Monday, August 08, 2005
Ar-Rahman & Ar-Rahim

AR RAHMAN AR RAHIM

Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Diambil dari buku Menyingkap Tabir Ilahi, karya Prof. Dr. Quraish Shihab, MA


 

“Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim, kuambilkan untuknyanama yang berakar dari namaMu, siapa yang menyambungnya (silaturahmi) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmatKu baginya). (H.R. Abu Daud dan At Tirmidzi melalui AbdurRahman bin ‘Auf).

 

Dari Aisyah ra berkata : “Serombongan orang-orang Yahudi minta izin bertetamu kepada Rasulullah saw lalu mereka ucapkan : Assamu’alaikum (racun untukmu)”. Jawab Aisyah “Bal’alaikumussaam wal la’nah (bahkan untukmulah racun dan kutukan). Maka bersabda Rasul, “Ya Aisyah ! Sesungguhnya Allah senang dengan kelemahlembutan dalam segala urusan”. Kata Aisyah “Tidakkah engkau dengar ucapan mereka ?”. Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya bahkan telah kujawab, wa’alaikum”.  (HR. Muslim)

 

Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bercerita, “Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa Yahudi. Maka dibukanya sepatu botnya kemudian dicedoknya air dengan sepatunya lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu. Maka Allah mengampuni dosa-dosa wanita itu.” (HR. Muslim)

 

Dari Abu Hurairah ra berkata Nabi saw bersabda : “Tatkala menciptakan makhluk, Allah ta’ala telah menulis dalam buku yang tersimpan di ‘Arasy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih besar daripada murka-Ku”. (HR. Muslim)

 

Menurut pakar bahasa Ibnu Faris (395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra, Ha, dan Mim, mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Hubungan silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim, adalah peranakan/kandungan yang melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim karena kasih sayang yang terjalin antara anggota-anggotanya.

 

Rahmat lahir dan nampak di permukaan bila ada sesuatu yang dirahmati, dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh. Di sisi lain siapa yang bermaksud memenuhi kebutuhan pihak lain tetapi secara faktual dia tidak melaksanakannya karena ketidakmampuannya maka boleh jadi dia dinamai rahim, ditinjau dari segi kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan yang menyentuh hatinya tetapi yang demikian ini adalah sesuatu yang tidak sempurna.

 

Rahmat yang menghiasi diri seseorang, tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorongnya untuk mencurahkan rahmat kepada yang dirahmati. Rahmat dalam pengertian demikian adalah rahmat makhluk, Allah tidak demikian. Tetapi tulis Al Ghazaly –“jangan Anda duga bahwa hal ini mengurangi makna rahmat Tuhan bahkan disanalah kesempurnaannya. Rahmat yang tidak dibarengi oleh rasa pedih –sebagaimana rahmat Allah- tidak berkurang karena kesempurnaan rahmat yang ada di dalam, ditentukan oleh kesempurnaan buah/hasil rahmat itu saat dianugerahkan kepada yang dirahmati dan betapapun Anda memenuhi secara sempurna kebutuhan yang dirahmati, yang bersangkutan ini tidak merasakan sedikitpun apa yang dialami oleh yang memberinya rahmat. Kepedihanyang dialami oleh sipemberi merupakan kelemahan makhluk.” Adapaun yang menunjukkan kesempurnaan rahmat Ilahi walaupun Yang Maha Pengasih itu tidak merasakan kepedihan maka menurut Imam AlGhazaly adalah karena makhluk yang mencurahkan rahmat saat merasakan kepedihan itu, hampir-hampir saja dapat dikatakan bahwa saat ia mencurahkannya – ia sedang berupaya untuk menghilangkan rasa pedih itu dari dirinya, dan ini berarti bahwa pemberiannya tidak luput dari kepentingan dirinya. Hal ini mengurangi kesempurnaan makna rahmat, yang seharusnya tidak disertai dengan kepentingan diri, tidak pula untuk menghilangkan rasa pedih tetapi semata-mata demi kepentingan yang dirahmati. Demikianlah rahmat Allah swt.

Pemilik rahmat yang sempurna adalah yang menghendaki dan melimpahkan kebajika bagi yang butuh serta memelihara mereka sedang Pemilik Rahmat yang menyeluruh adalah yang mencurahkan rahmat kepada yang wajar maupun tidak wajar menerimanya.

 

Rahmat Allah bersifat sempurna karena setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, seketika itu juga rahmat tercurah. Rahmat-Nya pun bersifat menyeluruh karena ia mencakup yang berhak maupun yang tidak berhak serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung atau dinilai.

 

Apa perbedaan antara Rahman dan Rahim ? Banyak ragam jawaban terhadap pertanyaan ini. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tapi sifatnya sementara dan yang dicurahkanNya kepada semua makhluk. Kata ini dalam pandangan Abduh adalah kata yang menunjuk sifat fi’il/perbuatan Tuhan. Dia Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna tetapi bersifat sementara tidak langgeng. Ini antara lain dapat berarti bahwa Allah mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh tetapi tidak langgeng terus menerus. Rahmat menyeluruh tersebut menyeluruh tersebut menyentuh semua manusia –mukmin atau kafir- bahkan menyentuh seluruh makhluk di alam raya, tetapi karena ketidaklanggengannya maka ia hanya berupa rahmat di dunia saja. Bukankah rahmat di dunia menyentuh semua makhluk tetapi dunia itu sendiri, begitu juga rahmat yang diraih di dunia tidak bersifat abadi ? Adapun kata Rahim yang patronnya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan maka ia menunjuk kepada sifat zat Allah, atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmatnya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat wujud di akhirat kelak, disisi lain rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertaqwa :

“Katakanlah : “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah) rezki yang baik ?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui “ (QS. Al A’raf 7:32)

 

Karena itu rahmat yang dikandung oleh kata Rahiim adalah rahamt ukhrawi yang akan diraih oleh yang taat dan bertaqwa kepadaNya.

 

Ada juga yang berpendapat bahwa kata Rahman menunjuk kepada Allah dari sudut pandang bahwa Dia mencurahkan rahmat secara faktual sedang rahmat yang disandangNya dan yang melekat pada diriNya menjadikan Dia berhak menyandang sifat Rahim sehingga dengan gabungan kedua kata itu tergambarlah di dalam benak bahwa Allah Rahman (mencurahkan rahmat kepada seluruh makhlukNya) karena Dia Rahim; Dia adalah wujud / zat Yang memiliki sifat rahmat.

 

Memang sekali-sekali boleh jadi seorang yang bersifat kikir, mengulurkan tangan bantuan kepada orang lain. Di sini bantuan yang diberikannya itu tidak mengubah kepribadiannya yang kikir; bantuan yang diberikannya itu tidak bersumber dari sifat pribadinya yang sesungguhnya,.. berbeda dengan seorang pemurah ketika mengulurkan bantuan. Dengan kata Ar Rahman tergambar bahwa Allah mencurahkan rahmatNya dan dengan Ar Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.

 

Rahmat Allah tidak terhingga bahkan dinyatakan :

“Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu” (QS. Al A’raaf 7:156) dan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

 

Ar Rahman dan Ar Rahim seperti dikemukakan di atas berakar dari kata rahim yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Apabila disebutkan kata rahim maka yang terlintas di dalam benak adalah ibu yang memiliki anak,.. pikiran ketika itu akan melayang kepada kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan diduga bahwa sifat rahmat Tuhan sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang ibu. Bukankah kita harus meyakini bahwa Allah adalah wujud yang tidak memiliki persamaan dalam zat, sifat dan perbuatanNya dengan apapun dalam kenyataan hidup atau dalam khayalan ?

 

Rasulullah memberikan ilustrasi menyangkut besarnya rahmat Allah sebagai dituturkan oleh Abu Hurairah katanya :

Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :’Allah swt menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan disisiNya sembilan puluh sembilan dan diturunkanNya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkut kakinya dari anaknya terdorong oleh rahmat kasih sayang, kuatir jangan sampai menyakitinya. (HR. Muslim).

 

Kini kita bertanya, apakah buah yang dihasilkan oleh ucapan yang lahir dari lubuk hati ? Menurut Al Ghazaly buah yang dihasilkan oleh rahman pada aktivitas seseorang adalah bahwa “ia akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Allah. Dengan memberinya nasehat secara lemah lembut –tidak dengan kekerasan, memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang- bukan dengan gangguan. Memandang setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia tidak menyisihkan sedikit upayapun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya – sebagai pengejawantahaan dari rahmatnya terhadap si durhaka jangan sampai ia mendapatkan murkaNya dan kejauhan dari sisiNya”.

Sedang buah rahim menurut Al Ghazaly adalah “tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali berupaya memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang fakir di sekelilingnya atau dinegerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kekafirannya dengan harta, kedudukan atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhasil ia lakukan, maka hendaklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitaannya. Itu semua, sebagai tanda kasih sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengan yang dikasihinya itu dalam kesulitan dan kebutuhan”.


Posted at 12:57 pm by ariefsalman
Comment (1)  

Wednesday, July 27, 2005
Mengenal ALLAH Melalui Asma Ul Husna

Mengenal ALLAH Melalui Asma Ul Husna


dari Buku Menyingkap Tabir-tabir Ilahi

Prof. DR. M. Quraish Shihab

 

 

 

Manusia betapapun kuasa dan kuatnya pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan dan kebutuhan. Memang pada saat kekuasaan dan kekuatan itu menyertainya, banyak yang idak merasakan sedikit keubuthanpun, tetapi ketika kekuasaan dan kekuatan meninggalkannya, ia merasa takut atau cemas dan pada saat itu ia membutuhkan ‘sesuatu’ yang mampu menghilangkan ketakutan dan kecemasannya itu. Boleh jadi pada tahap awal ia mencari ‘sesuatu’ itu pada makhluk, tetapi jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pastilah pada akhirnya ia akan mencari dan bertemu dengan kekuatan yang berada di luar alam raya. Itulah Tuhan dengan bermacam-macam nama yang disandang-Nya. Dialah yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan manusia, menutupi kekuarangannya, menghilangkan kecemasannya dan sebagainya yang merupakan kebutuhan makhluk. Apa yang dikemukakan di atas, dikonfirmasikan oleh Al Quran antara lain dengan firmanNya :

“Wahai seluruh manusia, kamu adalah orang-orang yang butuh kepada Allah dan Allah adalah Maha Kaya (tidak butuh), lagi Maha terpuji” (QS. Al Fathir 35: 15).

 

Siapa atau Apa Tuhan ?

 

Jika Anda ingin berinteraksi dengan seseorang, tentulah Anda perlu mengenalnya, siapa dia serta apa nama maupun sifat-sifatnya ? Tuhan yang mencipta, yang diharapkan bantuanNya serta yang kepadaNya bertumpu segala sesuatu, pastilah lebih perlu dikenal.

 

“Yang melihat/mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihatNya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih. Mampukah Anda dengan membaca kumpulan syair seorang penyair, atau mendengar gubahan seorang komposer,.. dengan melihat lukisan pelukis atau pahatan pemahat, - mampukah Anda dengan melihat hasil karya seni mereka, mengenal mereka tanpa melihat mereka secara langsung ? Memang Anda bisa mengenal selayang pandang tentang mereka, bahkan boleh jadi melalui imajinasi, Anda dapat membayangkannya sesuai dengan kemampuan Anda membaca karya seni, namun Anda sendiri pada akhirnya akan sadar bahwa gambaran yang dilukiskan oleh imajinasi Anda menyangkut para seniman itu, adalah bersifat pribadi dan merupakan ekspresi dari perasaan Anda sendiri. Demikian juga yang dialami orang lain yang berhubungan dengan para seniman itu, masing-masing memiliki pandangan pribadi yang berbeda dengan yang lain. Kalaupun ada yang sama, maka persamaan itu dalam bentuk gambaran umum menyangkut kekaguman dalam berbagai tingkat. Kalau demikian itu adanya dalam memandang seniman melalui karya-karya mereka, maka bagaimana dengan Tuhan, sedang Anda adalah setetes dari ciptaanNya ?” (Abdul Karim Alkhatib, dalam Qadiyat Al-Uluhiyah Bainal Falsafah wad Din).

Kalau Anda masih berkeras untuk mengenalnya maka lakukanlah apa yang dikemukakan di atas tetapi yakinlah bahwa hasilnya akan jauh lebih sedikit dari apa yang Anda peroleh ketika ingin mengenal para seniman itu. Bukankah hasil karya mereka terbatas, itupun belum tentu semuanya dapat Anda jangkau – sedang hasil karya Tuhan sedemikian banyak sehingga mana mungkin Anda akan mampu mengenal-Nya walau pengenalan yang serupa dengan pengenalan terhadap seniman-seniman itu.

 

Sebenarnya jika Anda mau, ada jalan yang tidak berliku-liku, tidak pula jauh jaraknya. Pandanglah matahari ketika akan terbenam, bentangkanlah maata ke samudera lepas, Anda akan terkagum-kagum oleh keindahan dan keagungannya dan pada akhirnya Anda akan sampai kepada pengenalan Ilahi. Atau ambillah satu makhluk Tuhan ! Mari mendengar suara wahyu yang menjelaskan : “ Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Amat lemahlah yang merampas (lalat) dan amat lemah pula yang akan merebut, (manusia) “ (QS. Al Hajj 22:73).

 

Apakah setelah ini, Anda masih akan menjawab tuntas dengan akal pikiran Anda apa dan siapa Tuhan ? Tapi yakinlah bahwa apa yang diinformasikan oleh akal Anda hanya setetes dari samudera. Kalaulah semua hasil pemikiran manusia dikumpul,  maka itupun hanya bagaikan sedetik dari waktu yang terbentang ini.

 

Karena itu ketika Abu Bakar AshShiddiq ditanya “ Bagaimana Engkau mengenal Tuhanmu?”  Beliau menjawab “Aku mengenal Tuhan melalui Tuhanku. Seandainya Dia tak ada, Aku tak mengenal-Nya”. Selanjutnya ketika beliau ditanya, “Bagaimana Anda mengenal-Nya?” Beliau menjawab, “Ketidakmampuan mengenalNya adalah pengenalan”.

 

Tetapi apakah dengan demikian persoalan telah selesai ? Jelas tidak, karena kita ingin berinteraksi denganNya, kita tidak hanya ingin patuh, tetapi juga kagum dan cinta. Jika demikian, dibutuhkan proses pengenalan.

 

Dalam Quran, Allah tidak diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat materi, karena jika demikian pastilah ia berbentuk, dan bila berbentuk pasti terbatas dan membutuhkan tempat, dan ini menjadikan Dia bukan Tuhan karena Tuhan tidak membutuhkan sesuatu dan tidak pula terbatas. Disisi lain pasti juga – bila demikian – Dia ada di satu tempat dan tidak ada di tempat lain. Pasti Dia dapat dilihat oleh sebagian dan tidak terlihat oleh sebagian yang lain. Semua ini akan mengurangi kebesaran dan keagunganNya, bahkan bertentangan dengan idea tentang Tuhan yang ada dalam benak manusia.

 

Tapi ini bukan berarti bahwa Al Quran memperkenalkan Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat ide atau immaterial, yang tidak dapat diberi sifat atau digambarkan dalam kenyataan, atau dalam keadaan yang dapat dijangkau akal manusia. Karena jika demikian, bukan saja hati manusia tidak akan tenteram terhadapNya, akalnyapun tidak dapat memahamiNya, sehingga keyakinan tentang wujud dan sifat-sifatNya tidak akan berpengaruh pada sikap dan tingkah laku manusia.

 

Karena itu Al Quran menempuh cara pertengahan dalam memperkenalkan Tuhan. Dia, menurut Al Quran antara lain Maha Mendengar, Maha Melihat, Hidup, Berkehendak, Menghidupkan dan Mematikan, dan bersemayam di atas Arsy, Tangan Allah diatas tangan mereka (manusia) bahkan Nabi saw menjelaskan bahwa Dia bergembira, berlari dan sebagainya yang kesemuanya mengantar manusia kepada pengenalan yang dapat terjangkau oleh akal, atau potensi-potensi manusia. Namun demikian ada juga penjelasan Al Quran yang menyatakan bahwa “Tidak ada yang serupa denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy Syura 42:11) sehingga, jika demikian ‘apapun yang tergambar dalam benak, atau imajinasi siapapun tentang Allah maka Allah tidak demikian’. Dengan membaca dan menyadari makna ayat ini, luluh semua gambaran yang dapat dijangkau oleh indra dan imajinasi manusia tentang zat Yang Maha Sempurna itu.

 

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh sahabatnya Zi’lib Al yamani, “Amirul mukminin, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu ? Apakah aku menyembah apa yang tidak kulihat ?” , jawab beliau. “Bagaimana engkau melihatNya ?”, “Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakekat keimanan”.

 

 

Al Asma’ul Husna

 

Kalau sifat-sifat baik dan terpuji yang disandang manusia/makhluk seperti hidup, kuasa/mampu, pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kasih sayang, pemurah, perhatian dan sebagainya maka pastilah Yang Maha Kuasa pun memiliki sifat-sifat baik dan terpuji dalam kapasitas dan substansi yang lebih sempurna, karena jika tidak demikian, apa arti kebutuhan manusia kepadaNya ?

Terdapat empat ayat yang menggunakan redaksi “Al Asma’ul Husna’, yaitu :

 

QS. Al A’raf 7 :180

                “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

QS. Al Isra’ 17 : 110

                “Katakanlah : serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah  kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

 

QS. Thaha 20:110

                “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik).”

 

QS. Al Hashr 59:24

                “Dialah Allah yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Kata Al Asma adalah bentuk jamak dari kata Al-Ism yang biasa diterjemahkan dengan ‘nama’. Ia berakar dari kata assumu yang berarti ketinggian, atau assimah yang berarti tanda. Memang nama merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijunjung tinggi.

 

Apakah nama sama dengan yang dinamai, atau tidak, bukan disini tempatnya diuraikan perbedaan pendapat ulama yang berkepanjangan, melelahkan dan menyita energi itu. Namun yang jelas bahwa Allah memiliki apa yang dinamaiNya sendiri dengan Al Asma dan bahwa Al Asma itu bersifat husna.

 

Kata al husna yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlatif ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik selainNya itu wajar disandangNya atau tidak.Sifat Pengasih –misalnya- adalah baik. Ia dapat disandang oleh makhluk/manusia, tetapi karena bagi Allah nama yang terbaik, maka pastilah sifat kasihNya melebihi sifat kasih makhluk, dalam kapasitas kasih maupun substansinya. Disisi lain sifat pemberani merupakan sifat yang baik disandang oleh manusia namun sifat ini tidak wajar disandang Allah karena keberanian mengandung kaitan dalam substansinya dengan jasmani sehingga tidak mungkin disandangkan kepadaNya. Ini berbeda dengan sifat kasih, pemurah, adil dan sebagainya. Kesempurnaan manusia adalah jika ia memiliki keturunan tetapi sifat kesempurnaan manusia ini tidak mungkin pula disandangNya karena ini mengakibatkan adanya unsur kesamaan Tuhan dengan yang lain, disamping menunjukkan kebutuhan, sedang hal tersebut mustahil bagiNya.

 

Demikianlah kata Husna menunjukkan bahwa nama-namaNya adalah nama-nama yang amat sempurna tidak sedikitpun tercemar oleh kekurangan.

 

Nama/sifat-sifat yang disandangNya itu, terambil dari bahasa manusia, namun kata yang digunakan saat disandang manusia pasti selalu mengandung makna kebutuhan serta kekurangan, walaupun ada diantaranya yang tidak dapat dipisahkan dari kekurangan tersebut dan ada pula yang dapat dipisahkan. Keberadaan pada satu tempat atau arah, tidak munkgin dapat dipisahkan dari manusia dan dengan demikian ia tidak disandangkan kepada Tuhan, karena kemustahilan pemisahannya itu. Ini berbeda dengan kata “kuat”. Bagi manusia, kekuatan diperoleh melalui sesuatu yang bersifat materi yakni adanya otot-otot yang berfungsi baik, dalam arti kita membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan. Kebutuhan tersebut tentunya tidak sesuai dengan kebesaran Allah, sehingga sifat kuat buat Tuhan hanya dapat dipahami dengan menyingkirkan dari nama/sifat tersebut hal-hal yang mengandung makna kekurangan atau kebutuhan itu.

 

ALLAH

 

Allah adalah nama Tuhan yang paling populer. Para ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak. Sekian banyak ulama yang berpendapat bahwa kata “Allah” tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah nama yang menunjuk kepada zat yang wajib wujudNya, yang menguasai seluruh hidup dan kehidupan dan yang kepadaNya seharusnya seluruh makhluk mengabdi dan bermohon. Tetapi banyak ulama berpendapat bahwa kata “Allah” asalnya adalah “Ilah” yang dibubuhi huruf alif dan lam, dan dengan demikian Allah merupakan nama khusus karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya sedang Ilah adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jamak (plural) Alihah. Dalam bahasa Indonesia, keduanya dapat diterjemahkan dengan tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Yang bersifat umum ditulis dengan huruf kecil god/tuhan, dan yang bermakna khusus ditulis dengan huruf God/Tuhan.

 

Alif dan lam yang dibubuhkan pada kata Ilah berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi itu (dalam hal ini kata Ilah) merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua huruf tersebut disini sama dengan The dalam bahasa Inggris. Kedua huruf tambahan itu menjadikan kata yang dibubuhi menjadi ma’rifat atau definite (diketahui/dikenal). Pengguna bahasa Arab mengakui bahwa Tuhan yang dikenal oleh benak mereka adalah Tuhan Pencipta, berbeda dengan tuhan-tuhan alihah (bentuk jamak dari Ilah) yang lain. Selanjutnya dalam perkembangan lebih jauh dan dengan alasan mempermudah, hamzat yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata Al Ilah tidak dibaca lagi sehingga berbunyi Allah dan sejak itulah kata ini seakan-akan telah merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata sekaligus sejak itu pula kata Allah menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur Alam raya yang wajib wujudNya.

 

Sementara ulama berpendapat bahwa kata “Ilah” yang darinya terbentuk kata “Allah”, berakar dari kata Al-Ilahah, Al-Uluhah, dan Al-Uluhiyah yang kesemuanya menurut mereka bermakna ibadah/penyembahan, sehingga “Allah” secara harfiah bermakna Yang Disembah. Ada juga berpendapat bahwa kata tersebut berakar dari kata “alaha” dalam arti mengherankan atau “menakjubkan” karena segala perbuatan/ciptaanNya menakjubkan atau karena bila dibahas hakekatnya akan mengherankan akibat ketidaktahuan makhluk tentang hakekat zat Yang Maha Agung itu. Apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut hakekat zat Allah maka Allah tidak demikian.

 

Ada juga yang berpendapat bahwa kata “Allah” terambil dari akar kata “Aliha Ya’lahu” yang berarti “tenang”, karena hati menjadi tenang bersamaNya, atau dalam arti “menuju” dan “bermohon”, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepadaNya dan kepadaNya jua makhluk bermohon.

Memang setiap yang dipertuhan pasti disembah, dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan ciptaannya, tetapi apakah itu berarti bahwa kata “Ilah” dan juga “Allah” secara harfiah bemakna demikian ? Apakah Al Quran menggunakannya untuk makna “yang disembah” ?

 

Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “yang disembah” menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam; seperti terhadap matahari, bintang, bulan manusia atau berhala; maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni zat yang wajib wujudNya yakni Allah swt. Karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan “laa ilaha illa Allah” maka dia telah menafikan segala tuhan kecuali Tuhan yang namaNya, Allah. QS Al A’raf 7:127 yang dibaca ‘wayazaraka wa ilahataka’. Kata (Ilahataka) dalam bacaan ini adalah ganti dari kata Alihataka yang berarti sesembahan dan yang merupakan bacaan yang syah dan populer. Ada juga yang berpendapat Ilah adalah “Pencipta, Pengatur, Penguasa alam raya, yang di dalam genggaman tanganNya segala sesuatu”. Misalnya firman Allah dalam surat Al Anbiya 2:22. “Seandainya di langit dan dibumi ada ilah-ilah kecuali Allah, niscaya keduanya akan binasa “. Pembuktian kebenaran pernyataan ayat di atas, baru dapat dipahami dengan benar apabila kata Ilah diartikan sebagai Pengatur serta Penguasa Alam Raya yang di dalam genggaman tanganNya segala sesuatu.

 

Betapapun terjadi perbedaan pendapat itu namun agaknya dapat disepakati bahwa kata “Allah” mempunyai kekhususan yang tidak memiliki oleh kata selainnya; ia adalah kata yang sempurna huruf-hurufnya, sempurna maknanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya,... sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai “ismullah al-a’zam” (nama Allah yang paling mulia), yang bila diucapkan dalam doa, Allah akan mengabulkannya.

 

Dari segi lafaz terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya. Bacalah kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi Lillah dalam arti milik/bagi Allah; kemudian hapus huruf awal dari kata Lillah itu akan terbaca “Lahu..” dalam arti bagiNya selanjutnya hapus lagi huruf awal dari “lahu” akan terdengar dalam ucapan Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila inipun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan tetapi pada hakekatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pula sementara ulama berkata bahwa kata “Allah” terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya fitrah dalam diri manusia sebagaimana diuraikan pada bagian awal tulisan ini. Al Quran juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik ,

“Apabila kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah” (QS. Azzumar 39:38).

 

Dari segi makna dapat dikemukakan bahwa kata Allah mencakup segala sifat-sifatNya, bahkan Dialah yang menyandang sifat-sifat tersebut, karena itu jika Anda berkata, “Ya Allah” maka semua nama-nama/sifat-sifatNya telah dicakup oleh kata tersebut. Di sisi lain jika Anda berkata Ar Rahiim (Yang Maha Pengasih) maka sesungguhnya yang Anda maksud adalah Allah demikian juga jika Anda berkata : Al Muntaqim (yang membalas kesalahan) namun kandungan makna Ar Rahiim tidak mencakup pembalasanNya, atau sifat-sifatNya yang lain. Itulah salah satu sebab mengapa dalam syahadat seseorang harus menggunakan kata “Allah” ketika mengucapkan Asyhadu an La Ilaha Illa Allah dan tidak dibenarkan mengganti kata Allah tersebut dengan nama-namaNya yang lain, seperti Asyhadu An La Ilaha illa ArRahman Ar Rahim.


Posted at 04:08 pm by ariefsalman
Comments (4)  

Friday, June 10, 2005
SUNNATULLAH & FENOMENA ALAM

Perbedaan
Sunnatullah & Fenomena Alam



Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA
Lentera Hati - MetroTV
13 Pebruari 2005, 14.00 – 15.00 WIB
Disusun oleh
Teguh Sudibyantoro
tghs01@yahoo.com
Arief Wiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com
http://ariefhikmah.blogdrive.com


Kita bicara yang sederhana, yang mudah-mudah, karena saya (pak Quraish) bukan ilmuwan. Kita pernah membuat air menjadi mendidih. Kita juga pernah membuat es. Itu semua dibuat dari air/zat yang sama. Itu adalah fenomena sehari-hari dan terulang kapan saja, di mana saja, asal melakukan prosedur/proses seperti dengan memakai kompor atau kulkas. Ini yang dinamakan hukum-hukum alam. Setiap saya memanaskan air sampai suhu tertentu maka air mendidih. Setiap saya mendinginkan air sampai katakan di bawah nol maka air membeku. Hanya sebelum ditemukan kulkas, belum bisa membuat es sedemikian mudah, tetapi es/proses itu sudah ada.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al-Baqarah (2) ayat 30.

Sekarang kita lihat Quran. Ketika Allah akan menciptakan Adam, malaikat bertanya, "Ya Tuhan, Apakah Kamu akan menciptakan makhluk yang merusak di bumi. Kami kan bertasbih dan taat kepadaMu." Tuhan tidak menjawab Ya atau Tidak. Tetapi Tuhan membuktikan kewajaran makhluk yang diciptakanNya ini untuk menjadi khalifah di dunia dengan mengajarkan kepadanya al asma'. Adam diberi potensi utk memahami alam ini. Ada kemampuan kita kalau kita gunakan otak/pikiran, bisa mengetahui kenapa air menjadi beku, dapat mendidih, dan selalu mencari tempat rendah. Adam diajarkan, diberi potensi mengetahui hukum-hukum alam. Di sisi lain, alam tidak dijadikan punya kemauan, apa pun ketetapan Tuhan diikuti oleh alam. Matahari setiap hari terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Lahir hukum alam [ bagi manusia ]. Matahari, gunung, angin, dll ada fenomenanya yang tetap. Apakah bumi ini bergerak atau tidak? Bergerak. Gunung itu bergerak atau tidak? Quran berkata bahwa gunung bergerak. Bergerak sedikit demi sedikit. Dulu jazirah Arabia menyatu dengan Afrika, bergerak, berpisah, dan lahir Laut Merah. Kata ilmuwan, jazirah Arab mendekat ke Iran, Australia mendekat ke Nusantara. Katanya bergerak setiap tahun sekian sentimeter. Tsunami yang terjadi bulan Desember 2004 lalu di Aceh juga begitu.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. An-Naml (27) ayat 88.

Allah memberi kita potensi untuk mengetahui itu. Kita ambil yang sederhana. Api bisa membakar. Kita bisa memanfaatkan. Api kalau dekat bensin akan terbakar. Bisa dihindari atau tidak? Bisa. Jangan dekatkan bensin dengan api. Kita diberi kemampuan oleh Allah, kalau kita mau belajar, mengerti alam. Itu sebabnya, dulu sebelum terjadi tsunami, orang berkata, pakar-pakar kita di Bandung menduga bakal terjadi seperti ini. Tetapi kita kurang tanggap. Setelah terjadi, dunia seluruhnya berkata kita harus pasang alat-alat untuk mempelajari supaya tidak terjadi bencana seperti ini lagi. Kita diberi kemampuan oleh Allah. Allah berfirman Allah menundukkan apa yang di langit & di bumi, semuanya anugerah Allah. Bagaimana caranya menundukkannya? Hukum-hukum alamNya tetap. Di mana pun pergi, api membakar. Kita tundukkan api, hei kamu jangan membakar, kita masak nasi aja. Di dapur begitu kan? Dengan kemampuan kita.

Saya mau melangkah lagi. Apa yang kita namai hukum-alam alam ini, apa pasti seperti itu? Nah kita baca Quran lagi ya? Pernahkah api tidak membakar? Ingat kisah Nabi Ibrahim? "naruquni bardan wa salaman ala' Ibrahim".

“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",QS. Al-Anbiyaa (21) ayat 69.

Kalau begitu yang menetapkan hukum alam ini siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau begitu, apa yang saya katakan jika air selalu mencari tempat yang rendah, selalu pasti begitu atau tidak? Kebiasaan (yang ditangkap) kita, di mana-mana seperti itu. Jadi hukum alam itu, apa yang kita lihat sebagai fenomena alam ini, menurut ilmuwan, adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Bisa tidak suatu waktu matahari terbit dari sebelah barat? Naa, bisa ketika mendekati kiamat. Karena hukum alam ini adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Apa yang kita anggap kebetulan sekarang, boleh jadi merupakan proses menjadi kebiasaan, itu kata ilmuwan. Tidak ada lagi yang pasti sekarang. Itu sebabnya dalam ajaran agama, semua harus memakai "insya Allah". Sejak ditemukannya bahwa atom masih bisa terbagi lagi menjadi proton & elektron, sejak itu ilmuwan berkata bahwa tidak ada lagi sesuatu yang pasti.

“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” QS. Al-Furqaan (25) ayat 2.

Sunnatullah. Segala sesuatu sudah Allah tentukan ukurannya. Quran: Allah menciptakan segala sesuatu dan semua diberi ukuran. Manusia ada ndak ukurannya? Bisa terbang seperti burung? Tidak, karena tidak mempunyai sayap seperti burung. Contoh lain, ibu membawa karet. Kalau saya lempar keras, melenting dia, lentingannya keras atau tidak? Keras. Ada ukurannya. Itu Tuhan yang atur. Quran: Matahari beredar di tempat peredaran itu takdir/ukuran yang diberikan Tuhan. 24 jam terbit lagi kamu. Tahun sekian, jam sekian, menit sekian kamu gerhana. Yang mengatur adalah Tuhan. Kalau Dia berkehendak, bisa Ia ubah. Tetapi Ia katakan waktu berbicara tentang sunnatullah, "walaa tajidu li sunnatina tahwila", kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.

“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu.” QS. Al-Israa (17) ayat 77.

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ QS. Yaasin (36) ayat 39.

Sunnatullah adalah bagian fenomena alam. Quran menggunakan kata "sunnatullah" untuk hukum-hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat manusia. Kita orang per orang punya ajal atau tidak? Punya. Sebagai bangsa punya ajal atau tidak? Punya.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. QS. Yunus ayat 49.

Ada ndak hukum-hukum yang mengatur kejayaan suatu bangsa? Ada. Mau jaya? Kerja keras, punya pengetahuan. Ada ndak hukum-hukum yang membuat suatu bangsa bisa menang? Ada, ada hukum-hukum kemasyarakatan. Dalam Quran ada 16 kali kata sunnah. Sunnah artinya kebiasaan. Ada kebiasaan-kebiasaan, sama dengan hukum alam. Ada kebiasaan Tuhan menyangkut masyarakat. Bagaimana Tuhan mengubah suatu masyarakat. Ada kebiasaan, ada hukumnya. "Innallah laa yughoyiru ma bi qaumin, hatta yughoyiru bi anfusihim...". “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11.

Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat, kalau dia [masyarakat] tidak mengubah apa yang ada dalam pikirannya. Kalau tidak berubah nilai-nilai, tidak berubah pandangan hidup anda, anda tidak berubah. Bukan cuma tahu. Saya beri contoh. Saya tahu kereta akan berangkat dari Jakarta, katakanlah ke Bandung jam sekian. Saya tahu ada itu. [Ada kereta & jadwal]. Bisa mengantar saya ke Bandung? Kalau tahu saja, tidak. Harus apa? Saya harus mau. Kalau anda mau, mau saja sudah cukup atau tidak? Harus pergi ke stasiun dahulu, beli tiket dulu. Sudah punya tiket, sudah pasti sampai? Belum. Harus naik di keretanya dulu. Tidak bisa berubah ini. Itulah sunnatullah. Mau masyarakat ini maju. Ubah dulu pikirannya. Jangan malas. Harus rajin. Hargai waktu. Ini semuanya ada dalam benak kita. Sudah tahu itu, harus punya kemauan.

Jadi sunnatullah itu adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Tetapi sunnatullah dalam penggunaan Al Quran yang merupakan bagian dari hukum-hukum alam itu yang dinamai taqdir atau ukuran, sedangkan kata sunnatullah itu khusus untuk kehidupan bermasyarakat. Kalau ada masyarakat yang resah, pemerintahannya membuat keresahan, bisa bertahan pemerintahannya itu atau tidak? Itu hukum kemasyarakatan. Pasti orang ribut. Quran. Itu kaum musyrik Mekkah mau menggelisahkan kamu supaya mau mengusir kamu dari Mekkah, kalau sudah sampai puncak kegelisahan, masyarakat itu, pemerintahan itu akan runtuh. Di Indonesia terjadi itu. Dulu zaman komunisme bagaimana? Hancur, lahir orde baru. Orde baru muncul, mulai gelisah. Itu hukum kemasyarakatan. Itu yang dinamai sunnatullah.

Sunnatullah ini menurut Al Quran, adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Hukum-hukum Tuhan itu diantaranya ada hukum yang berkaitan dengan alam raya [dengan bumi, langit, matahari, bintang, dll], dan ada pula hukum yang berkaitan dengan manusia. Manusia sebagai perorangan, sebagai masyarakat. Kalau hukum Tuhan yang berlaku bagi manusia, dalam kehidupan bermasyarakatnya, dinamai sunnatullah. Kalau hukum Tuhan yang berkaitan dengan manusia dan juga alam semuanya dinamai taqdir. Kita bisa tahu taqdir, kita bisa pilih taqdir. Bisa ndak kita pilih taqdir? Nah kita lihat deh. Kalau buku tafsir ini di sini [ di atas meja ] . Kalau diangkat & dilepas, jatuh atau tidak? Taqdirnya jatuh. Kalau ditaruh di atas meja, jatuh atau tidak? Tidak. Bisa tidak saya pilih itu agar tidak jatuh? Bisa. Kalau saya angkat tafsir ini, bisa tidak? Bisa. Kalau saya angkat ada hukumnya. Kalau kamu mau angkat ini, kamu harus ulurkan tanganmu dan naikkan ke atas. Itu taqdir, ada ukurannya. Bisa tidak saya pertinggi ini lagi? Saya angkat tinggi sekali. Ada tidak ukurannya? Itu semua bisa saya pilih taqdir Tuhan. Ada tembok rapuh, saya sandar di situ, ambruk, bisa kena saya. Bisa tidak saya pindah dari situ? Nah kalau saya pindah pun itu taqdir Tuhan. Segala sesuatu ada taqdirnya. Ada hukum-hukum yang diatur Tuhan. Kalau berkaitan dengan manusia & masyarakatnya, dinamai sunnatullah. Tidak bisa maju jika tidak mengikuti sunnatullah. Ada hukumnya.

Bisa tidak, mendidihkan air jika tidak dipanaskan? Tidak bisa. Itu hukum alam. Bisa tidak, membeku jika tidak didinginkan? Tidak bisa. Itu ada hukumnya. Masak nasi terlalu lama, hangus tidak? Hangus, itu taqdirnya begitu. Masak nasi, kurang airnya? Keras, gosong. Nah ada ukurannya agar nasi bisa matang & enak. Bisa dipelajari kan? Bisa dihindari supaya tidak gosong/keras? Nah ini, Tuhan beri kita kemampuan untuk itu. Taqdir bisa dipilih? Bisa kan? Kenapa bisa masak bubur atau nasi? Karena kita bisa memilih. Tetapi ada ukurannya, yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan. Tsunami kemarin juga ada ukurannya. Kalau kita pandai, kita bisa menghindar, atau kita bisa mengurangi bahayanya. Kenapa di Jepang yang banyak terjadi gempa, tetapi mereka bisa lebih selamat ? Mereka membangun rumahnya yang sedemikian rupa, dan sebagainya. Ini namanya hukum alam. Kita dianugerahi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kemampuan untuk itu. Itu yang diisyaratkan oleh ayat "Wa 'alama Adamal asma 'al akulaha". “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 31.

Alam ini tidak bisa menghindar. Waktu Allah menciptakan alam raya, Allah berfirman kpd langit & bumi, " i'tiyar... " "Datang kamu, suka atau tidak suka". " ataina tha'in", "kami datang secara sukarela, kami tidak bisa membangkang".

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati.". QS. Fushshilat (41) ayat 11.

Kalau manusia bisa membangkang, kan? Hukum alam adalah ikhtisar dari pukul rata statistik, yang kita ketahui, Allah yang mengaturnya. Makanya kita tetap harus bermohon kepadaNya.

Al Quran menggunakan istilah sunnatullah utk hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, walaupun sementara ilmuwan muslim menjadikan istilah sunnatullah itu adalah hukum-hukum yang mengatur alam raya ini baik itu manusia secara individu atau kolektif maupun alam raya ini [bintang bulan dll], tetapi Quran membedakan itu.

Tanya : Seperti yang disampaikan bapak Quraish, gejala alam itu hukum Tuhan. Mengingat tsunami kemarin, apakah ini termasuk taqdir disamping hukum alam. Seperti diketahui, ahli Geologi sudah meramalkan ada benturan lempeng tetapi diramalkan berada di pantai Sumatera Barat, tetapi ternyata terjadi di Aceh. Antara pengetahuan manusia, koq ada kesenjangan dengan realisasinya. Selanjutnya, ketika terjadi musibah besar itu, ada dua pendapat yang saya baca di koran & majalah, ada yang tidak bisa menerima bahwa ini merupakan azab dari Allah atau musibah, tetapi meniadakan hal itu bahwa Allah itu tidak jahat sehingga menghukum orang-orang Aceh. Kenapa diberi azab, kenapa tidak di Jakarta. Di mana letak taqdir, ketika sebagai manusia telah berusaha dengan ilmu pengetahuan, terjadi musibah.

Jawab: Yang pertama, taqdir ada banyak & bermacam-macam. Sebagian dapat / sudah kita ketahui, sebagian ada yang tidak kita ketahui. Sebagian ada yang sudah jelas bagi kita, dan ada yang belum jelas bagi kita. Itu taqdir. Jadi kalau ibu tadi berkata bahwa ilmuwan memperkirakan di Sumatera Barat, jadinya di Aceh. Itu karena pengetahuan ilmuwan itu tidak menyeluruh. Seandainya pengetahuannya menyeluruh, ia bisa mendeteksi bahwa itu terjadi di Aceh. Itu kalau kita berbicara dari segi ilmu. Yang kedua, tidak terjadi kecuali atas dasar taqdir & ukuran / ketetapan Tuhan. Tetapi ketetapan Allah ini ada yang kita ketahui dan ada yang tidak kita ketahui. Ada yang bisa kita jangkau, dengan pengetahuan & mempelajarinya, seperti contoh air membeku / mendidih, ada yang kita tidak/belum tahu. Dulu orang-orang tua kita, 600 - 700 tahun yang lalu, belum tahu bagaimana membuat es. Nah kemajuan ilmu menjadikan kita tahu. Boleh jadi nanti suatu ketika kemajuan ilmu akan lebih tepat, ooh ini jadinya di sini. Seperti gerhana, sekarang saja kita bisa tahu kapan & di mana terjadinya dengan tepat, ya kan? Itu perkembangan ilmu. Kemudian, hukum-hukum alam ini tidak selalu pasti seperti itu. Ada faktor lain bisa mengubahnya. Itu sebabnya di atas saya katakan bahwa sejak ditemukannya atom terbagi lagi menjadi proton & elektron, ilmuwan berkata tidak ada lagi yang dinamakan pasti. Saya hanya bisa mengatakan, kalau terjadi A kemungkinan terjadi B, saya tidak bisa berkata pasti B yang terjadi. A kalau terjadi bisa terjadi B atau terjadi C, tetapi kemungkinannya terjadi B lebih besar, saya tidak bisa pastikan B. Karena yang mengatur adalah Allah yang Maha Berkehendak. Saya tidak ingin berkata bahwa yang terjadi di Aceh itu adalah murka Tuhan. Kadang ada musibah yang terjadi justru untuk mengangkat derajat orang-orang di sisi Allah. Sahabat-sahabat Nabi pernah berperang & gugur. Apakah orang-orang yang gugur itu dibenci Tuhan atau bagaimana? Itu satu. Yang kedua, kita harus berprasangka baik pada Tuhan. Orang-orang yang meninggal, kalau pun bergelimang dosa, kita juga harus menyebut kebaikan-kebaikannya. Kemarin, saya baru dari Mekkah, ada badai, apakah itu orang-orang jahat yang ada di Mekah? Mereka orang-orang yang sedang beribadah! Hujan lebat, menghanyutkan barang-barang. Ini bisa ujian atau peringatan Allah. Orang yang diberi peringatan Allah apakah dirahmati atau tidak? Dirahmati. Saya beritahu anak saya, "Hati-hati nak, di jalan ada beling", apa itu karena saya benci dia? Atau saya beri peringatan karena saya sayang? Saya akan berkata begitu, Tuhan masih sayang, beri kita peringatan. Jadi jangan berkata bahwa Tuhan murka. Sangka baik kepada Allah. Saya berkata, bahwa Tuhan akan mengubah wajah Aceh menjadi lebih baik. Tuhan menyadarkan bangsa ini agar lebih bersatu. Ya kan? Itu kalau kita mau bersangka baik kepada Allah.

Tanya: Gunung katanya bergerak, apakah bernafas? Seperti makhluq hidup?
Jawab: Kita tidak harus berkata bahwa yang bergerak itu bernafas. Boleh jadi sesuatu itu bergerak dikarenakan sesuatu yang lain. Seperti lempeng yang bergerak karena didorong sesuatu. Saya tidak ingin berkata dapat bernafas, tetapi boleh jadi kita bisa berkata bahwa ia hidup dengan kehidupannya. Dalam Al Quran, bumi ini dianggap hidup. Gunung-gunung "dianggap" hidup. Nabi menamai gunung Uhud, "Uhud yuhibbuna, wa yuhibbuhu", " "Gunung Uhud ini mencintai kita, dan kita pun cinta kepadanya". Tapi ini dalam pengertian metafora. Nabi memberi nama-nama bagi benda-benda tak bernafas, tak bernyawa. Cerminnya dinamai "Al Midallah". Gelasnya dinamai As Shoddiq. Pedangnya dinamai Zulfiqor. Ini seakan-akan seperti makhluq hidup yang perlu persahabatan punya personality [kepribadian]. Jadi kalau ibu berkata gunung bernafas secara metafora Al Quran juga menamakannya hidup. Nabi menjadi rahmatan lil 'alamin. Berarti juga nabi memberikan rahmat kepadkepada seluruh alam termasuk gunung-gunung, dll, seakan-akan dia hidup.

Tanya: Apa beda antara taqdir dengan qadha qadar?
Jawab: Qadar itu taqdir. Qadha itu pengetahuan Tuhan secara menyeluruh menyangkut segala sesuatu. Taqdir itu adalah ketetapanNya menyangkut rincian. Semua manusia, semua yang bernyawa pasti mati. Tuhan tahu itu. Tuhan sudah tetapkan itu. Tetapi, kematian si A itu kapan? Itu taqdir. Taqdir itu menyangkut orang per orang. Oo ini taqdirNya, dia meninggal karena "ini" pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Qadhanya apa? Semua ini akan meninggal. Itu salah satu yang dikemukakan ulama menyangkut perbedaan antara qadha & qadar. Jadi, tidak ada yang terjadi kecuali Tuhan sudah tahu terlebih dahulu. Itu qadhanya. Tetapi kejadiannya itu adalah taqdirnya.

Garis besarnya. Kita harus percaya bahwa ada hukum-hukum alam, segalanya sudah Tuhan atur sedemikian rupa dalam bentuk sistem / hukum. Kita perlu mempelajari itu supaya kita dapat memilih taqdirNya yang terbaik untuk kita. Tsunami adalah taqdir Tuhan. Bencana, ni'mat juga taqdir Tuhan. Kita hadir sekarang di sini juga taqdir Tuhan. Semua taqdir Tuhan. Yang baik yang buruk adalah taqdir Tuhan. Nah kita tinggal pilih-pilih. Mau ke Metro atau ke Niteclub? Kita punya kemampuan memilih.


Lagu pengiring:

Insaf lah wahai manusia
Jika diri mu bernoda
Dunia hanya naungan
tuk makhluq ciptaan Tuhan

Dengan tiada terduga
Dunia ini kan binasa
Kita kembali ke asalnya
Menghadap Tuhan yang Esa

Dia lah Pengasih & Penyayang
kepada semua insan
Jangan lah ragu atau bimbang
pada keagungan Tuhan

Betapa Maha Besarnya
Kuasa segala alam raya

Posted at 09:21 am by ariefsalman
Comment (1)  

Thursday, June 02, 2005
SAHABAT

MEMILIH SAHABAT

 

 

Prof. DR. M. Quraish Shihab

Lentera Hati, MetroTV

3 Oktober 2004

14:00 – 15.00 WIB

Disusun oleh

Teguh Sudibyantoro

tghs01@yahoo.com

Dan

Arief Wiryanto

ariefwiryanto@yahoo.com

[Moderator]:
Boleh sedikit saya berpendapat : Ada beberapa lingkungan yg sangat
berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang pertama, yg paling
dekat dgn kita adalah keluarga atau di rumah. Yang tidak kalah
pentingnya adalah lingkungan di luar rumah yaitu di sekolah, teman,
atau yg palng dekat dgn kita adalah sahabat.
Pada saat ini kita akan
membicarakan bagaimana cara memilih sahabat yg baik.



[Pak Quraish]:

Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau
sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn
sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir].
Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat.
Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya
kalau dia menjadi sahabat saya.  Kalau saudara kita tidak menjadi
sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?


Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia,
sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan "sahabat kental". Apa
bedanya "teman" dan "sahabat kental" ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si
A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau
sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi
tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.


Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi
hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita
beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman
akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama
dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya
tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia
ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah
bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat
kental.

Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur'an. Istilah yg digunakan
tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada "shohib" yg dalam bahasa
Indonesia menjadi "sahabat", itu boleh jadi shohib ini tidak seide
dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat
dalam perjalanan.


Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur'an menamainya "shodiq" dari kata
"Shidq". "Shiddq" itu artinya "benar", "jujur". Naa, sahabat yg baik
itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya
selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar
menemani.

Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn "kholil". "Kholil" itu
terambil dari akar kata bermakna "celah". Orang yg begitu dekat dgn
anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk
ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai "kholil". Ada ndak yg begitu ?
Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.


Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg "dia adalah
aku".
Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat
di cermin ?
Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda.
Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam
sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu
waktu ada orang berkata, "Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala
negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?". Abu Bakar menjawab,
"Saya tetapi dia". Kan itu sama.


Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah
memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau
tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya "siapa
sahabatnya ?". Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap,
"menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa
sahabatnya", karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau
sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti
terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat
kita karena dia bisa mempengaruhi kita.


Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn
penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak
wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las,
bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.


Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah.
Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada
batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg
berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg
artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, "Inamal
waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu'tuna
zakata...". Orang yg beriman itu "waliy"-nya, teman akrabnya adalah
Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia
terpengaruh dgn temannya.


Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam
pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau
sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena
kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa,
"tolong dong". Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo
senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong.
Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu.
Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat
yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ?
[Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada
waktu susah.


Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya.
Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si
A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main
bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi
orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian
politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa
tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya
kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada
kepentingan, tidak akan bekerja sama.


Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama
anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur'an
berkata, "Al akhilahu yaumaidzin ba'duhum li ba'din alu ilal
muttaqin", sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke
relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan
kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.


Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim,
disebutkan dalam Al Qur'an, pernah menasehati anaknya, "Nak, kalau
kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu", kaget kan ?
"Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak
berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat". Kalau baru sedikit
sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa
salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak
bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.


Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari
sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada
keluarganya & orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan
jadikan dia sahabat. Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.
Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim.
Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau
berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana
sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.


Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main
melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ?
[Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik.
Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah.
Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg
meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.


Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin
persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun
sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya
terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo
tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah
merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga
bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah
terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.


Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya
miskin, kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia.
Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan
terjadi persahabatan.


Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti
dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.


Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu
persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada
orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan.
Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan.
Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya
antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.


Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan
canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap
serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. "Saya kan
main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius".
[Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang
main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau
mencampurbaurkan itu.


Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia
marah.
Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau
makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda
kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah
jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi
marah. Jadi jangan dijawab dgn marah.  Itu terpelihara. Ooo dia marah,
dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.


Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, "Kamu
bodoh". Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata
sarannya keliru terus berkata, "Ini gara-gara kamu nih".  Biasa begitu
? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran
pada dia lantas saran anda bagus, "Itu kan karena saya". Itu tidak
terpelihara persahabatan.


Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke /
cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang,
"Stop, itu saya sudah tahu tuh". Tidak bisa begitu. Terus
saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau
tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.


Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu
menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu
yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus.
Ya kan ?


Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban
bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib.
Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan
juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda
bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.


Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai
dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok
yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di
antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam
tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.


[moderator]:
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg
sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara
kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?


[Jawab]:
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa
tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada
situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda
jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita
bercanda, tapi jangan  berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak
tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan
campurkan antara bercanda dan serius.


[Tanya]:
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin
kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita
khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah
misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita
dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita
bisa diungkapkan kepada orang lain.


[Jawab]:
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg
anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur'an dikatakan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda.
Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat-
tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah
jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan
sampaikan kepadanya.


Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan
beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi
syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.


Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda.
Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam
kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya  dan istri yg
paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama
(istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan
suaminya/istrinya.

Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada
tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan
dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji
menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu
di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan.
Jadi bertingkat-tingkat.


[Tanya]:

Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka
berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?


[Jawab]:
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran
Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam
Al Qur'an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An
Nisa, "Wa'budullah wala tusyriku bihi syai'an wabil walidaini
ihsana..... wa shohibi bil jambi".
Kita disuruh berbuat baik kepada
teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg
berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan,
dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing
harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing
harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat
buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak
terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia
memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama,
boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama,
boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan
suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya
banyak sahabat non muslim.


[Tanya]:
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan
sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?


[Jawab]:
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat
bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda
dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata "kamu
bodoh" di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap
harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg
melampaui batas itu buruk.
"Khairul ummur al washad". Saya mau beri
contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada
air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak
habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk.
Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan
juga berlebih-lebihan.
Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh
jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh
jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu
adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek,
pelit juga jelek. Ceroboh jelek, penakut jelek, nah di tengahnya itu
adalah berani.


[Moderator]:
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan
berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu
menyangkut materi.


[Jawab]:
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi.
Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari
kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi
kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan
sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg
benar.


[Kesimpulan]:
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah
memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda
sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah
memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai
memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah
yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan
sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg
berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau
cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua
jadi jelek tho.


[moderator]:
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah
bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk
kita.


Posted at 05:04 pm by ariefsalman
Make a comment  

Sunday, May 08, 2005
KUASA

KUASA




Prof. DR. M. Quraish Shihab

Lentera  Hati, Metro TV

24 Oktober 2004, 14.00 – 15.00 WIB

Disusun oleh :

Teguh Sudibyantoro

tghs01@yahoo.com

Arief Wiryanto

ariefwiryanto@yahoo.com

http://ariefhikmah.blogdrive.com

 

 

Banyak uraian yg dapat kita kemukakan tentang kuasa. Pergantian presiden, pergantian kekuasaan. Ibu-ibu yg berkumpul di sini (Studio Lentera Hati, Metro TV) juga termasuk kuasa untuk datang. Saya (pak Quraish) kuasa, dalam arti bisa, bisa memegang buku ini (sambil memegang buku di hadapannya). Ada makanan di depan saya, biasa kita tidak sadar berkata bahwa saya bisa/kuasa makan.

 

Itu kuasa dari mana? Dari Allah. Ini prinsip dasar. Tidak ada kemampuan/kekuasaan bagi siapa pun kecuali bersumber dari Allah SWT. Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan dalam Surat Al-Jin (72) ayat 21: "Saya tidak kuasa, saya tidak memiliki kekuasaan / kemampuan untuk mendatangkan manfaat buat diri saya atau menampik mudhorot kecuali dari Allah SWT". Kita biasa dengar / baca "Laa haula wala quwata illa billah", tiada daya menampik mudhorot dan tiada kekuatan meraih manfaat kecuali bersumber dari Allah SWT.

 

Tadi mau ke mari, bisa ndak datang sendiri? Datangnya boleh jadi sendiri, tetapi kuasa/kemampuan untuk datang itu dari Allah SWT. Makanan di depan kita, boleh jadi sudah dimasukkan ke dalam mulut, bisa ndak dimuntahkan? Bisa. Kita tidak kuasa dari diri kita. Biasa kita siapkan makanan untuk anak, ikan untuk suami/istri, eh ternyata kucing yg makan. Laa haula wala quwata illa billah.

 

Allah menegaskan dalam Surat Al-Maidah (5) ayat 120: "Lillahi mulkus samawati wal ardh", “Milik Allah kekuasaan di langit dan di bumi”. Semuanya bersumber dari Allah. Itu berulang-ulang kita temukan di dalam Al Quran ayat-ayat yg berbicara tentang kuasa Allah itu. Dalam Surat Al-Mulk (67) ayat 1 : "Tabarokalladzi biyadihi mulku wahuwa 'ala kulli syai'in qodir", Maha banyak ni'mat-ni'mat Allah yg di tanganNya, dalam genggaman tanganNya kekuasaan. "Wa huwa 'ala kulli syai'in qodir", Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.

 

Dalam Surat Al-Mu’minun (23) ayat 88 : "Katakan wahai Muhammad siapa yg berada di dalam genggaman tanganNya kekuasaan segala sesuatu". Siapa? Allah. Dia yg melindungi tetapi Dia tidak memerlukan perlindungan. Katakan/tanyakan itu kepada kaum musyrik, siapa itu yg demikian halnya? Mereka berkata, "Allah". Kalau memang kamu akui bahwa kekuasaan dan semuanya bersumber dari Allah, kenapa kamu masih mau tertipu? Kenapa masih mau berkata, "Besok saya akan lakukan ini", tanpa menyatakan "kalau dikehendaki oleh Allah". Harus selalu mengaitkan "kalau dikehendaki Allah", karena saya tidak mempunyai kekuasaan. Saya tidak mempunyai kemampuan. Itu perintah dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 23-24.

 

Allah yg memberi seseorang kemampuan. Kemampuan / kekuatan yg diberikan Allah itu akan dilihat oleh Allah sampai di mana kita menggunakannya. Saya beri contoh, saya bisa beri ibu pisau untuk digunakan. Tapi saya mau lihat, penggunaan pisau ini untuk memotong daging ataukah untuk menikam manusia. Kan dua2nya bisa dilakukan. Naa Dia mau uji. Mulai dari kekuasaan dan kemampuan yg terkecil sampai pada yg terbesar, mulai dari kemampuan yg diberikan misalkan kepada pembantu di rumah sampai kemampuan kekuasaan yg diberikan kepada presiden, itu semua bersumber dari Allah SWT.

 

Kalau kita bicara dalam situasi presiden baru, itu Allah mengingatkan, menyampaikan kepada Nabi Muhammad dalam Surat Ali Imran (3) ayat 26: "Katakan wahai Nabi Muhammad, Ya Allah Engkau adalah pemilik kekuasaan dan Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yg Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yg Engkau kehendaki". Kenapa dikatakan 'cabut' ? Biasanya yang berkuasa itu tidak mau meninggalkan kekuasaannya. Tapi kalau Allah sudah mau, Dia cabut. "Engkau muliakan siapa yg Engkau kehendaki. Engkau hinakan siapa yg Engkau mau hinakan. Dalam genggaman tanganMu segala macam kebajikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".

 

Saya (pak Quraish) kembali mengingatkan kita semua bahwa ketika diberikan kekuasaan itu sebenarnya Tuhan mau uji. Hei, ini pisau mau kamu apakan? Kita sudah diberi kemampuan. Jadi kalau hanya kekuasaan yg Dia berikan, belum tentu jadinya baik. Dahulu ada orang yg salah faham sampai sekarang. Kita lihat. Orang kalau selesai sholat, biasa baca salah satu doa yg diajarkan Nabi : "Ya Allah, tidak ada yg bisa menghalangi apa yg Engkau berikan. Tidak ada juga yg bisa memberi apa yg Engkau halangi untuk memberi. Tidak ada yg bisa membatalkan ketetapanMu. Tidak berguna upaya yg serius dari seseorang untuk meraih sesuatu kalau Engkau sudah tetapkan sesuatu yg lain”. Nabi selalu baca doa ini sehabis sholat.

 

Dulu ada penguasa setelah masa Khalifah Muawiyah, dia berkata, "Ini kan semua dari Tuhan, Tuhan kasih saya kekuasaan nih. Jadi kalau saya berbuat kejam itu memang maunya Tuhan. Kan Tuhan yg kasih saya kekuasaan". Ini tersebar di masyarakat sehingga lahir faham yg menolak ini “Tidak! Semuanya di tangan manusia, tidak ada di tangan Tuhan. Itu untuk tujuan tidak benar”. Salah satu faham itu namanya "Free Will". Yang lain lagi terus ekstrim, “Semua di tangan Tuhan, tidak ada di tangan manusia. Oleh kita seperti pohon ke mana angin bertiup, ke sanalah condong”. Itu juga salah. Kita diberi kekuasaan oleh Allah tetapi dalam saat yg sama kita diuji oleh Tuhan dengan kekuasaan yg diberikanNya itu kita mampu melakukan sesuatu dan apa yg kita lakukan itulah yg dinilai oleh Tuhan. Ooo bagus, kamu gunakan pisau ini memotong sayuran. Ooo buruk, saya beri kamu pisau ini tapi kamu gunakan untuk menikam manusia. Dan kembali saya katakan, itu mulai dari yg terendah.

 

Itu sebabnya ada doa lagi yg menyatakan, "Ya Allah jangan tinggalkan aku sendiri dengan pilihanku, karena kalau aku sendiri aku bisa salah. Saya memerlukan bimbinganMu. Kekuasaan yg saya miliki ini, kalau saya sendiri bisa saya salah ambil, kalau mau bertindak saya bisa keliru". Walaupun soal masak, kalau saya sendiri dan tidak mendapat bimbingan Tuhan, pikiran tidak tenang, saya mau taruh gula, eh salah lihat, saya malah ambil garam, bisa ndak itu? Bisa. Itu dalam hal-hal kecil dan biasa. Begitu pula dalam tingkat yg lebih tinggi. Allah beri kuasa, misalnya kekuasaan politik kepada satu orang. Kalau cuma kekuasaan saja yg diberikanNya, itu bisa salah.

 

Kita baca ayat Quran dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 258 : "Tidakkah kamu merenungkan seorang yg membantah Nabi Ibrahim menyangkut Tuhannya". Jadi ada Namrud, penguasa pada masa Nabi Ibrahim itu berdiskusi dgn Nabi Ibrahim berkata kepada beliau, "Siapa kamu?" "Oo saya percaya Allah SWT", dia bilang "tidak". Ini orang diberikan kuasa oleh Allah. "Atahulloh wal mulk". Kekuasaan saja yg diberikan. Maka ketika Nabi Ibrahim berkata, "Tuhankulah yg menghidupkan dan mematikan", Namrud jawab : Saya juga bisa menghidupkan dan mematikan". Bagaimana ? Ada dua orang dalam penjara, dua-duanya harus dihukum mati, keluarkan yg satu, bunuh yg satu. Namrud berkata, Saya yg menghidupkan dengan membiarkannya tetap hidup dan mematikan yang satu lagi. Nabi Ibrahim mendengar itu lalu menjawab, "Allah menerbitkan matahari dari timur coba kamu kalau memang mengaku Tuhan, terbitkan dari barat". Nah ini orang cuma diberi kuasa. Tidak diberikan sesuatu yg lebih dari kekuasaan.

 

Nah kita juga bisa begitu. Saya kuasa, bisa pukul anda. Saya bisa menganiaya anda. Kuasa kan? Kalau cuma kuasa yg Anda dapat, Anda berbahaya. Nah kita lihat. Nabi Daud diberi kuasa oleh Tuhan. Nabi Daud diangkat menjadi raja, diberi kekuasaan. Dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 251 : "Kami berikan kukuhkan dia dgn kekuasaan. Kami berikan juga dia hikmah, dan cara memutuskan yg tepat". Jadi kalo ibu punya kekuasaan kecil, kalau tidak tahu bagaimana menggunakannya dengan baik, itu bahaya. Jadi memberikan kekuasaan saja tidak cukup. Mampu saja tidak cukup. Harus diberikan al hikmah.

 

Lalu dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 247, Allah berfirman : "Sesungguhnya Allah telah mengutus Tholut untuk menjadi penguasa di tengah-tengah kamu". Masyarakatnya berkata "Bagaimana dia bisa menjadi penguasa atas kami sedangkan kami lebih wajar jadi penguasa? Dia bukan orang kaya koq bisa jadi penguasa? Kami lebih kaya darinya". Dijawab : "Tuhan yg pilih dia. Allah memberikan dia kuasa dan melebihkan dia ilmunya yang banyak dan fisiknya yang kuat". Jadi kuasa juga harus disertai dengan ini tadi.

 

Nabi Yusuf berkata dalam Surat Yusuf (12) ayat 101 : "Wahai Tuhanku, Engkau telah anugerahkan saya kekuasaan. Kamu ajar juga saya untuk menta'wilkan mimpi". Jadi ada ndak yg lebih dari kekuasaan? Harus ada yang lebih dari kekuasaan.

 

Siapa pun kuasa, baik kuasa kecil atau besar, kalau hanya kemampuan / kekuatan yg diberikan kepadanya, itu pada akhirnya dapat merusak. Al Qur'an berkata dalam Surat An-Naml (27) ayat 34 : "Itu penguasa-penguasa (hanya kekuasaan saja yang dimilikinya tapi tidak punya hikmah kebijaksanaan), kalau menguasai satu daerah dia rusak daerah itu dia jadikan orang-orang yg mulia di sana menjadi hina". Masyarakat kita sering hari Jum'at itu baca Surat Al-Kahfi. Ada pelajaran yg sangat baik di situ. Ada kisahnya Dzulqornain. Kita tidak tahu siapa persisnya Dzulqornain itu. Beda-beda pendapat ulama. Yang jelas, dia ke timur ke barat, diberi Allah kekuasaan. Saya mau beri contoh bagaimana bijaksananya orang ini.

 

Dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 93, Allah berfirman : "Hingga apabila ia telah sampai di antara dua gunung - dalam perjalanannya ini - dia mendapati di dekat kedua gunung itu satu kaum yg hampir tidak mengerti pembicaraan - orang-orang bodoh - mereka berkata hai Dzulqornain sesungguhnya ya'juj dan ma'juj adalah perusak-perusak di bumi maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu supaya engkau membuat satu dinding antara kami dengan mereka". Ini ada orang-orang bodoh, tidak berpengetahuan, bicaranya saja tidak lurus, takut sama satu kaum.

 

Mereka datang pada Dzulqornain, buatkan kami dinding pelindung nanti kami bayar kamu. Ini penguasanya mau dibayar oleh mereka. Bisa ndak dia ditipu? Kalau penguasanya bodoh, ya ditipu. Kita lihat jawabannya, dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 95 : "Hei, apa yg dianugerahkan Tuhan kepada saya itu lebih baik daripada apa yg kamu tawarkan itu? Saya ngga perlu! Baru dia katakan, “Yang hanya saya butuhkan dari kamu adalah bantu saya”. Jadi dia menimbulkan kesadaran masyarakat itu untuk membantu dia mencapai apa yang ingin diharapkan oleh masyarakatnya.

 

Nah sekarang kita ada penguasa baru, ya tho? Ada presiden baru, ada pemerintah baru, ada kabinet baru, menteri baru, gubernur baru, bupati baru. Semuanya penguasa. Kalau masyarakatnya meminta, "tolong bangunkan ini", penguasanya bilang, "ya saya minta upah deh", atau dia tidak minta upah terang-terangan tapi diam-diam, penguasa baik kah itu ?

 

Kita lihat lagi Dzulqornain. Kaumnya minta dibangunkan "sadda". "sadda" itu pelindung, baik kuat atau tidak kuat, yg penting pelindung. Apa jawab Dzulqornain? "fa a’iinuni bi quwatin aj’al bainakum wa bainahum rodma", "bantu saya, saya buatkan kamu pelindung yg kuat". Yang diminta adalah pelindung, walaupun lemah. Tapi yg dia bikinkan pelindung yg kuat. Nah kita lihat sekarang. Kalau masyarakat mempunyai keinginan 10, penguasanya itu mengajak mereka berpartisipasi untuk membikinkan yg lebih bagus dari itu. Bukan sebaliknya. Ada proyek, naa ini kita lihat dalam kehidupan kita, biayanya sekian, bangunannya musti sekian sekian dia kuasa untuk membuat, dia buat yg sesuai permintaan di proyek ataukah lebih jelek? Kalau lebih jelek, maka dia bukan penguasa yg baik.

 

Quran kasih kita kisah-kisah semacam itu. Begitu juga boleh jadi kita ambil contoh yg kecil-kecil. Saya pesan makanan pada catering, begini-begini. Mau kasih yg lebih baik, wah ini biayanya cukup banyak nih. Pesanannya untuk undangan 100 orang. Siapa tahu yg datang 110 orang. Saya berikan lebih, untuk 110 orang.

 

Kenapa itu semua? Karena kalau hanya kuasa, tidak ada artinya. Harus yg dapat hikmah kebijaksanaan dalam segala tindakan mulai dari kuasa yg terkecil sampai yg terbesar. Haaa, ibu-ibu kuasa datang ke Metro TV, acara Lentera Hati. Itu kuasa. Ibu sudah kuasa nih datang. Tapi kuasa yg ibu dapatkan itu dari Allah. Ada yg macet di jalan tidak bisa datang, karena tidak kuasa. Kalau cuma kuasa tidak ada artinya. Harus ada hikmah. Ibu datang, mendengar ini, apa yg Ibu dengar Ibu akan amalkan dan akan Ibu sampaikan kepada orang lain.

 

[Tanya]:

Kita semua tahu bahwa Allah Maha Kuasa. Tidak hanya kepada kita, binatang, pohon-pohon, debu jatuh pun itu kekuasaan Allah. Di lingkup kecil, di keluarga, suami merasa menguasi istri dan anak-anaknya, ibu menguasai anaknya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana caranya kita menguasai diri kita sendiri dari hal-hal misalnya kemarahan, hawa nafsu?

 

[Jawab]:

Yang pertama dulu sebelum saya jawab pertanyaan ibu, beda kuasa Allah dgn kuasa manusia. Saya bisa berkata seorang pembantu di rumah saya, itu sebenarnya berada di bawah kekuasaan saya, ya? Saya bisa menyuruh kamu begini kamu begitu. Tetapi apa saya kuasa mengatur peredaran darahnya? Tidak. Apa saya bisa mencabut nyawanya? Tidak. Apa saya bisa mempekerjakan dia pada hari liburnya? Apakah kalau saya melakukan kegiatan yg tidak disenanginya atau dinilai orang buruk, apakah saya dikecam orang atau tidak? Tentu dikecam. Kalau Tuhan? Tidak. Beda tho? Tuhan kuasa pada kita itu berarti Dia bisa cabut ruh kita, dan kalau ada sesuatu yg Anda anggap buruk, Anda tidak bisa berkata pada Tuhan, "Kenapa Engkau lakukan itu pada saya? Pertanyaan ibu, bagaimana menguasai ini? Menguasai ini adalah dari kesadaran. Sadar bahwa saya makhluk lemah. Sadar bahwa kuasa saya tidak ada artinya dibandingkan dengan kuasa Allah. Saya beri contoh. Ada suami merasa dirinya, "wah saya kuasa, wah istri saya ini salah lantas saya mau berlaku sewenang-wenang kepadanya". Yang pertama ia harus ingat, hey jangan marah, jangan berlaku sewenang-wenang walaupun kamu kuasa, karena kekuasaan Allah melebihi kekuasaan kamu. Naa dia tidak jadi marah. Ini orang bukan di bawah kekuasaan mutlak saya. "Idza da'adka qudratuka 'ala zulminnas fatazakkar qudratullahi 'alaih" "Kalau kekuasaanmu mengundang kamu untuk menganiaya orang lain ingat kuasa Allah atasmu", wah ndak jadi marah tuh. Jadi kuasa yg dimilikinya dibarengi dgn hikmah. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang itu marah melampaui batas karena dia lupa. Dia lupa kuasa Tuhan, dia terlepas dari bimbingan Tuhan. Itu sebabnya tadi saya katakan, kita selalu harus minta bimbingan Tuhan, jangan biarkan saya sendiri. Ya tho bu? Saya kira begitu.

 

Kita manusia lemah, dan tidak ada manusia yg sempurna. Dia salah, saya juga bisa salah.

 

[Tanya]:

Dari uraian Bapak tadi, tampaknya kekuasaan merupakan suatu ujian yg bisa membawa kita dalam perbuatan baik dan bisa membawa kepada perbuatan zholim. Apa kiat-kiat yg perlu kita ketahui untuk membuat kekuasaan saya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu untuk tidak membuat kekuasaan itu mendorong / menjerumuskan saya ke dalam api neraka?

 

[Jawab]:

Kiat-kiat. Apa yg harus kita lakukan? Mungkin yang pertama kita harus banyak mengingat. Mengingat Allah dan ingat kondisi kita. Ingat bahwa kemampuan dan kekuasaan yg saya miliki ini tidak langgeng. Kalau sekarang saya kuat pukul ini, besok saya akan lemah, akan tua. Bisa jadi ada orang yg memukul saya juga. Itu gunanya zikir. Itu gunanya sholat. Mengingat Allah. Kiat yg lain, banyaklah bergaul dgn orang yg baik, banyaklah membaca bacaan-bacaan yg baik, pelajarilah sejarah - orang yg dulu sombong / angkuh sekarang jadi begini.  Oo itu sejarahnya si A dulu itu begitu baik sudah ratusan tahun dia meninggal masih dikenang kebaikannya - itu semua bisa mengantar kita sadar bahwa memang pada akhirnya beginilah kejadian yg terjadi bagi yg baik dan yg buruk. Pergaulan sangat mempengaruhi. Kalau saya bergaul dgn orang yg sombong, saya bisa ikut sombong. Saya bergaul dgn orang-orang yg baik, rendah hati itu bisa mempengaruhi.

 

[Tanya]:

Gimana caranya mengajari anak supaya jangan terlalu ingin selalu berkuasa, soalnya saya perhatikan anak-anak sekarang itu apa-apa punya saya, jadi supaya mereka itu tidak seperti itu?

 

[Jawab]:

Kecenderungan manusia memang begitu. Anak kecil itu merasa punya dia, bahkan biasa jika diminta sedikit saja tidak diberikan. Nah di sini peranan pendidikan. Bagaimana kita didik dia sejak kecil untuk bisa menjadi pemurah dll. Pendidikan itu bisa melalui contoh-contoh, kisah-kisah. Agar tertanam di dalam hati anak. Prinsipnya seperti itu. Kecenderungan sejak kecil ya seperti itu, dan kita perhatikan. Mungkin kalau sedang berjalan dan ada peminta-minta, kita mau kasih seorang yg butuh, jangan kita yg kasih, suruh anak kita yg kasih, terus-menerus ditanam, ini menjadi kebiasaan. Menanamkan kesadaran bahwa ada yg butuh, kita ceritakan bagaimana beruntungnya anak kita. dll.

 

[Kesimpulan]:

 

Yang pertama, kita harus sadar bahwa kemampuan dan kekuasaan yang kita miliki itu bersumber dari Allah SWT. Dan karena itu kita harus memperhatikan apa yg dikehendaki oleh Allah dari penggunaan kemampuan dan kekuasaan itu. Karena Dia mampu untuk mencabut dan memberi orang lain.

 

Yang kedua, jangan beranggapan bahwa kekuasaan saja itu sudah cukup untuk meraih kebahagiaan. Bisa saja kemampuan dan kekuasaan itu yg menjerumuskan. Karena itu kekuasaan dan kemampuan harus dibarengi dengan pengetahuan dan hikmah serta kesadaran akan kelemahan kita di hadapan Allah SWT.

 

Dan yg terakhir saya ingatkan sekali lagi, bahwa yg dimaksud dgn kekuasaan itu bisa mencakup hal-hal yg kecil. Jangan menuntut presiden untuk adil, sedangkan Anda berlaku tidak adil.

 


Posted at 04:59 pm by ariefsalman
Make a comment  

Saturday, March 05, 2005
Jaringan Internet Pondok Pesantren, Masjid & Madrasah

Jaringan Internet Pondok Pesantren, Masjid & Madrasah
(Oleh: Onno W. Purbo
)

Bandung, 2000

Sesuatu yang ambisius, ber-idealisme tinggi & hampir mustahil membangun jaringan pesantren, masjid & madrasah di Indonesia. Apalagi jika dilakukan secara swadaya masyarakat tanpa utang ke Bank Dunia, ADB & IMF. Ternyata sesuatu yang beridealisme tinggi & mustahil ini dilakoni secara serius oleh rekan-rekan Pusat Teknologi Tepat Guna yang di singkat PUSTENA dari Masjid Salman, Institut Teknologi Bandung ITB dengan markas virtual di pustena@tpb.itb.ac.id. PUSTENA SALMAN ITB telah 2-3 tahun belakangan ini turun ke daerah khususnya di sekitar Bandung untuk mencoba membangun Jaringan Pondok Pesantren.

Agak berbeda dengan mahasiswa lain yang lebih suka ber-advokasi / demonstrasi, rekan mahasiswa PUSTENA SALMAN ITB - tanpa banyak bicara turun ke lapangan membantu pondok pesantren di sekitarnya. Diantara mereka motor penggerak yang cukup aktif adalah Arief Wiryanto dan Soni Setia Nugraha yang kedua-nya sekarang sudah meraih gelar sarjana S1 ITB dan sampai sekarang masih konsisten untuk meluangkan sebagian waktunya untuk membantu pondok pesantren.

Soni termasuk aktif turun ke pondok pesantren di sekitar Garut & Pangalengan. Awalnya barangkali sederhana sekali - Soni dkk melihat kenyataan banyak santri di pondok-pondok tersebut ternyata harus mampu meng-hidup-i diri mereka sendiri (terutama jika orang tuanya kurang mampu) apakah itu dengan bercocok tanam, berkebun, memelihara ikan di kolam membuat kerajinan tangan dll. Selama ini pondok-pondok tersebut dan santri-nya harus tergantung pada para tengkulak untuk menjual hasil bumi / perternakan / perikanan-nya. Akibatnya harga di pihak petani / santri menjadi sangat kecil. Begitulah kenyataan yang menyedihkan yang ada di daerah.

Pondok umumnya mempunyai lahan binaan yang cukup luas bahkan ada yang mempunyai lahan 100 hektar. Memang pengetahuan bercocok tanam maupun pengetahuan pasar sangat minim, sampai-sampai pengurus pondok ada yang pernah bertanya pada Soni dkk kira-kira bunyinya "Nak Soni ini ada lahan - tolong beritahu kami, sebaiknya menanam apa hari ini supaya bisa untung?". Pertanyaan yang sederhana memang, tapi sulit menjawabnya - karena dibutuhkan pengetahuan pertanian yang mendalam. Soni dkk bahkan sempat membantu beberapa pondok untuk berternak ikan Lele karena pangsa pasar Lele ternyata cukup besar di kota Bandung.

Karena adanya perbedaan jarak yang cukup jauh antara pondok dengan rekan-rekan PUSTENA SALMAN ITB, selama itu komunikasi dilakukan melalui SLJJ & FAX sehingga sangat memakan biaya. Akibatnya mulai timbulah ide untuk mencoba menggantikan SLJJ & FAX menggunakan fasilitas Internet yaitu e-mail. Jadi Internet sebetulnya digunakan untuk membuat proses komunikasi menjadi lebih murah (atau tepatnya - jauh lebih murah lagi). Awal-nya Soni dkk mencoba menggunakan teknologi packet radio, ternyata tidak mudah juga. Setelah sarasehan dengan para ajengan di tasikmalaya bulan Oktober 1999 yang lalu yang di prakarsai oleh Mba Leonie (mccool@bdg.centrin.net.id) mahasiswi S2 Studi Pembangunan ITB, tampaknya teknologi warung internet yang memungkinkan iuran secara bersama yang murah menjadi sebuah alternatif yang menarik untuk di implementasi di pondok-pondok karena dapat mengembalikan modal investasi warung internet dengan pasti.

Transaksi / interaksi yang dilakukan di tingkat pesantren ini cukup banyak, baik yang sifatnya untuk kepentingan pengetahuan maupun transaksi "dagang" untuk dapat hidup. Jangan berfikir pondok menggunakan e-commerce seperti Amazon.com, wah itu masih jauh dari impian. Internet digunakan hanya sebagai pengganti SLJJ & FAX dalam proses transaksi "dagang". Jadi tetap kepercayaan & tali silaturahmi yang erat di pegang di antara orang / pelaku transaksi. Dan ini relatif cukup berhasil, artinya ya karena Internet lebih murah ya akhirnya dipakai untuk menggantikan FAX & SLJJ yang lebih mahal - sesederhana itu pola yang digunakan.

Untuk memfasilitasi proses transaksi "dagang"dari pondok pesantren supaya pondok dapat hidup. Arief , Soni dkk sejak 1-2 tahun yang lalu telah membangun fasilitas diskusi di Internet di lokasi virtual wong-cilik@isnet.itb.ac.id. Kebetulan anggotanya bukan hanya sekedar dari dunia pesantren tapi juga dari berbagai pihak terutama yang berkaitan dengan dunia Agribisnis.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan para Ajengan di Pondok Pesantren khususnya di kesempatan sarahsehan di Tasikmalaya, umumnya para Ajengan tahu bahwa ada dunia maya / dunia informasi Internet. Terima kasih, media massa cukup berhasil dalam meng-edukasi bangsa Indonesia dalam hal ini. Memang sebagian belum pernah melihat bentuk Internet itu seperti apa. Peralatan apa saja yang dibutuhkan. Walaupun di pondok umumnya ada komputer & telepon, umumnya para ajengan masih kurang mengetahui bagaimana menyambungkan modem ke komputer dan telepon agar dapat masuk ke dunia maya - sesederhana itu. Kesenjangan teknologi ini juga kemudian mendorong kelompok seperti Computer Network Research Group (CNRG) ITB menulis berbagai artikel & buku-buku seperti TCP/IP & Teknologi Warung Internet untuk memberdayakan bangsa di bidang teknologi informasi.

Selanjutnya mungkin kita ingin melihat Internet sebagai media tranfer ilmu pengetahuan. Nah hambatan apa yang mungkin akan di hadapi di pondok? Kebanyakan pondok pesantren sifatnya konservatif, artinya segala sesuatu harus melalui Pak Kiai / Ajengan pondok tersebut. Bayangkan kalau Internet masuk ke pondok untuk memberdayakan santri - tentunya ada pola belajar mengajar yang tradisional yang bergeser. Walaupun banyak pondok pesantren konservatif, tampaknya saat ini ada beberapa Ajengan di Pondok Pesantren yang progresif & kebetulan saya mengenal di antara-nya adalah KH. Asep A. Maoshul Affandy dari Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya Tasikmalaya yang sangat aktif berkomunikasi melalui e-mail di Internet dan mempunyai wawasan yang terbuka untuk kemajuan. Tentunya harapan kita semua agar proses keterbukaan ini terus berkembang di pondok pesantren maupun di Indonesia pada umumnya untuk kemajuan bangsa ini.

Saat ini, Arief & Soni dkk di dukung oleh Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat dan rekan-rekan di banyak kota dan banyak negara sekarang ini membangun media interaksi - Jaringan Informasi Islam sebagai forum komunikasi para pendukung jaringan informasi islam. Contohnya rekan Rurun Karma rkarma@aol.com di Amerika Serikat aktifis Indonesian Muslim Community in New York (INMUCONY) yang anggota mailing list JII aktif mengumpulkan bantuan PC yang tidak terpakai untuk di sebarkan di pondok pesantren di Indonesia.

Salah satu kegiatan pertemuan yang paling dekat di akhir bulan Desember 1999 yang juga berkaitan dengan pembangunan jaringan informasi islam / masjid akan dilakukan adalah di Purwokerto dalam kerangka membangun jaringan informasi masjid dan di organize oleh Pak Nurul Hidayat yang juga aktif di Pusat Komputer UNSOED, Purwokerto. Konsep bagaimana me-manage pengetahuan diantara masjid / pondok pesantren yang prototipe-nya di kembangkan di Masjid Salman ITB oleh rekan-rekan Knowledge Management Research Group (KMRG) ITB dengan markas virtual di digilib@itb.ac.id yang dimotori oleh Ir. Ismail Fahmi Insya Allah akan dicoba di ketengahkan pada kesempatan tersebut selain jaringan informasi islam.

Memang semua masih sangat dini - tapi proses ini bukan sebuah proses yang dapat di bendung dan terus berjalan secara konsisten selama 1-2 tahun belakangan. Yang perlu di catat semua-nya praktis swadaya masyarakat, tanpa utangan Bank Dunia, ADB & IMF. Dengan pembangunan pola ini bukan mustahil akar kemajuan bangsa Indonesia akan menjadi lebih kuat lagi dengan semakin berdayanya bangsa kita yang berada di daerah-daerah melalui percepatan proses pendidikan di tingkat pondok pesantren - tanpa harus memberikan beban utang & dosa ke generasi mendatang.


 


Posted at 01:15 pm by ariefsalman
Comment (1)  

Friday, March 04, 2005
Berita Penelitian ITB, Riset Unggulan Terpadu

Penelitian Riset Unggulan Terpadu - 8,

Departemen Ristek RI

http://www.lp.itb.ac.id/product/berita/january/berita1.html

 Jakarta, 1999 - 2000

  1. Undangan Pengajuan Usulan Penelitian

Dalam tahun anggaran 2000/2001 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI) melalui Proyek URGE mengundang seluruh sivitas akademika ITB

untuk mengajukan Usulan Penelitian. Program Penelitian yang ditawarkan adalah:

    1. International Research Linkage Program (12 Package @ US$ 62,500.00)
    2. Domestic Collaborative Research Grant (130 Package @ Rp 150.000.000,00)

Batas waktu penyerahan Usulan Penelitian adalah tanggal 3 April 2000. Informasi lengkap tentang hal di atas dapat diperoleh di Lembaga Penelitian ITB.

  1. Pengumuman Proposal RUT VIII yang diterima untuk dibiayai tahun anggaran 2000/2001:

Dari 101 Usulan yang dikirimkan, hanya 29 Usulan yang dapat dibiayai, nama pengusul dan topiknya adalah:

  1. Dessy Natalia, Ph.D. (PPAU-Biotek) "Produksi Vaksin Hama Ternak Lalat Screw Wormfly (Chrysomya Bezziana): Overekspresi Protein Membran Peritrofik PM48 dan PM95 serta Overekspresi Protein Disulphide Isomerase pada Saccharomyces Cerevisiae"
  2. I Nyoman Widiasa, ST., MT. (PPAU-Biotek) "Hidrolisis Enzimatik Minyak Sawit dalam Bioreaktor Membran"
  3. Prof.Dr.Ir. Aryadi Suwono (PPAU-IR) "Pengembangan Bahan Refrigeran untuk Pengganti CFC12 dari Hidrokarbon (HC) dengan Aditif ‘Low Flammability Suppressant’ (LFS)"
  4. Dr.Ir. Yatna Yuwana Martawirya (MS) "Pengem-bangan SPTM (Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri) untuk Penanganan Produksi Repetitive"
  5. Dr.Ir. Hari Muhammad (PN) "Pengembangan Metode Pengukuran Beban Aerodinamik pada Sayap Pesawat Udara dalam Waktu Nyata"
  6. Ir. I Wayan Tjatra, Ph.D. (PN) "Optimasi Bentuk Geometri Proyektil Peluru dengan Gaya Hambat Aerodinamika Minimum pada Kecepatan Transonik"
  7. Dr.Ir. Bambang Widyanto (MS) "Pembuatan Paduan dan Pengaruh Solution Treatment Terhadap Struktur Mikro Baja Mangan Hadfield"
  8. Ir. Syafri Martinius (EL) "Studi Sistem Konversi dan Transmisi Tegangan Listrik Menengah Searah Antar Pulau untuk Menyalurkan Energi Listrik Satu Arah"
  9. Prof.Dr. S.M. Nababan (P4M) "Model Optimasi Sistem Jaringan Pipa Gas Alam di Indonesia"
  10. Prof.Dr.Ir. Purwanto Mardisewojo, MSc. (TM) "Penelitian Atas Interaksi Gaya-gaya dalam Reservoir untuk Menentukan Strategi Teknik Produksi Minyak Bumi dengan Menggunakan Teknologi Sumur Horizontal"
  11. Ir. Ian Yosef Matheus Edward, MT. (EL) "Perancangan dan Implementasi ICFPGA Korelator Digital Multikanal untuk Sistem Penerima CDMA"
  12. Dr.Ir. Suhono Harso Supangkat (EL) "Proteksi Hak Cipta pada Komunikasi Multimedia dengan Teknik Tanda Air Menggunakan Pendekatan DCT untuk Sistem Waktu Nyata Berbasis DSP"
  13. Arief Wiryanto, ST. (PPAU-ME) "Teknologi Pemampatan Sinyal Video dengan Laju Bit < 64 kbit/s Berbasis Prosesor DSP untuk Aplikasi Smart Personal Multimedia Communication (SPMC)"
  14. Dr.Ir. Ilse S. Noerbambang, MSEE. (PPAU-ME) "Penelaahan Pemanfaatan Instrumen HaKI Terhadap Hasil Riset Unggulan Terpadu (RUT) I-VII Bidang Elektronika"
  15. Dr.Ing. Farid Wazdi (IF) "Sistem Pakar Kemahasiswaan"
  16. Dr. Toto Winata (FI) "Fabrikasi Transistor Film Tipis (TFT) Berbasis Silikon Amorf Terhidrogenasi (a-Si:H) dengan Metoda Hot-Wire Plasma Enhanced Chemical Vapor Deposition (HWPECVD)"
  17. Ir. Endon Bharata, MT. (EL) "Rancangan dan Realisasi Penguat Derau Rendah untuk Aplikasi GPS"
  18. Dr.Ir. Benhard Sitohang (IF) "Format Integrator: Perangkat Lunak Integrated Intelligent Datawarehouse"
  19. Ir. Soemirato Reka Rio, IPM. (PPAU-ME) "Fabrikasi Base Wafer Gate Array CMOS 2 mm dengan Menggunakan Teknik Implantasi Ion"
  20. Dr.Ir. Irman Idris (PPAU-ME) "Pembuatan Silikon Dioksida Temperatur Rendah untuk Aplikasi Interkoneksi Multilevel Chip IC"
  21. Adrianto Ahmad, SSi., MT. (PPAU-Biotek) "Pengolahan Limbah Cair Industri Minyak Sawit dengan Sistem Bioreaktor Membran Anaerob"
  22. Sonny Winardhi, MSc., Ph.D. (GM) "Pendugaan Struktur dan Karakteristik Anisotropy Batuan Bawah Toba dengan Menggunakan Metoda Polarisasi Gelombang Seismik - P dan Splitting Gelombang Seismik – S"
  23. Dr. Bayong Tjasyono HK., DEA. (GM) "Mekanisme Bencana Alam Kekeringan di Kontinen Maritim Indonesia"
  24. Sri Widiyantoro, MSc., Ph.D. (GM) "Pengembangan Baru Teknik Pencitraan Tomografi Seismik Non-linier: Aplikasi untuk Data Gempa Bumi di Indonesia"
  25. Dr.Ir. Harun Al-Rasyid S. Lubis, MSc. (PPTK) "Interaksi Tata Ruang dan Transportasi bagi Pembangunan Kota yang Berkelanjutan"
  26. Dr.rer.nat. Dadang K. Mihardja (GM) "Model Distribusi Suhu Permukaan dan Arus Laut Perairan Indonesia untuk Prakiraan El Nino"
  27. Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D. (PPAU-Biotek) "Biodegradasi Senyawa Xenobiotik Terchlorinasi 1,2-Dichloropropilene pada Kondisi Aerobik"
  28. Ir. Nana Rahmana, M.Eng. (EL) "Perancangan dan Implementasi Kode Konvolusi Bergandeng Paralel (Turbo Code)"
  29. Prof. Koesoemadinata, DSc. (GL) "Biostratigrafi Isotop Koral Formasi Pacitan Jawa Timur"

Posted at 01:01 pm by ariefsalman
Comment (1)  

Thursday, March 03, 2005
SALMAN-Net

SALMAN-NET: MERAJUT KEPING UKHUWAH LEWAT INTERNET

oleh: H Muarif

http://www.mifta.org/new/index.php?menu=home&topik=mifta&id=00003&PHPSESSID=33895cdb64a69f64c5e0e7b969231a12

Bandung, 1995

Ruang aula gedung serba guna Masjid Salman ITB malam awal Ramadhan itu dipenuhi mahasiswa dan dosen. Perhatian mereka tertuju kepada Menag Tarmizi Taher yang malam itu usai tarawih bersama menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pengurus dan jamaah Masjid Salman. Ditemani kacang dan ubi rebus serta kolak, pembawa acara menyebut acara malam itu sebagai syukuran atas aktifnya kembali menag setelah sakit beberapa waktu silam. Namun, di depan Menag Tarmizi Taher dan KH Rusyad Nurdin, ulama Bandung yang mendampingi menag telah ada seperangkat komputer.

Malam itu, beberapa aktivis Salman seperti menyengaja untuk mempresentasikan rencana besar mereka merintis JII (Jaringan Informasi Islam) lewat cyberspace ke hadapan Menag Tarmizi Taher. Jaringan itu terangkum dalam wadah Salman-Net, yang rintisannya sudah mereka garap sejak Juni 1995. Tidak sia-sia, Menag yang mendapat penjelasan ringkas namun padat via perangkat komputer yang ada menyambut baik rencana besar ini. "Insya Allah, saya akan bantu program ini. Sudah lama saya mengangankan para mubaligh kita di masa depan akan mampu berdakwah via satelit. Mudah-mudahan rintisan anak-anak muda dari Bandung ini akan mendapat sambutan dari banyak pihak," kata Tarmizi yang diamini hadirin. Adalah beberapa mahasiswa teknik elektro ITB yang menjadi aktivis Salman berpikir tentang upaya menjalin ukhuwah Islamiyah dengan saudara-saudara mereka di pelosok Indonesia dan dunia. Ukhuwah Islamiyah yang kini lebih banyak hanya jadi slogan hendak mereka rajut kembali menjadi ukhuwah yang sejati. Terjalinnya ukhuwah antara seorang mahasiswa di Bandung yang dengan tulus dan penuh perhatian mendengarkan keluh kesah saudaranya atau seorang dai di pedalaman Kalimantan atau ukhuwah antara pengurus lembaga dakwah di Jakarta yang memberi saran dan bantuan kepada pengasuh pesantren di Nusa Tenggara Timur, menjadi angan-angan dari para pencetus gagasan Salman-Net. "JII juga dirancang memiliki akses ke berbagai lembaga dakwah atau pusat studi dan data keislaman sehingga kita bisa melacak tentang sejarah, perkembangan kontemporer dunia Islam, bahkan kita bisa melakukan diskusi semacam teleconference dengan berbagai tokoh Islam yang mengakses jaringan ini," kata Arief Wiryanto, mahasiswa jurusan teknik elektronika ITB angkatan 1993 yang menjadi salah satu motor Salman-Net.

Berbagai informasi dan program-program edukasi pun dirancang ada dalam jaringan Salman-Net. Nantinya, setiap pengakses jaringan ini bisa membaca Alquran dan kitab-kitab hadis atau informasi tentang produk-produk makanan halal. Lebih dari itu, Salman-Net menjadi wadah dari bersatunya umat Islam Indonesia dan dunia dalam menghadapi tantangan dunia masa depan.

"Harus diakui dalam dunia informasi dan teknologinya, Barat sangat dominan. Sementara, ukhuwah antar negara-negara muslim masih belum kokoh. Ini diperparah oleh kondisi internal umat Islam di masing-masing negeri itu yang posisinya marjinal," lanjut Arief.

Karena itu, Salman-Net menjadi harapan mengatasi tantangan semacam itu. Rintisan pun dilakukan Arief bersama beberapa rekan kuliahnya yang juga aktivis Salman. Ketika itu, Juni 1995 mereka mengajukan rencana pembentukan jaringan ini. Mereka pun meminta izin kepada beberapa dosen di Teknik Elektro yang juga pembina Salman untuk membimbing mereka dalam melakukan eksperimen dan rancangan jaringan ideal yang akan digunakan. Beberapa dosen pun menyetujuinya dan eksperimen pun mulai dilakukan oleh tim kecil yang dipimpin Arief Sholahuddin, rekan angkatan Arief Wiryanto.

Dari LAN ke internet Pilihan untuk membuat jaringan (network) menjadi perhatian pertama tim Salman dalam merancang JII. Kebetulan ITB telah memiliki jaringan LAN (Local Area Network) yang menghubungkan perangkat komputer di berbagai fakultas dan kantor yang ada di lingkungan kampus ITB. Eksperimen pertama di arahkan untuk mampu mengakses jaringan ini dengan membuat server tersendiri yang memuat berbagai database tentang keislaman.

"Tapi, itu tidak lama karena kita terbentur pada biaya yang cukup mahal untuk menyediakan kabel penghubung dalam jumlah besar. Selain itu, kabel LAN memiliki risiko tinggi untuk kerusakan oleh binatang pengerat seperti tikus. Karenanya, kami hentikan eksperimen tersebut," jelas Wiryanto.

Pilihan kemudian diarahkan kepada akses informasi lewat radio komunikasi. Lewat perangkat radio komunikasi dua meteran yang dihubungkan dengan perangkat komputer, maka diuji coba komunikasi data antar beberapa operator. Sinyal radio diubah menjadi modem lewat alat penerjemah (interpreter) yang dirancang khusus. Sayangnya, ujicoba dengan cara ini dirasakan tidak efektif untuk jarak jangkau jauh. Paling tidak dibutuhkan beberapa stasiun repeater yang memperkuat sinyal dan mengirim kembali ke wilayah yang ada dalam jangkauannya. Selain itu, gangguan interferensi gelombang radio dapat menganggu komunikasi data yang tengah berjalan.

Akhirnya, pilihan terakhir yang dilakukan hingga saat ini jatuh pada Wave-LAN, jaringan antar grup yang dilakukan melalui sinyal gelombang mikro. "Kelebihannya, kita bebas pulsa pada jaringan ini dan jarak jangkaunya lebih jauh dari LAN atau radio komunikasi. Hanya saja, kendala peralatan yang memadai untuk bisa mengakses ke luar kota atau keluar negeri masih besar," jelas Arief Sholahuddin. Untuk itu, kini awak Salman-Net tengah berencana melakukan terobosan dengan memanfaatkan jaringan internet. Sayangnya, kendala biaya yang cukup besar dalam penyiapan perangkat dan database menyebabkan mereka menunda keinginan untuk bergabung dalam jaringan informasi dunia. Dana yang dibutuhkan konon sekitar Rp 22 juta dan diharapkan atas bantuan Menag. Meski demikian, dorongan untuk bersegera mewujudkan cita-cita JII menjadikan mereka menargetkan awal April mendatang sebagai peluncuran perdana Salman-Net di jaringan cyberspace dunia.

"Insya Allah kita akan adakan seminar tentang Salman-Net pada bulan itu. Kita luncurkan pula secara perdana jaringan ini. Tentu saja, kita sudah rancang untuk merintis kerjasama dengan Muslim-Net, ICMI-Net atau Isnet yang sudah mengawali rintisan Jaringan Informasi Islam di Internet. Mudah-mudahan kita bisa memperkaya informasi tentang Islam lewat Salman-Net," harap Wiryanto.


Posted at 01:11 pm by ariefsalman
Make a comment  

Wednesday, March 02, 2005
AKHLAQ

AKHLAQ
by Arief W

Ini pemikiran saya mengenai pemaknaan kata "Akhlaq", ini dipersilakan untuk dikoreksi, karena ini baru hipotesa. Kalau dilihat dari asal katanya berasal dari huruf yang sama dengan kata "Khuluqu" dan menjadi dasar pula kata "Khalaqa", yaitu huruf Kha, huruf Lam, dan huruf Qaf dalam bahasa Arab.

Sedangkan arti kata Khalaqa sendiri bermakna adalah menciptakan seperti yang sudah kita dengar dari para ustadz. Apakah kemudian ada hubungan antara kata "Khalaqa" dengan makna kata "Akhlaq" ?

Menurut pendapat saya, ada hubungan erat antara makna "Akhlaq" dan makna "Khalaqa". Kalau melihat bahwa dua kata tersebut mempunyai huruf2 pembentuk kata yang sama yaitu kha, lam, dan qaf, maka maknanya pun tentu tidak akan jauh berbeda. Kata "khalaqa" yang berarti perbuatan menciptakan, maka makna kata "akhlaq" ada kaitan artinya dengan "menciptakan" tersebut. Saya menduga (karena bukan ahli bahasa Arab, dan mohon masukan kritikan) bahwa kata "akhlaq" berarti perbuatan yang sesuai dengan tujuan dari penciptaan sesuatu.

Seperti tujuan diciptakannya manusia (Khalaqa An-Naas),diantaranya adalah untuk dihormati, dihargai dan dioptimalkan potensi yang dimiliki manusia tersebut. Oleh karena itu, "akhlaq" kepada manusia adalah perbuatan2 yang bersesuaian dengan tujuan penciptaan manusia tersebut, seperti penghargaan dan penghormatan kepada semua manusia, perbuatan mendidik manusia agar potensi yang dimiliki manusia dapat tergali atau dengan kata lain pendidikan adalah "akhlaq", dan sebagainya. Oleh karena itu, perbuatan membunuh kepada manusia sangat dilarang oleh Allah.

Contoh lain, adalah sumber daya alam. Tujuan diciptakannya Sumber daya alam adalah untuk diambil dan dimanfaatkan oleh manusia. Maka "akhlaq" kepada sumber daya alam adalah dengan mengambil dan memanfaatkan mereka untuk kita. Jika kita mendiamkan saja sumberdaya alam tersebut, tidak mengelolanya dengan baik, maka kita belum ber-"akhlaq".

Contoh lain lagi adalah hewan yang disembelih spt ternak dan unggas. Tujuan penciptaan mereka adalah untuk diambil dagingnya oleh manusia. Sehingga "Akhlaq" kepada mereka adalah dengan menyembelihnya dengan baik dan mengambil dagingnya untuk kita. Salah jika kita tidak menyembelih mereka maka kita tidaklah berakhlaq.

Sehingga kata "akhlaq" bukan sekedar bermakna budi pekerti, moral, etika, perbuatan dan sebagainya. Atau "akhlaq" hanya berkaitan dengan interaksi antar sesama manusia seperti akhlaq kepada orang tua, akhlaq kepada mertua, akhlaq kepada tetangga, akhlaq kepada teman, akhlaq kepada guru, akhlaq kepada anak yatim, orang miskin, orang kaya dsb. Akhlaq bukanlah sekedar itu. Dan "Akhlaq" bukan juga sekedar berarti "baik", "baik kepada orang tua, baik kepada teman, baik kepada suami/isteri, baik kepada tetangga. Akhlaq bukan sekedar itu pemaknaannya.

Tetapi "Akhlaq" mencakup perbuatan yang "benar, baik dan indah" yang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Akhlaq kepada orang tua, adalah menghormati dan menghargai mereka sebagai orang tua kita, mengikuti perintah mereka, selama mereka tidak menyuruh berbuat jahat. Apabila kita turuti semua perintah orang tua tanpa berpikir benar dan tidaknya, bukan lagi dinamai telah ber-akhlaq. Bila perintah orang tua sejalan dengan perintah Allah maka kita wajib menghargai dan menuruti perintah orang tua tersebut. Namun jika kita punya pemikiran tersendiri berdasarkan landasan yang kuat dan kokoh maka boleh saja kita tidak sependapat dengan orang tua.

"Akhlaq" berkaitan dengan semua ciptaan Allah, kepada sesama manusia dan kepada alam raya beserta isinya (baik yang organik maupun yang non-organik). Tiap ciptaan Allah mempunyai maksud dan tujuan penciptaannya. Diciptakannya kita laki-laki dan perempuan, ada maksud dan tujuannya, diciptakannya kita berbangsa-bangsa ada maksud dan tujuannya pula. Diciptakannya bulan, matahari, lautan, sungai, bintang, minyak bumi, ikan, ternak, tumbuhan, hutan, pegunungan dan sebagainya.

Kita sebagai khalifah dari Allah yang Khaliq (Pencipta) maka harus bisa mengetahui dan menggunakannya sesuai dengan tujuan penciptaan makhluk2Nya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw adalah diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan "akhlaq" (Hadits). Dan diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk memberikan contoh akhlaq kepada manusia bagaimana berakhlaq terhadap semua ciptaan Allah. Nabi memberikan contoh bagaimana perbuatan yang paling benar, baik dan indah kepada semua makhluk ciptaan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan tiap-tiap makhluk tersebut. Dikatakan pula beliau adalah diutus pula untuk seluruh alam.

Wassalamualaikum wr.wb,

Arief Wiryanto


Posted at 11:51 am by ariefsalman
Comment (1)  

Friday, February 11, 2005
VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma

VCD Tafsir Al-Mishbah, Juz Amma

Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Telah beredar VCD tayangan2 Tafsir Al-Mishbah, membahas berbagai Surat-Surat pada Juz Amma, yg pernah ditayangkan di Metro TV bulan Ramadhan 1425 H lalu. Nara sumber adalah Prof. Dr. Quraish Shihab, pakar tafsir Al-Quran Indonesia, lulusan summa cum laude dari Universitas Al-Azhar Cairo.

Dapatkan di toko2 buku Gramedia di kota Anda, insya Allah ada.

Pahamilah Al-Quran dengan sebenarnya, insya Allah dia memang obat utk kita.

Ini bukan promosi, hanya mengajak utk sama2 agar bisa memahami indah dan benarnya perkataan Tuhan kita, Allah swt, utk menyadari bagaimana cintaNya yg besar kepada kita. Hidayah Al-Quran adalah bentuk cintaNya yg terbesar utk kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb,

Arief  Wiryanto


Posted at 07:38 pm by ariefsalman
Make a comment  

Previous Page Next Page
Counter
Dikunjungi Sejak 1 April 2005


online

eXTReMe Tracker

Contact
--------

YM! ariefwiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com

BLOG ARIEF HIKMAH
Arief Hikmah


JUDUL-JUDUL ARTIKEL

Profil Ahli Tafsir Quran
Prof. Dr. M. Quraish Shihab


Minal Aidin wal Faizin
MAKNA Silaturahim

Puasa
Puasa vs Bencana
Puasa & Kemenangan

Mengenal Allah : Al-Wahhab
Mengenal Allah : Ar-Rahman Ar-Rahim
Mengenal Allah Lewat Asmaul Husna

Sunnatullah & Alam
Taqwa
Cinta Tanah Air
Sahabat
Kuasa
Jasa Nabi Muhammad saw
Akhlaq
Doa
Musibah
Puasa & Kemenangan
Khusyu' dlm Sholat Kejujuran
Pemimpin
Kebutuhan Primer Pria & Wanita
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Menghargai
Takabbur
Perubahan
Qadha & Qadar/Taqdir
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed