatu hal agar dapat menampilkan tampilan ulisan yang jauh lebih baik.

Ada beberapa tema yang sudah di-update pada alamat yang baru tersebut.

Terima kasih atas perhatiannya.

Arief Hikmah

Posted at 06:37 pm by ariefsalman
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
eBook : Buku Keluarga

Assalamualaikum wr.wb,

Sekarang telah hadir eBook : Buku Keluarga, yang berisi uraian ceramah2 Prof. Dr. M. Quraish Shihab. EBook ini menguraikan banyak tentang ajaran agama bagaimana agar menjadi sakinah, mawaddah wa rahmah. Topik-topik bagaimana menjadi Ayah yang baik, Ibu yang Penyayang, Anak yang sholeh dan sholehah, Makna Dalam tentang Perkawinan, Kebencian Allah terhadap Perceraian dan sebagainya.

Karena itu Arief Hikmah bekerjasama dengan Penerbit Cahaya Cemerlang, mengeluarkan eBook ini. Silakan kunjungi dan klik :

http://www.cahayacemerlang.com-a.googlepages.com/Order.htm

Arief Hikmah

 


Posted at 11:39 am by ariefsalman
Make a comment  

Thursday, November 17, 2005
MAKNA HALAL BI HALAL

Makna Halal Bihalal

Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab

Buku Lentera Hati

 

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Hemat saya paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasaan.

Menurut pandangan pertama – dari segi hukum – kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Jika demikian halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.

Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, misalnya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.

Menurut pandangan kedua – dari segi bahasa – akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.

Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikata yang membelenggi, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungandari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang berku dihangantkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.

Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan Anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehungga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal. Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.[]


Posted at 01:50 pm by ariefsalman
Make a comment  

Monday, November 07, 2005
MAKNA MINAL AIDIN WAL FAIZIN

Makna Minal ‘Aidin wal Faizin

oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab

dari buku Lentera Hati

 


“Minal ‘aidin wal faizin,” demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal ‘aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”.

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa – yaitu berpuasa – selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dn menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagai mana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena – menurut Rasulullah – al-aidin al-mu’amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam.

Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan”. Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu? Di sini kita dapat merujuk pada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk afuzu (saya beruntung). Itupun menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami “keberuntungan” sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4:73)

Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4:73) mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi.” Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya.

Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surah An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. dengan salah seorang yang ikut ambil bagian dalam menyebarkan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu marahnya Abubakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya.

Tuhan memberi petunjuk dalam ayat tersebut: Hendaklah mereka meaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24:22).

Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal ‘aidin wal faizin. semoga kita dapat kembali mendapatkan jati diri kita semoga kita bersama memperoleh ampunan, ridha, dan kenikmatan surgawi. Amin.[]


Arief Hikmah mengucapkan Minal Aidin wal Faizin


Posted at 01:06 pm by ariefsalman
Make a comment  

Sunday, November 06, 2005
Silaturahim, Menyambung Tali yang Putus


SILATURAHIM
Menyambung Tali yang Putus



oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab

dari buku Lentera Hati


Setiap kali menjelang Idul Fitri, arus mudik demikian besar. Banyak penduduk kota yang kembali ke kampung halaman, bersilaturahim sambil berlibur, bernostalgia, bahkan mungkin juga – sebagaimana disinyalir oleh beberapa pengamat – memamerkan sukses yang telah diraih di kota.ide mudik sendiri, selama dikaitkan dengan silaturahim, merupakan ajaran yang dianjurkan oleh agama.hal ini dapat dilihat dari akar kata dan pengertian silaturahim.

Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata yang berarti “menyambung”, dan “menghimpun”. Ini berarti bahwa hanya yang putus dan yang berseraklah yang dituju oleh kata shilat. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang” kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Tidak jaranghubungan dantara mereka yang berada di kota dan di kampung sedemikian renggang – bahkan terputus – akibat berbagai faktor. Dan dengan mudik yang bermotifkan silaturahim ini akan terjalin lagi hubungan tersebut; akan tersambung kembali yang selama ini putus serta terhimpun apa yang tersentak. Yang demikian inilah yang dinamakan hakikat silaturahim. Nabi saw. Bersabda: “Tidak bersilaturahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (yang dinamakan bersilaturahim adalah) yang menyambung apa yang putus” (Hadis Riwayat Bukhari).

Itulah puncak silaturahim, yang dapat diwujudkan oleh mereka yang mudik dan juga oleh mereka yang tetap tinggal di kota bila ia berusaha mengingat-ingat siapa yang hatinya pernah terluka oleh ulahnya atau yang selama ini jarang dikunjungi akibat kesibukannya. Mudik dan kunjungan seperti inilah yang dinamakan dengan menyambung kembali yang putus, menghangatkan, dan bahkan mencairkan yang beku.

Sungguh baik jika ketika mudik, atau berkunjung, kita membawa sesuatu – walaupun kecil – karena itulah salah satu bukti yang paling konkret dari rahmat dan kasih sayang. Dari sinilah kata shilat diartikan pula sebagai “pemberian”. Dan tidak ada salah seorang yang mudik menampakkan sukses yang diraih selama ini asalkan tidak mengandung unsur pamer, berbangga-bangga, dan pemborosan. Lebih-lebih jika yang demikian itu akan mengantar kepada kecemburuan sosial. Menampakkan sukses dapat merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana sabda Rasul saw.: “Allah senang melihat hasil nikmatnya (ditampakkan) oleh hamba-Nya.”

Adapun nikmat Tuhanmu maka ucapkan (sampaikanlah) (QS 93:11). Sebagian mufasir memahami ayat ini sebagai perintah untuk menyampaikan kepada orang lain dalam bentuk ucapan atau sikap betapa besar nikmat Allah yang telah diraihnya. Mudik berlebaran adalah hari gembira yang berganda: gembira karena lebaran dan gembira karena pertemuan. Di sini setiap yang mudik hendaknya merenungkan pesan Ilahi: Jangan bergembira meampaui batas terhadap apa yang dianugerahkan (Tuhan) kepadamu, (kegembiraan yang mengantar kepada keangkuhan dan lupa diri). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangakan diri (QS 57:23).

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari silaturahim yang telah kita lakukan.[]

-----
Arief Hikmah Mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin

Posted at 12:28 pm by ariefsalman
Make a comment  

Sunday, October 02, 2005
PUASA vs BENCANA

PUASA vs BENCANA

 

Oleh Arief Wiryanto

http://ariefhikmah.blogdrive.com

 

 

Satu tahun sudah semenjak sesaat setelah Ramadhan 1425 H atau tahun 2004 berlalu, masyarakat Aceh dilanda musibah Tsunami, Tsunami terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah umat manusia, yang sebelumnya melanda kawasan Samudera Pasifik yang menelan korban 50.000 orang *1. Tsunami berlalu setelah menelan korban lebih dari 200.000 orang kehilangan nyawa, bangunan dan infrastruktur hancur total, maka musibah lain yaitu demam berdarah menggejala di seantero negeri. Tercatat lebih kurang 20 orang meninggal dunia terserang penyakit yang mematikan tersebut. Kemudian menyusul musibah malaria. Tidak berapa lama kemudian, tanpa diduga sama sekali karena sebelumnya lama sudah Indonesia telah dinyatakan bebas, wabah polio melanda kembali. Anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban. Kini, penyakit flu burung menyerang kita. Sudah 6 orang meninggal dunia akibat flu burung dan 22 orang sedang dirawat di rumah sakit. Kabut asap karena kebakaran hutan yang melanda kawasan Sumatera dan Kalimantanpun semakin parah terjadi bahkan sempat mengganggu aktivitas negara-negara tetangga. Belum lagi reda, musibah tanah longsor di berbagai daerah juga terjadi, menelan korban di Bandung dan Padang.

 

Disamping musibah-musibah alam dan penyakit, masyarakat kemudian dilanda dengan naiknya harga minyak dunia yang menggila, yang semula 40 US Dolar menjadi 65 US Dolar bahkan sempat mendekati 70 US Dolar. Akibatnya rupiahpun anjlok menembus angka Rp 10.000,- per dolar. Sebuah angka yang besar. Dampak yang diakibatkannya pun bagaikan bola yang menggulir masuk ke sendi-sendi kehidupan. BBM menjadi naik tak terelakkan, 1 Oktober ini sudah dinaikkan 50 % - 80%. Sebelumnya, tarif tol naik, diikuti tarif-tarif lainnya membuat masyarakat Indonesia harus mengencangkan ikat pinggang lebih ketat lagi. Ditambah lagi, dengan langkanya BBM di berbagai daerah, membuat masyarakat sengsara dan menderita. Musibah lain yang membuat terkejut masyarakat adalah jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang menelan korban 149 orang, hangus terbakar. Kecelakaan kereta api, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang sempat menelan korban beberapa waktu lalu ketika kunjungan VIP melintas. Terakhir, adalah peristiwa Bom Bali Kedua, yang menewaskan lebih dari 25 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Ini mengingatkan kembali dengan peristiwa Bom Bali Pertama 3 tahun lalu.

 

Gejala alam maupun gejala kerusakan dan kekacauan yang diakibatkan manusia langsung sebenarnya tidak hanya menimpa Indonesia tercinta, tapi juga menimpa negara-negara lain. Bencana Tsunami pun juga menelan korban di negara-negara Asia, Thailand, Malaysia, India, Srilanka bahkan sampai Afrika. Naiknya harga minyak mentah dunia melanda semua negara. Badai Katrina yang memporak-porandakan Amerika Serikat dengan kecepatan angin lebih dari 200 km dapat menghancurkan bangunan. Belum selesai pulih dari Badai Katrina, datang lagi Badai Rita yang sesungguhnya lebih besar dari Katrina, namun ketika sampai di daratan Amerika menurun kecepatannya.

 

Saatnya kita semua merenung, ada apa dengan alam ini ? Mengapa musibah tiada berhenti menimpa ? Ataukah kita hanya berdiam saja dan menerima apa yang telah terjadi tanpa mau memahami ? Apakah alam memang salah ? atau kita manusianya saja yang salah, baik salah karena disengaja tidak dapat mengendalikan diri atau diakibatkan karena kecerobohan dan kebodohan manusia ?

 

Jika kita mau merenung lebih dalam dan berusaha mencari data dan informasi baik dari alam maupun para pakar. Ditemukan bahwa hampir semua musibah dan kekacauan itu disebabkan oleh Human Error baik disengaja maupun tidak, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai contoh kecelakaan pesawat sebagian besar seperti dikatakan oleh sebuah asosiasi pesawat terbang bahwa diakibatkan oleh buruknya manajemen penerbangan, seperti yang diberitakan Kompas beberapa waktu lalu. Itu bisa saja terjadi karena kurangnya kontrol peralatan terhadap pesawat yang akan tinggal landas, lebihnya beban yang diangkut, dan lain-lain. Musibah Badai Katrina dan Rita dan badai-badai besar di Amerika yang dikenal mulai dari Abjad A-W, sejak Arlene sampai Wilma (di tengahnya ada Katrina, Lee, Maria, Nate, Ophelia, Phillipe, Rita, Stan dan Tammy) juga terjadi karena peningkatan suhu permukaan laut yang meningkat 1 derajat Celcius diatas normal, sehingga menjadi 31 – 32 derajat Celcius, kondisi kritis untuk terbentuknya topan.

 

Sekarang badai dan topan kini sedang menerjang Samudera Pasifik dan India. Sejumlah ilmuwan yakin bahwa kenaikan temperatur akibat pemanasan global telah menciptakan topan dengan kebuasan yang lebih dahsyat. *2. Pemanasan global ini meningkat dikarenakan gas buangan dan menipisnya lapisan ozon akibat gas-gas seperti freon yang digunakan AC dan kulkas. Ternyata demi kenyamanan yang tidak terkendali, manusia telah merusak alam yang berakibat timbulnya bencana.

 

Musibah Tsunamipun sebenarnya dapat kita hindari. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa daerah-daerah pantai di Aceh sudah gundul semua. Gundul dari hutan-hutan bakau. Padahal hutan-hutan bakau ini dapat meredam Tsunami. Bila terdapat hutan bakau sepanjang 100 meter, maka gelombang tsunami yang semula setinggi 4 meter dapat diredam menjadi 1 meter. Salah siapakah hutan bakau di daerah Aceh tidak tersisa ?

 

Timbulnya Tsunami memang tidak bisa dicegah, tapi bisa dideteksi dan dicegah. Tsunami bukanlah musibah yang datang sekali dalam sejarah umat manusia, tapi sudah berkali-kali. Umat manusia lain telah belajar untuk mengatasinya terutama setelah terjadi Tsunami yang menelan korban lebih dari 25 ribu orang di kawasan Hawaii sekitar tahun 1920-an. Mereka telah memasang early warning system for Tsunami di seantero kawasan Samudera Pasifik, dimana Hawaii dikelilingi oleh Samudera besar tersebut. Namun mungkin sayang, Samudera Hindia ternyata tidak diduga sebelumnya bisa menimbulkan Tsunami pula. Tahun 2002, seorang peneliti Indonesia dari ITB telah menduga akan terjadi tsunami ketika terjadi tumbukan akibat pergerakan 2 lempeng raksasa dan itu terjadi di daerah pantai barat sepanjang Sumatera. Tsunami kemungkinan akan terjadi karena tumbukan tersebut. Minimal jika telah diprediksi kemudian terdapat alat early warning system, korban tsunami dapat jauh terkurangi. Kebodohan manusia dan kurangnya kepedulian terhadap bahaya membawa sengsara dan maut.

 

Di daerah pantai Garut, juga sering terjadi tsunami dalam skala kecil, paling-paling tinggi air maksimum 2 meter. Namun ada yang unik di daerah ini, yaitu di sepanjang lepas pantai terdapat Coral, yang timbul akibat gundukan karang yang cukup tinggi. Ini dapat meredam juga gejolak tsunami jika sewaktu-waktu terjadi. Namun sayang, seribu sayang, sebagian besar Coral sudah diratakan, dijadikan jalan. Kenikmatan pemandangan dengan jalan merusak alam, suatu saat akan terbayarkan.

 

Wabah berbagai macam penyakit yang sekarang timbul bahkan mematikan atau yang lebih ringan melumpuhkan seperti polio, itu juga diakibatkan karena perbuatan manusia yang tidak mau menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sanitasi yang buruk, pemeliharaan kandang yang tidak bersih, kotoran dimana-mana. Mewabahnya virus flu burung misalnya, itu diakibatkan dari kotoran dari hewan unggas yang terinfeksi, mengering kemudian tertiup angin, lalu jika dihirup oleh hewan unggas lain atau manusia maka akan terinfeksi. Maka jika kotoran-kotoran hewan unggas itu tidak segera dibersihkan akan mewabah se-antero negeri.

 

Penyakit muntaber juga terjadi jika sanitasi lingkungan sangat buruk. Kotoran-kotoran dan sampah tidak ditampung. Dan lebih menjangkit lagi jika musibah banjir melanda.

 

Belum lagi ulah spekulan yang menambah derita masyarakat. Spekulan yang memanfaatkan kondisi naiknya dolar terhadap rupiah.

 

Semua bencana, musibah, kekacauan hendaknya menjadi bahan renungan kita semua, karena manusialah yang menjadi penyebabnya.

 

Saatnya kita harus mengendalikan diri untuk melakukan hal-hal yang buruk yang menyebabkan itu semua.

 

Puasa yang dalam bahasa Al-Quran menggunakan kata Shiyam, adalah perintah untuk menahan diri dari hal-hal yang buruk. Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan, minum dan seks sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun puasa adalah untuk memulai menahan diri. Jika hal-hal buruk dapat kita hindari maka kita akan terbebas dari segala musibah, bencana dan siksa yang diakibatkan sebenarnya dari perbuatan kita sendiri. Esensi puasa adalah berlaku sepanjang hidup manusia. Tidak hanya sebatas di bulan Ramadhan.

 

Saatnya kita harus menahan diri. Ramadhan sebagai momentum untuk memulai menahan diri segala hal yang buruk. Pemborosan pemakaian energi seperti pemakaian BBM diharapkan dapat menekan konsumsi hingga 10% dari pemakaian 1,3 juta barrel per hari, diharapkan berkurang menjadi sekitar 1,2 juta barrel per hari. Produksi minyak mentah Indonesia hanya mencapai 1 juta barrel per hari. Sehingga pemerintah terpaksa harus mengimpor minyak mentah hingga 250 ribu barrel per hari, yang jika dihitung berdasarkan harga minyak mentah dunia 70 US$ per barrel maka dibutuhkan biaya hingga 100 triliyun rupiah lebih dalam satu tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan pengertian dan tekad yang kuat dari masyarakat untuk mengurangi pemakaian energi yang tidak diperlukan atau bisa dihemat. Menahan diri dari pemborosan energi.

 

Kejadian alam seperti topan yang diakibatkan meningkatnya suhu bumi, ini juga memerlukan tekad yang kuat dari masyarakat tidak hanya masyarakat muslim, tapi seluruh masyarakat dunia bahwa untuk mulai menahan diri merusak ozon bumi. Menahan diri dari keserakahan pengerukan kekayaan hutan tanpa melakukan timbal-balik bagi pelestarian hutan. Menahan diri dari eksploitasi hutan tanpa perhitungan pelestarian hutan.

 

Berkaitan dengan rusaknya ozon, ini juga diakibatkan dengan meningkatnya polusi udara yang berdampak pada pemanasan global. Di Bogota sendiri masyarakat sudah mulai sadar, bahwa kota adalah tempat tinggal anak-anak, bukan tempat polusi bagi anak-anak mereka, bukan tempat racun buat anak-anak. Menahan dirilah dari penambahan polusi udara kita semaksimal mungkin. Bumi ini hanya satu, atmosfer kita hanya satu, dia butuh dipelihara untuk anak dan cucu kita.

 

Terpuruknya mata uang rupiah terhadap dollar, itupun merupakan kesalahan yang kita lakukan. Hidup konsumsi terlalu besar, gaya hidup penuh dengan konsumerisme membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa ke luar negeri, terutama terhadap barang-barang produk luar. Itulah yang menyebabkan nilai mata uang kita merosot tajam di samping ulah para spekulan. Lihat saja, nilai penjualan kendaraan bermotor di Indonesia tahun lalu mencapai nilai 40 triliyun rupiah, yang notabene kendaraan tersebut memiliki komponen produksi terbesar dari luar negeri. Nilai penjualan telekomunikasi termasuk diantaranya peralatan komunikasi personal mencapai nilai 48 triliyun rupiah. Itu pun komponennya juga didatangkan dari luar negeri. Bagi yang memang membutuhkan kendaraan memang itu dipersilakan, tapi bagi yang memang sudah memiliki kendaraan namun menambah yang berakibat semakin macetnya jalan, semakin udara terkena polusi, diharapkan untuk mulai menahan diri.

 

Jika bertekad dan menerapkan menahan diri, kita akan menjadi manusia-manusia yang bertaqwa. Ada ulasan tentang Taqwa dari Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-Karim berdasarkan urutan turunnya Wahyu, hal 125-127.

 

Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya.

 

Kalimat ittaqu Allah (‘bertakwalah kepada Allah’) jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi ‘Jauhilah Allah atau Hindarkanlah dirimu dari Allah’. Hal ini tentunya mustahil dapat dilakukan manusia, karena siapakah yang dapat menghindar dari-Nya ? Nah, dari sini, ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara ‘Hindarilah’ dan ‘Allah’. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.

 

Syaikh Muhammad Abduh yang ditulis pendapatnya oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam Tafsir Al-Manar, bahwa ‘Menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan dengan memperkenankan seluruh perintah-Nya. Hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah swt). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan dan untuk itu ia harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.’

 

Setiap pelanggaran atas perintah Tuhan dapat menimbulkan sanksi atau hukuman, (baik terhadap pengabaian dan pelanggaran terhadap hukum-hukum alam maupun hukum yang telah Allah turunkan kepada manusia, -RED).

 

Para sahabat Nabi, dalam peperangan Uhud, ketika mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum alam (dalam hal ini ketaatan kepada pimpinan yang merupakan kunci sukses dalam peperangan) mengalami kekalahan walaupun mereka pada hakekatnya tidak mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat. Mereka yang tidak melanggar terkena getahnya dan inilah yang diperingatkan Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 25 :

 

‘Hindarilah suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berlaku aniaya saja di antara kamu’.

 

Dari sini terlihat bahwa ketakwaan mempunyai dua sisi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah itu, serta sisi ukhrawi yaitu memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

 

Manusia yang bertakwa adalah manusia yang terhindar dari segala yang buruk, dari segala musibah dan bencana. Ini merupakan dambaan tidak hanya bagi umat Islam, tapi semua manusia. Dengan demikian, menahan diri adalah kunci untuk terjaga dari bencana.

 

Selamat beribadah puasa atau Shiyam. Semoga kita makin bisa untuk dapat menahan diri dari segala hal yang buruk, baik dari dalam diri maupun dari sekeliling kita, sehingga menjadi orang-orang yang bebas dari segala musibah dan bencana, baik yang dibuat oleh manusia maupun disebabkan kelalaian kita terhadap bencana alam dan mengantar orang lain dan umat lain menjadi terbebaskan pula.

 

Dengan shiyam, kita diharapkan menjadi troubleshooter or problem solver, bukanlah menjadi bagian dari troublemaker or problem maker.

 

Wassalamualaikum wr.wb,

 

Arief Wiryanto

* Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan segala hal buruk yang pernah saya lakukan.


*1. Tsunami, National Geographic

*2. Sumber Kompas, Minggu 25 September 2005 dengan judul Topan Rita Terjang Daratan AS



 

 


Posted at 09:09 pm by ariefsalman
Make a comment  

Friday, September 23, 2005
PUASA

Puasa

 

 

Oleh Prof. DR. M. Quraish Shihab, MA

Di Pengajian Bulanan

PSQ (Pusat Studi Al-Quran)

Ciputat – Tangerang

 

Rabu, 21 September 2005

 

Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Di dalam Al-Quran ada 2 kata, yaitu SHIYAM dan SHAUM. Kedua-duanya berasal dari kata yang sama, yang artinya menahan. Orang yang menahan diri disebut Shaim.

 

SHAUM di dalam Al-Quran berarti menahan diri untuk tidak bicara, sedangkan

SHIYAM di dalam Al-Quran berarti menahan diri dari hal-hal yang buruk menurut Allah

 

Seringkali kata dalam Al-Quran tapi pemaknaannya dipersempit oleh hokum (fiqh). Seperti shalat, sebenarnya bermakna doa. Tapi dalam hukum (fiqh) itu adalah gerakan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut fiqh, walaupun tidak khusyu tapi kalau sudah melakukan gerakan2 tertentu yg diawali takbir dan diakhiri salam, maka sudah bisa dikatakan itu shalat. Namun sebetulnya menurut Al-Quran, dia belum shalat yang sesungguhnya. Hukum hanya mengatur yang nampak saja, tapi tidak mengatur yang esensi.

 

Begitu juga dengan makna SHIYAM. Shiyam menurut hukum adalah tidak makan, minum dan seks sejak terbit matahari sampai terbenam matahari. Tapi sebenarnya makna dalam Al-Quran adalah bukan hanya sampai di situ, tapi juga menahan diri dari segala yang buruk.

 

Untuk apa SHIYAM ? Kata Allah dalam Al-Quran, adalah agar kita menjadi “Tattaqun”.Surat Al-Baqarah ayat 183. Apa arti Tattaqun ? Tattaqun adalah “kamu menjadi orang-orang yang terhindar dari segala bencana, musibah baik di dunia maupun di akhirat kelak”.

 

Manusia dalam hidupnya selalu menginginkan kesempurnaan. Orang yang kayapun ingin lebih kaya lagi. Orang menginginkan dirinya dan orang lain menjadi orang-orang yang terbaik dan lebih sempurna dari waktu ke waktu. Bahkan lingkungan tempat tinggalnya pun ingin lebih sempurna dan sempurna lagi. Karya-karya-nya pun disempurnakan terus menerus. Sesuatu dinilai sempurna jika memenuhi tiga hal, yaitu indah, baik dan benar.

 

Untuk kesempurnaan ini, manusia menemukan bahwa Allah itulah yang Maha Sempurna, karena itu manusia ingin meneladaniNya. (Mempunyai sifat yang Maha Sempurna, karya-karya Allah sangat sempurna dan penuh ketelitian. Allah itu Maha Baik, Maha Indah dan juga Dialah Kebenaran itu sendiri (Al-Haq). PerbuatanNya tidak ada kesalahan atau error disana sini, walaupun jutaan bahkan triliyunan karyaNya. Tidak ada kita mendengar God Error, tapi manusia selalu melakukan Human Error. Manusia ingin memperkecil kesalahan yang diperbuatnya, mengecilkan nilai Human Error. Berapa banyak musibah yang diakibatkan oleh Human Error. Manusia ingin sempurna seperti sempurnaNya sang Maha Sempurna. Manusia ingin meneladaniNya. –RED).

 

Puasa adalah upaya untuk meneladaniNya. Itulah yang dimaksud “Puasa untukKu, dan Akulah yang akan membalas-Nya” dalam sebuah hadits. Shalat, Zakat, Haji juga untuk Allah, namun semuanya bukan untuk meneladani Allah. Sedangkan Puasa adalah untuk meneladani Allah, agar menjadi sempurna.

 

Dalam menuju kesempurnaan lingkungan, metode menghilangkan kotoran adalah yang lebih diutamakan daripada menghiasinya. Begitu juga dengan sifat yang buruk dan dari hal-hal yang buruk itu lebih diutamakan untuk dibersihkan. Mana yang lebih dulu : menahan marah atau membaca Quran di bulan Ramadhan ? Jawabannya adalah menahan marah. Apa gunanya parfum jika belum mandi ? Dan umumnya masyarakat melakukan mandi dan pakai parfum namun masih main kotor pula. Ini adalah bahasa kiasan.

 

Apa hal yang buruk dalam diri manusia ? Yang tidak baik dari diri manusia adalah nafsu ammarah kepada keburukan. Puasa adalah untuk mengatur nafsu sehingga tidak selalu menjadi ammarah kepada keburukan, tapi menjadi nafsu yang muthmainnah dan nafsu yang selalu menyuruh kepada kebaikan.

 

Sekian dan Wassalam

 

 

Arief Wiryanto

 

 


Posted at 03:33 pm by ariefsalman
Make a comment  

Thursday, August 25, 2005
Mengenal Allah, Al-WAHHAB

Mengenal Allah

AL WAHHAB

Yang Maha Pemberi


Diambil dari Buku Menyingkap Tabir Ilahi, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab

 

Siapa berani yang mengatakan kepada semua manusia di bumi ini bahwa dirinya adalah manusia yang akan memberi apa saja kepada siapa pun setiap saat tanpa imbalan sama sekali ? Siapa pula yang berani mempromosikan dirinya akan memberikan segala yang dibutuhkan dari orang-orang yang datang kepadanya terus menerus tanpa bayar sepersenpun ?

Sepemurahnya manusia yang ada di muka bumi ini tidak ada yang berani menghadapi tantangan seperti di atas. Hanya Allah lah yang berani ungkapkan tegas kepada manusia, dan bahkan untuk semua makhluk yang lain. Dialah Allah, Al Wahhab.

 

Al Wahhab terambil dari akar kata "wahhaba" yang berarti "memberi" dan "memberikan sesuatu tanpa imbalan". Al Wahhab adalah yang memberi -walaupun tanpa dimintai- banyak dari miliknya. Dia memberi berulang-ulang, bahkan bersinambung tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawi maupun ukhrawi.

Masih bukan tergolong Wahhab, jika yang memberi disertai tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau guna mendapatkan kehormatan maka dia            sebenarnya telah mengharapkan imbalan karena yang dimaksud dengan imbalan dalam konteks makna kata ini, bukan sekedar sesuatu yang material. Melakukan sesuatu, yang bila tidak dilakukan dinilai buruk, pada hakekatnya adalah imbalan yang menjadikan pelakunya tidak berhak menyandang sifat ini. Di sisi lain, makhluk tidak mungkin akan dapat memberi secara bersinambung atau terus menerus dan dalam keadaan apapun, karena makhluk tidak dapat luput dari kekurangan. Bukan juga Wahhab namanya, kecuali apa yang diberikannya dalam bentuk yang disebut di atas, merupakan nikmat dan bertujuan baik untuk yang diberi, kini dan masa datang. Demikian Ibnul 'Arabi. Karena itu anugerahNya yang diberikan kepada orang kafir tidak menjadikanNya dinamai wahhab, karena anugerah itu dapat menjadi bencana untuknya kini atau masa datang.

Ayat-ayat yang mengandung kata Wahhab :

"Wahai Tuhan kami, jangan Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkaulah Al Wahhab Yang Maha Pemberi" (QS. Ali Imran 3:8). Permohonan di sini adalah bersinambungnya petunjuk yang selama ini telah diterima, dan yang sekaligus merupakan bagian dari rahmat Allah swt.

 

Doa Nabi Sulaiman "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi" (QS. Shad 38:35). Kerajaan yang dimohonkannya itu adalah kerajaan yang tiada taranya, sehingga terus menerus dikenang sepanjang masa.

Sekali lagi, seorang manusia tidak dapat menjadi Wahhab, karena tidak ada satu aktifitaspun yang dilakukannya yang luput dari tujuan walaupun aktifitas tersebut beruap ibadah. Dalam beribadah tujuan untuk menghindar dari nerakaNya, atau meraih surgaNya merupakan dua tujuan yang seringkali menghiasi jiwa setiap pelaku ibadah. Peringkat tujuan yang lebih tinggipun dari kedua tujuan diatas, yakni bukan karena takut atau mengharap tapi karena cinta dan syukur kepadaNya, belum juga menjadikan sang arif yang beribadah terlepas dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan. Karena kemampuan manusia hanya sampai di sana, maka Allah mentoleransi pemberian yang bertujuan untuk menjalin persahabatan atau menghindar dari cela atau bencana, selama itu diberikan dalam batas kewajaran yang benar dalam beribadah. Allah juga mentoleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah. Bukankah Allah merangsang manusia dengan take in give (mengambil dan memberi)?  Bukankah Allah sendiri dalam Al Quran menggunakan kata-kata "tijarah" (perniagaan), "ba'i" (jual beli), "qardh" (kredit) dan sebagainya.

 

"Wahai orang-orang yang beriman maukah kamu Kutunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksa pedih ? " (QS. Ash-Shaf 61:10). Tahukah Anda perniagaan apa itu ? "Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu..". Anda boleh bertanya apa imbalan bahkan keuntungan yang diraih dari perniagaan ini ? Dengarkan jawabannya pada ayat selanjutnya, "Dia (Allah) akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya serta tempat-tempat tinggi yang baik di surga And. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash-Shaf 61:12). Bahkan ada juga ganjaran yang diterima di dunia, karena firmanNya sesudah janji ini, "Masih ada yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (dalam kehidupan dunia ini)" (QS. Ash Shaf 61:13).

 

Memang, masyarakat umum memahami ketiadaan pamrih sebagai melakukan sesuatu demi karena Allah semata, sehingga siapa yang melakukan sesuatu untuk tujuan yang lain bukan untukNya semata maka itulah pamrih. Tetapi ini tidak sepenuhnya benar, karena suatu tujuan di samping dapat merupakan tujuan utama dapat juga sebagai "jalan yang mengantar" ke tujuan yang lebih utama, dan ketika itu jalan tersebut tidak lagi menjadi tujuan. Seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, pada hakekatnya tujuannya bukanlah uang tetapi ketenangan hidup dan kenyamanannya. Yang membedakan tujuan yang "merupakan jalan" dan "tujuan yang sesungguhnya" adalah bahwa yang " merupakan jalan", akan diabaikan, jika yang menjadi tujuan sesungguhnya telah dicapai. Namun keduanya adalah tujuan. Yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka -tujuannya adalah Allah, walau tujuan yang mengantarnya ke sana adalah meraih surga atau menghindar dari neraka.

 

Jika demikian dapatkan seseorang meneladani Allah dalam sifat ini ? Kita menjawab; mengapa tidak ? Bukankah Allah- seperti telah diuraikan di atas- telah memberi toleransi ? Karena hanya sampai disana kemampuan manusia. Bukankah sejak semula ditegaskan bahwa , "Laisa kamitslihi Syaiun ?" "Tidak ada yang serupa denganNya ?". Bukankah sejak dini pula telah ditekankan bahwa meneladaniNya adalah sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ? Tentu saja banyak toleransi yang diterima atau diambil, semakin rendah tingkat penerima atau pengambilnya. Pemberi yang motivasinya memperoleh imbalan serupa lebih rendah tingkatnya, dibanding dengan yang tidak mengharap imbalan serupa. "Apa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah" (QS. Ar Rum 30:39). Walau itu tidak dilarangnya namun sejak wahyu ketiga Dia berpesan kepada rasulNya : " Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak" (QS. Al Muddatstsir 74 : 6).

 

Menanti ucapan terima kasih tidak dilarangnya, tetapi yang memberi tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan, dipuji bahkan diabadikan ucapannya - walau ketika memberi mengharapkan keselamatan di hari kemudian. "Mereka berkata, 'Kami memberi makan kepada kamu demi karena Allah, kami tidak menghendaki dari kamu balasan dan tidak pula terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami, pada hari yang sangat bermuka masam" (QS. Al Insan 76 : 9-10).

 

Pemberian yang tertinggi yang dapat dilakukan manusia adalah memberi tanpa takut neraka atau tanpa mengharap surga, namun sekali lagi - itupun tidak menjadikannya Wahhab, karena hanya Allah Al Wahhab, namun yang demikian ditoleransi oleh Yang Maha Pemberi anugerah- lahir dan batin itu. Karena itu meneladani sifat ini menuntut upaya untuk terus menerus memberi sekuat kemampuan. Ciri orang bertaqwa menurut QS. Ali Imran 3:134 antara lain adalah "menafkahkan (miliknya) baik dalam keadaan senang (lapang) maupun susah (sempit)". Itu dilakukannya dengan rela karena dia merasa bahwa Allah telah membiasakan hidupnya dengan curahan serta kesinambungan anugerahNya.


Posted at 02:42 pm by ariefsalman
Make a comment  

Tuesday, August 16, 2005
CINTA TANAH AIR


CINTA TANAH AIR

Menyambut Hari Kemerdekaan RI

oleh Arief Wiryanto, ariefwiryanto@yahoo.com



Dlm bukunya, Mukjizat Quran, pak Quraish Shihab mengatakan, bahwa banyak kata2 untuk menunjukkan level cinta. Diantaranya kata Mawaddah dan Mahabbah yang sering digunakan dlm Quran dan hadits. Berikut petikannya :

 

"Dalam buku Dirasat fi Al-Hubb, Yusuf Asy-Syaruni mengutip pendapat Ibnu

Al-Jawzi dalam bukunya Dzamm Al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan

macam-macam cinta serta kosa kata yang menggambarkannya. Pandangan mata atau berita yang didengar bila melahirkan rasa senang diungkapkan dengan kata "aliqa". Apabila melebihinya sehingga terbetik keinginan untuk mendekat, maka ia dinamai "mail". Bila keinginan itu mencapai kehendak untuk menguasainya, maka ia dinamai "mawaddah". Seterusnya, tingkat berikutnya adalah "mahabbah", dilanjutkan dengan "khullah", "ash-shabaabah" kemudian "al-hawa". Peringkat selanjutnya adalah "al-‘isyq" yakni bila seseorang bersedia berkorban atau membahayakan dirinya demi kekasihnya. Sedangkan jika cinta telah memenuhi hati seseorang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lain, maka cintanya dilukiskan dengan kata "at-tatayum". Dan jika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya, atau tidak lagi mampu berpikir dan membedakan sesuatu, akibat cinta, maka ia dinamai walih." Begitu uraian dari Pak Quraish.

 

Mari kita perhatikan tentang Mawaddah dan Mahabbah saja.

Mawaddah sendiri sudah mengandung arti cinta yang begitu kuatnya, sampai2 apa/siapa yang kita cintai, kita mampu untuk memaafkan, kita mampu menjadi wadah, menampung semua kelebihan dan kelemahannya. Wadah bagi dia, tempat dia berlindung. Mawaddah juga mengandung makna memiliki. Jadi kalau tidak ada rasa memiliki, maka itu belumlah mencapai mawaddah. Suami harus ada rasa memiliki thd isterinya, begitu juga sebaliknya. Manusia jika sudah mempunyai rasa memiliki, akan luar biasa memperjuangkan dan berkorban untuknya, jgn sampai yang dia miliki menjadi rusak, sengsara atau binasa. Ada keinginan kuat utk memperindah apa yang dimilikinya. Karena itu, dlm Al-Quran kata mawaddah digunakan dlm pernikahan atau diperuntukkan kepada pasangan kita. Besarnya nilai pengorbanan sebanding dengan nilai rasa memiliki.

 

Sampai-sampai antara kita dengan pasangan hendaknya tidak ada lagi jarak. keluasannya ibarat keluasan angkasa luar. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur/AFDHO) dengan sebagian yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. 4:21)

 

Mari lihat lebih dalam lagi sebenarnya apa arti AFDHO dalam Surat 4:21 diatas. AFDHO  berasal dari  kata FADHO yang artinya angkasa luar. Angkasa luar itu mempunyai ruang yang sangat luas, tanpa batas dan terbuka. Karena itu hendaknya hubungan suami isteri semestinya seperti angkasa luar ini, tidak ada batas di antara suami isteri, dan se-terbuka-terbukanya diantara keduanya.

Kalau masih ada gengsi, takut-takut dan sembunyi-sembunyi terhadap sesuatu sekecil apapun diantara keduanya maka belum mengikuti kehendak dan keinginan Allah tersebut. Allah menginginkan  antara kita dan pasangan kita adalah saling terbuka. Pasangan adalah diri kita.

 

Itulah tingkatan cinta dari Mawaddah. Kemudian tentang Mahabbah adalah sebagai  berikut :

 

Mahabbah, itu lebih tinggi lagi tingkatan cintanya. Kandungan cintanya mahabbah jauh lebih tinggi. Jika mawaddah saja sudah sedemikian tinggi maknanya, maka mahabbah lebih dahsyat lagi. Karena itu di dlm Al Quran seringnya, kata mahabbah, yg asal katanya dari hubb, selalu disandingkan objeknya kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Nah, yg menarik dari rasio saya, teringat akan kata2 Rasulullah. Kata hubb ini disandingkan juga utk objek, "al-wathan" (tanah air). "Hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air merupakan manifestasi dari iman).

 

Jadi bisa diambil kesimpulan jika kecintaan kepada tanah air itu berada dlm satu maqam yang sama dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yg pasti, maqam kecintaan kepada bangsa dan tanah air lebih tinggi dari kecintaan kepada pasangan kita. Bagaimana dahsyatnya cintanya kepada pasangan, masing2 kita sudah bisa merasakan. Nah, kecintaan kepada tanah air itu seharusnya melebihi kecintaan kepada pasangan.

 

Jadi Islam di sini mengajarkan cinta tanah air itu adalah manifestasi dari iman, bukan sekedar sebagian, tapi manifestasi. Kalau kita tidak ada cinta kepada tanah air, maka patut dipertanyakan iman kita. Jika kita tidak ada rasa sedikitpun memiliki tanah air maka patut diragukan iman kita. Sudah ada rasa memiliki thd tanah airpun masih diminta utk lebih lagi, karena kalau itu masih lebih kecil dari cinta kita pada pasangan, maka belum mahabbah pada tanah airnya.

 

Dengan memperingati hari Kemerdekaan ini semoga mengingatkan kita akan kecintaan pada tanah air bangsa ini, kecintaan pada budayanya yang ramah, santun, kekeluargaannya, dan lain-lain. Kecintaan yang dapat membangkitkan secara nasional di bidang ekonomi, politik dan segala aspek kehidupan bernegara. Cinta dapat meningkatkan kepercayaan diri pada bangsanya. Cinta dapat memberikan kesempatan dan peluang besar pada bangsanya. Insya Allah akan membuka jalan yang lebar untuk dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.


Mari kita cintai negeri, bangsa dan tanah air kita. Dirgahayu Republik Indonesia.

Bisa baca juga tentang Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan :

 

http://ariefhikmah.blogdrive.com/archive/cm-08_cy-2004_m-08_d-18_y-2004_o-0.html

 

--

Wassalamualaikum wr.wb,

 

Arief Wiryanto

http://ariefhikmah.blogdrive.com

 

Kajian2 Hikmah, Taqdir, Pernikahan, Perceraian, Pemimpin, Musibah dll


Posted at 10:37 am by ariefsalman
Make a comment  

Thursday, August 11, 2005
TAQWA


TAQWA


 

Tafsir Al-Quran Al-Karim berdasarkan urutan turunnya Wahyu, hal 125-127.

 

Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya.

 

Kata taqwa dalam bentuk kalimat perintah terulang sebanyak 79 kali, ‘Allah’ yang menjadi objeknya sebanyak 56 kali, neraka 2 kali, hari kemudian 4 kali, fitnah (bencana) 1 kali, tanpa objek 1 kali. Sedangkan selebihnya yakni 15 kali, objeknya bervariasi seperti rabbakum (Tuhanmu), al-ladzi khalaqakum (yang menciptakan kamu), al-ladzi amaddakum bi ma ta’malun (yang menganugerahkan kepada kamu anak dan harta benda) dan lain-lain. Redaksi-redaksi tersebut semuanya menunjuk kepada Allah swt. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya objek perintah bertakwa adalah Allah swt.

 

Kalimat ittaqu Allah (‘bertakwalah kepada Allah’) jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi ‘Jauhilah Allah atau Hindarkanlah dirimu dari Allah’. Hal ini tentunya mustahil dapat dilakukan manusia, karena siapakah yang dapat menghindar dari-Nya ? Nah, dari sini, ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya terdapat satu kata yang tersirat antara ‘Hindarilah’ dan ‘Allah’. Kata yang tersirat itu adalah siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.

 

Syaikh Muhammad Abduh yang ditulis pendapatnya oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam Tafsir Al-Manar, bahwa ‘Menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan dengan memperkenankan seluruh perintah-Nya. Hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah swt). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, tetapi pada hakikatnya ia seharusnya timbul dari adanya Yang Menyiksa, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan dan untuk itu ia harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.’

 

Lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha menambahkan bahwa siksa dan hukuman Allah kepada makhluk-Nya terbagi dalam dua kategori, yang pertama di dunia dan yang kedua di akhirat. Perintah-perintah Allah pun dapat dibagi ke dalam dua kategori, ada perintah yang berkaitan dengan alam raya, seperti dalam surat Fushshilat ayat 11 ‘Maka Tuhan berfirman kepada langit dan bumi, ‘Ikutilah perintah-Ku, suka atau tidak suka…’. Perintah Tuhan kepada alam itulah yang menjadi hukum-hukum alam, yang dipatuhi oleh alam, tanpa ada pilihan baginya untuk membangkang atau menyimpang. Penyimpangan bagi hukum alam hanya terjadi bila Allah menghendaki. Hal ini biasanya terjadi atas diri para nabi, sebagai bukti kebenaran yang ditampilkan Tuhan, seperti misalnya api yang telah ditetapkannya panas dan membakar, diubah menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim as. ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan selamat bagi Ibrahim’ (QS. Al Baqarah ayat 69).

 

Perintah-perintah Tuhan dalam kategori kedua adalah yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama dan ditujukan kepada manusia, seperti perintah sholat, puasa, dan sebagainya. Perintah-perintah ini (baik dalam bentuk melaksanakan atau menjauhi) dinamai hukum-hukum syariat.

 

Setiap pelanggaran atas perintah Tuhan dalam kedua kategori di atas dapat menimbulkan sanksi atau hukuman, hanya saja sanksi terhadap pelanggaran kategori pertama (yang berkaitan dengan hukum alam) biasanya dijatuhkan dalam kehidupan dunia ini juga demikian pula ganjarannya. Sedangkan sanksi dan hukuman terhadap pelanggaran hukum syariat, pada dasarnya diperoleh di akhirat kelak, demikian pula ganjarannya.

 

Seseorang yang bekerja keras akan menerima ganjaran di dunia, baik ia sholat ataupun tidak. Sebaliknya, jika ia bermalas-malas, walaupun sholat dan puasa, akan merasakan kesengsaraan hidup. Di sisi lain, seseorang yang tidak sholat, pada dasarnya tidak akan mendapatkan sanksi di dunia, karena sanksi itu baru diperoleh di akhirat nanti.

 

Para sahabat Nabi, dalam peperangan Uhud, ketika mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum alam (dalam hal ini ketaatan kepada pimpinan yang merupakan kunci sukses dalam peperangan) mengalami kekalahan walaupun mereka pada hakekatnya tidak mengabaikan perintah Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat. Mereka yang tidak melanggar terkena getahnya dan inilah yang diperingatkan Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 25 :

 

‘Hindarilah suatu fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berlaku aniaya saja di antara kamu’.

 

Dari sini terlihat bahwa ketakwaan mempunyai dua sisi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah itu, serta sisi ukhrawi yaitu memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

 



Posted at 04:00 pm by ariefsalman
Make a comment  

Next Page
Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed